Monday, December 26, 2016

Ahok, Penistaan dan Langkah Politik Selanjutnya

Perihal Ahok akan ditersangkakan dalam kasus penistaan agama sudah pernah kita ulas dua bulan lalu sebelum Kapolri Tito atau si Mas Rudy Mie Pangsit menjadi bingung mengikuti langkah politik selanjutnya.
Jadi tempo hari telah dijelaskan bahwa tipikal politik di Indonesia dan juga banyak negara lainnya adalah politik yang dapat diterangkan dengan teori Orang Besar (Bigmen theory). Bahwa hakikatnya politik secara sadar atau tidak sudah kita serah-terimakan kepada orang besar, elit, borgeous. Tentu saja dengan varian politik aliran sebagai representasinya. Politik aliran yang dimaksud berciri primordial antara lain politik Suku, Agama, Ras, dan Golongan yang disingkat menjadi SARA.
SARA inilah yang meskipun di-remehkan- selalu akan menjadi identitas dari praktik politik di mana saja.
0.0 1
Misalnya langkah Ahox mengulang-ulang perihal surat Al Maidah dengan menggunakannya semau dewek adalah bagian yang hampir satu setengah abad lampau telah ditulis oleh Negarawan Prancis Tuan Alexis de Tocqueville. Ia menulis bahwa upaya-upaya memisahkan gereja dengan negara, tafsir ulama versus ilmiah, hak pilih hidup atau mati, hak kesetaraan gender, dan kebebasan berpendapat dengan hak bicara adalah hal sulit untuk dipertanyakan kecuali itu adalah tindakan politik.
Sehingga apa yang dikerjakan Ahox di kepulauan seribu dengan menjadikan dirinya (yang bukan muslim) memberikan satu opini tentang simbol-simbol yang menjadi identitas milik umat Islam merupakan satu kegiatan yang pastinya politik.
Saiya menduga bahwa ia menghitung jika lawan terberatnya di pilkada DKI adalah isu Tionghoa dan Isu non muslim. Ahox ini sudah menerima bahan dari timses-nya untuk terus menyerang lawan politik sejak pra-pilkada -dalam hal ini Yusril Ihza- yang diasumsikan nantinya akan menggunakan kekuatan aliran Islam di Jakarta.
Sebagaimana kita maklum selanjutnya jika aksi selalu menciptakan reaksi.
Energi yang dipersiapkan Ahok untuk menggebuk politik aliran Islam rupanya kehilangan titik pukulnya ketika Yusril ternyata gagal maju. Sementara Anies Baswedan yang masih keturunan Arab atau Agus Yudhoyono bukanlah mereka-mereka yang identik dengan Islam garis keras. Bila mengutip sosilog politik Syahganda Nainggolan maka Anies adalah tipikal islam kota, meski terikat kuat dengan tradisi kebaswedannya ia cukup fleksibel, moderat dalam diplomasi politik. Sementara Agus sebagaimana orang faham sangat mirip dengan karakter SBY yang adalah islam abangan, islam kejawen.
Maka ketika ia kemudian menghantamkan energi Al-Maidah 51 di forum publik di kepulauan seribu maka ia bukan hanya telah melanggar wilayah yang menjadi milik politik aliran yang lain, Ahox menyerang langsung ke jantung umat islam. Reaksi dari hantaman inilah yang tidak diduga berbalik dalam satu implosivitas energi umat Islam yang tiba-tiba menemukan momentumnya untuk menyerang balik secara besar-besaran.
0.02
Energi balik inilah yang kemudian mengubah peta konstelasi politik orang besar.
Beberapa skenario sebelumnya sebenarnya sudah direncanakan bagi Ahox.
0.02.1
Pertama bahwa ia sedari awal terlalu merisaukan bagi kelompok Tionghoa sendiri . Sebagaimana disampaikan berkali-kali oleh tokoh Tionghoa muslim jika Ahox berpotensi merusak tatanan hidup rukun yang selama ini susah payah dibangun masyarakat. Sebagaimana kita maklum jika, kebanyakan golongan Tionghoa adalah masyarakat pedagang, dan mereka terbuka bagi negosiasi dimana rasa aman adalah syarat utama dari transaksi jual-beli.
Memaksakan Ahox maju adalah sebuah dilema identitas.
Di satu sisi ia menjadi pintu masuk ke wilayah politik yang lebih luas bagi golongan Tionghoa, namun di sisi lain akan mengganggu konstelasi tionghoa sebagai bandar politik. Pilihan mengambil semua (the winner takes all) termasuk posisi birokrasi, ini sangat berisko dengan politik Indonesia yang multi aliran. Kasus konflik Sampit dan Poso adalah beberapa contoh dari keinginan semua ingin dipegang.
0.02.2
Kedua, yang kita risaukan adalah skenario tandingan atau penganggap remehan dua aksi umat Islam sebelumnya. Namun hal ini sepertinya tidak akan terjadi, mengingat kita harus kembalikan kepada teori awal bahwa politik kita selain aliran adalah politik orang besar.
Bila kita hitung, maka yang paling mungkin mengerahkan aksi tandingan membela Ahok dan berhadapan dengan massa aksi umat Islam adalah kelompok nasionalis. Dimana Megawati dan PDIP dengan basis massanya dianggap yang paling mungkin merepresentasikan nasionalisme sebagai sebuah jargon maupun kekuatan politik riil. Massa berkicau di dunia sosial-media dalam kenyataannya tidak terlalu punya dampak politik "pressure groups".
Hanya saja bila kita tarik kepada sejarah, resiko ini akan membenturkan massa aksi islam dengan kelompok nasionalis yang selalu dengan sederhana pula dikaitkan benturan Islam versus komunis. Artinya jika ini terjadi maka PDIP menjadi partai paria dan Megawati mesti memahami arah permainan ini.
Lagi pula dengan jadinya Ahok ditersangkakan, ada kemungkinan lain yang akan menguntungkan PDIP yaitu bukan saja mereka sudah mengambil untung dari akumulasi modal pilkada di DKI, maka sekarang PDIP lah yang tidak memiliki kewajiban politik dan finansial apa pun untuk tetap mempertahankan Ahox dan mendorong Djarot maju ke pentas aduan.

Teologi Martirdomship dalam Aksi Massa- Melawan Aksi dengan Aksi lewat simbolisasi korban

Sumber
Saiya mendapatkan undangan terbuka untuk menghadirir acara Bhineka Tunggal Ika, 19 November 2016.
Lengkap dengan dress code merah-putih dan pengantar bahwa tujuan dari acara tersebut adalah menegaskan kembali kebhinekaan karena rupanya terorisme atas nama agama telah menyebabkan jatuhnya korban balita Olivia di Samarinda. Beberapa nama seperti Budiman Sudjatmiko adalah nama yang tertera dalam undangan tadi.
Dengan membawa-bawa korban balita mungil tadi sebenarnya apa yang dituju dengan parade bhineka tunggal ika adalah praktik politik pengerahan massa lewat massa kanonisasi korban. Satu tindakan yang sebenarnya juga membawa-bawa tradisi agama.
Kanonisasi atau penyucian korban adalah bagian dari tradisi tua umat manusia untuk mrmberikan makna kematian yang mulia. Praktik ini masih dilakukan sampai sekarang.
Si pelaku dan juga korban atas nama ideologi, isme, dan tentu saja keyakinan dinaikkan atau di-pakai- statusnya kematiannya sebagai jiwa suci. Ini karena ia dinilai telah menjalankan kehidupannya sebagai sosok yang telah berperjuang di jalan tuhan, di jalan ide, atau dijalan keyakinan.
Gagasan untuk memanfaatkan kematian si balita dan kemudian menautkannya dengan teknik mengompori massa aksi lewat kesimpulan bahwa telah terjadi ancaman atas integritas atas nama teror berbasis agama maka sebenarnya parade tersebut adalah satu bentuk kontradiksi dari kebhinekaan itu sendiri. Dimana di sini secara implisit atau tak tertulis parade sebetulnya bertujuan sebagai aksi politis men-test soliditas Aksi masif massa umat Islam sebelumnya
Dengan menghantam ISLAM sebagai agama yang akan dipersalahkan atas kematian gadis kecil di dalam gereja maka agenda setting dari parade akan menemukan frame yang tepat.
B.
Pada kemungkinan terjadinya kanonisasi, penyucian, atau pensyahidan korban tewas sebagai amunis bagi massa aksi inilah maka sebetulnya kita perlu risau.
Melihat besarnya massa aksi umat Islam yang berjalan damai pada 4/11 lalu sebetulnya kita sudah risau dengan jatuhnya korban tewas Syahri bin Umar yang terserang asma akibat menghirup gas tepung airmata
Bila mengikuti komentar belasungkawa kepada keluarga korban, hampir ribuan komentar berdoa untuk Syahri yang telah meninggal dengan jalan terbaik, syahid ketika membela penistaan atas agama dan kepercayaannya.
Syahri seperti halnya Olivia punya potensi untuk dikanonisasi dan membakar massa aksi ke tingkat kejenuhan yang lebih akut. Kedua korban telah cukup memenuhi syarat-syarat orang suci dan karenanya akan menjadi politis ketika mereka diangkat ke level yang lebih tinggi sebagai simbol perjuangan.
Saiya berpikir mendatangi acara yang menjadikan korban gadis kecil di Samarinda sebagai alasan mengumpulkan orang adalah usaha coba-coba mengetes massa aksi umat Islam dan ini adalah hal yang menjadi kontradiksi bagi kebhinekaan.
Kita tentu tidak ingin nanti setelah parade-parade kebhinekaan yang tujuannya memang mempolitisir kematian balita Olivia akan muncul lagi massa aksi Umat Islam dengan foto-foto syahid Syahri sebagai simbol solidaritas dimana semua siap mati mempertahankan akidah. Lengkap dengan teriakan-teriakan seperti.
"La baik ya syahid Syahri", Kami datang menyusulmu wahai Syahid Syahri."

