Entries RSS Comments RSS

Perencanaan Finansial = Perencanaan Perjalanan

Beberapa waktu ini iseng membaca-baca tulisan lain untuk menetralisir pengaruh riset yang mentok. Biar fresh gitu lho. Salah satu diantaranya adalah artikel-artikel tentang perencanaan finansial yang saya akses dari blog keuanganpribadi.com dan perencanakeuangan.com. Sebenarnya kata orang masih banyak sih, tersebar di tempat lain. Tapi dari dua tempat ini ada hal menarik yaitu kayaknya perencanaan finansial itu mirip dengan perencanaan perjalanan.

Kalau kita mau melakukan perjalanan biasanya supaya lebih enak kita tentukan dulu mau pergi ke mana, kapan perginya, melakukan apa, dengan budget berapa. Perencanaan finansial juga mirip seperti itu, menentukan dulu tujuan finansial kita. Mau apa, kapan, seperti apa, dan detail-detail kecilnya. Kata keuanganpribadi.com (kata orang yang lain juga hampir sama), tujuan harus spesifik, measurable, achievable, realistic, time framed.

Terus, kita ambil peta deh. Tentukan posisi kita ada dimana, sekaligus dengan potensi yang kita punya. Contohnya sewaktu mau ke Singapura, saya lihat dulu mau berangkatnya dari mana, kampung de tronoh atau Bandung? Ternyata enakan dari Tronoh. Terus udah punya tabungan berapa, punya cash flow berapa, dan bandingkan dengan pengalaman orang lain yang udah pernah jalan ke Singapura kira-kira habis berapa. Dari sini tau, harus ngumpulin duit berapa banyak dan berapa lama. Perencanaan finansial juga ternyata sama aja. Harus tau dulu posisi finansial ada dimana. Kalo dalam bahasa keuanganpribadi punya harta bersih dan cash flow berapa. Dari sana kita bisa pilih, jalan mana yang akan ditempuh untuk sampai tujuan.

Untuk sampai Singapura ada beberapa mode perjalanan. Misalnya naik bis yang ternyata ada yang langsung dari dekat rumah ke Singapura. Terus ada yang pakai kereta api dan juga pesawat terbang. Nah, diatur-atur deh supaya perjalanannya menyenangkan, sesuai budget, dan tidak merepotkan. Ngga mungkin dong, pilih perjalanan yang sampai di Singapuranya malam. Rugi, udah cape di jalan, istirahat sebentar, eh bayarnya sama.  Mending milih yang sampainya tuh siang, pas waktu check in. Jadi pas datang bisa langsung tidur (Lho?).

Perencanaan finansial juga sama, perlu pilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Pilih yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan. Ada yang milih bersusah-susah dulu waktu muda baru bersenang-senang diwaktu tua. Misalnya dia pilih bekerja keras mengumpulkan uang diwaktu muda biar uangnya bisa digunakan mensupport kebutuhan diwaktu tua. Ada juga yang pilih senang-senang dulu, senang-senang kemudian.

Lha, emangnya ada? Ada kali ya, cuma memang perlu waktu yang lebih untuk belajar dan menyusun strateginya. Sewaktu pergi ke Singapura, entah berapa jam yang kami habiskan hanya untuk ngukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan, menikmati tempat wisatanya, dan juga uang yang harus dikeluarkan. Tapi worth it lah. Dibandingkan kawan lain yang hanya mengunjungi tempat umum saja, saya bisa pergi ke tempat yang lebih banyak hanya dalam waktu 1 hari (Gile bener kali ya, jalan-jalan keliling Singapura dalam 1 hari). Jadi kayaknya kalau mau gali lebih dalam, seharusnya ada jalan yang lebih enak dan menyenangkan dalam mencapai tujuan finansial kita.

Last but not least adalah melakukan perjalanannya dan selalu siap dengan plan B, C, D, dst. Perjalanan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan. Misalnya sewaktu jalan ke Penang, sudah jelas tujuannya ke Pantai Batu Feringghi tapi ditengah jalan mobil mogok. Wah, seharusnya kami sedang mandi di pantai dan bersenang-senang ini malah pusing sama mobil yang ngga mau jalan. Akhirnya harus diputuskan untuk tetap pergi ke tujuan dengan cara yang lain. Masa, gara-gara ada masalah dijalan lalu kita melupakan tujuan semula? Ngga kan.

Sewaktu ke Singapura juga sama, jadwal berangkat yang telat terus urusan imigrasi yang lama membuat kami baru berhenti di Singapura jam 10 pagi yang seharusnya kami sudah keluar dari satu tempat rekreasi. Akhirnya untuk efisiensi waktu kami harus rela keluar lebih sedikit pakai taksi. Yang penting, tujuan tercapai.

Perencanaan finansial juga sama. Apalagi yang namanya ekonomi, biangnya finansial, selalu penuh ketidakpastian. Saat ada gangguan diperjalanan, maka harus disiapkan plan B nya supaya tujuan tetap tercapai.

Terus gimana? Udah bikin perencanaan finansialnya? Ternyata belum juga tuh, baru teorema hehehe. Apalagi dengan gaji PNS, kira-kira bisa tercapai ga ya?

  • Share/Bookmark

Tags:

6 Responses to “Perencanaan Finansial = Perencanaan Perjalanan”

  1. saya ndak pernah buat planning finansial, pak iwan, mengalir gitu aja, hehe … kalau ndak cukup biasa utang sana utang sini, hehe …

  2. uny says:

    iap..btul memang sharusx sgla sesuatux hruz d perhitungkan. agar qta dpt mewujudkan prinsip ek0n0mi.he6x

  3. ufianda says:

    btul btul btul…

  4. edratna says:

    Saya sebetulnya termasuk orang yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan hati-hati. Namun setelah menikah, sering malah planning nggak jalan, malah kalau dadakan bisa jalan.

    Akhirnya…yang saya lakukan hanyalah menabung diam-diam, jika ada darurat, atau kebetulan waktunya semua klop, kita langsung berangkat.
    Jai yang bikin perencanaan cuma saya sendiri…:((

    • Itu karena budgetnya ga terbatas kali Bu hehehe. Kan sumber rejekinya jadi dua. Kalo uangnya banyak, ngapain juga direncanakan.
      Kalo saya, sumber rejeki masih sendiri nih Bu, jadi kudu dikalkulasi sebaik-baiknya supaya dengan sumber daya yang ada perjalanan bisa jadi nyaman dan ternikmati sebaik-baiknya.

Leave a Reply