Saturday, June 4, 2016

Konflik di Natuna

Cina mengatakan bahwa manuver kapal perangnya di teritorial Natuna karena untuk melindungi nelayan mereka yang dikejar patroli air dan TNI AL.
Kasal Adi Supandi menyatakan jika kapal patroli bersenjata Cina telah melanggar kedaulatan teritorial Indonesia. Menteri Susi melanjutkan jika kapal-kapal ikan Cina, Taiwan jika menebar jala panjangnya hampir 400 KM.
Media sosial ramai menulis bahwa kapal-kapal perang Indonesia dipersiapkan untuk merespon aksi militer Cina di perairan ujung utara kalimantan barat tadi.
Belakangan Cina memang offensif dengan memperbanyak aktivitas militer mereka di wilayah laut Asia Tenggara yang sejak puluhan tahun lalu telah menimbulkan masalah dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand, Brunei, Malaysia, Vietnam, Philipina, dan kini Indonesia.
Poin-poin yang perlu difahami dari kehadiran Cina antara lain;
1. Cina sejak dua tahun lalu melemparkan proposal ambisius untuk membuat Marine-Silk-Road, yaitu infrastruktur laut untuk membentuk sabuk ekonomi dunia yang nantinya akan mempermudah sirkulasi perdagangan dari ujung eropa ke ujung Asia.
Ide Xi Jinping -yang dicomot buat kampanye salah satu kandidat di pilpres kita kemarin- adalah membangun kembali Jalur Sutra yang legendaris melalui investasi besar-besaran di sektor infrastruktur aneka moda transportasi.
2. Ide Jinping mendapatkan respon posifit, ketika ekstensi jallur sutra darat dari Cina daratan menembus Kazahstan kini hanya menyisakan 200-an KM untuk dilanjutkan ke jalur transportasi logistik trans-eropa.
Pembangunan infrastruktur yang membentang dari China Tengah ke Eropa Timur tadi membuat Kazahstan melejit menjadi negara kaya dengan kemudahan mereka membuka akses pasar Asia bagi perdagangan migas dan mineral. Kemajuan yang menarik lebih banyak investasi dan barang-barang eropa masuk ke negara-negara bekas pecahan Sovyet.
3. Tahun 2015 Jinping melontarkan proyek ambisius, yaitu satu konsorsium raksasa kepada Uni Eropa untuk membiayai proyek Jalur Sutra Laut (Marine Silk Road).
EU dan lima negara lain tertarik untuk bergabung membiayai proyek-proyek Infrastruktur Cina.
4. Sebagai komitmen lebih jauh cina tahun lalu di Brussel menyepakati "connectiviy platform". Satu proyek besar menyatukan perdagangan dengan melibatkan lebih banyak pemain terutama dari central Asia dan Eropa Timur. Dengan kondisi infrastruktur rendah namun kekayaan SDA tinggi, kedua point (Asia Tengah, Eropa Timur) menarik minat investor Eropa untuk menggiatkan proyek-proyek.
5. ASEAN adalah faktor penting bagi suksesnya ambisi jalur sutra darat dan laut Cina. Dengan posisi strategis ada di wilayah dimana 3/4 perdanganan dunia melewati wilayah ini serta dengan total jumlah penduduk lebih dari 630 juta jiwa dan akan terus meningkat menjadi 730 jiwa hingga 2030, ASEAN is the key. ASEAN yang besar adalah syarat bagi terpenuhinya target pertumbuhan yang dikejar melalui proyek infrastruktur ambisius ini.
5. Persoalannya Cina tidak begitu yakin ASEAN akan mudah diajak bekerja sama terutama terkait isu-isu teritorial. Ini karena sifat politik ASEAN yang unik. Pada saat persekutuan negara seperti EU dapat bersepakat untuk satu hal dan menolak untuk hal lain, ASEAN menerapkan prinsip diplomasi: Musyawarah dan Mufakat. Asas voting tidak dikenal di ASEAN, ini karena satu suara tidak setuju bekerja sama atau menerima proposal dari pihak ketiga maka anggota lain harus menerima.
Beberapa propsal kerjasama seperti ASEAN+China, dan aneka plus lainnya sudah dijajaki dan berlangsung cukup baik. Tetapi mengingat ASEAN adalah pintu keluar tol bagi jalur sutra yang sangat penting maka keputusan nya akan bersifat regional.
Bila kita melihat bagaimana sulitnya hubungan Cina versus Vietnam, Cina versus Philipina tentu saja pemufakatan ASEAN untuk menerima proposal Jalur Sutera Maritime tidak akan mudah dikeluarkan bagi Cina. Pada saat yang sama Cina telah mengikat komitmen sebagai penggerak dari modal-modal pembangunan masa depan di sektor infrastruktur, Inovasi, Energi bagi eropa
6. Jadi ini bukan masalah ikan atau meledakkan kapal nelayan.

Perang Suriah Front Golan

Serangan balasan Hisbullah di pertanian Sebba Lebanon Selatan yang menyasar konvoi militer Israel adalah balasan dari operasi militer Israel di Quneitra Dataran Tinggi Golan Suriah yang menewaskan komandan Hisbullah Mohammad Issa dan Penasehat Militer Iran Jendral Alladadi.
Serangan tit-for-tat ini menunjukkan beberapa kemungkinan konfigurasi perang Suriah di masa depan.
Pertama, keberadaan petinggi Hisbullah dan Iran di Quneitra yang merupakan pintu masuk ke Golan mustahil tidak diketahui pemerintah Suriah Assad. Ini menjadi indikasi bahwa telah terjadi aliansi secara natural di tingkat teknis (lapangan) dari kelompok perlawanan (axis of resistances); Hisbullah-Lebanon, Iran, dan Suriah untuk membuka masa depan perang di front Golan yang masih dikuasai Israel.
Kedua. Quneitra adalah provinsi dimana kelompok Jabatnusra dan ISIS masih melakukan perlawanan karena mereka cukup mendapakan dukungan langsung dari Israel lewat jalur Golan. Israel sendiri membutuhkan stronghold (kawasan pendukung) dengan melemahkan pengaruh Suriah di Quneitra untuk memperkuat penguasaan mereka atas kawasan subur Golan.
Ketiga, bahwa konsolidasi intelejen Hisbullah-Iran-dan SAA di Quneitra adalah proxy war bagi Hisbullah menghadapi Israel di masa depan dan cara Iran menback-up kelompok2 perlawanan di Palestina untuk memperkuat diplomasi luar negerinya. Selain alasan bahwa Hisbullah membutuhkan jalur ini bagi supply persenjataan dan masa depan mereka sendiri di Lebanon, Quneitra Golan yang jauh dari induk pasukan mereka di Lebanon selatan adalah wilayah konflik yang memungkinkan mereka menggunakan kawasan ini menyerang Israel bila mereka di serang.
Artinya bentuk perlawanan Hisbullah terhadap Israel berubah 180 derajat yaitu dengan lebih terbuka dan mulai masuk ke wilayah-wilayah demarkasi Israel, dimana pun tidak harus di wilayah Lebanon. Hal ini cukup merisaukan bagi politisi Israel.
Ke depan jumlah serangan SAA (Syuriah Arab Army) dari timur dan Hisbullah selatan akan bertambah dan mendesak kelompok ini ke perbatasan dengan Israel. Hal yang tidak terlalu disukai Israel bila kelompok jihadist ini masuk ke dalam wilayahnya.
Maka Quneitra dalam waktu dekat akan menjadi front baru dan kemungkinan terakhir dari SAA pemerintahan Assad untuk menyelesaikan 4 tahun perang Suriah sekaligus memperkuat aksis perlawanan terhadap Israel, yang dibutuhkan Assad untuk mengembalikan semangat nasionalisme lewat sentimen Suriah-Arab.

Mentalitas Aktor dalam Konflik di Yaman

mengapa Saudi tidak menaikkan harga minyak dengan mengurangi produksi daripada mengeskalasi konflik di Timur Tengah. Ada beberapa latar yang perlu diketahui untuk menganalisa persoalan secara lebih luas (meski mungkin membosankan pemirsa).
0.00 Mentalitas cari untung, sampai dilema keamanan
Rendahnya harga minyak beberapa bulan ke belakang disebakan kebijakan over produksi minyak Saudi yang membanjiri pasar dunia dan membuat harganya jatuh. Konsekuensi dari kebijakan over produksi adalah gain (perolehan) baik Saudi maupun produsen lain (yg tergabung atau tidak dalam OPEC) akan menurun karena terpaksa menerima opsi minimum gains.
Keuntungan ekonomi (oil revenues) dibutuhkan negara-negara produsen energi minyak dan juga gas di timur tengah ini untuk tetap menjadi pemain utama di kawasan baik ekonomi, politik dan keamanan. Dorongan untuk mendapatkan untung maksimal dari bisnis energi fosil dilakukan lewat dua cara, yang disebut dengan psikologi (mentalitas) mencari untung.
0.10 Dilema Keamanan
Konsekuensi menguatnya ekonomi negara selalu beriringan dengan tendensi untuk mempertahankannya dimana kemudian alokasi keuntungan diinvestasikan kepada persoalan security (keamanan) baik ekonomi, politik, pangan, dan militer. Untuk tetap berdiri sebagai hegemonik super power di sana negara-negara yang kuat akan menghabiskan sebagian besar keuntungan dari bisnis energi bagi keperluan keamanan mengingat sejarah energi adalah sejarah konflik.
Kondisi ini yang kemudian menciptakan apa yang dikenal dengan istilah dilema keamanan (security dillema) karena masing-masing pihak selalu akan berada dalam posisi tersandera. Setiap peningkatan anggaran keamanan untuk alasan keamanan oleh satu negara selalu akan diikuti dengan kenaikan anggaran negara rivalnya. Artinya ketika Saudi meningkatkan alat-alat pengaman justru nilai ancaman tidak semakin mengecil karena negara lain seperti Qatar, UEA, Irak, dan terutama Iran -sebagai produsen migas nomor tiga- akan ikut pula menaikkan anggarannya. Ini yang dimaksud dengan dilema keamanan (Herz).
Demi menjaga konflik dan penyelenggaraan negara tetap berjalan, maka negara2 produsen tim-teng ini harus mengadopsi dua opsi dalam diplomasi luar negerinya; yaitu di satu sisi mereka adalah rival dalam politik namun di segi ekonomi mereka kerap menjadi mitra untuk menentukan harga terbaik migas. Keadaan ini yang disebut dengan dilema keamanan ganda (double security dillema).
Mengapa Saudi tidak mengurangi saja produksinya untuk mendapatkan harga ekonominya daripada melibatkan diri dalam konflik?
Ini karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi mentalitas mencari untung (gain seeking mentality) dari aktor-aktor. Faktor ini nanti akan menentukan cara dan pilihan dari aktor mengambil opsi-opsi tertentu. Mengapa dikatakan opsi tertentu? itu karena sebenarnya tidak pernah ada maksimum gain (secara teori sih ada) tetapi yang ada adalah perolehan dinamik atau relatif yang bergantung kepada faktor2 tadi.
0.20 Sifat Aktor
Pertama dia bersifat alamiah saja atau dia terdorong karena intensitas.
Secara alamiah, Saudi, Iran, Qatar adalah produsen migas raksasa yang secara eksklusif membuat mereka menjadi super power kawasan karena uang dari penjualan energi fosil ini. Secara intensitas, wilayah mereka selalu mengundang perseteruan dan konflik yang melibatkan banyak pemain internasional untuk menguasai sumber energi ini. Selain bahwa migas mereka membutuhkan alat-alat produksi termasuk jalur distribusi yang mau tidak mau melibatkan negara-negara sekitar.
Konflik di Yaman dapat dilihat dari posisinya yang menjadi penting karena ada di mulut teluk Aden dan Laut Merah yang merupakan akses via Terusan Suez menuju dan dari pasar migas Eropa. Ada jalur distribusi via pipa lewat Turki yang menyambung ke Suriah, Irak, dari Iran, atau Jordan dari Saudi dan Qatar. Tetapi Saudi dan Qatar tidak memiliki hubungan baik dengan Suriah selain bahwa negara Paman Assad ini terikat kerjasama keamanan dengan aksis perlawanan Iran-Lebanon Selatan-dan Rusia yang adalah rival Arab.
Maka pilihan lain adalah menguasai port Laut Merah Arab Saudi di kota Jazan/Jizan yang berbatasan dengan Yaman. Ini artinya menguasai Yaman yang merupakan muara baik ke eropa via Suez maupun via Aden ke pasar Asia. Di sini secara nature atau alamiah, Yaman yang tidak terlalu besar produksinya tetapi menjadi penting dari segi geo-politik-militer bagi distribusi migas.
0.30. Konstruksi Aktor
Kedua, selain sifat mentalitas aktor pencari untung ini tersusun oleh beberapa kombinasi atau konstruksi yaitu kelompok egois dan/atau posisionalis (oportunis), dan kelompok pro revisionis dan/atau pro status quo.
Secara ideal masing2 aktor ingin menjadi paling egois, yaitu sebisa mungkin memperoleh harga terbaik dengan melakukan monopoli seluas-luasnya. Pada kasus migas mereka membentuk kartel yang di dalamnya terjadi negosiasi-negosiasi berupa kerjasama atau kompetisi dimana selalu akan ada konstruksi kelompok yang egois (biasanya yang paling dominan, dalam hal ini Saudi dan Iran).
Semenjak Iran di embargo secara ekonomi oleh Barat, terutama ekspor migasnya sejak mula revolusi Islam (1978) mereka tidak dalam posisi egois, tetapi lebih posisionalis. Selain bahwa mereka juga terlibat perang memperebutkan ladang minyak dengan Irak selama delapan tahun, sehingga mereka mau tidak mau oportunis saja untuk menerima pihak ketiga untuk memasukkan produksi mereka via pasar gelap.
Di sini boleh kita katakan, gain seeking mentalitas atau mentalitas mencari untung dari sektor migas menempatkan Saudi sebagai pihak lebih ngotot ketimbang Iran. Ini karena dia secara alamiah memiliki lebih banyak pilihan dari segi cost-benefits dengan fungsi utilitas produksinya dari Iran yang diembargo karena dapat memainkan dua kartu distribusi; kerjasama atau melalui pasar gelap.
Dorongan untuk mengambil maksimum gain ini yang secara mudah juga menempatkan Saudi sebagai aktor yang lebih memilih dan mempertahankan mitra yang pro status quo ketimbang mereka yang revisionis atau terbuka.
0.40 Kesimpulan
Kedua kombinasi (sifat dan konstruksi) ini akan menentukan orientasi aktor yang terlibat konflik. Sehingga bila kita kembalikan kepada pertanyaan Oom Bambang Triatmojo, mengapa Saudi tidak mengambil opsi menurunkan saja produksi daripada terlibat konflik sudah dapat kita jawab. Ini karena sesuai dengan sifat idealis mencari untung maksimum dan konstruksi egois untuk tetap menjadi pemain dominan di regional yang membuat Saudi sebagai aktor lebih memilih jalan konflik dengan berusaha keras mempertahankan rejim pro Saudi dari President Mas Hadi yang dijungkalkan oleh kelompok revisionis anti rejim yang barangkali lebih sulit diajak kompromi.