Mencari Faktor Konflik Myanmar

Ada beberapa faktor yang dapat kita dekati untuk memahami akar konflik di Myanmar.
Beberapa pendapat mengatakan jika hampir semua transisi sistem dari rejime represif militer ke demokrasi tidak berjalan mulus. Demikian pula dengan apa yang terjadi di Myanmar setelah 50 tahun di bawah junta militer dan kini mengadopsi model demokrasi. Persoalan dari model pemerintahan, model negara antara negara-bangsa, atau bangsa-negara, pembagian kekuasaan, partai politik, sampai entis dan agama yang berhak dalam perwakilan golongan dalam dewan dan pemerintah masih menjadi persoalan besar di Myanmar
Beberapa faktor kita klasifikasikan kepada lokus-lokus, yaitu lokus politik relasi sipil-militer, relasi sipil-sipil, dan relasi politik-ekonomi.
0/1
Adalah hasil kajian tuan Marco Buente, mengenai model transisi militer ke demokrasi yang mengubah relasi sipil-militer menjadi beberapa jenis di Myanmar. Bahwa mirip dengan yang terjadi di Indonesia pasca reformasi, yaitu pihak militer yang dipersalahkan sebagai tulang punggung rejim represif Soeharto menarik diri dari pentas politik.
Meski mengorbankan hak previlege mereka di fraksi ABRI/Polri di MPR, menarik tentara ke barak-barak, dan memperkenalkan kampanye "Damai Itu Indah", namun banyak pihak setuju jika tentara tidak sepenuhnya meninggalkan pentas politik. Mereka secara tertutup maupun menggunakan mesin partai berusaha untuk tetap mengambil tempat dalam transisi demokrasi.
Hal yang sama dilakukan pula junta militer di Myanmar dengan menerapkan tiga pendekatan transisional:
0/1/1
Pertama, militer membangun kontruksi baru doktrin yang disesuaikan dengan semangat demokrasi yang dituntut masyarakat sipil. Meski ini lebih kepada bentuk kompromi bagi militer untuk mengurangi tekanan-tekanan terutama dari pihak luar negeri, namun arah dari doktrin akan tetap sama yaitu bagaimana hilangnya pengaruh militer atas kontrol terhadap sipil dan hukum adalah sebuah kemunduran dari doktrin.
0/1/2
Kedua, kontruksi dari terbentuknya relasi sipil dan militer yang baru, yang memungkinkan militer berperan sebagai penopang kekuatan politik sipil. Meski mereka dilepaskan dari politik namun konflik, persaingan politik membuat mereka menjadi faktor backing yang cukup diperhitungkan. Mereka cenderung menawarkan transisi politik ke arah demokrasi dengan beragam istilah demokrasi. Mulai dari guided democracy (demokrasi terpimpin), gradual democracy (seperti Wiranto dulu pernah menawarkan mahasiswa pengunjuk rasa rejim Soeharto), serta di Myanmar dikenal dengan disciplined democracry (demokrasi yang berdisiplin) (Stephen McCharty:2012)
0/1/3
Ketiga, sebagai salah satu rejim militer terkuat di kawasan ASEAN, pihak militer memainkan isu instabilitas dan ketidakpastian transisi dalam demokrasi sebagai pre-text bagi mereka untuk terus mengontrol kekuatan-kekuatan sipil. Yang tidak jarang mereka menggunakan persaingan politik dalam demokrasi sebagai alat tawar.
Setelah berkali-kali tarik ulur dengan masyarakat sipil, militer memang pada akhirnya menggarisbawahi bahwa mereka tidak akan melakukan intervensi sejauh konsep demokrasi yang berdisiplin dijalankan oleh presiden pemenang pemilu. Pengertian atau batasan demokrasi berdisiplin ini menjadi demikian pejalnya (pasal karet) karena bisa saja sewaktu-waktu rejim militer kembali mengambil alih kekuasaan.
0/2
Faktor kedua, adalah gagalnya kelompok masyarakat sipil melakukan perpindahan kekuasaan dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Jatuhnya kekuasaan rejim militer oleh tekanan internasional dan perlawanan pro demorkasi tidak pernah diduga sebelumnya, Seperti halnya di Indonesia pasca reformasi, maka yang kita perhatikan adalah pertikaian kelompok-kelompok sipil. Yang masing-masing terbelah menjadi politik-politik aliran berbasiskan kepada agama, etnis, dan golongan-golongan. Pembentukan partai-partai dan lembaga-lembaga boneka militer seperti BSSP (Partai sosialisme Burma), SOLR (Konsil penegakan aturan dan hukum Nagari) serta SPDC (Dewan Keamanan dan Pembangunan Nagari) sebenarnya cukup menyatukan kelompok oposisi dalam gerakan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Sayangnya ketika transisi diberikan secara "penuh" kepada Thien Shein untuk memulai pemilihan langsung yang lebih terbuka maka oposisi dari kelompok sipil terpecah dalam kelompok-kelompok politik. Beberapa diantaranya menggunakan politik aliran yang berbasis kepada entis, suku, agama, dan golongan. Yang mana dalam praktiknya mereka mulai kembali menarik-narik militer untuk terlihat atau berpihak di sisi mereka.
0/3
Faktor kedua adalah persoalan ekonomi politik. Setelah dianggap sukses melakukan transisi demokrasi via demokrasi yang berdisiplin maka Myanmar adalah salah satu negara ASEAN yang paling banyak diminati investasi asing. Cina, India, Korsel, Jepang, Thailand, dan kini Singapura. Selain kekuatan modal tradisional seperti Inggris, AS dan Rusia maka negara-negara baru tadi menginvestasikan dana besar di sektor infrastruktur dan perdagangan.
Posisi geogstratejik Myanmar sungguh luar biasa. Mereka adalah satu-satunya negara yang menjadi hub dari tiga kanal Asia. Asia Selatan, Asia Timur, dan ASEAN. Berada di teluk Bengal/Bangladesh. Posisi pantai yang lebar dan curam terutama di wilayah Rakhine/Arakan yang banyak dihuni etnis Rohingya adalah kombinasi yang baik bagi pelabuhan basah (sea-port) dan pelabuhan kering (dry-port) yang sejak lama menarik minat negara-negara besar seperti Rusia, Cina, dan AS. Jika Cina dapat berkolaborasi dengan militer Myanmar untuk menjamin mereka memiliki pelabuhan kering dan basah guna mendukung proyek Marine silk-road project maka Hongkong dan Cina dibelakangnya akan memiliki akses laut yang akan memotong jalur perdangangan internasionalnya ke dunia lain.
Meski demikian Myanmar menyadari jika hanya dengan melewati reformasi politik dan transisi ke arah demokrasi maka mereka baru dapat memenuhi prasyarat dari diangkat embargo dan sanksi ekonomi oleh barat. Politik dengan wajah militer yang lebih terbuka dan didorongnya Aung San Su Kyi yang dikenal dekat dengan lobbyst AS inilah yang kemudian dimajukan untuk mendapatkan simpati dunia barat. AS dan eropa sendiri berkepentingan berinvestasi di Myanmar untuk mengawasi kemungkinan Cina menggunakan port dari Myanmar bagi kepentingan geostrategisnya.
Setelah Suu Ky sukses menjual Myanmar sebagai negara demokrasi baru, yang siap menerima investasi dalam jumlah besar maka satu strategi telah dapat dimenangkan..
Kesimpulan.
Menjadi kenyataan jika Myanmar memang menarik bagi investasi asing, terutama bahwa di negara tersebut masih dibutuhkan pembangunan infrastruktur besar-besaran, industri listrik, dan pengolahan mineral alam yang kaya serta pelabuhan penghubung bagi Asia Tengah, Asia Timur, Selatan dan Tenggara. Hongkong, Thailand, Cina, India, dan Singapura adalah beberapa negara yang telah berinvestasi di berbagai sektor di Myanmar.
Selain itu semenjak Inggris pada tahun 1974 mengklaim sebagai penemu mineral bauksit dan mangan di bantalan laut teluk
Bangladesh yang dihuni mayoritas suku Rohyngya muslim keturunan Bangladesh, maka konflik perebutan lahan dan sengketa perbatasan lau di sana sampai hari ini belum dapat diselesaikan.
Inggris dengan janji investasi besar telah menggunakan Bangladesh untuk mengklaim bantalan tersebut masuk ke dalam teritorial laut negaranya. Selain dengan mengklaim secara budaya dengan banyaknya suku Rohyngya yang masih keturunan Bangladesh sebagai bukti jika di sana dulunya wilayah Bangklades. Sementara Burma/Myanmar yang didukung investasi Cina menolak jika wilayah tersebut masuk ke perbatasan laut Bangladesh.
Ini dapat dimengerti jika mengapa Bangladesh menolak menampung orang Rohyngya yang masih satu garis keturunan dan beragama Islam. Selain mereka akan menjadi beban ekonomi pengungsi maka Bangladesh memiliki kepentingan mengklaim bantalan laut mereka dengan keberadaan orang Rohyngya. Di sisi lain junta Myanmar yang didukung aktivis radikal Budha memiliki alasan lain untuk mengusir mereka yang sepertinya alasan ekonomi dan historis jauh lebih kuat.
Seperti banyak ditulis literatur Bauksit dan Mangaan adalah mineral jarang yang sangat penting yang dibutuhkan oleh industri modern dan persenjataan mutakhir. Sehingga konflik yang mengorbankan etnis Rohyngya di Myanmar sulit untuk dilepaskan dari persoalan transisi pollitik militer, sipil-sipil, dan kepentingan investasi asing untuk menguasai wilayah laut milik etnis Rohyngya yang menjanjikan investasi besar.
*Foto-foto
1. Delegasi dari beberapa etnis di Myamar datang ke Indonesia untuk mempelajari transisi demokrasi pada tahun 2010.
2. Sidang lanjutan sesi pandangan di UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) di Hamburg pada Agustus 2012 antara Bangladesh dengan Myanmar/Burma memperebutkan batas landas teluk Bangladesh. Benda di tangan saiya adalah sampel Mangaan yang diambil dari ekspedisi Inggris pada 1974 di teluk bangal pesisir yang banyak dihuni suku Rohyngya.

