Entries RSS Comments RSS

Berkumpullah Dengan Orang

Kata orang, kita akan menjadi seperti yang ada di lingkungan kita.
Karena itu, ada dosen asal Indonesia yang rela mboyong keluarganya keluar dari Indonesia supaya ngga terkontaminasi gaya hidup, kerawanan, sinetron, dan berita di Indonesia. Pindah ke Malaysia, lalu akhirnya melabuhkan diri ke Saudi sana.

Orang yang terbiasa hidup melihat, mendengar, dan merasakan teriakan biasanya menganggap teriakan itu biasa saja. Part of his/her life. Ngga rame kalo ngga teriak. Padahal, teriakan itu bisa jadi tidak membuat nyaman orang lain. Misalnya, orang dari Sumatra atau Sulawesi terkenal biasa saja bicara dengan to the point, nada tinggi, dan mandang mata. Tapi menurut cerita istri saya, ketika sekolah di Yogya sana perilaku bicara to the point dengan nada tinggi dan mandang mata itu dianggap tidak sopan dan membuat marah beberapa orang yogya yang biasa kalem, agak dikias-kias kata-katanya, dan juga kalo sama ortu mah jangan mandang mata.

Bahkan, katanya pula, seorang wanita akan memilih pasangan hidupnya seperti yang biasa dia lihat. Biasanya sih, melihat bapaknya. Jadi kalau Bapaknya keras, wanita itu juga milih yang keras. Kalau Bapaknya lembut, wanita itu juga milih yang lembut. Ngga cuma wanita, lelaki pun melihat cinta pertamanya di ibunya. Jangan heran kalau istri dan mertua itu suka saingan, karena memang mirip sih hehehe.

Ada yang suka dicampuri urusannya, merasa mencampuri urusan orang lain itu penting dan perlu. Ada yang sering dihina dan diejek keyakinannya, merasa menghina dan mengejek keyakinan orang lain juga seperti air yang mengalir, memang begitu adanya. Pernah satu kawan saya cerita tentang bos nya yang pengusaha, mungkin saking seringnya pengusaha itu berbuat curang dan dicurangi, maka semua karyawannya selalu dianggap orang yang berbuat curang sehingga dibuatlah peraturan-peraturan yang dikiranya akan membatasi kecurangan karyawan.

Ada orang, yang seperti Anthony Robbins merasa sangat terbantu ketika dia dalam kesusahan mendapatkan bantuan ayam kalkun. Akhirnya dia juga berbuat yang sama, ingin membantu orang lain dengan memberikan ayam kalkun disetiap hari thanksgiving. Ada kawan-kawan yang berasal dari keluarga miskin membuat yayasan yang membantu orang miskin agar bisa berjuang mencapai impian-impiannya, karena mereka juga pernah terbantu memperjuangkan impian mereka.

Karena itu betullah kata-kata Rosululloh, kamu adalah kawan-kawanmu. Mau jadi orang sholeh, maka bergaullah dengan orang-orang sholeh. Mau hidup sederhana, bergaullah dengan orang-orang sederhana. Mau funky? carilah tempat berkumpulnya orang funky. Karena kalau berkumpul dengan orang-orang yang ngga sesuai keinginan kita, ya akhirnya malah tersesat dan menyesatkan.

  • Share/Bookmark

One Response to “Berkumpullah Dengan Orang”

  1. edratna says:

    Makanya sering kita kurang nyaman jika menghadiri acara yang situasinya dan orang2 yang hadir beda dengan karakter kita, kebiasaan kita.
    Juga kenapa ada istilah gegar budaya…

    Bagi sebuah organisasi, perlu mengenalkan budaya kerja di organisasi itu terhadap orang yang baru bergabung, sehingga para fresh graduate akan dilatih, mis 2 minggu di Sukabumi untuk outbound, latihan disiplin dan dikenalkan etika perusahaan tsb.

Leave a Reply