Intervensi Saudi ke Yaman dan bangkitnya Sentimen Nasionalisme

Intervensi Saudi ke Yaman dan bangkitnya Sentimen Nasionalisme
- Mengenali Attitude Publik sebagai Faktor Amplitudo dalam konflik -
Serangan udara Saudi ke negara berdaulat Yaman dengan mengusung alasan membantu pemerintahan berdaulat dan memerangi milisi pemberontak Houthi yang bermadzab Syiah adalah a false-flag atau bendera keliru dari politik intervensionis.
Ini merupakan keterlibatan langsung ke dua Saudi setelah sebelumnya mereka masuk menekan kelompok demonstrn anti rejim yang mayoritas penganut Syiah di Bahrain dengan mengirim pasukan darat.
Meskipun demikian menarik persoalan ini kepada isu madzhab adalah pandangan keliru. Mengingat segala bentuk pembenaran dari serangan tadi tidak akan menyangkal bahwa Saudi secara terang-terangan telah melakukan agresi ke satu wilayah negara berdaulat yang dilindungi konvensi PBB bukan karen alasan madzab tetapi lebih karena alasan politis.
Apabila kita telaah mekanisme politik intervensionis Saudi ini dari sudut pandang penduduk Yaman sendiri maka, akan ada dua hal mendasar yang dapat diimbuhkan kepada serangan Saudi ini; pertama bahwa Saudi telah menggunakan politik Islam sebagai alat diplomasi menekan dalam perang kepada tetangganya. Kedua bahwa intervensionisme ini akan menyinggung bangkitnya politik identitas kebangsaan (nasionalistik) di kalangan orang Yaman yang belakangan menghendaki jatuhnya pemerintahan Pro Saudi.
Dibanding politik sentimen (suni versus syiah) maka agresi Saudi ini akan lebih banyak menimbulkan sentimen nasionalisme. Jika kita mengenali faktor sentimen dalam satu konflik, maka ini akan cukup penting untuk melihat "public attitute" atau faktor penggerak massa yang dapat digunakan memperkuat amplitudo konflik.
Misalnya jika kita mengkaji politik di Turki maka akan ada dikotomi yang kuat yang mewarnai attitude publik yaitu; kelompok Islam versus kelompok Nasionalis-Sekular. Sementara di Mesir yang menguat adalah dikotomi politik militer-islam tradisi versus islam revisionis.
Di Yaman setelah lama pemerintahannya dikuasai pengaruh Arab Saudi dan kini tumbang karena perlawanan kelompok milisi misalnya berlaku dikotomi; pro Saudi/Rejim dan anti Saudi/anti Rejim San'a. Sebelumnya Saudi bermain tidak langsung dengan mempengaruhi Yaman secara politik saja, tetapi kini dengan agresi militer, Saudi segera menyulut sentimen nasionalisme Yaman.
Ketika Menlu Saudi berkata bahwa serangan udara ke Yaman adalah mempertahankan pemerintahan yang sah dan melindungi penduduk bermadzab Suni dari serangan milisi yang kebanyakan penganut Syiah maka ini adalah a false flag. Sebuah bendera keliru dari permainan mendeterminasi kecenderungan publik akan sentimen madzhab secara khusus dan regional secara umum.
Apa yang dilakukan Saudi dengan menyerang tetangganya yang miskin sebenarnya sedang mempertahankan hegemoni mereka di Yaman untuk tetap mengontrol negara ini dari menjadi pemain kuat karena posisi strategisnya di ujung tanduk selat Arab sebagai celah bagi jalur perdagangan minyak. Serangan udara Saudi hanya akan memancing balasan yang dibangkitkan oleh public attitude berupa sentimen nasional yang mengesampingkan perbedaan madzhab.

Front Yaman dan Dillema Keamanan Ganda (Duppelten Sicherheitdillema)

- Invasi Saudi ke Yaman -
Serangan intervensi Saudi Arabia ke basis milisi Houthi di Yaman adalah bentuk ekspresi dari dillema keamanan ganda (double-security dillema). Dengan membawa kampanye anti milisi Syiah dan membantu pemerintahan Mohammad Hadi yang sah serangan Saudi sebenarnya tindakkan negara tadi menjaga posisi keamanannya sendiri.
Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu, mengenai kebijakan Saudi menekan minyak (oil) serendah mungkin di pasaran internasional rupanya memang tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana. Waktu itu pertanyaan kita adalah apakah benar Saudi ingin memukul produsen Minyak Rekahan yang murah di AS atau ia ingin menjatuhkan Iran dan Rusia dari segi pendapatan di sektor energi.
Bila menggunakan pendekatan neo-realis maka sebenarnya tindakan Saudi yang mengatakan akan terus menekan harga minyak meski turun sampai 20 dollar per barrel adalah anomali. Ini karena dengan menekan harga maka Saudi melepas perolehan maksimum dan mereka harus menggunakan tabungannya untuk menanggung resiko hilangnya "maximum gain" dari penjualan minyak ini.
Bukan sifat orang Arab Saudi yang mau hidup susah dan karena alasan itu kita memprediksikan tempo hari bahwa Saudi sedang memainkan strategi dillema keamanan ganda.
Teori ini dikembangkan dari tulisan Tuan John Herz (Politica Realism and Political Idealism) yang menulis bahwa keinginan meningkatkan tingkat keamanan oleh satu negara dengan alasan adanya ancaman selalu berkorelasi dengan meningkatnya ancaman itu sendiri. Menurut Herz, hal ini cukup logis karena negara lain akan terusik untuk melakukan hal yang sama. Intensi saling terusik ini yang akhirnya ia melahirkan istilah dilema keamanan (security dilema).
Ancaman yang terus meningkat dan berkesinambungan ini dalam realitasnya membutuhkan pembiayaan dan biaya besar ini diperoleh dari bisnis energi sektor minyak. Negara2 Timur tengah seperti Arab Saudi dan Iran yang menjadi produsen nomor dua dan tiga dunia memahami jika mereka di satu sisi saling membenci tetapi mereka juga harus membangun kartel untuk menentukan harga guna memperoleh maximum gain agar dapat menjaga posisi politik, ekonomi, dan pembiayaan militernya (Robert Mabro).
Relasi antara kompetisi di segi keamanan dan kooperasi (kerjasama) di segi kontrol harga minyak dan untuk menjaga dominasi kartel di antara kedua negara yang saling bersaing inilah yang disebut dengan istilah dilema keamanan ganda (duppelten Sicherheitdillema). Iran dan Saudi selalu dalam bandul benci tapi rindu.
Manuver Saudi dengan meningkatkan produksi yang membuat harga minyak kemarin sempat jatuh rupanya tidak dapat ditolong lagi telah membuat negeri ini keteter dari segi pembiayaan keamanan. Dan Iran yang seperti kita pernah tulis, telah terbiasa dengan embargo membuat mereka secara logis mendukung kelompok milisi Houthi guna mendapatkan akses front Yaman sebagai pintu pengaman ekspor minyak mereka ke pasar gelap Eropa.
Serangan invasi Saudi dengan beberapa negara teluk lainnya kepada milisi Houthi dan milisi2 kelompok perlawanan untuk menjatuhkan pemerintahan Hadi yang Pro Saudi sebenarnya adalah security action yang secara langsung akan menaikkan kembali harga minyak dunia sekaligus diharapkan akan menaikkan daya tawar mereka di regional.
Dengan serangan ini mereka berharap akan meningkatkan perolehan maksimum dari minyak sekaligus menaikan kekuasaan maksimum dengan memainkan isu sektarian Suni versus Syiah. Tentu peroleh ini juga akan meningkatkan keuntungan Iran sebagai pendukung milisi Houthi.
Persoalannya adalah bahwa Saudi melawan kelompok-kelompok milisi yang menjalankan perang asimetris dengan kekuatan gerilya yang bila kita melihat kasus Suriah maka kemungkinan akan memakan waktu lama.
Bila melihat kemampuan Saudi dalam perang terbuka sebagai negara maka Front Yaman dengan bentuk perang asimetrisnya akan membuat negara ini menjadi negara paria, dan Saudi akan gagal di sana dan harga minyak akan naik sedemikian rupa.

Sikap Eropa di Suriah dan Blunder Saudi di Yaman

Saiyah baru mendapatkan kabar e-mail dari kolega di GIGA Hamburg bahwa setelah pertemuan terakhir di Berlin, Jerman akan merealisasikan anggaran 155 milyar euro untuk pengungsi Suriah. Sikap Jerman ini tentu menarik dikaji, mengingat sebagai motor keuangan dan politik eropa langkah kemanusiaan Gerd Muller dapat dilihat sebagai perubahan paradigma dalam memandang konflik di Suriah sebagai tragedi kemanusiaan.
Melalui komitmen bantuan ini, mau tidak mau eropa di bawah Jerman harus menarik kembali semua pihak bertikai untuk maju ke meja perundingan dan mengambil opsi politik. Ini artinya secara tersirat Eropa mengakui Presiden Assad adalah "pemenang" dan penyelesaian lewat jalan perang melalui dukungan terbuka terhadap kelompok-kelompok perlawanan Suriah (FSA) dan dukungan tertutup kepada ISIS/ISIL sepertinya akan banyak berubah.
Dasar dari perubahan itu ada beberapa faktor, pertama; karena alasan kemanusiaan. Sampai hari ini lebih dari 300.000 orang terbunuh dan 3 juta rakyat Suriah menjadi pengungsi dan kondisi ini membangkitkan kekecewaan publik eropa/Jerman mengenai tugas dan fungsi mereka dalam konflik. Beberapa teror yang dikaitkan dengan relatasi dari konflik Suriah juga menambah ketidaksetujuan publik pembayar pajak Jerman yang melihat eskalasi konflik dapat saja merambah ke daratan eropa dengan pulangnya those so called "jihadis putih/eropa ke negara asalnya.
Kedua, Jerman bergerak lebih realistik melihat perkembangan perang. Sepertinya bersama-sama AS untuk terus mendukung kelompok perlawanan menjadi tidak lagi relevan ketika rakyat Suriah sendiri lebih percaya kepada Assad. Penyebabnya niat berjuang kelompok perlawanan Suriah sudah dikorupsi oleh tindakkan brutal milisi yang menyebut dirinya jihadist Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIL). Semakin besar dana dan personel ISIS tidak membuatnya semakin populer di lapangan dan hanya menjadikan mereka kelompok tidak jelas (no-name) di kawasan Timur Tengah sendiri.
Boleh kita katakan jika kebijakan luar negeri dengan mengintervensi negara lain menjadi kurang relevan bagi orang Jerman sekarang. Selain kenyataan bahwa kepentingan Eropa di sana adalah bagaimana berpartisipasi dalam pembangunan Timur Tengah. Pilihan Jerman untuk mengambil langkah kemanusiaan (yang biasanya akan diikuti langkah teknis perbaikan infrastruktur pasca perang) tentu sedikit banyak akan mempengaruhi sikap negara-negara eropa lainnya untuk memulai investasi di Timur Tengah.
Melihat kecenderungan eropa yang sepertinya tidak ingin menciptakan eskalasi konflik di Timur Tengah maka dapat sedikit kita fahami mengapa Eropa seperti tidak terlalu bersemangat mendukung tindakkan agresi Saudi di Yaman. Tanpa dukungan eropa, maka serangan Saudi ke Yaman hanya membuat langkah ini sebagai blunder bagi mereka sendiri.