Mengerucutkan Arus Massa Islam -dari aneka tangkisan Kapolri sampai Penahanan Bun Yani

Sumber
Yang membuat kita heran sampai hari ini adalah pemerintah Djokowi masih percaya bahwa penggunaan rekomendasi mitigasi konflik ala mitigasi bencana adalah yang paling tepat untuk membendung arus banjir protes umat Islam atas tuduhan penistaan agama Ahok. Bahwa seolah-olah aksi unjuk rasa damai umat Islam yang merupakan bagian dari demokrasi yang sehat dianggap bencana.
Pernah kita bahas sebelumnya jika mitigasi, adalah pendekatan manajemen resiko yang intinya memonitoring dan mengatasi resiko yang berpotensi menjadi bencana. Lewat asumsi ini pemerintah melihat arus massa Islam dengan kaca mata kecurigaan dan berpeluang menggulingkan kekuasaan. Sehingga respon melalui pendekatan mitigasi ala bencana banjir ini dianggap yang paling tepat.
Beberapa pendekatan mitigasi tadi perlu kita ulang dengan beberapa tambahan.
1. Pendekatan "blame it on the rain".
Cara yang paling mudah menuduh aksi umat Islam tentu dengan cara menyalahkan hujan. Tepat setelah menganggap aksi damai umat islam 4/11 tidak lebih penting daripada mengawasi proyek kereta api di Bandara, Djokowi tiba-tiba mengadakan rapat darurat dan muncul dengan jaket penerbang. Ia menyebut jika aksi umat islam diotaki aktor intelektual. Istilah aktor intelektual inilah yang kita sebut dengan teknik menyalahkan hujan. Mereka tetap akan menjadi anonimous atau tidak akan pernah dibuktikan. MIrip dengan menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir.
2. Teori kill chicken scary monkeys.
Setelahnya dengan mudah dan dengan cara-cara di luar kewajaran polisi melakukan operasi pencidukan baik paksa maupun soft. Pencidukan paksa dilakukan misalnya pada 5 aktivis HMI dan pencidukan soft dilakukan dengan mengundang Bun Yani, orang yang disebut penyebar video Ahok di pulau seribu sebagai saksi.
Lewat penangkapan ini sebenarnya ada dua tujuan mitigasi yang dilakukan. Pertama membenarkan jika ada ada aktor intelektual di balik Aksi 4/11 yaitu para mahasiswa, anggota HMI. Kedua dengan penangkapan Bun Yani mesti ada proses lain yang akan dihubung-hubungkan dan dikaitkan dengan serangan misalnya ke tim Anies-Uno. Teknik menciduk mahasiswa dan bun Yani yang katanya memanfaatkan sosial media adalah cara-cara menggertak monyet dengan membunuh ayam.
3. Melakukan kanalisasi.
Pemerintah menciptakan kanalisasi guna memecah arus besar aksi umat islam lewat kategori-kategorisasi. Tujuan kanalisasi adalah memperlemah arus dan mengosongi kantong massa.
Misalnya jika kita perhatikan sebelum dan setelah aksi 4/11 Djokowi melakukan pendekatan kepada the so called kelompok-kelompok massa besar Islam yang telah dikanalisasi dengan predikat islam moderat. Sementara peserta aksi digolongkan kepada Islam garis keras, Islam Wahabi, Islam anti kebhinekaan, islam politik, dan islam yang ditunggangi.
Kanalisiasi tadi melalui dua arus besar yaitu Islam moderat dalam hal ini kelompok NU, MUhammadiyah dan ditambah massa islam nanggung beriman yang ribut di med-sos tapi jarang ke masjid versus islam yang sakit hati dan senang turun ke jalan.
Bila kita perhatikan ada perbedaan mitigasi antara sessi pra aksi dan pasca aksi. Di pra misalnya Djokowi masih menganggap NU, Muhammadiyah yang harus datang ke Istana, maka pada sessi pasca aksi 4/11, ia yang berblusuk-blusukan ke kantor-kantor dan menghadiri kegiatan NU, MUhammadiyah lengkap dengan perangkat keislaman, seperti kopiah dan asalamualaikum.
4. Pameran Antisipasi
Setelah ketiga tahap tadi, maka langkah mitigasi lanjutannya adalah aneka blusukan internal dengan mendatangi tentara, mengundang elit politik, yang tujuannya adalah pameran antisipasi. Ia meskipun caranya keliru ingin menunjukkan bahwa semua angkatan dan partai-partai ada di belakangnya untuk terus menjaga keutuhan NKRI dari ancaman politik Islam. Semacam diplomasi show of force, bahwa saiya jangan coba-coba dijatuhkan lewat isu penistaan agama oleh Ahok.
Yang dikerjakannya mirip kantor BNPB pameran alat-alat penanggulangan banjir seperti mesin kompa banjir, perahu karet, ban penyelamat, tenda darurat dan dapur umum. Bahwa kami siap siaga menyambut banjir berikutnya dan siap mengantisipasi.
4. Stealing time. Mencuri waktu
Pendekatan mitigasi selanjutnya adalah stealing time. Sebenarnya cara inilah yang sekarang paling sering digunakan untuk melemahkan tuntutan umat islam agar Ahok ditahan karena penistaan agama.
Lewat proses buang-buang waktu, pemerintah berpikir akan mengurangi energi banjir solidaritas umat Islam atas penistaan agama. Aneka isu mulai dari makar sampai penarikan uang besar-besaran di semua ATM adalah paket-paket isu untuk mencuri waktu. Mengulurnya dengan tujuan agar kasus penistaan Ahok ini punah dan berlanjut mulus dengan langkah-langkah politiknya.
Termasuk penetapan Ahok sebagai tersangka tanpa penahanan namun Kepala Polisi Nagari dengan cara-cara diluar kebiasaan menciduk terduga mahasiswa dan netizern bun Yani sebagai tukang bikin ricuh. Munculnya kegancilan ini memang sengaja diciptakan untuk membangun wacana rasa keadilan yang nantinya akan menghabiskan waktu juga bila dibahas.

KESIMPULAN
Jika kita lihat perkembangan selanjutnya maka yang terjadi di luar perkiraan akan terjadi.
1. Bahwa tersangka Ahok yang bebas tanpa penahanan dengan mudah akan merusak rasa keadilan umat Islam dan juga tentu masyarakat kita. Bagaimana mungkin mahasiswa Hmi dan Bun Yani serta para tersangka penistaan agama lainnya ditahan, Ahok begitu bebasnya. Sedemikian bebas sehingga ia dibiarkan saja memberikan satu interview dengan media asing dan menuduh para peserta Aksi Damai Umat Islam 4/11 dibayar 500 ribu per orang.
2. Bahwa pemerintah melakukan ancaman-ancaman via isu subversif/ makar adalah cara-cara orde baru yang bukan hanya ketinggalan zaman tetapi mensumirkan definisi kata "makar" sebagai tindakan fisik tidak menyenangkan itu sendiri.
Melalui aparatur-aparatur kekuasaannya pemerintah menciptakan teror makar termasuk pelarangan penayangan ILC karena dianggap mengganggu kebhineka tunggal ikaan dan menyebarkan kebencian SARA. Sementara tuduhan-tuduhan Ahok bahwa peserta aksi 4 November lalu yang dihadiri ratusan ribu umat islam di Jakarta saja telah menerima bayarang 500 ribu tidak dianggap sebagai sebuah ujaran kebencian.
Yang lebih parahnya lagi bahwa alasan kebijakan anti subversif ini disebutnya dengan sangat tidak profesional dipertimbangkan karena info itu didapatnya dari google.
Selanjutnya ia menggunakan cara-cara norak menyebarkan surat edaran lewat helikopter yang bukan hanya menganggap media sharing seperti applikasi twitter, facebook, atau instagram sebagai tidak berfaedah tetapi menghabiskan biaya besar.
Lewat tudingan seperti ini Kepala kepolisian Nagari Toto, sedang mengancam arus banjir solidaritas umat islam dengan siraman air.
3. Pada kenyataannya, apa yang dilakukan dengan teknik mitigasi ini adalah sekali lagi hanyalah stealing time. Pemerintah membelah arus umat islam dengan sasaran-sasaran banjir yang berbeda-beda untuk sekali lagi mengurangi energi.
Hanya sayangnya penanganan kasus penistaan agama oleh Ahok ini hanya mengerucutkan arus soldiaritas umat islam semakin kuat saja. Bahwa bukan hanya penistaan agama telah dilakukan namun pemerintah terkesan telah melakukan penistaan terhadap rasa keadilan.

Phobia Jum'atan

Di bawah Khomenei, shalat jum'at yang sebelumnya disarukan karena tekanan rejim Pahlevi mulai diwajibkan bagi orang Iran yang mayoritas Syiah.
Masjid-masjid dan karpet-karpet digelar sampai ke jalan-jalan. Bazariah atau kaum pedagang didorongnya berpartisipasi untuk meramaikan jum;atan.
Apa yang dilakukannya bertujuan mengembalikan jum'atan sebagai sebuah praktik ibadah sosial Islam yang diajarkan Rasullulah.
Hanya di hari jum'at umat Islam diwajibkan menggunakan pakaian terbaiknya, memperindah diri, memanjakan tubuh dengan wangi-wangian, mengunjungi yang sakit, melaksanakan hajat-hajat sosial, berderma, dan menyampaikan maksud-maksud hatinya secara terbuka. Yang lebih penting, melalui jum'atan umat muslim menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah satu kesatuan yang indah.
Bila kita periksa di literatur sejarah, maka di masa pemerintahan rejim keluarga Yazid bin Muawiyahlah jum'atan menjadi satu kegiatan yang merisaukan penguasa. Kritik-kritik konstruktif terhadap ketidakadilan, ketimpangan hukum, yang dilakukan dalam majlis-majelis jumatan dilarang keras. Ulama-ulama diancam, aneka fatwa-fatwa bidah dikeluarkan. Termasuk yang sampai hari ini kita terapkan adalah fatwa "mustami/jamaah dilarang berkata-kata atau bertanya", adalah produk-produk fatwa pada masa itu.
Ketika Khomenei mengeluarkan kritik terhadap hiprokisme Barat yang melindungi Salman Rudise karena menghina tauladan umat Islam nabi Muhammad melalui buku The Satanic Verses melalui fatwa penistaan agama pun dikeluarkan pada hari Jum'at.
Bukan hanya Khomenei, Djalaludin Al Afghani, Hassan Al bana Mesir, Mochtar Omar Libya, para musafir dan tokoh perlawanan modern anti kolonial menggunakan kharamah hari Jumat sebagai waktu terbaik menyampaikan maksud dan tujuan-tujuan.
Belakangan, gejala ngeri-ngeri sedap tadi muncul lagi. Rupanya ada saja orang yang merasa jengah dan risau dengan keinginan ribuan orang melakukan shalat jum'at di jalan. Sampai perlunya menuduh makar, menyebarkan ancaman selebaran via helikopter, mengancam pencabutan izin trayek bus yang akan membawa jamaah melakukan jumatan bareng. Lucunya lagi mereka yang mengatakan jum'atan di jalan mengganggu lalu lintas. Seolah-olah persoalan lalu lintas, macet, semrawut di Jakarta adalah shalat jum'at. Ha ha ha ha ha

