“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).
Perjalanan hidup sudah panjang dilalui. Mungkin juga masih panjang perjalanan yang belum dilalui. Sudah terbukti, sedih dan bahagia datang silih berganti. Kemungkinan besar, sedih dan bahagia juga akan datang lagi.
Susahnya belajar ikhlas, menerima ketentuan Ilahi. Saat sedih, inginnya menangis. Saat bahagia, inginnya tertawa terbahak-bahak. Atau jangan-jangan, menangis dan tertawa adalah bagian dari ikhlas?
Mari menyambut dengan tangis dan tawa.
Sebarkan tawamu untuk sekitar, dan simpan tangismu hanya untukmu dan tuhanmu
Jangan berlebihan saja ketika tertawa dan menangisnya.
konon ada yang bilang kalau batas antara kesenangan dan kesedihan itu begitu tipis, pak iwan. kita memang mesti percaya pada takdir. tapi keyakinan ini jangan sampai melunturkan semangat dan usaha utk beraksi dan berusaha. *doh., kok jadi sok tahu saya, haks*
takdir hanya perjalanan dalam kehidupan…
yang dimana seseorang harus melalui tahapan peroses ini….
jangan sekali2 mengharapkan hasil tapi perosesnya dalam menjalani kehidupan ini…
karena mungkin tuhan mempunyai rencana yang sangat indah bagi kita untuk dijalani….
tak mungkin tuhan memberikan tugas yang dimana mahluknya tak sanggup dalam menjalankan prosesnya itu…..
tertawa dan sedih sengaja allah ciptakan agar dunia ini berwarna….
sabar dan tawakal saja kepada allah….
mungkin tuhan masih sayang dengan cobaan yang tuhan berikan kepada mahluknya…..