Soal Panama Papers dan Negara Rentenir Baru

Saiya masih membaca bahan-bahan terkait data yang diterima Koran Jerman Selatan dari seseorang tak dikenal yang disebut Skandal Berkas Panama. Satu peretasan data terbesar dunia mengalahkan apa yang dilakukan Snowden dan Julian Assange dengan Wikileak.
Tetapi ada kesamaan dari apa yang dilakukan Snowden dan seseorang tidak dikenal di Panama untuk membocorkan data yang menyangkut transaksi "illegal", pencucian uang, pengemplangan pajak yang dilakukan oleh famili orang-orang penting di seluruh dunia di bawah manajemen Firma Hukum Mossack Fonseca.
Siapa saja yang menjadi klien dari firma dengan spesialis off-shore accounts management ini maka Koran Jerman Selatan mengirimkannya ke lebih dari 140 media internasional seluruh dunia. Yang artinya ini kasus sepertinya sedang dibuat untuk menjadi skandal kelas atas.
Bagi yang senang menonton dulu ada film dengan judul the Firm yang diangkat dari novel John Grisham. Barangkali Fonseca ini perannya mirip dengan Firma dalam film tadi.
Sekedar iseng bila kita buatkan profiling "skandal" ini maka.
1. Panama adalah negara terkenal dengan bisnis taxes heaven, surganya pengemplang pajak. Mereka banyak memiliki perusahaan sejenis Fonseca yang spesialis mengurus akun-akun antar negara.
1.1 Bagaimana mereka melakukannya, ya karena sistem pemerintahannya yang neo-patriomornial dimana melalui sedikit modifikasi setelah tumbangnya Noriega oleh operasi Just Case-nya George Senior Bush. Negeri ini otomatis telah menjadi apa yang disebut dengan A Democratic Rentier State. Yaitu sebuah negara yang sebagian besar penghasilannya diperoleh dari usaha jual beli jasa bunga dan pajak di bawah bayang-bayang sistem keuangan US.
1.2 Panama adalah tempat menarik untuk transaksi seperti ini karena keberadaan terusan yang menghubungkan jalur barang dan transportasi komoditi offshore trans Atlantik dan Pasifik.
2. Kebocoran ini juga punya modus operandi yang mirip dengan peristiwa Wikileaks dll-nya yaitu:
2.1 Satu kegiatan contra hukum (peretasan) tetapi berniat membongkar secara hukum (investigasi) atas kasus-kasus yang diungkap
2.2 Sifatnya yang seolah-olah dilakukan untuk membuka pengamatan umum dan reaksi sosial. (Mirip-mirip kasus Arab Springs gituh)
2.3 Menyerang sosok-sosok, kelompok, atau negara-negara tertentu. (biasanya yang gak seneng sama barat)
2.4 Belum tentu menjelaskan tetapi berdampak politik dan kemungkinan adanya kebohongan yang tidak dapat diverifikasi di dalamnya. Ini mirip mendengarkan laporan seseorang yang bilang bahwa dia melihat pocong di pengkolan kuburan.
Kesimpulan.
Jika menggunakan pendekatan teori permainan, maka ini ada dua persoalan yang mau dimajukan secara bersamaan; Pertama bahwa negara-negara maju (yang dicurigai sebagai pendorong dari munculnya peretasan ini) mengancan the so called kelompok banyak duit untuk lebih banyak menyetor pajak ke negara.
Kedua bagi negara berkembang, dampak yang paling mudah dilihat adalah efek politiknya daripada efek ekonominya. Karena sebentar lagi koran-koran seperti Tempo yang katanya menjadi media massa pertama yang mendapatkan data dari Koran jerman Selatan akan mengungkap nama-nama. Tentu saja akan lebih berat secara politik dan bukan alasan ujungnya adalah penerapan pengawasan pajak yang lebih luas.
Sementara sambil nungguin kira-kira mau ambil untung apa negara dengan isu ini, maka itu saiya mau baca-baca dulu tagihan Pajak Bumi Bangunan, pasal2 pajak pernghasilan pribadi, e-filling pajak online, sampai pajak kantong kresek ... Kok ya seperti mengarahkan Indonesia menjadi a new Rentier State, negara rentenir baru.
Bedanya cuma kalau di Panama yang dicari adalah pengemplang pajak external dari luar negarinya, tetapi di Indonesia kayaknya mau diambilin dari ra'jat sorangan.
Ya emang belakangan kita kok semakin banyak saja yang dipajakin.

Politik Para Magangers Mengenali Tipologi Strategi Idiil dan Strategi Modifikasi

Keberadaan the so called "tenaga magang" di kantor gubernuran Jakarta sebenarnya tipologi baru yang mungkin baru berkembang kurang dari lima belas tahun terakhir dalam birokrasi pemerintahan kita.
Secara sederhana pegawai magang di luar negeri dikenal sebagai novis, apparantis, atau intern yang bekerja untuk menambah pengalaman di institusi pemerintah atau swasta. Mereka tentu saja tidak menduduki sebuah jabatan apalagi jabatan strategis. Sementara para magangers di kantor Gubernur Jakarta mereka menduduki jabatan-jabatan penting seperti staf khusus, staf ahli, atau penasehat.
Bila kita cari kontekstualisasinya atau bila dikaitkan dengan perhubungan-perhubungan lain seperti bahwa si A, B, atau C adalah peneliti di lembaga think-thank CSIS, SKSB, SDSB, atau ternyata mereka adalah famili dari perusahaan Lipo, Agung Podowae, Cikutra, dan Sinaremas maka fahamlah kita jika tipologi The Magangers ini jauh lebih kompleks dari yang kita lihat.
Mengapa mereka sampai ada di pusat kekuasaan Jakarta sebenarnya dapat diterangkan melalui tipologi strategi berdasarkan isi atau konten (Miles-Snow, Porter,Rubin, Nutt, Wechler-backoff dll.)
0.1
Pertama bahwa sejak kita menganut demokrasi pilih langsung yang melibatkan begitu besar aliran-aliran modal kepada kandidat pejabat publik maka persoalan politik publik dapat diasumsikan serupa dengan politik bisnis. Ini juga dapat dijelaskan juga dengan fakta bahwa dalam kurun lima belas tahun ke belakangan kita kerap mendengar seminar istilah dari Rulling Government ke Good Governance, dari Management Business ke Management Public dan pelatihan-pelatihan outbounding, kerjasama tim dll., yang intinya semacam dorongan agar terjadi perubahan paradigma dalam birokrasi pemerintahan.
Di pemerintahan dipersepsikan sebagai lambat, besar, kompleks, tidak efektif-dan effisien sehingga perlu adanya strategi baru yang mengadopsi model manajemen strategis dalam dunia bisnis. Maka apa yang kita lihat hari ini dengan banyaknya pelaku bisnis masuk ke dalam dunia publik yang berlanjut dengan proposal privatisasi perusahaan-perusahaan atau manajemen publik ke swasta adalah produk dari perubahan tadi.
0.2
Kedua bahwa pertimbangan perubahan strategi pemerintahan dari birokrasi yang ideal kepada birokrasi yang efektif-efisien adalah sebuah proses penyesuaian atau modifikasi dalam strategi. Alasan utamanya ada;aj bahwa kondisi lingkungannya telah berubah. Pendapat bahwa lingkungan hari ini sudah berubah menjadi faktor determinan bagi adanya penyesuaian dalam tubuh pemerintahan.
Pada saat kampanye tentu saja model ini tidak diungkap, karena kebanyakan kandidat akan mengatakan bahwa mereka butuh kabinet yang ramping, yang lincah, dan yang bukan politik akomodasi. Tetapi dalam kenyataannya cukup jelas yaitu ketika si A atau B menang konstestansi maka relasi antara pemodal dengan pemangku kebijakan (pejabat pemerintah) harus terus dijaga dengan alasan yang paling pragmatis dan oportunis.
0.3
Ketiga bahwa untuk memenangkan pemilu dibutuhkan tenaga pendukung yang besar dan dukungan para penyandang dana yang kuat maka hal yang paling tepat untuk memastikan bahwa politik balas jasa tadi benar-benar terlaksana adalah bagaimana memastikan efektivitas eksekusi dari strategi. Di sinilah para magangers itu memiliki bukan hanya fungsi akomodasi tetapi juga penekan.
Bila pada masa Soeharto the so called para bandar mengambil jarak terhadap birokrasi pemerintahan. Dengan birokrasi dipersepsikan sebagai organisasi yang diisi oleh mereka-mereka yang memiliki loyalitas terhadap partai, negara, atau ideologi. Namun tipologi yang kita lihat hari ini adalah sebaliknya dimana birokrasi pemerintahan dipenuhi mereka-mereka yang disebut sebagai para orang baru yaitu the "magangers".
Perubahan strategi birokrasi dari ideal ke modifikasi tadi dibenarkan oleh pandangan bahwa misalnya bahwa -kondisi lingkungan hari ini jauh dari yang diperkirakan- sehingga diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat diambil (desirable modified strategy) untuk benar-benar bahwa eksekusi tadi akan memenangkan kelompoknya.
Jika latar dari kedua tipologi ini (yaitu lingkungan berubah dan kepastian dalam hal eksekusi) diterapkan dalam organisasi pemerintahan maka sebenarnya ada empat unsur pokok yang dimainkan oleh para Magangers ini.
Pertama strategi prospektif, yaitu para magangers ini berupaya mencari peluang-peluang dan domain-domain baru yang bisa diolah dengan keberadaan mereka inside the city-hall.
Kedua mereka menerapkan strategi analisis, yaitu dimana the magangers dengan rekomendasi-rekomendasinya berusaha mengilmiahkan kebijakan-kebijakan yang nantinya akan menguntungkan.
Ketiga strategi pertahanan atau defensif. Yaitu the magangers di city hall memang ditempatkan untuk memblok dan mengamankan sektor-sektor yang menjadi core bisnis dari kepentingan tertentu dari pemodal kampanye.
Keempat para Magangers tadi menerapkan strategi reaksional. Yaitu mereka akan memainkan waktu untuk membuka atau menutup, menarik atau mengulur kebijakan-kebijakan yang mungkin menguntungkan atau merugikan mereka. Mereka juga berperan untuk membantu memastikan nama-nama lain yang dianggap dapat menjadi penghubung atau potensial sebagai rekanan.
Demikian Wassalaam
Bapak Andi Hakim