Hmi, shalat jum'at, Moet dan Logo -Ir Ahmad Noeman dan Dakwah ke Kaum Urbanist



Kira-kira awal tahun 2000, saiya dan Tuan Madroji mendatangi Ir. Ahmad Noeman di studio Birano yang didirikannya di jalan Ganesha 5/7. Satu lantunan musik dari radio jazz KLCBS 100.55 yang dibangunnya sebagai media dakwah Islam urban menemani kami di ruang tunggu.
KLCBS dengan narasumber Prof. Sakib Machmud yang juga salah satu konseptor ideologi bagi organisasi Hmi. Sampai sekarang KLCBS masih menjadi barometer radio jazz di Indonesia dengan pilihan musik dan tema obrolan yang ringan tapi berbobot. Lewat kombinasi musik dan dakwah Islam dengan sisipan pesan-pesan moral dan nilai-nilai universal, ia bisa bertahan lama di ceruk yang radio musik yang kecil itu.
0.1
Hari itu adalah hari Jum'at. Seperti biasa dosen luar biasa arsitektur dan desain kayu ini menyempatkan diri melaksanakan shalat jum'atan di masjid Salman ITB. Tepat jam 11.00 siang Ir. Ahmad Noeman akan berangkat dan memilih duduk di bagian-bagian tengah saja. Selesai shalat tentu ia akan melihat-lihat buku-buku yang dijual di kios-kios buku sepanjang masjid lalu kembali ke studio rancang arsitektur dan interior miliknya.
Pada kebiasaan tadi saiya tentu hafal, karena dua semester dia mengajar gambar kerja dan desain furniture untuk kelas interior di ITB. Setiap kamis pagi 15 menit menjelang jam 07.00 tepat ia sudah berdiri di muka kelas. Berbincang-bincang ringan dengan mahasiswa yang sudah datang. Semua topik dengan bahasa yang ringan-ringan dan cenderung menghindari keseriusan.
Tepat jam menunjukkan pukul 07.00 ia akan masuk kelas, mengatakan dengan hormat di depan bahwa hari ini ia akan berbagi ilmu.
"Karena harta yang dibagi akan menjadi habis, sementara ilmu yang dibagi akan bertambah-tambah banyaknya."
Bila diantara kami ada yang terlambat masuk ia akan mempersilahkan masuk dan tersenyum ramah sambil berkata.
"Dosen saiya dulu Prof. Schoemaker, orang Belanda. Bila dilihatnya ada mahasiswa yang terlambat maka ia akan berkata: Eeh Tuan Badu, saiya iri sekali dengan tuan karena tuan bisa menyelesaikan tidur tuan dengan baik sekali." Ir. Noeman berkata terkekeh-kekeh.
0.2
Pertemuan itu adalah untuk satu keperluan mendokumentasikan sejarah Hmi. Ir. Ahmad Noeman adalah adik kandung dari an outstanding Indonesian artis, Prof. Ahmad Sadali. Ketika masih mahasiswa keduanya adalah adalah tokoh-tokoh pergerakan Hmi Jawa Barat. Ahmad Sadali yang dikenal sebagai ustad yang seniman, adalah tokoh sentral perlawanan mahasiswa Islam terhadap anasir PKI di kampus-kampus di Jawa Barat.
"Dulu kalau mau shalat Jum'at saja anak-anak muslim harus jalan jauh. Kadang suka diledek di kampus sebagai kaum minderwardigheit, orang sarungan, tradisional dan kuno."
Bukan hanya sayap PKI menyerang ulama, mereka pun melarang praktik-praktik keagamaan di dalam kampus.
"Masjid Salman itu dulunya tanah rumput, dan beberapa rumah dengan gang-gang tempat masyarakat Taman Sari bawah memberi makan kambing-kambingnya."
"Lalu kami melakukan beberapa kali shalat Jum'at di sana, dengan menyebarkan pamflet di dalam kampus berupa ajakan shalat berjamaah." Setiap minggu jumlah mahasiswa yang ikut mulai bertambah banyak dan ini rupanya cukup merisaukan PKI.
Awalnya tidak mudah, karena mahasiswa dan dosen yang ke-kiri-kirian mulai menggunakan rektorat untuk melarang kegiatan tadi.
Sadali lanjut Ir. Ahmad Noeman, mendekati Jendral Ibrahim Aji dari Detasemen Siliwangi untuk membacking proyek pembangunan masjid permanen dengan diam-diam. Caranya pertama-tama tanah lapang tersebut di pasang patok dan diberi tali pembatas dengan tulisan: "Di sini akan dibangun pertanian jagung percontohan." agar tidak terlalu dicurigai anak-anak kiri.
"TIdak lama setelah bangunan awal disusun, maka proyek pembangunan masjid pun dilaksanakan dengan segera. Sumbangan 1000 sak semen harus saiya pikirkan baik-baik agar cukup untuk membuat satu masjid besar yang dapat menampung jamaah shalat jum'at." Ia lalu menerangkan mengapa masjid Salman tidak memiliki kubah, yang salah satu alasannya adalah menghemat bahan dan waktu pengerjaan.
Demi tidak diganggu lagi oleh mahasiswa onderbouw komunis maka anak-anak Hmi dengan lihai membajak Soekarno yang tengah berkunjung ke ITB untuk meresmikan masjid baru tadi. Alhamdulilah Soekarno dengan senang hati memberikan ceramah dan menghibahkan nama bagi masjid baru tadi. Soekarno memberinya nama masjid Salman, satu dari pengikut setia Nabi Muhammad keturunan parsi (Iran).
Setelah resmi masjid tadi didatangi Soekarno, Ir. Ahmad Noeman mengatakan tidak ada lagi serangan-serangan kepada anak-anak Hmi. Bahkan kemudian Ir. Ahmad Sadali menjadikan Salman sebagai pusat pemikiran pembaharuan Islam kota. Dengan layanan-layanan sosial, pendidikan, konsultasi, ekonomi, dan penerjemahan serta penerbitan buku-buku Islam. Dr. Imaddudin Abdurrahim, Ir. Adi Sasono, adalah beberapa sosok pemikir baru Islam yang lahir dari khalakah (perkumpulan) Salman.
0.3
Ir. Ahmad Noeman tertawa kecil menceritakan kisah tadi. Ia kemudian masuk ke dalam, dan kemudian keluar membawa satu kertas buram dengan gambar yang cukup mengejutkan.
"Ini desain moet/baret dan logo Hmi..." Ia berkata sambil memasang kacamata.
"Kami membuat ini karena, kami sebagai anak Hmi iri dengan anak-anak GMNI, PMB -Perhimpunan Mahasiswa Bandung- atau anak-anak himpunan mahasiswa lainnya. Bila mereka berjalan di tengah kampus dengan seragam, topi baret tadi serasa gagah dan necis betul. ha ha ha. Kenapa Hmi tidak punya baret dan logo?"
Ia menceritakan kisah-kisah dibalik desan tadi, yang salah satunya agak heran juga mendengar kabar bahwa logo Hmi yang mereka desain kelak dikemudian hari memiliki tafsir-tafsir yang dibakukan di kalangan Hmi.
Ia bercerita jika sewaktu mendesain sama sekali tidak ada maksud-maksud tadi. Mendesain saja agar pantas dan bagus.
"Soal nanti ada ilmu gatuk-gatukan, misal jumlah sudut itu maksudnya iman, islam, ikhsan itu mungkin dipas-paskan saja dengan logo."
Begitu pula dengan bentuk moet yang mirip kupluk orang sunda sama sekali berbeda dengan moet Hmi yang hari ini lebih mirip kopiah atau songkok. Kupluk tadi memiliki dua sisi dengan masing-masing berwarna hijau dan hitam. Apabila dikenakan maka bagian atas kupluk akan jatuh ke samping seperti hiasan pada baret dan sepertinya cukup elegan.
0.4
Ya, terlepas dari penafsiran di masa sekarang, tetapi inilah yang bisa dituliskan dari sebuah catatan kecil yang saiya ditemukan tadi di antara arsip-arsip lama. Heran juga saiya bahwa gambaran tangan Ir. Ahmad Noeman tadi ada saiya temukan di antara berkas-berkas kelengkapan surat kelakuan baik untuk persyaratan saiya melamar menjadi sipir rutan-penjara.
Tentu saja ini mengherankan, tetapi sudah dijelaskan dalam buku wejangan hikmah dan kebaikan; bahwa tentang jalan sejarah dan penghidupan, kita tidak bisa menebaknya dengan tepat dan akurat.

