Friday, June 3, 2016

Apa Alasan2nya

Menjawab begitu saja persoalan di Jakarta dari Luar Batang, Pelarang Motor Sudirman, sampai Gojek Mangkal
1. Penggusuran Luar Batang adalah bagian dari skenario pengembangan distrik baru utara Jakarta oleh pengembang swasta Agung grup untuk lahan baru.
Alasan-alasan kawasan kumuh, kotor, jorok, dsb., dsb., itu adalah pura-pura saja bagi pemdah untuk mempercepat proses pembersihan (clearing) masyarakat pribumi LB dari lokasi tinggal dan tempat mencari nafkah hidup mereka.
Yang perlu kita perhatikan adalah dampak dari penggusuran ini menciptakan peluang ke arah moratorium atau penundaan pembangunan properti termasuk reklamasi pasca penggusuran LB.
Mengingat penundaan ini menguntungkan pihak pengembang di tengah resesi harga properti yang besok ternyata gak naek-naek banget mereka mendapatkan alasan bagus untuk menghentikan proyek bukan atas kehendak sendiri. Sambil menunggu peluang transisi pemerintah kota yang akan datang dan biasanya akan dilanjutkan lagi setelah terpilih gubernur baru.
2. Pelarang kendaraan roda dua (sepeda motor/motor) melintas jalan protokol Sudirman itu adalah persoalan ekonomi transportasi.
Operator TransJack yang adalah koalisi swasta dengan meminjam tangan pemda mencoba memonopoli transportasi di lajur Sudirman-Thamrin. Ini sama dengan alasan ditutupnya perlintasan sebidang stasiun Tebet (jl. Lapangan Ros/K.H Abdulah Syafei), setelah sebelumnya menjelek-jelekkan pelayanan mikro-bus Kopaja-Metromini.
Dengan memaksa kendaraan roda dua hilang (yang digunakan mayoritas juga bagi pegawai-pegawai atau pengunjung di setra bisnis tadi) mereka mengharapkan terjadinya perpindahan moda transportasi publik dari motor pribadi atau ojeg ke mikro-bus atau bus-way. Kalau mau aksi-kelas saja ke PTUN, gugat gubernurnya dan peraturan2 yang melarang atau menutup akses jalan.
3. Mengapa Grab-Gojeg pada mangkal mirip ojeg pangkalan dulu?
Ya, karena pernah kita bahas bahwa ekonomi transportasi generik seperti ojeg yang semua orang bisa menjadi pengemudinya memang ekonomi modal pas-pasan dan tidak ditujukan untuk menjadikan pengemudinya kaya raya.
Pas-pasan tadi juga dalam pengertian tidak dibutuhkan investasi pendidikan tinggi, pelatihan, sertifikasi, atau modal yang tidak terlalu besar dalam operasionalnya. Sehingga secara alamiah tukang ojeg akan memilih menjalankan bisnisnya semurah dan seikhlas mungkin dengan kesadaran dasar: "jangan keliling2 kalau hanya menghabiskan bensin atau tenaga" atau "rejeki sudah ada yang menentukan".
Ini yang membuat mereka akan realistis saja memilih penumpang, yang juga umumnya berdestinasi pendek-pendek saja. Misal dari stasiun, terminal, ke kantor, sekolah, pasar, dll.. Secara alamiah juga tempat mangkal tukang ojeg tadi kebanyakan di-isi tukang ojeg yang berdomisili tidak jauh-jauh dari tempatnya mencari uang.
Bedanya sistem kerja ojeg ini dulu dengan sekarang adalah. Bila dulu tukang ojeg itu mandiri dengan alat-alat produksinya sekarang mereka adalah bagian dari sub-ordinate modal. Bila dulu modal itu masuk ke dalam pertimbangan produksi maka yang sekarang ada modal yang super besar yang dikembang-biakkan ditingkat akumulasi modal-modal.
Sementara di-tingkat produksi modal tadi tetap saja, yaitu tukang ojegnya tetap jadi tukang ojeg, yaitu mengantar manusia dengan kendaraan roda dua. Jadi sebisa mungkin biar lebih murah operasionalnya, ya tunggu aja penumpang datang.

0 comments:

Post a Comment