Luar Batang dan Artefak Sejarah Perlawanan Islam

Hari ini rencananya pemkota DKI menggusur perkampungan Luar Batang.
Bagi yang pernah belajar mengaji di lingkungan pesantren kota milik orang betawi atau arab keturunan Yaman, Luar Batang adalah salah satu titik penting penyebaran Islam di wilayah Jakarta. Sedemikian kuatnya pengaruh para habib itu bila ada anak-anak mengaji yang sedikit nakal atau bodoh, ustadz atau guru-guru ngaji di masjid-masjid atau mushola kampung-kampung Jakarta biasa menggertak dengan berkata:
"Ya Habib, bloon beeng loh tong!" atau
"Ya Habib, muke lue kayak onte pade"
Habib yang dimaksud tentu habib Alawi Husein Alaydrus atau habib-habib dari keturunan Yaman. Salah satu keluarga pemuka penyebaran Islam di tanah Betawi.
Adalah Habib Alhusein Alaydrus sesepuh keluarga keturunan arab Jakarta Alawi Fam, yang pertama kali mendirikan masjid di perkampungan nelayan miskin di daerah ini. Bahwa ketika ia mengembangkan pesantren di sana ia dipercaya terdampar ke wilayah terluar benteng Kompeni yang kini dikenal sebutan nama Pasar Ikan.
Pihak kompeni kemudian mengeluarkan, Habib Alaysdrus dikeluarkan dari wilayah kota baru batavia (sekarang kota tua). Tetapi setiap dipindahkan dengan perahu konon ia menunjukkan keramatnya, yaitu perahu yang ditumpanginya kembali ke tempat dimana dia bertolak.
Luar Batang, sendiri adalah penamaan khas pada masa itu. Meski sebagian menerjemahkan bahwa nama tadi disebut karena ketika habib wafat, mayatnya tidak ada sirna atau menghilang dari dalam kurung batang.
Sebagian sejarawan percaya bahwa tujuan dari Habib Alaysdrus bermukim di luar batang adalah sebagai perlawanan dari perluasan benteng Kumpeni ke wilayah perdagangan milik pribumi. Kata Batang sampai hari ini masih digunakan masyarakat pesisir untuk menyebut muara atau pertemuan sungai.
Melalu penguasaan wilayah masuk yang sekarang masuk Penjaringan, Kompeni mengambil alih sisi barat jalur masuk ke Batavia yang adalah jalur masuk tradisional perdagangan, barang, ikan, hasis (opium), kapur barus, pinang dan garam milik pribumi untuk memberlakukan cukai masuk.
Jika kita percaya bahwa sejarah Luar Batang adalah sejarah perlawanan pribumi terhadap kolonial Belanda, yang sepertinya ini jauh lebih masuk akal maka penghancuran wilayah tadi adalah penihilan artefak perjuangan perlawanan umat Islam menentang pen-jajahan (pengambilan cukai) yang kemudian berlanjut menjadi perlawanan pribumi atas kolonialisme.
Sejarah besar ini tentu tidak pantas dihilangkan dengan alasan kebersihan dan atau meningkatkan wisata kuliner.

Menggusur Luar Batang Ahok dan Sadikin

Tujuan penggusuran Luar Batang oleh Ahok itu bukanlah persoalan pemkot ingin meningkatkan wisata religi, kuliner, atau kebersihan, melainkan murni karena wilayah Luar Batang masuk dalam perancangan bloking perkotaan yang terinstegrasi dengan properti swasta. Membiarkan Luar Batang dengan kemiskinannya di tengah-tengah mimpi kota pantai dunia tentu akan menjerumuskan apa yang disering disebut Presenter Properti Metro TV Feni Rose;
"Pemirsa segera investasi sekarang, besok harga-harga naik"
Jadi sekali lagi, kemiskinan di sini dianggap sebagai gangguan bagi pertumbuhan modal dari fordist city dengan ciri-ciri berkembang biaknya cluster bangunan seragam. Pemukiman kumuh tadi tentu tidak cocok bersanding dengan pemukiman swasta ala Levittown, dengan rumah-rumah tematis bersuasana pantai, pohon-pohon palem di kiri-kanan jalan lebar serta satpam-satpam yang rajin tersenyum dan mencatat nomor-nomor mobil yang masuk.
Luar Batang dan rumah-rumah kumuh serta orang miskin tentu tidak masuk hitungan dalam pembangunan kota Jakarta masa depan.
Di sinilah demi meluruskan jalannya modal-modal tadi, maka Ahok menggunakan kekerasaan dan membenar-benarkannya dengan alasan mengentaskan kekumuhan atau mencegah dari bahaya rob air laut. Yang menyedihkannya pula adalah dilibatkannya tentara dan polisi untuk mengambil alih properti dari orang miskin Luar Batang.
Penggunaan kekerasaan untuk menggusur masyarakat ini sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Pada awal jabatannya Gubernur Ali Sadikin gusur paksa juga pernah terjadi. Tetapi setelah mendengar bahwa wapres Moh Hatta mengirimkan pesan keras, Gubernur Sadikin tergopoh-gopoh mendatangi proklamator tadi.
Setelah panjang lebar menerangkan bahwa pemukiman kumuh Rawamangun, Otista, Kuningan, dan Tanah Abang nantinya akan dibangun fasilitas olahraga bagi anak-anak muda agar mereka berkarya dan berprestasi, Sadikin disentil Hatta dengan kalimat.
"Bung tentu faham mereka itu kan rakyat kita, yang nasibnya dulu kita perjuangkan agar bisa tinggal di tanah airnya."
Sadikin mengundurkan diri dari Hatta untuk kemudian mengubah konsep penggusuran tadi menjadi proyek revitalisasi kampung-kampung di Jakarta melalui proyek Mohammad Husni Thamrin (MHR project). Salah satu proyek yang sepuluh tahun kemudian dicontoh Lee Kuan Yew ketika mengembangkan kota Singapura. Sadikin memperbaiki sanitasi, pipanisasi, penggiatan MCK umum, pengaspalan gang-gang dan pembangunan pusat-pusat komunitas seperti Karang Taruna, Posyandu, Kantor RT/RW, dan lapangan-lapangan badminton.
Untuk mengurangi tekanan kota di masa depan, Sadikin membeli tanah-tanah masyarakat luar kota untuk menjadi tanah milik pemerintah kota. Hal aneh bila Gubernur selanjutnya lebih banyak menjual tanah-tanah ini dan membiarkan swasta menguasai hajat hidup orang banyak untuk mendapatkan perumahan layak.
Konsep MHR inilah yang sebenarnya menarik untuk dikembangkan di era Jakarta hari ini daripada penggusuran paksa. Mengingat sejak Jakarta ada pertumbuhan pemukiman kota ini sebenarnya bergerak secara original atau kota tumbuh. Yang berbeda dengan kota-kota di Eropa atau AS dengan model blok-blok dan masyarakatnya yang tinggal di apartemen-apartmen.
Bukankah tempo hari kita sering membaca berita bagaimana seorang walikota, gubernur, dan calon presiden berkampanye dengan berulang-ulang menyebutkan prestasinya menggusur PKL Taman Sriwedari, Loji gandrung dll., di Solo Jawa Tengah dengan cara yang unik; mengajak makan berkali-kali para pedagang, mendengarkan keluhan, lalu menggusur dengan baik-baik dan mengarak mereka ke tempat baru dengan upacara kirap.
Setelah menjadi gubernur, orang tadi berkampanye tentang suksesnya memindahkan PKL Tanah Abang ke blok G yang baru, lebih indah dan manusiawi. Apalagi orang tadi juga pernah membuat kontrak politik Jakarta Baru yang ramah dan partisipatif dengan masyarakat Luar Batang.
Tentu ide orang tadi kalau memang benar-benar tepat bisa diterapkan oleh penerusnya atau jika tidak dapat diterapkan dan akhirnya menggusur paksa maka kira2 kirap2 dan surat kontrak-kontrak politik tadi maksudnya apa.

Catatan Orang Pinggir Goenawan Muhamad dan Mbah Subur

Saiya pernah memiliki buku kumpulan catatan pinggir dari Goenawan Moehamad (GM) yang kini mungkin sudah tidak ada lagi di rak buku karena sudah dibagikan kepada siapa saja yang memintanya. Ini kemungkinannya adalah bahwa buku-buku tadi memang diharapkan mencerahkan pikiran orang -tokh untuk apa memiliki perpustakaan tanpa orang lain boleh membacanya-, atau memang buku tadi tidak lagi layak untuk disimpan lama-lama.
Ketika seorang kawan me-link kepada sebuah twitter dari Goenawan Moehammad yang mempertanyakan hak aktivis mewakili suara sub-alterns (orang bawahan) dalam kasus-kasus seperti penggusuran Luar Batang, Kalijodo, Kampung Pulo di Jakarta oleh pemprov, atau lahan pertanian penang Sedeng, maka saiya teringat pada buku-buku tadi.
GM mengutip Gayatri Sivak, dan seperti menunjuk bahwa di bawah bayang-bayang studi pasca-kolonial maka untuk bersuara saja kelompok orang bawahan tidak dapat mewakili dirinya sendiri.
Saiya tidak mau melacak lebih dalam komentar-komentar yang berkembang oleh kicauan GM belakangan memang GM sering sekali membela kebijakan-kebijakan yang kontroversial dengan keyakinan publik. Bagi pembaca Jurgen Habermas dan Paul Ricoer tentu mengetahui jika pementasan sebuah aksi memang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks institusi sosial dan kondisi struktural. Keterbatasan seseorang atau kelompok dalam mengeluarkan kalimat atau bahasa yang tepat memang tersusun oleh tradisi sosial dan struktural yang dimilikinya.
Seorang perempuan di Jawa cukup menangis atau diam untuk mengungkapkan kekecewaan, tetapi tidak begitu bagi perempuan di Meksiko city. Kekecewaan bagi mereka bukanlah hal yang harus disimpan, ia harus keluar bersama aksi kemurkaan agar orang faham akan sebuah kejadian.
Seorang gadis dari kampung Parakan Salak mungkin diam saja ketika ditilang polisi, tetapi gadis ABG di kota Medan membela diri dengan mengaitkan dirinya kepada struktur sosial yang dianggap lebih superior.
Melalui keterbatasan berbahasa ini Ricouer menyarankan agar cara kita mengalisa pesan sebaiknya dikembangkan dari sekedar entitas tekstual kepada seluruh fenomena sosial dan struktural. Mengingat baik fenomena sosial maupun struktural itu sendiri boleh dikatakan merupakan tanda, karakter yang bersifat semiologi.
Meski begitu, tuan Ricouer menyarankan agar kita berhati-hati mengingat bahwa analogi tidak dapat sepenuhnya mewakili terjadinya kekerasan atau konflik.
Seperti misalnya sekumpulan perempuan petani dari Kendeng Jateng duduk di depan Istana Negara dengan kaki disemen. Meski mereka diam tetapi ada satu aksi yang bersifat yang menunjukkan adanya konflik dan perlawanan terhadap manifestasi kekuasaan oleh struktur dalam hal ini negara dan pemodal yang ingin mendirikan pabrik semen.
Bagaimana mereka mendapatkan ide merangkai semiologic antara aksi petani bercaping dengan kaki tersemen semen dan ideologi kapitalisasi ruang oleh pabrik semen yang ingin mereka lawan mungkin tidak datang dari mereka sendiri.
Seseorang yang pandai dalam aksi jalanan -yang tentu saja bukan petani- mesti berupaya mewakilkan kesulitan petani tadi dalam ungkapan bahasa aksi atau teaterikal. Bagian siapa mewakili bahasa siapa ini yang mungkin dikicaukan oleh Goenawan Moehammad.
Tetapi meskipun disjungsi aksi tadi lemah dalam segi perhubungan tetapi dalam realitanya itu cukup menerangkan bahwa para ibu-ibu tadi terlepas mereka bagian dari sebuah skenario "orang pintar" namun kenyataannya memang sedang memperjuangkan apa yang harus mereka perjuangkan. Jadi merujuk kepada Ricouer, aksi tadi tetap menjadi bagian utama untuk ditafsirkan.
Memperdebatkan siapa intelektual atau aktivis dan atas mandat atau disposisi siapa mereka mewakilkan suara orang pinggiran atau sejauh mana mereka menyisipkan kepentingan kekuasaan di buku-buku jari kaki petani seperti dikicaukan Goenawan sebenarnya tidak ada gunanya.
Selain bahwa GM juga akan dipertanyakan untuk kepentingan siapa dia meragukan orang lain yang ingin membantu petani Kendeng atau nelayan Luar Batang, kita tetap saja dapat melihat adanya mandat yang diberikan orang bawah (sub-alterns) kepada pihak lain untuk mengamplifikasi bahasa mereka.
Melalui penyerahan diri kepada skenario yang dibangun aktivis adalah mandat kepercayaan meski kita asumsikan itu adalah mandat yang paling lugu. Tetapi mandat adalah mandat.
Kita juga tidak dapat memungkiri bahwa sebuah disjungsi seperti petani dengan kaki disemen dan kapitalisasi pegunungan untuk proyek pabrik semen meski sering tidak saling berhubungan tetapi ia menunjukkan bahwa orang kecil pun sebenarnya memiliki swa-mekanisme sosial yang ingin mereka tunjukkan.
Mekanisme sosial untuk mengungkapkan kode-kode eksistensi inilah yang ditunjukkan para perempuan petani dari Kendeng, pria nelayan yang ditelanjangi sedang dipukuli satpol PP di penggusuran Luar Batang, manusia gerobak di Gondangdia. Juga nelayan pesisir Indramayu, petani nanas kehilangan lahan di Sawit Subang, atau petani padi dikejar-kejar satpam pabrik di Karawang. Mereka sebenarnya adalah aktor bagi diri mereka sendiri.
Terlepas nantinya ada kepentingan yang menumpangi sebagaimana kebiasaan GM berkomentar mendukung kebijakan pemerintah yang dianggapnya aman bagi petualangan imajinasi intelektualitasnya maka mengutip Gidden (Central Problem in Social theory) bahwa manusia seperti sub-alterns tadi sedang menunjukkan bahwa struktur sosial yang adil di negeri ini memang sudah habis-sehabis-habisnya.
Begituuuu mbah Subur.