Long March Penaklukan Makkah

Yang jarang dikaji orang dalam kisah long march Muhammad dalam penaklukan Makkah (Futuh Makkah) adalah bahwa ia bukanlah sebuah unjuk kekuatan kaum muslim kepada oligarki Quraisy yang menguasai Mekkah, tetapi perjalanan tersebut merupakan posesi religius bagaimana manusia menundukkan amarah.
Adalah Ibnu Arabi dalam tafsir-tafsir sufistik Pembukaan Mekkah (futuhat al Makiyah) yang menggambarkan perjalanan ke Mekkah sebagai perang manusia menundukkan amarah.
Tidak ada satu pun darah yang ditumpahkan Muhammad dalam penaklukan Mekkah. Bahwa benar telah terjadi satu kekecewaan yang digerakkan oleh dorongan alamiah kemarahan (amarah) setelah menempuh ujian-ujian perjalanan menuju Mekkah, tetaplah tinggal sebagai sesuatu yang terbenam (ghaizd). Ia tidak pernah keluar sebagai sesuatu yang terlampiaskan (ghadab).
Pada bani Sulaim yang ditemuinya di ujung kota Madinah, ia mengajarkan untuk menahan pedang-pedang dari menyakiti musuh yang telah menyerah.
Menjelang senja di desa tua Yaztrib di hadapan khabalah bani Qathafa ia melarang pasukannya membunuh orang tua, anak-anak dan perempuan.
"...dan cegahlah tanganmu dari menyakiti orang-orang shaleh yang membunyikan kidung pujian dibihara-bihara dan gereja-gereja."
Rombongan bergerak dalam malam dingin udara Hijaz, tidak ada kata-kata cacia, hujatan, fitnah kebencian kecuali kalimat tasbih, takbir, tahlil, tahmid, dan istigfar. Sampai bertemu mereka dengan pemilik ladang dari bani Muzain yang bertanya apakah ia akan dibunuh dan harta benda miliknya akan dirampas.
"...tahan tanganmu dari merusak tumbuhan, menghancurkan ladang-ladang, dan membunuh hewan tanpa alasan.".
Pasukan bergerak dalam deraan penderitaan panas gurun hijaz. Kesusahan hidup dan kesenangan dibatasi oleh waktu yang fana, kematian hanya sehitungan tarikan nafas saja. Maka ketika pasukan dengan zirah yang dibunyikan canting tasbih, takbir, tahll, tahmid dan istigfar itu memasuki gapura Marr Zahran ditepi kota Mekkah. Peperangan telah diselesaikan.
"Apakah yang akan engkau harapkan aku lakukan kepadamu?" Ia berkata kepada rombongan besar pasukan Quraisy yang menyerah.
"...adat kami adalah kematian bagi para pengkhiatan, dengan begitu engkau mengembalikan kehormatan kami wahai Muhammad."
"Kehormatan manusia adalah ketika ia tercegah dari amarah yang terlampiaskan."
Maka pasukan muslim pada hari itu menyaksikan satu persatu pasukan quraisy mengucapkan syahadah. Pasukan yang semasa lalu adalah orang yang akan membunuh mereka kini menjadi saudara.
Muhammad tersungkur ke tanah di bawah kaki Qashwa, unta tua yang lemah yang telah membawanya kembali dari perjalanan hijrah 13 tahun lalu untuk kembali ke Mekkah.
"Bila datang padamu pertolongan dari Tuhanmu."
"dan di hari itu engkau Muhammad menyaksikan manusia dari segala penjuru datang berbondong-bondong kepada kemuliaan addin."
"Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mintalah Ampunannya. Sesungguhnya ia adalah Tuhan yang Maha pemaaf."
Apabila hakikat telah menyeru dalam hati, Ibn Arabi melanjutkan dalam catatan, ketika ia tafakur pada tanah Mekkah yang berdebu maka dunia ini hanyalah sebuah pentas bagi pengembara dan satu jembatan yang harus dijalani. Seandainya manusia tidak menghiasinya dengan sifat-sifat dan kemuliaan yang terhalangi kebencian dan kemarahan maka tiadalah akan terbuka jalan baginya menemukan kebahagian yang hakiki.
(Ilmu dan Perjalanan: Futuhat al Makiyah)

Kekuatan umat Islam Indonesia sebagai modal masyarakat- Mungkinkah dari aksi 2 Desember terbangun kekuatan modal

Yang membuat saiya kagum pada aksi 2 Desember lalu adalah munculnya swa-organisasi yang rapi, tertib, dari massa umat islam melanjutkan aksi penistaan agama sebelumnya. Aksi yang mendatangkan hampir 7,2 juta orang secara serentak di seluruh tanah air dengan yang menguras uang, perhatian, dan tenaga ditolak atau diterima telah menjadi fakta sejarah bahwa seandainya diorganisir dengan baik dan diikat dengan emosi yang terkontrol oleh akal sehat serta kesadaran ilahiah maka umat islam di Indonesia dapat menjadi modal masyarakat untuk memperkuat bangsa Indonesia.
Tidak dapat ditolak bahwa gerakan besar tetapi lembut dan cantik untuk mengawal proses hukum dengan cara menjunjung tinggi demokrasi, sikap berkewarganegaraan, dan supremasi hukum ini telah menarik simpati masyarakat luas baik dalam dan luar negeri. Bagaimana dengan swadaya, swadana, swalayan, dan swa lainnya umat islkam mengorkestrakan satu gerakan nasional yang masif dan mengundang simpati luar biasa.
Aneka pujian dari mulai kebersihan, ketertiban, keindahan, keteraturan, sampai motivasi tulus baik peserta maupun simpatisan yang datang dari berbagai kalangan umat beragama untuk ikut berpartisipasi mendukung kegiatan dimaksud menunjukkan bahwa sebenarnya Islam di Indonesia dapat menjadi contoh dari apa yang disebut dengan demokrasi dengan basis kekuatan publik yang sebenarnya.
Saiya menyaksikan aksi besar tersebut di tengah-tengah acara High Level Meeting 2 tentang Kemitraan Global untuk Efektivitas Kerjasama Internasional di Nairobi Kenya. Pada saat komitment pendanaan bagi kegiatan pembangunan di negara-negara berkembang sedang diperbincangkan serius.
Setelah beberapa pertemuan di Shanghai, Cancun Meksiko, Busan dan kini High Level Meeting 2 di Naroibi, tentang masa depan kerjasama pembangunan global maka hal yang selalu muncul ke muka adalah keinginan dari semua orang untuk memajukan kepentingan nasionalnya di atas segala-galanya. Di satu sisi negara berkembang (developed) yang kaya tetap menginginkan diri mereka sebagai pemberi bantuan keuangan internasional dengan sistem bunga-riba yang tinggi dan tentu saja mengikat. Di sisi lainnya, negara-negara berkembang yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam dan manusia yang penting bagi terus bergeraknya kapital internasional tetap menjadi kelompok miskin yang tergantung pada uang bantuan negara lain.
Kontur kepentingan membangun dan kebutuhan memperoleh dana pembangunan tadi memaksa kita untuk terlibat untuk ikut merumuskan bentuk-bentuk negosiasi yang penuh intrik dan manipulasi yang dimainkan donor tradisional.
Terbukti dengan diulur-ulurnya program investasi di Indonesia telah memaksa pemerintahan memutar kepala menerapkan kebijakan ambil duit rakyat via program-program seperti pemotongan anggaran di pusat dan daerah. Penerapan tax amnesti, dan kemudian pajak-pajak lainnya demi menarik uang publik bagi kepentingan pembangunan yang tidak kunjung jadi.
Di sinilah kemudian saiya melihat bahwa sebenarnya aksi damai umat Islam 2 Desember lalu yang menarik simpati luas sebenarnya dapat dimaksimalkan menjadi modal masyarakat bangsa Indonesia.
Saiya membayangkan seandainya ada dana yang dapat diakumulasikan dari kehadiran 7,2 juta umat islam dengan model crown funding, satu orang seribu rupiah per hari atau per bulan. Maka tidak dapat dihindari aksi kemarin akan menjadi satu bentuk solidaritas kapital luar biasa untuk memulai kemandirian bangsa.
Melepaskan ketergantungan akut bangsa ini dari dana-dana bantuan asing yang diplot dengan bunga tinggi dan kesimpangsiuran program yang membuka jalan bagi terjadinya praktik korupsi antara pemilik modal dan penguasa. Kasus-kasus reklamasi pantai untuk properti mahal, perambahan hutan, penguasaan lahan tempat tinggal di perkotaan dengan cara menggusur orang miskin dan memenangkan modal pengusaha adalah beberapa contoh dari buruknya praktik akumulasi kapital pada segelintir orang.
Ini hanya dapat dilawan dengan memaksimalkan peran-peran swadaya masyarakat dalam organisasi modal bersama yang cakap. Kegiatan aksi damai 7,2 juta orang yang melibatkan dana, perhatian, dan tenaga kemarin sebenarnya dapat menjadi langkah awal bagi dibentuknya satu kekuatan ekonomi tandingan oleh umat Islam Indonesia bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menghancurkan stigma buruk Aksi Umat Islam

Aksi Damai umat Islam 2 1 2 membuktikan jika mitigasi pemeritnah sebelumnya dengan cara memecah belah arus massa aksi dengan melakukan kanalisasi terbukti gagal.
Pembelahan massa aksi dengan kelompok sebutan kelompok Islam garis keras, islam wahabi, islam anti demokrasi, dan islam radikal dengan anti thesisnya Islam bhineka, islam nusantara, islam NU, atau islam tradisis tetap saja gagal menjawab logika massa aksi.
Habieb Ridzieq, pimpinan FPI yang selama ini diframe media sebagai sosok mirip onta, kearab-araban, bodoh, bebal, kasar, anti dialog, ternyata harus diakui dalam aksi kemarin adalah sosok sentral yang membawa catatan sejarah penting. Bahwa ia telah memimpin gerakan moral jutaan massa umat islam yang turun ke jalan dari berbagai provinsi, berbagai tingkatan ekonomi, berbagai pondok pesantren kampung sampai kota.
Bahkan aksi yang begitu rapi, indah, dan damai tadi menarik pula simpati dari puluhan yayasan-yayasan Katolik, Budha, Konghuchu dst. Dimana sebagian besar kita benar-benar kagum bahwa aksi 2 Desember lalu adalah satu atraksi massa yang terkoordinasi, terorganisasi dan tentu saja membengkokkan berbagai kenyinyiran, konspirasi-konspirasi, dan kusumat lainnya.
Semua stigmasi buruk atas dirinya dan umat islam pada umumnya benar-benar berantakan. Terbukti bahwa justru umat Islam-lah yang benar-benar dapat menunjukkan dan mendapatkan dukungan luas bahwa segala sesuatu harus dihadirkan dalam konteks hukum, berwarganegara yang benar.
Sekarang giliran, pemerintah dan aparatur kekuasaannya untuk menunjukkan rasa keadilan yang dimintakan umat islam atas penistaan agama yang dilakukan Basuki Ahok. Jika tidak, maka aksi massa umat akan bergerak menjadi massa aksi rakyat.
Ini karena persoalan ke depan bukanlah lagi masalah penistaan agama namun penistaan hukum, penistaan rasa keadilan dan lebih buruk lagi yaitu penistaan akal sehat.

