Pada awalnya, cuma penasaran aja dengan e-mail dari sebuah milis. E-mail ini berisi tentang Revolusi Belajar yang dibawakan oleh Sir Ken Robinson dalam acara Ted Talks. Boleh dicari di http://www.ted.com atau melalui youtube. Saya sendiri download seluruh bagian dari kuliah 15 menit Sir Ken tersebut.
Isi kuliahnya adalah menceritakan bagaimana pendidikan di jaman sekarang sudah memakai sistem fast food. Pola pendidikan cepat yang memakai standarisasi dalam penyajiannya. Intinya berkeinginan supaya hasilnya bagus dan merata. Tapi pendidikan bagi tiap orang berbeda.
Apa yang bisa berhasil dengan baik kepada satu orang belum tentu berhasil ke orang lain. Dia kasih contoh, dia dapat gitar pada saat yang sama dengan Eric Clapton belajar gitar. Tapi hasilnya beda meski sekeras apapun dia belajar gitar ga bisa sebagus Eric Clapton.
Hal yang ekstrim lagi sekarang bahkan untuk masuk play group atau TK pun sudah pakai interview dan segala macam test. Kadang anak ga bisa dimasukkan ke sekolah yang diinginkannya hanya karena ngga berhasil lolos dari test-test yang diberikan.
Sekolah tidak lagi menyenangkan karena passion sudah dilepaskan darinya. Banyak hal yang sudah menjadi mekanistis dan dijadikan standard. Ngga standard, ngga lulus. Mungkin ini juga kali ya yang menjadi keluhan banyak orang tentang Ujian Nasional.
Isi kuliahnya menambah bingung saya sebagai orang tua, harus bagaimana membimbing anak belajar sesuai dengan passion mereka. Mau masukin sekolah yang ngga standard juga jadi masalah, karena pasti biayanya tinggi.
Anyway by the way, film yang saya download dari youtube itu berisi sekitar 20 menit. Kuliahnya sendiri sekitar 16 menit. Penasaran juga sih dengan sisanya yang sekitar 5 menit. Ternyata isinya menarik. Membuat ketawa ringan dan mendapatkan sedikit pelajaran hidup.
Apa tuh pelajaran hidupnya? Penasaran? Lihat saja sendiri di web nya. Sebelum lihat jangan lupa mampir ke http://www.tokodiskon.com lalu lihat filmnya di http://www.youtube.com dengan kata kunci ken robinson learning revolution.
Jangan komentar sebelum lihat akhir film itu ya

bener2 bikin penasaran, pak iwan. pingin juga langsung ke tkp, nih. mungkin ada manfaatnya juga utk saya dan rekan2 sejawat. makasih infonya, pak.
Pak, dulu teman maupun tetangga, menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah mahal, memberikan sopir. Saat itu (karena belum pensiun) saya mampu membiayai, namun saya berpikir panjang, lagipula bagaimanapun yang penting anak nyaman.
Anak saya sekolah di SD INpres, yang terletak di kompleks rumah dinas, temannya anaknya pembantu, anak tukang bakso dll…tapi anak saya menjadi tahu kesulitan masyarakat pinggiran, yang berbeda dengan lingkungan kompleks tempat tinggalnya. Ternyata, guru2nya baik dan serius…lha 90 % dari lulusan SD Inpres tsb masuk ke SMP 68 yang saat itu SMP terbaik di wilayah Jakarta selatan. Itu yang membuat kami pede…dan anak-anak kami tetap sekolah negeri sampai SMA, dan Perguruan Tinggipun negeri.