Hitler dan Asemka

Sambil membongkar-bongkar edisi Times tentang perang dunia kedua saiya mencatat beberapa hal.
1.0
Bahwa setelah perang dunia pertama selesai, Sekutu (AS-Inggris-Prancis) menyita seluruh simpanan emas Jerman melalui Versailes. Mendorong didirikannya negara Weimar Republik Jerman yang kewajiban pertamanya adalah membayar hutang kalah perang dengan uang pinjaman Inggris dan AS. Jerman diwajibkan membiayai kerusakan akibat perang dan penggunaan mata uang dollar bagi perdagangan barang internasional.
2,0
Menjelang medio 1920 inflasi yang berakhir dengan hancurnya mata uang Reichtmark dan diambilnya Ruhr dan Rheinland, kawasan industri yang kaya akan material batubara dan logam oleh Prancis.
3.0
Inggris mendorong diterapkannya conditional transfer atau semacam kebijakan negara sumbangsih bagi Republik Weimar Jerman dengan grup modal yahudi dalam JP Morgan sebagai sentra pemegang uang dan valuta asing. Nantinya orang Yahudi ini menerapkan sepenuhnya konversi pembelian via valuta asing yang membuat harga bagi barang-barang produksi masyarakat Jerman jatuh.
4.0
Semenjak Weimar Republik Jerman tidak lagi memiliki cadangan emas, maka pembelian besar-besaran valuta asing (pound dan dollar) untuk biaya restorasi sosial membuat uang Marks hanyalah setumpukan kertas stensilan. Republik Weimar menjelang hancur dalam hiperinflasi dengan 1 dollar AS sama dengan 4.2 trilyun Marks dimulai dari pembelian besar-besaran aset-aset, pabrik, hutan, tanah, apartement, transportasi, dan bisnis hiburan di seluruh Jerman oleh grup Yahudi.
5.0
Republik Weimar mulai mengeluarkan UU hiburan dan liberaliasi pasar. Agustus 1927 teater homoseksual dan lesbian pertama didirikan di Jerman.
5.0
Hitler dengan kelompok nasionalis-sosialis mulai mengarahkan kampanye untuk menggerakkan Gereja dan 32 partai-partai kepada pengembalian "kehormatan gereja, bangsa, dan keluarga jerman".
6.0
Kelompok Yahudi mengembargo produk-produk Jerman di luar negeri. Spekulan menawarkan investas asing masuk untuk membeli lebih banyak properti yang memaksa orang Jerman kehilangan banyak tanah dan tempat tinggal.
7.0
Hitler dan NSDAP nya memenangkan 107 kursi pemilu parlemen 1930.
8.0
Weimar bangrkut dengan meninggalkan 7,1 juta pengangguran, hutang dan cadangan emas kosong.
9.0
Hitler memenangkan 230 kursi pada 1932, dan karena suara mayoritas ia diangkat menjadi Kanselir pada 1933.
10.
Hitler memulai pemerintahannya dengan 13,9 juta dukungan suara untuk partai Nazi, kas kosong, hutang luar negeri, 7 juta pengangguran, dan ketimpangan sosial antara orang Jerman dan yahudi. Minoritas Yahudi (2%) menguasai 90% usaha Jerman.
11.
Hitler menolak menggunakan valuta asing (dollar) sebagai pembayaran luar negeri. Ia memilih untuk dilakukannya perdagangan barter dengan negara-negara lain karena tidak mengharuskan negara mitra membeli dolar di pasar valuta.
12.
Grup Yahudi Sedunia mencanangkan perang pada Maret 1933 terhadap Jerman dengan memboikot seluruh produk Jerman.
13.
Hitler membatasi bisnis keuangan Yahudi dan mendorong pemain Jerman untuk mengurangi ketergantungan dari hutang dengan sistem kupon terutama dari rentenir yahudi. Kupon diperoleh dari dana sumbangan yang diberikan kepada Perkumpulan usaha. Mirip simpanan sukarela dari koperasi sekarang.
14.
Hitler membatasi kepemilikan modal luar biasa pada satu orang dan mendorong dibentuknya kelompok-kelompok usaha. Melarang mereka meminjam uang dari bunga bank asing agar tidak terjebak dalam krisis ekonomi sebelumnya.
15.
Hitler membuka industri permesinan, perkapalan, dan pertahanan serta membangun infrastruktur yang menyerap 6 juta pengangguran dalam waktu 5 tahun saja semenjak 1933. Jerman meningkatkan pendapatan dalam negerinya hingga 20% dari perdagangan barter internasional.
16.
Pada Agustus 1938 Yahudi Internasional mendorong senat AS melancarkan perang terhadap Hitler. Yang dibalas warga Jerman dengan menghancurkan toko-toko dan bank-bank milik orang Yahudi. Peristiwa ini dikenal sebagai malam beling "Kristalnacht".
17.
Hitler mewajibkan seluruh pembangunan di Jerman memprioritaskan penggunaan dan penemuan bahan-bahan lokal. Rayon adalah salah satu penemuan material tekstil era Hitler untuk menjawab embargo kapas India yang diterapkan Inggris. Hitler menyebut penemuannya ini sebagai hasil dari Ekonomi Kerakyatan.
18.
Hitler melaksanakan pembangunan perumahan rakyat semesta. Rumah bagi keluarga dengan banyak anak dibebaskan dari pajak-pajak. Pendidikan gratis, dan memperkenalkan istilah univeristas link-and match antara dunia pendidikan dan usaha. Kelak universitas ini kenal sebagai sekolah tinggi teknik (Fachocschule) yang di kita mirip dengan politeknik.
19.
Hitler menantang desainer mobil mahal Ferdinand Porsche membuatkan desain mobil yang murah bagi rakyat kebanyakan dengan harga kurang dari seribu Mark. Mobil tadi kemudian terkenal seantero Jerman dan diberi nama Asemka Solo.

Apa Alasan2nya

Menjawab begitu saja persoalan di Jakarta dari Luar Batang, Pelarang Motor Sudirman, sampai Gojek Mangkal
1. Penggusuran Luar Batang adalah bagian dari skenario pengembangan distrik baru utara Jakarta oleh pengembang swasta Agung grup untuk lahan baru.
Alasan-alasan kawasan kumuh, kotor, jorok, dsb., dsb., itu adalah pura-pura saja bagi pemdah untuk mempercepat proses pembersihan (clearing) masyarakat pribumi LB dari lokasi tinggal dan tempat mencari nafkah hidup mereka.
Yang perlu kita perhatikan adalah dampak dari penggusuran ini menciptakan peluang ke arah moratorium atau penundaan pembangunan properti termasuk reklamasi pasca penggusuran LB.
Mengingat penundaan ini menguntungkan pihak pengembang di tengah resesi harga properti yang besok ternyata gak naek-naek banget mereka mendapatkan alasan bagus untuk menghentikan proyek bukan atas kehendak sendiri. Sambil menunggu peluang transisi pemerintah kota yang akan datang dan biasanya akan dilanjutkan lagi setelah terpilih gubernur baru.
2. Pelarang kendaraan roda dua (sepeda motor/motor) melintas jalan protokol Sudirman itu adalah persoalan ekonomi transportasi.
Operator TransJack yang adalah koalisi swasta dengan meminjam tangan pemda mencoba memonopoli transportasi di lajur Sudirman-Thamrin. Ini sama dengan alasan ditutupnya perlintasan sebidang stasiun Tebet (jl. Lapangan Ros/K.H Abdulah Syafei), setelah sebelumnya menjelek-jelekkan pelayanan mikro-bus Kopaja-Metromini.
Dengan memaksa kendaraan roda dua hilang (yang digunakan mayoritas juga bagi pegawai-pegawai atau pengunjung di setra bisnis tadi) mereka mengharapkan terjadinya perpindahan moda transportasi publik dari motor pribadi atau ojeg ke mikro-bus atau bus-way. Kalau mau aksi-kelas saja ke PTUN, gugat gubernurnya dan peraturan2 yang melarang atau menutup akses jalan.
3. Mengapa Grab-Gojeg pada mangkal mirip ojeg pangkalan dulu?
Ya, karena pernah kita bahas bahwa ekonomi transportasi generik seperti ojeg yang semua orang bisa menjadi pengemudinya memang ekonomi modal pas-pasan dan tidak ditujukan untuk menjadikan pengemudinya kaya raya.
Pas-pasan tadi juga dalam pengertian tidak dibutuhkan investasi pendidikan tinggi, pelatihan, sertifikasi, atau modal yang tidak terlalu besar dalam operasionalnya. Sehingga secara alamiah tukang ojeg akan memilih menjalankan bisnisnya semurah dan seikhlas mungkin dengan kesadaran dasar: "jangan keliling2 kalau hanya menghabiskan bensin atau tenaga" atau "rejeki sudah ada yang menentukan".
Ini yang membuat mereka akan realistis saja memilih penumpang, yang juga umumnya berdestinasi pendek-pendek saja. Misal dari stasiun, terminal, ke kantor, sekolah, pasar, dll.. Secara alamiah juga tempat mangkal tukang ojeg tadi kebanyakan di-isi tukang ojeg yang berdomisili tidak jauh-jauh dari tempatnya mencari uang.
Bedanya sistem kerja ojeg ini dulu dengan sekarang adalah. Bila dulu tukang ojeg itu mandiri dengan alat-alat produksinya sekarang mereka adalah bagian dari sub-ordinate modal. Bila dulu modal itu masuk ke dalam pertimbangan produksi maka yang sekarang ada modal yang super besar yang dikembang-biakkan ditingkat akumulasi modal-modal.
Sementara di-tingkat produksi modal tadi tetap saja, yaitu tukang ojegnya tetap jadi tukang ojeg, yaitu mengantar manusia dengan kendaraan roda dua. Jadi sebisa mungkin biar lebih murah operasionalnya, ya tunggu aja penumpang datang.

Orang Arab Gembira

Ketika pagi ini saiya mendapatkan footage baru dari perang Yaman dimana beberapa milisi Houti mendekat tank-tank Abrams milik Saudi dengan berjalan santai sambil membawa rudal anti-tank jinjing dan melepaskan tembakan mematikan. Saiya lalu teringat percakapan di kedai Die Blume Gottingen. Nona Marwa menjelaskan bahwa ia lahir di Oman meski bertahun-tahun tinggal di Kamerun untuk meneliti Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan utama protein.
"Sepenuhnya kami di Kesultanan Oman sedang kesulitan keuangan. Negara tidak lagi membayar gaji-gaji pekerja sosial seperti guru atau dokter seperti kakak tertua saiya lain Ibu."
Ia bercerita tentang krisis harga minyak yang memukul banyak negara teluk, ketika saiya bertanya apakah ada pengaruhnya kepada layanan sosial di negerinya.
"...ini saya pikir salah satu alasan mengapa Oman tidak mau terlibat dengan perang koalisi teluk pimpinan Saudi Arabia di Yaman."
"Ya, itu masuk akal. Mengurus kepentingan dalam negeri lebih diutamakan tentunya." Kata saiya.
"Ya, masuk akal. Tetapi saiya rasa itu bukan alasan utamanya."
"Bagi kami di Oman, kami menyebut khair arab bagi orang Yaman. The happy Arab." Nona Marwa tertawa kecil.
Menurutnya yang dipercaya penduduk Yaman itu hanyalah syech-syech mereka. Ketika syech mengatakan bahwa si A, B, C harus melakukan ini dan itu, maka mereka melakukannya tanpa harus bertanya banyak hal.
"Para Syech ini adalah tempat mereka mengembalikan persoalan apa saja."
"Berbeda dengan pemuka agama, syech punya kedudukan lebih tinggi dan mereka adalah individu yang memilih hidup dengan caranya sendiri. Mereka senang sekali hidup bebas dengan aturannya. Meski terlihat seperti hidup susah pada kenyataannya orang Yaman selalu bahagia dengan caranya." Ia tertawa.
"Di Oman sudah menjadi bahan lawakan saja, ketika Saudi meminta kami bergabung dengan koalisi anti Houtis. Orang Yaman itu satu-satunya orang arab yang mengusir kolonialisme Inggris dengan menikam. Bagi mereka hidup menjadi bohemian itu satu kesenangan dan kadang-kadang ada benarnya juga."
"Ya, arab yang gembira."