Membaca Peta dalam Mengamati Konflik

Pada saat "perang sipil" di Suriah dimulai pada 2011 banyak dari kawan-kawan yang dengan mudah terjebak pada framing: Arab Springs, Syria Rising, Syria Insurgency yang dibentuk oleh media massa Barat.
Framing ini berubah sesuai kondisi dilapangan yang dimulai dari perlawanan rakyat tehadap rejim Assad, Sunni versus Alawit, dan kemudian Sunni versus Syiah. Sempat diantara keduanya muncul the so called Negara Islam Irak-Suriah atau ISIS yang didukung Turki, Qatar, Arab Saudi dan tentu saja Barat dengan tema yang lain sendiri, yaitu mendirikan negara Islam dan menerapkan syariah Islam.
Apa yang menarik untuk kita pelajari dari konflik Suriah adalah persoalan membaca peta kontestansi kelompok-kelompok. Misalnya kelompok yang menamakan dirinya Free Syrian Army bergerak di kota-kota besar saja termasuk kota terbesar di Suriah yaitu Allepo. Kelompok ISIS dan genk-genk milisi bayaran lainnya di kota-kota dan wilayah kaya minyak di bagian utara dan atau kota kecil penghubung seperti Homs, Idlib dst.
Sementara pasukan pemerintah, milisi pro pemerintah, kelompok Liwa Al Quds yaitu pengungsi Palestina di Suriah mengontrol wilayah jalur Damaskus, Idlib Allepo sampai pelabuhan Tartus yang menjadi pangkalan laut Rusia di Suriah. Penguasaan wilayah bulan sabit (subur, kaya, dan relative aman) oleh pemerintah adalah satu alasan mengapa Assad dapat bertahan dengan perang yang panjang.
Selain kelompok-kelompok itu tentu saja yang menarik adalah wilayah kontestansi paramiliter Hezbollah. Ada tiga wilayah dimana mereka terlibat serius yaitu wilayah Al Qusairy di bagian perbatasan Lebanon Utara dan Suriah, pegunungan Qalamun yang menjadi pintu masuk bagi Damaskus menuju wilayah tengah Lebanon. Serta dataran Ghouta di bagian selatan Damaskus yang tidak terlalu jauh dari induk pasukan Hezbollah di Lebanon Selatan.
Ketiga front ini dibentuk Hezbollah menjadi wilayah garnisun untuk melindungi kemungkinan inflitrasi dan perluasan perang Suriah ke wilayah Lebanon. Meski dukungan Hezbollah kepada pemerintah Assad telah memakan korban ratusan anggotanya namun secara geo-politik Hezbollah memenangkan posisioning bagi perang yang lebih besar dengan Israel di massa depan. Selain keterlibatan mereka di perang Suriah telah membuat kemampuan tempur Hezbollah meningkat signifikan dari pengalaman maupun berkah mendapatkan arsenal tempur berat dari hasil rampasan perang melawan milisi Suriah anti Assad dan ISIS.
Kesimpulan
1. Bahwa konflik ekonomi-politik yang menjadi alasan dari kebangkitan insurgensi/perlawanan di Suriah selalu membutuhkan wilayah kontestansi yaitu ruang yang diperebutkan.
2. Ruang yang dimaksud adalah sesuatu yang terkonsepsikan, terimajinasikan namun jauh lebih penting terpersepsikan. Artinya pemahaman ruang sebagai sesuatu yang ideal tidak dapat dilepaskan dari ruang sebagai sesuatu yang konkrit, terukur, empiris dan terbatasi oleh kepentingan.
Di sini mengapa dalam perkembangan selanjutnya, apa yang disebut dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah sama sekali tidak dapat bertahan lama dengan gagasan imajinatif negara syariahnya itu. Secara aktual mereka pada dasarnya adalah milisi-milisi bayaran yang dideploy atau ditempatkan untuk mengontrol wilayah-wilayah kaya minyak di Suriah bagian utara. Bahwa imajinasi membangun negara Islam itu tidak akan berhasil tanpa dukungan nyata dari mereka yang memang tinggal di wilayah yang terkonsepsikan tadi.
3. Pada kenyataannya orang hanya akan memperjuangkan dan mempertahankan apa yang menjadi kepentingannya.
Bagi Hezbollah, mendukung pemerintahan Assad adalah pilihan yang memungkinkan baginya untuk terus eksis sebagai salah satu poros perlawanan terhadap Israel dan barat bersama Suriah dan Iran. Pilihan ini nantinya akan disesuaikan dengan kondisi paling rasional di tingkat lapangan. Artinya kantong-kantong mana saja yang paling prioritas bagi kelompok ini untuk dijaga.
Ini tentu menarik bila kita kaitkan dengan perebutan-perebutan ruang di tempat lain, misalnya di Jakarta.

Tentang Ketunggalan dan Kebhinekaan -Catatan serius pada beberapa isu penting terkait ke-apaan-.

Tidak dapat ditolak bahwa beberapa waktu ke belakang kita membahas dan mempersoalkan apa yang disebut dengan problematika dalam ketunggalan dan kebhinekaan (unitas dan multiplisitas). Satu topik dalam filsafat yang cukup penting dan menjadi kajian yang cukup hidup sampai hari ini.
1.0
Bila kita perhatikan latar dari persoalan ini di bumi Indonesia maka kita memperoleh kenyataan bahwa satu kelompok yang menuduh seseorang melakukan bentuk penistaan dinyatakan oleh pihak lain sebagai kelompok yang intoleran dan anti kebhinekaan. Pada saat yang bersamaan pula pihak tertuduh akan membalas dengan konsepsi yang sama; bahwa pelaku dan pendukungnya sama sekali tidak menghargai adanya kebhinekaan dan karenanya dengan mudah melakukan tindakan penistaan terhadap keyakinan dan perbedaan dari yang lainnya.
Secara konseptual apa yang disebut ketunggalan dan kejamakan, kesatuan dan kerangkapan, adalah persoalan definisi dengan karakter yang paling sederhananya adalah merupakan proses natural atau alamiah dari manusia untuk membedakan sesuatu (thing) dari sesuatu yang lainnya (other thing).
Proses membedakan ini bertujuan untuk mengenali sesuatu sebagai sesuatu yang berbeda dengan lainnya agar ia dapat diketahui oleh manusia. Ada dua hal yang dilakukan dalam proses pembedaan yang alamiah ini yaitu pertama manusia melakukan apa yang disebut dengan proses pengelompokan, dan kedua proses pemisahan.
Bila saiya ditanya siapakah si Andi Hakim, maka kita akan mengelompokkannya dalam kategorisasi makhluk hidup. Kemudian dalam kelompok lainnya lagi yaitu makhluk manusia, dan selanjutnya dalam kategori-kategori lainnya seperti, manusia-laki-laki-Asia-suku sunda-palembang-makassar, tinggal di Indonesia dan berambut hitam atau bergigi bolong.
Jadi dalam proses pembedaan yang alamiah tadi sebetulnya manusia secara lahiriah akan melakukan apa yang disebut dengan mencari kesamaan sekaligus perbedaan sebagai proses mengenali si -apa tadi.
2.0
Dalam dunia filsafat konsep ke-apaan, ke-siapaan ini mesti dibedakan melalui dua cara, yaitu menyebutnya secara keseluruhan (bi tamam al-dzat) atau menyebutkan pembeda dan pembandingnya (bi tamam al tardid).
Misalnya pada kambing, kerbau, sapi, dan babi akan terdalam persamaan secara keseluruhan (bi tamam al dzat) dengan cukup menyamakannya dari segi kebinatangannya. Namun pada saat menyebutkan pembeda antar hewan tadi maka akan terjadi parsialitas. Dimana ada kemungkinan lebih dari satu konsep dibutuhkan sebagai pembanding. Misal membedakan dari cara makannya, cari beranak, cara kawin, tempat tinggal atau hal-hal lainnya.
Jika proses ini diteruskan maka sebenarnya konseptualisasi tadi bergerak dari hal-hal yang umum atau common share kepada ekpresi-ekpsresi yang bersifat individuasi atau khusus.
3.0
Selanjutnya dari proses membeda-bedakan sesuatu yang satu dengan sesuatu lainnya tadi maka sebenarnya ada dua hal yang dicari sebagai sebuah keadaan oleh manusia. Pertama bahwa nyata segala sesuatu yang rupanya berbeda-beda tadi benar-benar "nyata", "eksis".
Kedua bahwa dari proses unitas atau mengumpulkan ciri-ciri pada sesuatu yang dilakukan secara keseluruhan (misal kambing, rusa, sapi adalah kebinatangan) maka sebenarnya manusia hanya menerima konsep kesatuan sebagai sesuatu secara individual. Bahwa pada diri sapi, rusa berlaku kesatuan kebinatangan, dan pada diri orang cina, orang sunda, orang jawa, orang batak terdapat kesatuan kemanusiaan pada diri mereka masing-masing.
Meski demikian pada saat yang bersama, ketika dalam unitas itu terdapat individu-individu yang kita katakan sekelompok maka akan terjadi proses multiplisitas, penggandaan, pemajemukan sebagai satu kolekfif tertentu. Misal satu orang sunda berlaku konsep individu namun pada banyak orang sunda akan terjadi proses penggandaan individu kepada aplikasi yang berbeda misalnya kita sebut saja etnis sunda. Kemudian etnis sunda tadi pun menjadi konsep yang bergradasi dengan misalnya sunda cianjur, etnis sunda parahyangan, sumedang larang, galuh, sunda kacirebonan, sunda kebantenan dan lain-lainnya.
Di sini kembali kita fahamkan jika keunivikasian atau ketunggalan dan kemultiplikasi atau kebhinekaan adalah satu konsep yang sederhana. Meski pada satu sisi ia sebuah konsep yang univocal atau semua dapat mengucapkannya dengan mudah namun bila diamati maka konsep-konsep yang kita maksudkan dengan ketunggalan dan kebhinekaan itu nyata-nyatanya juga membentuk satu proses konseptualisasi yang bergradasi meski dalam satu unitas yang seragam.
4.0
Bila kita kembalikan persoalan filsafat ini untuk melihat debat-kusir mana yang merasa lebih bhineka daripada si tunggal benar sendiri di media sosial dan media massa kita belakangan ini, maka kita sekedar mengingatkan bahwa persamaan dan perbedaan, keberagaman dan keseragaman yang kita lihat dan klaim atau konsepsikan sebagai milik kita itu sebenarnya tidak perlu diterangkan dan diperjelas kecuali bahwa itu adalah suatu proses alamiah terjadi pada setiap orang.
Tidak ada yang dapat mengklaim dirinya paling bhineka kecuali bahwa ia sebenarnya sedang menunggalkan /univikasi dirinya menjadi satu kelompok terisolir dengan kelompok besar lainnya. Setiap sesuatu akan menggunakan preferensinya sendiri untuk membedakan dirinya dengan yang lainnya. Namun ini tidak berarti bahwa anda yang berkulit putih akan lebih baik dari mereka yang berkulit hitam, atau yang berkulit putih lebih buruk dari yang berkulit kuning.
Perbandingan-perbandingan yang kita upayakan untuk membedakan keapaan kita dengan keapaan yang lainnya sebenarnya adalah satu aktivitas yang menunjukkan bahwa pada dasarnya kita bukanlah makhluk yang independent. Yang sejatinya adalah bahwa pada saat kita membutuhkan yang lainnya, misalnya untuk dibodoh-bodohi atau dicela-cela sebenarnya itu adalah dalam rangka meninggikan status atau menaikkan level kekitaan dari yang lainnya.
Yang terbaik tentu saling meninggikan keapaan kita dengan saling memuji dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya.

