Thursday, January 7, 2016

Ongkos Naik Haji

Naik haji memerlukan biaya yang cukup tinggi. Karena itu salah satu syarat naik haji adalah bila mampu, termasuk mampu secara ekonomi. Meskipun demikian ada banyak orang yang mungkin secara lahiriah terlihat tidak mampu tetap memaksakan diri mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar mampu juga naik haji. Termasuk saya.
Ketika mendaftar untuk mendapatkan porsi setiap calon haji wajib menyetorkan uang sebanyak 25 juta rupiah ke bank syariah. Dulu sewaktu saya mendaftar tahun 2010 pertama kali di bank konvensional. Setelah itu pemerintah Indonesia mewajibkan pembayaran uang itu dilakukan di bank syariah. Karenanya saat pelunasan saya harus memindahkan akun tabungan dari bank konvensional ke bank syariah.
Bank syariah yang dipilih mana saja sama. Yang membedakan adalah barang-barang yang diberikan bank saat pelunasan yang biasanya standar saja yaitu tas, mukena, dan bahan baju haji. Perbedaan paling ada di tas dan mukena saja. Misalnya bank bni syariah memberi tas selempang sedangkan bank lain biasanya memberi tas gemblok bertali. Mukena hampir sama dengan logo masing-masing bank di bagian kepala.
Tata caranya biasanya dengan mendaftar terlebih dahulu ke kantor departemen agama kota/kabupaten masing-masing untuk mendapatkan nomor porsi. Lalu dari sana menuju ke bank untuk mendapatkan surat keterangan pembayaran 25jt. Uang 25 jt ini akan diambil dari rekening yang sudah kita buka. Biasanya saat setoran pertama harus dilebihkan sedikit sebagai syarat pembukaan rekening aktif di bank. Jadi lebihan ini yang besarnya minimal 500rb rupiah akan menjadi sisa isi tabungan kita selama menunggu nomor porsi kita mendapat panggilan untuk pelunasan. Nanti setelah kita pulang haji sisa ini bisa kita ambil. Ada dua pilihan kalau di bank bni syariah apa uangnya mau diinvestasi atau sekedar disimpan saja. Kalau disimpan saja, tidak dapat bagi hasil dan tidak ada biaya bulanan. Sedangkan kalau diinvestasikan maka dapat bagi hasil dan ada biaya bulanan.
Saat nomor porsi haji sudah mendapat giliran untuk pergi kita akan ditelepon oleh departemen agama untuk melunasi ONH. Besar pelunasan ini biasanya ditentukan sekitar 3 bulan sebelum berangkat dan besarnya berubah-ubah. Alhamdulillah saat kami berangkat jumlah setoran dalam USD menurun dari yang tadinya sekitar 3200 menjadi 2700. Perubahan signifikan ini membuat biaya lumayan terjangkau buat pegawai seperti saya. Cukup menambah 10 juta lagi sudah terlunasi.
Biaya ini terhitung murah jika dibandingkan dengan jamaah dari negara jiran seperti Malaysia. Untuk pembayaran penuh setiap jamaah haji di Malaysia harus membayar 17000 ringgit atau sekitar 70 juta rupiah. Untuk jamaah yang baru pertama kali pergi cukup membayar 9800 ringgit saja tapi tetap lebih mahal dari ONH Indonesia. Memang sih fasilitas jamaah haji Malaysia lebih baik, misalnya hotel biasanya dekat dengan masjidil haram atau masjid nabawi, makan 3 kali sehari, dan 45 hari tinggal di Saudi. Tapi dengan fasilitas bis yang disediakan pemerintah Indonesia rasanya tidak banyak berbeda kemudahan mencapai masjidnya. Selain itu masalah makanan juga sama saja, kebanyakan jamaah mencari atau membuat makanan sendiri sesuai dengan selera makan masing-masing.
Bahkan jika dibandingkan dengan jamaah lokal juga masih lebih murah. Jamaah dari Saudi dibatasi hanya boleh berhaji sekali dalam 5 tahun. Selain itu mereka diwajibkan untuk mengikuti agen haji yang ditunjuk dengan biaya 5000 riyal untuk haji selama 5 hari. Jadi praktis hanya untuk wukuf, umroh, dan lempar jumroh saja.
Dengan uang 35 jt itu jamaah Indonesia tinggal di Saudi selama 39 hari dengan beberapa hari (18 hari) mendapatkan jatah konsumsi siang dan malam. Selain itu uang dikembalikan sebanyak 1500 riyal untuk keperluan hidup. Lumayan banyak karena jamaah Malaysia kalau tidak salah hanya mendapat 1000 riyal saja karena sudah ada konsumsi makan 3x sehari setiap hari.
Fasilitas selain makan, tentu saja tinggal di hotel yang cukup nyaman. Kami tinggal di daerah raudat yang berjarak sekitar 2,5 km dari masjidil haram. Tetapi ada fasilitas bis 24 jam yang siap mengantarkan ke dekat masjidil haram dalam waktu tempuh 5 menit saja jadinya seperti tinggal di dekat masjidil haram. Selain itu dalam hotel setiap kamar ada kamar mandi sendiri dan dapur kecil. Dapur ini berupa kompor listrik yang bisa dipakai memasak dan menggoreng seperti kompor biasa. Hotel juga menyediakan 2 mesin cuci di setiap lantai jadi kami mudah mencuci pakaian kotor. Seharusnya kalau tau ada fasilitas seperti ini sih kami ngga perlu banyak bawa baju dari Indonesia.

0 comments:

Post a Comment