Liburan di Bandung

Panitia silaturahmi nasional mahasiswa mengabarkan bahwa tiket kereta jam 05.00 dari Jakarta ke Bandung sudah dipesan dan tinggal di cetak di stasiun terdekat. Ia mengucapkan terimakasih untuk kesediaan menghadiri acara dimaksud
Jadinya Sabtu libur panjang ini saiya ke Bandung dengan rencana makan bubur atau batagor di depan stasiun serta lumpia basah jika beruntung menemukannya di pagi hari nanti. Mengingat belakangan agak sulit karena tukang lumpia basah rupanya tergusur penjual seblak atau goreng kentang, jamur yang menjadi trend baru makanan di Bandung.
Saiya bertanya pada supir grab-bike yang sedang mengasoh di depan warung mie rebus apakah mereka bersedia mengantar ke Gambir. Ia berkata apakah saiya akan memesan terlebih dahulu dengan via applikasi dimana kemudian ia meminta saiya mendownloadnya.
Saiya katakan padanya bahwa saiya menyewanya sebagai ojeg biasa, karena saiya tidak akan pernah mau naik gojeg atau grab-bike selama mereka belum punya aturan bisnis yang benar. Si pria tadi agak sedikit bingung, kemudian meminta temannya mengantar saiya dengan alasan mengantuk.
Sepanjang jalan si temannya bercerita dengan berteriak-teriak tetapi suaranya tidak terlalu jelas. Suaranya itu beradu kuat dengan angin subuh yang meriuh tetapi cukup dapat ditangkap bahwa itu tentang penghasilannya yang tidak terlalu bagus malam ini.
"Orang-orang pada kemana ya pak! Jakarta kayak sepi bangeeeet!" Dia berteriak agar suaranya terdengar sampai ke belakang tetapi itu tidak perlu.
Setiba di Gambir ia menerima uang kontan dan mengucapkan terimakasih sambil berkata bahwa akan pulang saja ke rumahnya.
Kereta menyisakan dua tiga bangku kosong dan perempuan yang duduk sebangku dengan saiya ternyata sedang shalat subuh. Saiya berdiri dua bangku di belakang menunggunya selesai. Ia berdoa lama sekali dengan cara yang khusu sambil menangis. Dua anaknya yang masih kecil-kecil tertidur di bangku sebelahnya. Saiya terharu pada diri sendiri, ini karena sejak kapan terakhir kita berdoa dengan cara memohon sambil menangis kepada Tuhan. Meminta sesuatu dengan cara yang sungguh-sungguh dan mesti.
Si perempuan menyeka mukanya, berdiri dan mengangkat satu yang lebih besar untuk pindah ke bangku saiya. Ia sendiri merapatkan diri kepada yang lebih kecil di bangku sebelah, membenahi jubah si kecil dan kemudian membenamkan dirinya sepanjang jalan kepada handphone pintar.
Sebetulnya saiya iri dengan kekhusuan baru seperti itu, tetapi menggantikan peristiwa cahaya fajar yang muncul dalam gradasi panjang melalui jendela kereta, untuk kemudian menghapuskan gelap dengan embun pagi yang transparan dipucuk-pucuk rumput dan telapak daun tentu saiya tidak mau. Berita-berita yang muncul di pesan-pesan singkat berbagi tidak akan pernah mengganti kejadian bagaimana halimun membuka lembaran hari dengan episode perempuan dan lelaki petani meniti pematang sawah dalam siluet-siluet. Membawa bersama mereka bayangan-bayangan dari masa lampau yang anggun dan masa depan yang dijelang.
Pria plontos di kursi restorasi duduk menemani anak muda dan gadis pramusaji kereta. Ia bercerita dalam bahasa Inggris bahwa "wheat" gandum dibagi menjadi tiga, tepung untuk roti, tepung aneka kue, dan tepung meida.
"The best one is only for roti ya, roti, bread. The others two are bad for your health ya. They mix with chemical ehmm something. I don't know, eeh bleaching. I mean whitening or else ya."
Si anak muda menjawab yes-yes saja dan berkata bahwa ia tidak suka makan roti sambil dibuatkannya kopi hitam yang saiya pesan. Sementara si gadis pramusaji bertanya pada si kawannya tadi kira-kira apa bahasa Inggrisnya; kita suka makan nasi.
"we only eat Beas," Jawab si anak muda semaunya.
Namanya Prabu usianya antara 30 atau 40 tahun dan ia keturunan India-amerika. Katanya ia pilot jet pribadi yang akan bekerja di Indonesia karena kontraknya diperpanjang menjadi lima tahun. Seorang pengusaha Bugis yang dia sebut very very damn richman dengan senang hati menjadikannya pilot pribadi keluarga.
"Hari ini saia ke Maribaya, this is my first train trip to Bandung. Usually it only takes 15 minutes by plane but puuuh, nearly four hours now."
Dia katakan bahwa Indonesia masih menggunakan a meter, lebar rel kereta yang hampir satu meter saja. Sementara kereta-kereta cepat bahkan di negara bapaknya, India, sudah menggunakan rel broader yang lebih lebar dan kokoh.
"Anda tahu, kawan kami yang satu ini beruntung sekali. Ia pramugari dan hari ini ia menikah di Maribaya. Entah kenapa hari ini tidak ada penerbangan seperti biasa. Jadi semua orang akan berkumpul di perkawinannya dan kami akan senang-senang bersama."
"Ini pekerjaan yang berat dan egois ya." Prabu berkata
"Saiya baru saja diputusin pacar saya di Brazil karena perpanjangan kontrak tiga tahun di Indonesia, puuuh."
"Saiya suka Indonesia, dan saiya suka ada banyak agama di sini." Ia mengeluarkan dari sakunya dan berkata bahwa ia tidak main-main bahwa selama ini dia mencari Tuhan dari semua agama.
"See, I have already three gods in my wallet. Saya menyimpan semua ini sejak masih muda."
Ia menunjukkan satu foto bunda maria yang dikatakannya wajib diciumi murid kolase waktu ia SD di AS. Kemudian satu foto shiwa yang diberikan ayahnya untuk menjaga dirinya dari kesusahan. Serta satu potongan ayat kursi yang dia bilang diberikan bosnya sebagai mantra pelindung ketika menjadi novis pilot di Dubai.
"Sekarang, saiya mau mencari matra Tuhan Hindu Bali and Konfucu ya. Then I have completed all Gods in my wallet." Ia tertawa dan berkata kenapa Tuhan-tuhan bisa bersahabat tetapi manusia senang bermusuhan.
Saiya tertawa saja pada proposisi seperti itu dan mengucapkan selamat jalan ketika kereta perlahan berhenti di peron stasiun Bandung.

Blaming Game di Allepo Suriah

Ada dua kota yang tidak akan direbut dengan cepat Pemerintah Assad dengan Tentara Arab Suriahnya, yaitu Raqqa yang diklaim sebagai ibukota Daesh/ISIS dan Allepo sebagai kota yang pertama mendeklarasikan sebagai ibukota revolusi.
Pukulan terhadap front milisi anti pemerintah dan elemen al qaeda sebenarnya mudah saja dilakukan tetapi dengan menyadari bahwa pertempuran di kedua kota adalah pertempuran yang akan memiliki dampak politik lebih besar ketimbang militer maka Presiden Assad menggunakan strategi genjatan senjata yang diperpanjang setiap empat hari.
Seperti halnya Palmayra, kota tua peninggalan Romawi di tengah gurun pasir yang sama sekali tidak memiliki keuntungan ekonomi tetapi sangat besar bagi dukungan moral diplomasi politik.
Sehingga ketika dua minggu terakhir di laman sosial media bersebaran foto-foto korban pemboman rumah sakit di kota Allepo dengan banyak korban sipil terutama anak-anak. Selanjutnya berlanjut dengan saling tuduh atau blaming game di media internasional pro Arab Saudi dan Turki bahwa pemboman dilakukan pemerintah Suriah dan dorongan adanya intervensi internasional untuk aksi-aksi kemanusian maka Assad ada di posisi bertahan yang kuat.
Melalui strategi genjatan senjata yang diperpanjang maka Tentara Arab Suriah (SAA) ada diposisi tidak sedang menyerang dan mereka menghindari diri dari permainan saling menyalahkan untuk kemudian menjadi pre-text atau dalih bagi peningkatan kehadiran tentara koalisi AS yang anti Assad. Assad tentu menyadari bahwa kejatuhan Allepo kembali ke tentara suriah akan menjadi pukulan memalukan bagi Eropa-AS-Turki-Saudi dalam politik perang di Suriah. Mereka tentu tidak akan begitu saja menerimanya.
Namun dengan jatuhnya pos suplai di desa Khan Touman yang strategis bagi dukungan logistik ke Allepo selatan ke tangan pemberontak, maka pemerintah Assad dan koalisi prinsipalnya yaitu Rusia-Iran-milih Hezbollah akan memulai kampanye di wilayah selatan kota secara masif dan final.

Dasar Kebijakan Publik itu adalah Pelayanan

Harvard vs Frankfur
Kita tidak akan berdebat soal aliran Harvard atau Frankfurt mengenai fungsi birokrasi sebagai pelayan publik. Ini karena bagi kebanyakan pendekatan bisnis model ala Harvard, maka apa yang disebut layanan birokrasi itu adalah yang menerapkan prinsip efektif dan efisien dalam pengertian modal.
Melalui pendekatan ini istilah-istilah manajemen strategis yang melibatkan nuansa bisnis mulai mewarnai pemerintahan. Apa-apa yang disebut "strategis" kemudian menjadi semacam tinjauan kepada privatisasi layanan publik. Melalui pendekatan Harvard ini orang dipaksa percaya bahwa model bisnis seperti PPP atau Public-Private-Partnership melibatkan diri dalam kegiatan pemerintahan yang awalnya bersifat melulu administratif.
Boleh dibilang semenjak grup Harvard menjadi semacam "pendana" bayangan bagi pemerintah dalam menjalankan program-program kerjanya sejak 1990 maka corak manajemen pemerintahan di Indonesia mengarah kepada model out-sourcing.
Lepas reformasi, model "manajemen strategis" ini benar-benar diterapkan di semua bidang pemerintahan. Sekarang agak sulit dibedakan mana kegiatan pemerintahan yang murni bisnis dan mana yang sifatnya pelayanan publik.
Bagi kelompok Frankfurter, yang disebut juga kelompok konservatif orndung pelayan publik dasarnya itu adalah melayani publik dalam pengertian PPP yang berbeda. Yaitu pemerintah yang dipilih dan mengemban amanah rakyat untuk menguasai tanah-air-udara sudah seharusnya memberikan layanan dalam rangka PPP yang lain yaitu public purchasing power. Bagaimana dengan layanan dari pemerintah tadi maka masyarakat terbantu untuk memperkuat kemampuan dan daya belinya.
Seperti misalnya, dengan memberikan layanan subsidi, kesehatan, perizinan dll, kepada publik maka publik dapat menghemat pengeluaran belanjanya. Seorang bapak yang mendapatkan subsidi kereta komuter dengan cukup membayar Rp 4500 dari Jakarta menuju Bogor dapat menggunakan kelebihan uangnya untuk hal-hal lain seperti belanja pendidikan bagi anak-anak atau penambahan modal usaha lainnya. Ini yang dimaksudkan dari aliran Frankfurter mengenai fungsi lain dari birokrasi pemerintahan.
Mengingat sekarang segala hal di nagari kita dikelola dengan melibatkan semacam kerjasama pemerintah-swasta dengan aturan main yang aneh dan licik maka hal-hal layanan publik sebisa mungkin bukan lagi melayani publik tetapi swasta.
Seperti kasus-kasus yang melibatkan swasta sebagai pendana bagi kegiatan penggusuran, atau swasta dengan militer dalam kegiatan pengamanan-pengamanan.