Logika massa aksi - contoh kasus aksi 411 dan 212

Yang perlu kita fahami tentang massa aksi adalah bahwa ia berbicara dengan logika seperti pada umumnya.
Pada kasus penisataan agama oleh Ahok yang direspon publik dengan aksi populis 411 dan kemudian 212 (4 November dan 2 Desember 2016) maka kita katakan bahwa massa aksi umat Islam bergerak secara intensional (disengaja) ketimbang emosional seperti dituduhkan kebanyakan orang emosional.
Apa yang dimaksud dengan intensional atau disengaja adalah bahwa reaksi tadi tidaklah muncul tanpa pikiran-pikiran rasional yang logis.
Bila kita ambil teori konflik tentang call for action/panggilan kepada mobilisasi aksi maka yang disebut aksi publik ini sebenarnya reaksi logis dari hal-hal yang berkenan atau tidak berkenan yang diterimanya. Pernyataan Ahok di kepulauan seribu misalnya memang merupakan satu pernyataan yang disengaja dikeluarkan (by intention) untuk menyerang secara politik persepsi seorang atau sekelompok Islam.
Pertama bahwa ia sengaja diucapkannya dan bukan sesuatu yang tidak serta-merta muncul sebagai sebuah gagasan tanpa latar belakang. Jauh sebelumnya Ahok pernah mengatakan hal yang mirip dan ini perulangan ini memang disengaja sebagai satu bagian dari tema-tema kampanye yang barangkali disusun oleh konsultan politiknya.
Kedua, bahwa rangkaian serangan Ahok atas keyakinan umat Islam ini pun kemudian direproduksi melalui video yang dikeluarkan secara resmi oleh birokrasi pemkot DKI, tentu saja dengan kesengajaan. Tidak ada satu pun pihak di sana yang berkeberatan untuk menayangkan video tadi.
Ketiga, adanya kesadaran publik bahwa politik di Indonesia (dan juga dunia sih) selalu akan melibatkan apa yang disebut politik aliran. Termasuk untuk jangan menyinggung isu-isu SARA, suku, agama, ras/etnis, kelas, dan golongan kecuali akan mendapatkan reaksi baliknya. Sejak masa sebelum maupun sesudah kemerdekaan 1945, Islam dan simbol-simbolnya sudah menjadi alat perlawanan politik anti-kolonial. Hal ini pula yang secara sengaja memang dimanfaakan lewat kampanye-kampanye 'islam yes-politik islam no', atau 'jangan politisasi agama'. Yang tentu saja saran-saran seperti ini pun dasarnya adalah kepentingan politik juga.
Keempat, bahwa dalam call for action kepada publik, mesti berkaitan dengan banyak faktor-faktor rasional lainnya. Misalnya selain penistaan agama, ada juga penistaan hak ekonomi, hak politik, hak hidup di kota Jakarta, dan hak-hak lainnya. Begitu juga dengan adanya kewajiban, misal kewajiban sebagai umat islam, umat beragama, atau sebagai solidaritas umat manusia. Semua faktor ini mesti berjalan dengan logika pada umumnya.
Termasuk kemudian panggilan aksi susulannya seperti boikot makan Sari Roti, tidak menonton Metro tipi atau menarik tabungan dari BCA karena si pemilik dianggap meremehkan aksi massa Islam. Ini pun akan berjalan dengan logikanya. Meskipun ada tudingan hal-hal seperti ini sebagai sesuatu ajakan aksi yang emosional, pada kenyataannya ini dapat diukur dan logis. Misalnya tadi malam di seputar Matraman, ada saiya berbicara dengan pengantar barang mini market waralaba yang mengatakan SR lepas usulan boikot terpukul kuat sekali di hampir semua cabang penjualan.
Apabila kita mendengar tudingan kepada umat Islam peserta aksi 411 dan kemudian 212 yang dihadiri lebih dari 7 juta orang sebagai aksi kelompok emosional, korban miskin informasi, gagal move-on, gagal mencek-re-cek, atau korban permainan orang sama sekali tidak dapat diterima logika sederhana paling tolol sekalipun.

Sepanci Air Mata

Ahok nangis itu bukan karena penyesalan namun karena bandar besar sudah memastikan menutup akun dana dukungan.
Proses pengadilan yang cepat sekali digelar sebetulnya hanya mempercepat sahnya bendera putih sehingga tidak ada yang akan dipersalahkan bila bandar menarik dan mengalihkan investasinya.
Ini persoalan politik-ekonomi, yang dulu pernah kita bahas bahwa pilkada Jakarta merupakan proyeksi dari persaingan pilpres sebelumnya. Bila keliru menyusun siasat muslihat akan sampai ke tahap yang paling kritis seperti sekarang.
Tim kampanye Tim Ahok telah gagal mengukur target kampanye lewat isu politik aliran. Dipikirnya yang akan muncul sebagai saingan kuat adalah Yusril yang dekat dengan kelompok Islam totok, ternyata Yusril seperti kita tahu gagal maju.
Akibatnya serangan 'politisasi agama' yang sengaja digarap tim kerja Ahok untuk menghantamkan energi sektarian atas diri Yusril secara langsung menusuk jantung umat Islam dan berbalik sebagai satu kekuatan demonstratif 4 November dan 2 Desember yang fenomenal. Yang harus kita akui merupakan satu masa aksi yang luar biasa tertib, cerdas, dan matang yang menarik simpati jutaan masyarakat.
Kebanyakan pengamat atau komentator tidak berani menyimpulkan prediksi sampai ke titik kritis ini. Sebagian karena memiliki preferensi yang mengharuskan dirinya tetap dalam pendapatnya sendiri karena faktor-faktor emosional atau hitung-hitungan keuntungannya masing-masing. Atau karena reputasi yang dibuat-buat mengenai intelektualitas telah menjadikan mereka berpikir bahwa sebaliknya mengambil posisi aman saja dalam penilaian.
Inilah mengapa kita perlu sering makan acar ketimun. Rasa asam membuat jaringan syaraf otak lebih sensitif dalam mengenali fakta dan realitas.

Allepo Jatuh dan Perkembangan Perang ke Depan

Allepo, titik tumpu kelompok milisi moderat anti pemerintahan Assad jatuh sepenuhnya dalam kontrol Tentara Arab Suriah.
Lewat program rekonsiliasi yang dicanangkan sejak awal, 4000 militan dan keluarganya dievakuasi menuju Idlib kota di dekat perbatasan Turki. Assad memenangkan lagi satu front penting dalam perang 5 tahun yang tidak mudah.
Tidak mudah karena bagi tentara Suriah membiarkan musuh yang menyerah di depan mata lewat begitu saja adalah pukulan psikologis. Namun pilihan kepada rekonsiliasi sosial adalah pilihan prioritas bagi pemerintah Assad dengan pertimbangan tiga hal:
Pertama, ia mengurangi resiko jatuhnya korban sipil, dan pasukan arab suriah. Assad masih membutuhkan mereka dalam pertempuran-pertempuran lainnya. Palmyra yang kembali dikuasai milisi ISIS, Raqqa yang diklaim sebagai ibukota ISIS, dan Deir Az Zhoir yang nantinya akan menjadi front tempur terakhir dan paling menentukan. Mengingat posisi kota ini yang merupakan jalan masuk bagi teroris yang dipersiapkan keluar dari kota Mosul di Irak.
Meski demikian yang akan menjadi front dalam waktu dekat adalah menggerakkan pasukannya ke utara ke arab kota Al Bab. Di kota ini ia akan menghadapi the so called Tentara Demokratik Suriah yang dibentuk dan dilatih AS, Jerman, dan Turki. Assad akan melakukannya pasca liburan musim dingin dengan membiarkan terlebih dahulu rakyatnya yang beragama Kristen melangsungkan untuk pertama kalinya sejak lima tahun natal bersama keluarga.
Kedua, dengan rekonsiliasi dan membuka koridor kemanusiaan bagi milisi untuk keluar dari kantong Allepo, Assad menghindari hancurnya infrastruktur kota lebih parah. Ia membutuhkannya untuk secepat mungkin mengembalikan ratusan ribu pengungsi kembali ke rumah-rumah mereka dan memulai pergerakan ekonomi masyarakatnya. Investasi Rusia, Cina dan tentu saja Iran akan mulai masuk membangun infrastruktur listrik, air minum, pemanas, dan jalan-jalan.
Ketiga, berbeda dengan milisi perlawanan lainnya, kebanyakan milisi yang ada di Allepo adalah orang Suriah. Tidak seperti sebagian yang merupakan mersenaries (tentara bayaran) atau jihadis yang umumnya warga negara asing, pilihan untuk kembali ke masyarakat dan hidup normal pada diri mereka jauh lebih tinggi. Ini artinya Assad dengan pilihan paling rasional berusaha merangkul semua pihak di Suriah yang bertikai untuk sama-sama membangun kembali kedaulatan negeri mereka.