Dialektika Komunis dan Produksi Ruang

Ada yang dapat kita catat dari kejadian belakangan ini, yaitu persoalan reklamasi lengkap dengan bocoran bekas wagub DKI Ahox yang melibatkan perusahaan properti swasta mendanai proyek-proyek penggusuran kawasan miskin kota dan satu lagi adalah isu hantu komunisme.
1.0
Yang pertama,yang kita lihat hari ini sebenarnya gejala yang bermula sejak pertengahan abad ke-19. Sosiolog seperti David Harvey, dan sebelumnya Levebvre menjelaskan bagaimana untuk mempertahankan eksistensinya terutama di wilayah urban maka kapitalisme menancapkan pertaruhannya dalam bukan hanya perebutan ruang (koloni) untuk memproduksi komoditas, tetapi kini ruang sebagai komoditas itu sendiri (1976,21).
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan segera (immediate needs) seperti tempat tinggal, tempat bermukim, atau tempat berusaha maka ruang telah menjadi titik putar dari persoalan-persoalan kota. Persoalan klasik perkotaan adalah persoalan bagaimana keberlanjutan atau ketakberlanjutan dari keuntungan akan ditentukan melalui kontrol sebesar mungkin atas penguasaan ruang. Secara sosial produksi ruang adalah syarat dasar agar orde, aturan, dapat bertransformasi ke arah yang menguntungkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari kapitalisme.
Perspektif pencarian dan penciptaan ruang ini cukup memperjelas mengapa pemda, pemprov memaksa menggusur pemukiman yang dikategorikan sebagai kumuh, jorok, penyebab banjir melalui kampanye orde baru dan transformasi kehidupan yang lebih layak di rusun bagi penduduk, nelayan miskin di perkotaan. Nalar sebenarnya tetaplah sama, yaitu bagaimana pemda menggunakan mekanisme kekuasaan untuk menguasai tanah-tanah yang dihuni para pendatang (citadin) di kota-kota.
Penyebabnya adalah pemerintah tidak lagi banyak memiliki tanah karena telah dijual ke pihak swasta pengembang. Proses dialektika ekonomi-politik ini terus akan berlanjut di waktu-waktu mendatang. Kapital swasta dengan tabiat dan sifatnya akan terus memaksa pemerintah menyediakan ruang-ruang untuk memberanakkan modal-modal mereka. Sehingga demi meyakinkan bahwa produksi ruang-ruang tadi akan tetap jatuh kepada kelompoknya, maka pemilik kapital ini akan dengan senang hati memberikan satu bentuk kerjasama ekonomi-politik saling menguntungkan dengan penguasa.
Di sinilah kemudian koalisi klasik dari dialektika borjuasi-pengusaha yang dulu dikritisi Karl Marx dalam penguasaan alat-alat produksi berlanjut dengan penguasaan ruang-ruang produksi. Yang kini menjadi ciri khas perkotaan dan sebagai bukti bahwa persoalan masyarakat hari ini tidak terlalu jauh berbeda dengan persoalan manusia 200 tahun yang lalu. yaitu dialektika sosio-spasial untuk mencari ruang keadilan, dan kini keadilan ruang.
2.0
Pada isu kedua tentang komunisme, maka kita harus mengembalikannya kepada agenda dialektika itu sendiri. Apa yang kita lihat dengan isu kominis ini tidak lain dari dialektika kompetisi di tubuh si pemilik isu itu sendiri. Bahwa satu pihak yang diwakili purnawirawan TNI Luhut mengatakan bahwa logo palu-arit, dan tulisan PKI hanyalah trend mode berpakaian anak-anak sekarang dan pada kesempatan lain Menhan Ryamizard menyebutnya sebagai ancaman atas ideologi Pancasila yang tidak dapat ditolelir. Keduanya hanyalah kembangan dari persoalan lain yang sekedar mendompleng isu kuminisme
Dialektika antara apakah komunisme ini sebuah trend atau ia satu ideologi inilah yang menjelaskan mengapa semenjak 1970'an kajian-kajian Marxsisme menjadi lebih terbuka terhadap isu-isu yang lain seperti musik, fenomena mode pakaian, arsitektur, lesbian-gay, dll.. Bila kita perhatikan maka dialektika Marxisme hari ini sebenarnya bukan lagi persoalan historis dan atau historikal seperti peristiwa-peristiwa, tragedi-tragedi pembantaian. Ia juga bukan persoalan mekanisme temporal seperti thesis-anti-thesis-sintesis, dan bukan pula persoalan logika afirmasi-negasi-negasi dan negasi.
Dengan kata lain isu komunisme dengan dialektikanya hari ini tidak lebih dari persoalan bagaimana mengenali tempat, dan mengenali apa yang "mengambil tempat" dari perhatian publik dan bagaimana kita "mengambil tempat" dan memaksimalkan manfaat dari kontradiksi yang diciptakan. Singkatnya Marxisme atau anti marxisme (yang kemudian kita mudahkan dengan komunis vs anti komunsi) hari ini adalah sejenis ruang dimana diproyeksikan kebodohan yang genit dengan tujuan "Commentum Ergo Sum" Aku berkomentar maka aku eksis.
Kerapnya kontradiksi yang muncul seputar komunisme ini membuat perhatian kita sedikit terganggu. Yang membuat kita dengan mudah mengembalikan persoalan perebutan ruang (penggusuran kawasan Kampung-kampung tua Jakarta) dan produksi ruang (reklamasi Teluk Jakarta) sebagai persoalan bagaimana pemerintah seharusnya menghargai dan melindungi hak-hak warga nagari atas kota (citadin/city rights) menjadi persoalan diskursus belaka.

Melihat desentralisasi dari masa ke masa

Sejak era pemekaran dicanangkan pasca reformasi 1998 melalui tema-tema desentralisasi, otonomi, atau sejenisnya maka ada beberapa argumen yang digunakan sebagai penguat dan belakangan argumen tadi bertambah-tambah saja.
Pertama pada masa awal-awal desentralisasi ditujukan sebagai cara membagi kue ekonomi dari pusat (sentral) kepada daerah-daerah lainnya. Tujuannya adalah pemerataan pembangunan yang sekaligu menjadi alasan bahwa selama era orde baru 27 provinsi dengan puluhan kabupaten-kotanya dianggap belum cukup mewakili komposisi keterwakilan ekonomi masyarakat daerah.
Kedua desentralisasi adalah cara membagi kepentingan politik, dimana isu keterwakilan dimunculkan sebagai argumennya. Keterwakilan ini kemudian sedikit berubah dengan istilah partisipasi daerah, dimana yang dimaksud adalah hak lebih luas dari segi disposisi (mengambil teori CG Edward ke-3). Pada mulanya partisipasi ini merupakan bagian dari praktik keterwakilan politik, yaitu dengan mekarnya daerah maka jatah suara dalam pemilu bertambah. Namun selanjutnya sifatnya lebih kepada mengelola disposisi baik itu aturan-aturan main, mekanisme atau koordinasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Ketiga, alasan perluasan berpartisipasi ini dalam mengelola secara otonomu sumber-sumber keuangan baik dari budget atau anggaran maupun dari pemanfaatan konsensi. Yaitu memberikan hak lebih luas pada swasta dalam pemanfaatan pengelolaan sumber daya alam.
Bila kita perhatikan maka ada runtutan argumen di sini yaitu kelompok diawal yang mencari komposisi, selanjutnya disposisi, dan ketiga konsensi. Meski demikian nalar dasar dari semangat desentralisasi di Indonesia masih menganut pendekatan lama dari Marxisme yaitu persoalan bagaimana mengambil kontrol atas alat-alat produksi yang mengharuskan didalamnya terjadi aliansi politik dan ekonomi atau pemerintah/aktor politik dengan pemilik modal.
Dialektika ini yang kemudian berlanjut dengan dorongan kepada desentralisasi pascaruang. Yaitu setelah pembagian-pembagian berdasarkan pendekatan demografis dengan nuansa ekonomi dan politik tadi, maka bila kita membaca hasil penelitian Haasnoot ( CW Haasnot: Does Size Matter?...) dengan kasus di India -eeh rupanya orang India senang juga berotonomisasi macam Indonesia- tidak ditemukan bukti bahwa desentralisasi, otonomi, atau pemekaran wilayah meningkatkan produktivitas pemerintahan daerah.
Beberapa alasannya adalah bahwa dalam kenyataannya produktivitas itu membutuhkan adanya berbagi misalnya dari segi barang milik publik seperti air, tanah, jalan, dimana hal-hal ini tidak begitu saja dapat dibagi. Kedua bahwa kebutuhan antar daerah tidak saling subtitusi dimana nantinya kerjasama selalu akan berakhir dengan kompetisi dan selanjutnya konflik kepentingan antar daerah pemekaran. Ketiga bisnis model yang ingin dikembangkan daerah harus memiliki kesamaan dasar dengan ekosistem sekitar. Masyarakat yang mendasarkan kepada sistem pertanian berbagi air (petani sawah) akan memiliki model ekonomi yang berbeda dengan mereka yang menjadi petani ladang. Kepentingan dari model ekonomi yang berbeda ini dapat menciptakan friksi bukan hanya antar daerah tetapi kerap di dalam daerah sendiri.
Selanjutanya dan selanjutnya, adalah bahwa desentralisasi ini akan terus berlanjut tanpa pengawasan dan studi lebih lanjut. Mengingat bahwa memang setelah lebih dari 15 tahun desentralisasi kita tidak melihat adanya perubahan atau peningkatan produktivitas pemerintahan di daerah, maka sebaiknya semangat yang berlebihan tentang perluasan kewenangan pemerintahan sampai ke desa-desa melalui program Dana Desa dan APBdes itu sebaiknya ditahan-tahan dulu.

Ke Arah Perang Timur Tengah Raya

Pertemuan Menlu Rusia Sergey Lavrov dan AS John Kerry untuk mencari solusi permanen gencatan senjata di Suriah hanyalah perlambatan dari strategi geopol AS di Timur Tengah (Timteng) dari Musim Sepi Demokrasi kepada perlawanan anti regime yang ternyata berkembang liar menyeret negara-negara Arab seperti Syria-Irak-Libya-Saudi-Yaman ke arah perang Timur Tengah Raya.
Sepertinya tidak akan dapat dicegah jika strategi pergantian rejim dengan mengatasnamakan "demokratisasi" yang didampingi AS kini memukul balik (Brian T.Edwards) hegemoni barat di tim-teng. Pembalikkan keadaan di Suriah dengan keterlibatan Rusia secara terbuka (Kair el Haseel) yang segera disusul Iran secara terbuka militer mendukung rejim Assad pada waktu dekat (Jamal Kashogi) akan memaksa perubahan-perubahan strategi lapangan yang lebih keras ( Andreas Krieg).
Musim Semi yang memaksa perubahan sistem dan aktor di negara-negara Arab mulai dari Tunisia, Aljazair, Mauritania, Oman, Lebanon, Jordan, Mesir, Suriah, Djibauti, Maroko, Sudan, Palestina, Irak, Bahrain, dan Libya adalah proyek lain dari AS untuk mengkalibrasi ulang kekuatan hegemoninya di kawasan kaya minyak dan gas dunia ini (James Scott).
Tidak seperti yang direncanakan AS dan sekutu Eropa dan Timteng (Qatar-Saudi-Turki) nya jika Arab Springs di Suriah menjadi titik balik dari strategi asistensi demokrasi ini. Assad tidaklah begitu mudah sebagaimana mereka mendongkel Raja Ben Ali Tunisia, Presiden Mesir Husni Mubarrak, Pemimpin Libya Moammar Qaddafi, dan pergantian-pergantian rejim secara "sukarela" termasuk di Arab Saudi.
Suriah seperti halnya Iran, Suriah dan Lebanon terutama partai Hezbollah adalah target utama dari New Arab World Order yang dipersiapkan (Derek Chollet). Trisula ini adalah ganjalan sebenarnya dari cita-cita mengingat secara politik, ekonomi, dan ideologi mereka adalah kelompok perlawanan permanen atas kepentingan Barat di kawasan. Assad dengan dukungan mayoritas penduduk di wilayah barat yang subur dan kaya serta loyalitas tinggi dari Tentara Arab Suriah (TAS) memukul balik strategi Arab Springs. Pukulan ini yang kemudian berubah menjadi Arab Up-rising (perlawanan Arab) sebagai strategi AS dengan mendukung kelompok-kelompok oposisi dengan bantuan dan asistensi militer.
Seperti halnya Arab Spring, Arab Uprising ini juga bergerak liar sebagaimana terjadi di Libya (penyerangan dan pembunuhan Duta Besar AS), Bahrain dan Yaman (perlawanan terhadap presiden dukungan AS), Irak dan terlibatnya Hezbollah Lebanon di Suriah untuk menentang intervensi AS (Anthony Cordesman).
Selanjutnya di awal 2014 muncul satu kelompok teror mengatasnamakan Negara Islam Raya yang mendeklarasikan perlawanan terhadap rejim-rejim untuk segera menggantikannya dengan sistem Islam. Rusia berkali-kali menuding AS-Barat dan sekutu timtengnya (Turki, Qatar, dan Saudi) adalah pihak sponsor dibalik munculnya kelompok ini. Turunnya grup perlawanan Iran, Hezbollah ke medan-medan perang Suriah dan memberikan nasehat militer politik di Irak untuk kemudian didukung secara diplomatik oleh Rusia dan Cina membuat kelompok ini mengubah namanya menjadi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).
Belakangan geopolitik timteng semakin jauh dari strategi musim semi dan mengarah kepada perpecahan kepentingan di tubuh sekutu Barat. Ledakan pengungsi ke jantung-jantung negara Eropa dengan meningkatnya serangan teror membuat beberapa negara eropa utama seperti Spanyol, Italia dan Jerman membatasi keterlibatan mereka dalam proyek timur-tengah.
Meski demikian, stabilitas baru dari proyek kalibrasi ulang rejim melalui operasi destabilisasi menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Terlibatnya sekutu AS seperti Saudi di proyek Arab Spring di negara-negara arab tetangganya melalui bantuan militer dan keuangan semakin menarik negeri ini ke arah perang dan konflik yang lebih rumit.
Jika di awal mereka terpaksa terlibat dengan perubahan rejim yang "tidak sesuai rencana" di Bahrain kini mereka harus lebih banyak mengeluarkan banyak uang bagi proyek mendukung bekas presiden Al Hadi di Yaman yang dijatuhkan kelompok perlawanan Houtis.
Begitu juga dengan eskalasi Israel versus Lebanon (Hezbollah) yang diprediksi akan meningkat, mengingat keterlibatan Hezbollah dalam perang melawan ISIS di Suriah membuat mereka memiliki akses lebih besar kepada pengetahuan, koordinasi, dan perangkat tempur untuk model perang asimetris (Anthony Cordesman) dan model perang semi proxy (Kim Cragin) yang akan mereka pergunakan jika terjadi perang dengan Israel.
Adalah bukan hal yang mustahil bilamana perang semi-proxi antara kekuatan nuklir seperti AS dan Rusia terus berlanjut maka ancaman kepada destabilitasi kawasan semakin besar. Pada kasus arab Springs, Rusia dan Iran sudah ada berada di atas garis merah untuk melawan secara penuh proyek destabilisasi di dunia Arab dan timteng.
Sementara AS sedang menyadari proyek Musim Semi ini memukul balik kepentingan n minyak dan gas di timur tengah tetapi mereka juga akan terbebani jika menarik diri secara penuh dan mengakui kegagalan proyeknya. Sehingga pertemuan Sergey dan Kerry untuk membahas gencatan senjata permanen dapat dilihat dari kacamata menurunkan eskalasi konflik demi mencegah perang raya yang pastinya menghancurkan semua kepentingan bukan hanya Barat di timteng.
Meskipun demikian kita masih menunggu arah selanjutnya dari perang di dunia Arab hari ini. Mengingat Rusia akan tetap membaca perubahan sikap politik AS dengan menerima genjatan senjata ini mesti memiliki kondisi dan prasyarat. Seperti misalnya AS menerima Assad tetapi menginginkan satu bentuk kon-federasi Suriah dengan dasar Etnis, Agama, dan Sekte Agama (yang ini ditolak Suriah dan Iran). Juga dorongan agar mengakui eksistensi Israel (yang juga ditolak beberapa negara arab serta Iran tetapi disetujui Qatar dan Saudi). Namun hal yang cukup menarik adalah yang ditulis Dominic Tierney, bahwa Amerika sedang mencari cara yang benar untuk kalah dalam perang mengingat mereka memang tidak memenangkan konflik di timur tengah.
Meski ini pun bukan jalan yang mudah, dan Arab menuju ke arah perang raya