Mencari Alternatif Pendanaan bagi Pembangunan

Spanduk besar High Level Meeting 2 di Balai pertemuan Kenyatta Internasional Conference Center Nairobi menuliskan dengan huruf besar: Global Partnership, Leave no one behind.
Pada tuan Atymer dan Stephan saiya katakan bahwa nuansa OECD terlalu kental di sini. Sebagai pendana kegiataan yang menghadirkan bukan hanya negara namun juga perwakilan dari sektor swasta, LSM, CSO, warga marginal, think-thank, dan parlemen OECD berharap akan mengeluarkan satu rekomendasi yang akan menjadi bahan kajian di pertemuan tingkat tinggi PBB. Hanya saja dengan tidak diundang; Suriah, Palestina, Venezeula, Kuba, Iran, dan tentu saja Korea Utara untuk hadir menunjukkan jika pertemuan ini memang terlalu kuat kepentingan negara-negara maju (Barat) di dalamnya..
Artinya meski didepan forum kelompok pendonor tradisional Eropa selalu berbicara tentang pembangunan yang menyertakan semua pihak dengan tidak satu pun yang ditinggalkan namun dalam kenyataannya selalu ada agenda kesepihakkan.
Tidak diundangnya, Iran, Suriah, Korea Utara sudah dapat dihitung sebagai bagian dari agenda politik luar negeri Barat untuk mengeliminasi negara-negara yang memang sulit diajak kerjasama dengan mereka. Di sini kita harus faham bahwa sudah menjadi logika dari kebudayaan mereka, bahwa apa yang disebut dengan kerjasama pada dasarnya adalah moda pengontrolan dengan cara-cara yang memaksakan dan ini sayangnya tidak berubah sejak 70 tahun lalu.
Bila mengambil contoh bagaimana semangatnya Jokowi-JK dalam kampanye tentang "dana yang ada" tinggal kemauan kita untuk "kerja" pada kenyataannya tidaklah semudah ketika ia dikatakan.
Apa yang disebut dengan investasi tidak pernah datang dengan mudah kecuali hadir bersamanya beraneka ragam persyaratan (pra kondisi) yang harus dilaksanakan negara penerima. Kebanyakan pula pembangunan yang diharapkan donor selalu berbeda dengan prioritas pembangunan yang dibutuhan pihak penerima. Misal dalam kasus Indonesia, pendonor tradisional seperti Jepang, Korea, dan tentu eropa selalu menyarankan agar pembangunan difokuskan dalam investasi urban.
Sementara kini ada pula Cina yang bersedia untuk berinvestasi di wilayah sub-urban dan pinggiran meski hal demikian belum terlalu signifikan dilaksanakan. Sementara itu gagasan PPP (public private partnership) yang begitu hebatnya dikaji para pengamat akan menyelamatkan pembangunan nasional dengan melibatkan kombinasi swasta (domestik asing) dengan pemerintah akan mengais sukses dalam kenyataannya tidak pernah ada contoh suksesnya di dunia. Kasus PDAM yang dikelola bersama Thames Ingris dan Lyon/ess Prancis menunjukkan jika swasta asing justru hanya mau ambil posisi aman sebagai tukang pungut iuran air dan menghindari di investasi besar di sektor infrastruktur.
Ini kemudian menekan pemerintah untuk menyelenggarakan pengadaan dana bagi pembangunan melalui berbagai cara. Yang paling mudah tentu saja menarik subsidi, mengurangi anggaran-belanja pemerintahan, serta kini populer adalah penggalangan tax amnesty bagi pengemplang pajak luar negeri. Yang tentu kebijakan pajak ini akan berakhir dengan penggalangan pajak masyarakat kebanyakan. Bukan mustahil dana-dana haji, zakat, nfaq, sedekah, dll.. akan dilirik untuk digunakan.
Jika pemerintah memang ingin menggunakan dana-dana masyarakat ini sebenarnya bukanlah hal yang keliru dan terlarang. Hanya saja ini menunjukkan jika sebenarnya di dalam masyarakat kita ada potensi yang dapat digunakan secara optimal untuk mendukung pemerintahan. Termasuk penggunaan dana-dana incoming fund lainnya seperti remiten dari buruh. Hanya saja semua harus diselenggarakan dengan transparan dengan tentu saja publik sebagai pemiliknya harus memiliki akses informasi.
Contoh-contoh gurita investors seperti Hasanah di Malaysia, Temasek di Singapura sebenarnya diinisiasi dari dana publik yang disimpan pemerintah. Pada kasus Hasanah sendiri, tentu tidak lepas dari partisipasi masyarakat muslim Malaysia. Ambil contoh bagaimana mereka membangun infrastruktur menengah seperti apartement 5-15 lantai saja bagi kelompok pekerja di perkotaan sebenarnya menjadi peluang yang realistis untuk mengimbangi gurita properti yang bermain di kelas elit. Selain awalnya mereka memulai dengan mendorong ekonomi kelompok muslim terutama di bidang pengadaan kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan.
Bila melihat antusiasme umat Islam pasca aksi 411 dan 212 maka bukan mustahil, semangat kebersamaan dan solidaritas tadi diarahkan kepada tindakan yang bukan hanya aksional sebentar tetapi juga berkelanjutan. Saiya pribadi sudah melihat beberapa dari kawan-kawan mulai melakukan pemikiran kepada penggalangan dana dan tentu saja hal ini hanya dapat dimulai dari jumlah yang kecil-kecil, lalu menengah, dan seandainya beruntung ke modal investasi besar.
Ini mungkin sekedar catatan saja, untuk memulai melepaskan diri dari jeratan program pembangunan internasional yang diinisiasi Barat yang sepertinya tidak akan banyak berubah dalam 15 tahun ke depan.

Regionalisme Baru di Timur Tengah

Profesor Lenz melompat masuk ke postanostra sambil berkata cepat;
"Lantai lima, ruang kanan setelah keluar."
Postanostra yang ada Leibniz Institute lebih kecil dibandingkan dengan yang ada di Reichbank yang kini menjadi kantor kemenlu Jerman di Berlin. jadinya orang harus mengantri satu per satu untuk menggunakannya.
Ia adalah semacam lift di kantor-kantor modern masa kini, hanya saja berbeda dengan lift yang bekerja dengan cara ditarik turun-naik oleh semacam kabel sling besar, postanostra bergerak berputar seperti permainan korsel di pasar malam. Semacam rantai sepeda motor raksasa yang diolesi dengan gemuk berderak memutar kotak-kotak kayu seperti orang berzikir. Barangkali dari kemiripan itu lift peninggalan perang dunia kedua ini diberi nama Postanostra, tasbih pendeta.
Ambassador Wickendicht mengatakan bahwa ia tertarik bergabung dengan laboratorium timur tengah, dimana di sana akan dibahas konflik Suriah. Ada empat atau lima peneliti dari Leibniz, beberapa fellow researcher dari Jordania, Tunisia, Venezuela. Meksiko dan Profesor Lenz yang juga tertarik untuk ikut pembahasannya.
Seperti biasa moderator mengatakan bahwa untuk kopi dan kue-kue silahkan ambil sembarangan di sebelah meja besar. Ia mengatakan bahwa topik adalah semacam studi yang barangkali dapat menjadi rekomendasi untuk proposal resolusi konflik di Suriah yang baru tigaperempat tahun sebelumnya terjadi (2011). Ia kemudian mempersilahkan pemilik riset memaparkan gagasan dan temuan-temuannya melalui proyektor dan kertas-kertas catatan di meja. Selanjutnya pemapar lain menyampaikan temuannya dari riset-riset pembanding dimana dalam hal ini ia mengambil pembagian kekuasaan confessionalisme/Kemufakatan ala Lebanon.
Kurang lebih, peneliti memaparkan gagasan mengenai konfensionalisme atau pembagian kekuasaan politik di Suriah sebagai resolusi perdamaian. Ia mengatakan bahwa seperti halnya Lebanon yang membagi wilayah Presiden untuk kaum Kristen Manoret, Perdana Menteri dari Sunni, dan Ketua Parlemen dari golongan Syiah maka persaingan politik yang mengakibatkan perang sipil di Lebanon dapat diselesaikan.
Pada giliran sesi tanggapan, maka diskusi menjadi hangat. Saiya dan Nona Eboni dari Meksiko menolak pembagian-pembagian yang seperti itu. Selain tampak bahwa resolusi tadi membenarkan dugaan awal dari kebanyakan yang dipikirkan orang Suriah atas pernyataan Pemerintahnya; bahwa konflik sipil di Suriah yang kemudian melahirkan the so called Free Syrian Army, adalah proyek "devide et emperat" Barat dan sekutu timur tengahnya untuk melemahkan atau bahkan menjadikan Suriah sebagai negara pariah, negara gagal dan lemah.
Suriah adalah negara dengan tradisi percampuran yang sangat tua, dengan peradaban lebih dari 4000 tahun. Mereka membangun logika budaya toleransi di atas pandangan rasional, ini karena mereka dasarnya adalah masyarakat kanton atau pedagang. Secara logika, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan etnis, sekte yang sekiranya tidak bermanfaat untuk dimunculkan dan menguntungkan tidak akan menjadi gagasan yang populis.
Kondisi ini yang kemudian membuat mereka membangun dasar rasionalitas di atas segalanya dalam hal keberagamaan dan keberagaman.
Kedua, setiap sekte, etnis, atau madzab sudah memiliki perwakilan di dewan militer Suriah. Militer Suriah adalah titik lebur atau melting poin dari kemajemukan masyarakatnya dan karenanya mereka bangga sebagai satu kesatuan sebagai pilar bagi Republik Arab Suriah.
Pembagian melalui model partisi yang digagas sejak awal oleh proposal negosiator Barat (AS, Prancis) dengan cepat ditolak kebanyakan masyarakat Suriah sendiri. Partisi dengan membagi wilayah utara bagi negara kurdi, di barat sebagai negara alawit, dan di selatan bagi negara sunni menjadi pembenaran bahwa proyek perang di Suriah adalah perang sipil yang kemudian menjadi perang proxy bagi kepentingan-kepentingan Barat dalam melemahkan Suriah.
"Ini tidak akan menjadi popular dan berhasil diterapkan di Suriah. yang paling mungkin terjadi seandainya konflik Suriah berakhir adalah; perluasan otonomi khusus dengan tetap di bawah payung Republik Arab Suriah."
Sampai setelah diskusi di bulan Agustus 2012 yang panas di Hamburg, kelompok kajian ini masih terus melakukan riset-riset dan laporan-laporan mengenai perkembangan di timur tengah dan khususnya Suriah.
Beberapa hal baru bermunculan dalam konflik Suriah yang bergerak dinamis dan sulit ditebak. Dulu ada kelompok FSA (tentara pembebasan Suriah), kemudian muncul the so called ISIL lalu ISIS dan kemudian faksi-faksi Al Qaeda. Selanjutnya muncul kelompok "moderate militants" yang disebut media massa barat dengan "freedom fighters".
Perang Suriah, secara tegas memang akan membentuk satu regionalisme baru yang lebih determinan di kawasan. Setelah direbut kembali Allepo oleh pasukan Arab Suriah maka secara simbolis kekuatan resistensi anti unitarianisme Barat yaitu Suriah-Lebanon Hezbollah dengan dukungan Rusia dan Iran menjadi pemain kunci yang menentukan arah timur tengah ke depan.