Tuan Long dan Petasan

Saiya bertemu Tuan Long yang sedang mengantar putra satu-satunya les. Bersama istrinya yang tidak dapat berbahasa Indonesia tetapi selalu menimbrung pembicaraan. Ia mengatakan senang sekali bertemu kembali setelah sekian lama tidak bersua. Ya, memang unik menemukan pasangan dimana si suami menjadi penerjemah dari istrinya meski si istri sebenarnya tidak pula terlalu ingin mencampuri urusan suaminya
Ia dulu konselor bidang politik dan investasi di kedutaan, dimana saiya mengenalnya karena beberapa kali pada masa itu mendapatkan undangan dari beberapa think-tank di Cina daratan untuk mempersiapkan draft negara berkembang terkait negosiasi pembangunan pasca 2015. Mereka bukan baru menikah, hanya saja anaknya itu lahir setelah usia mereka melepas 50 tahun.
Tuan Long berbicara fasih bahasa Indonesia, yang dipelajarinya di sekolah diplomat di Beijing dulu. Menjelang runtuhnya rezim orde baru, ia dikirim untuk mempelajari arah Indonesia dan peluang-peluang bisnis yang dapat dikembangkan di sini.
"Bapak boleh menerangkan kepada saiya, mengapa mega proyek Indonesia-Cina yang sudah diresmikan presiden Jokowi, tidak dilanjutkan...?"
Ia tersenyum dan mengatakan bahwa sudah hampir lima belas tahun ia mengundurkan diri dari kerja sebagai pegawai pemerintah dan memilih bisnis. Menurutnya Indonesia akan maju dan bekerja rutin sebagai pegawai Cina yang hanya diperbolehkan satu suara, tidak lagi cocok baginya.
"Buat kami, orang Cina, ini akan menjadi hal yang kurang baik. Sebab di Cina, bila pemimpin sudah mencanangkan suatu proyek maka seluruh usaha diarahkan ke sana. Tetapi dalam kasus kereta cepat ini, benar-benar membuat banyak investor Cina berpikir-pikir untuk investasi di Indonesia." Ia melanjutkan.
"Ya, banyak faktor, tetapi perlu penelitian untuk membuat pernyataan yang terukur ya. " Saiya menjawab dan ia manggut-manggut.
"Nah soal terukur dan penelitian tadi, memang banyak pemain Cina yang mudah percaya kepada proposal-proposal tentang Indonesia." Tuan Long menyela.
"Maksud saya, banyak orang Cina menghubungi orang keturunan Cina di Indonesia untuk menjadi kepanjangan tangan mereka di Indonesia. Tetapi orang keturunan ini banyak juga menipu pengusaha Cina."
"Ya, itu dimungkinkan ya. Siapa bisa menipu siapa, karena dalam bisnis selalu saja ada orang seperti itu." Kata saiya
"Jika Bapak berkenan...bolehkah kita bertemu untuk membantu saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan investor-investor Cina."
"Pertanyaan mereka itu tentang hubungan orang Cina keturunan di Indonesia dengan pejabat-pejabat militer yang katanya memback-up mereka." Wajahnya berubah menjadi sedikit serius.
"Ada perusahaan petasan Cina, yang meminta saiya mempelajari hubungan ini. Mereka tahun lalu tertipu lebih dari 1 juta US Dollar oleh rekanan yang menjamin bahwa bisnis petasan di Indonesia akan aman bila menggandeng mitra pensiunan militer."
"Ya, itu benar sekali." Tuan Long menerangkan lebih lanjut karena dianggapnya saiya berpikiran bagaimana mungkin bisnis petasan di Indonesia bisa sampai 1,5 trilyun rupiah dari satu kali pengiriman barang.
"Si pebisnis ini, heran karena setiap rekan yang mau menjadi mitra di Indonesia selalu mengatakan mereka di-back-up orang militer."
"Padahal ketika mereka hubungi orang militer ini, si orang militer malah bertanya kemana si orang Cina keturunan itu menghilang. Jadi baik orang militer maupun pengusaha petasan cina ini kena tipu dua-duanya. Ha ha ha. Tetapi ya itu tadi ya, tetap saja alasan kerjasama bisnis diback-up militer itu tetap terdengar hebat buat orang Cina Mainland"

Rukun Tetangga, Rukun Warga

Saiya tertarik menambahi status Kang Yanuar Rizky yang menanggapi kritikan kurang up-datenya pengurus RT/RW di DKI terhadap aplikasi Qlue, yaitu satu program aplikasi pelaporan berbasis media berbagi Android.
Qlue, sendiri sebenarnya mirip dengan aplikasi lain yang dikembangkan di bawah jargon SMART City dan aneka turunannya seperti ADEQUATE City dimana sistem pembuatan kebijakan dan eksekusinya diharapkan menjadi lebih cepat melalui saluran informasi berbagi ini.
Menurut si Akang, mengharapkan pengurus RT/RW melekat dengan program ini terlalu berlebihan, mengingat bahwa selain mereka bukan aparatur prosedural pemerintahan atau birokrasi para pengurus ini memiliki pekerjaan aktual lain. Tidak mudah memilih pengurus RT/RW di kota yang sibuk seperti Jakarta. Singkatnya bila RT/RW tidak atau kurang mengerti Qlue mereka tidak dapat dipersalahkan karena selain mereka bukan pegawai Pemda menggunakan program ini juga bukan suatu kewajiban.
Bila kita menarik kembali persoalan RT/RW dalam konteks kebijakan publik dan sistem kepemerintahan sebetulnya awal mereka adalah sebagai sistem kontrol dan administrasi terkecil untuk menggantikan sistem sosial tradisional yang ada di masyarakat. Melalu tata kelola kantor (administratif) seperti pencatatan dan pelaporan publik menjadi terarsipkan dan tertata baik.
Adalah pemerintahan Militer Jepang yang memperkenalkan RT/RW dengan tujuan keamanan dan kerukunan. Yang sampai hari ini hastagnya mungkin masih bisa dilihat di plang-plang ‪#‎1x24‬ Jam Tamu Harap Lapor. Model yang diimplementasikan militer Jepang ini mudah saja diterima di Indonesia, karena dapat diadaptasi dengan masuknya disposisi pengambilan kebijakan melalui musyawarah-mufakat RT/RW. Guyup atau kebersamaan dalam pengambilan keputusan ini yang memang cocok dengan budaya orang kita menyelesaikan masalah-masalah hidup bertetangga.
Sejak saat itu belum ada perubahan berarti dengan konsep kerukunan sebagai a civic-forming atau pemasyarakatan a la perkotaan Indonesia yang ingin diciptakan melalui RT/RW. Pada masa Orba beberapa hal diterapkan melalui kegiatan kemasyarakatan seperti Ronda Siskamling, kerjabakti, tumpengan HUT RI, Puskesmas, PKK, dll.
Selagi sistem ini belum mapan, maka kita menyaksikan jika kini persoalan kota besar mulai bergerak ke arah sebaliknya. Persoalan mulai dari kedatangan anak-anak kost, pekerja musiman, sampai hari ini pekerja komuter yang setiap hari atau minggu ulang alik Jakarta ke kota-kota kon-urban lainnya sampai urusan sampah adalah persoalan RT/RW yang bertambah pelik. Boro-boro membangun satu kerukunan, mengajak mereka terlibat aktif dalam kegiatan pemasyarakatan hampir dibilang mustahil dengan kesibukan orang kota hari ini.
Para pekerja komuter yang kadang-kadang nebeng alamat buat dapat akun bank atau membeli apartement yang dihuni singgahan atau kaum Dweller ikut menciptakan persoalan RT/RW. Persoalan yang berbeda dengan mereka yang memang inhabitan (penduduk mukim) di DKI. Misalnya dari segi kepentingan soal tempat tinggal misalnya, warga pemukim Luar Batang, Kampung Pulo, Kalijodo, dan tempat-tempat lain yang digusur akan berbeda kepentingannya dengan "warga DKI" yang sebenarnya hanya singgah. Satu pihak menuntut adanya tempat tinggal layak dan dekat dengan tempat kerja, yang lain ingin DKI bersih dan bebas macet karena stress dalam perjalanan pulang-pergi kantor.
Sehingga civic forming atau pembentukan masyarakat sipil di perkotaan yang dicita-citakan terutama di kota seperti DKI Jakarta semakin sulit terwujud. Mengingat mekanisme musyawarah-mufakat sebagai wujud paling aplikatif dari Kerukunan Tetangga dan Warga nya bergerak ke arah individualisme. Sekarang siskamling digantikan agen-agen penyedia tenaga sekuriti, gotong-royong bersih-bersih got diout-sourcing ke pasukan oranye melalui tender pengadaan barang dan jasa dll.,-dll.
Menjadi tidak aneh jika aplikasi seperti Qlue menjadi sistem pelaporan kota yang semakin individualistik dan pragmatis. Orang hari ini menganggap ikatan terhadap tempat tinggal dan tempat mencari kerja hanyalah persoalan material dan bukan sosial kemasyarakatan lagi.
Meski demikian bila kita berharap pengurus RT/RW di DKI wajib faham sistem pelaporan aplikasi seperti Qlue maka kira-kira apakah warga penghuni maupun yang hanya menjadikan Jakarta tempat mencari makan itu juga harus mau dengan sukarela melapor diri melalui aplikasi RT/RW dalam 1x24 Jam atau melaporkan kondisi keamanan gang-gang tiap jam sebagai satu bentuk ronda siskamling digital.