Saturday, June 4, 2016

Blaming Game di Allepo Suriah

Ada dua kota yang tidak akan direbut dengan cepat Pemerintah Assad dengan Tentara Arab Suriahnya, yaitu Raqqa yang diklaim sebagai ibukota Daesh/ISIS dan Allepo sebagai kota yang pertama mendeklarasikan sebagai ibukota revolusi.
Pukulan terhadap front milisi anti pemerintah dan elemen al qaeda sebenarnya mudah saja dilakukan tetapi dengan menyadari bahwa pertempuran di kedua kota adalah pertempuran yang akan memiliki dampak politik lebih besar ketimbang militer maka Presiden Assad menggunakan strategi genjatan senjata yang diperpanjang setiap empat hari.
Seperti halnya Palmayra, kota tua peninggalan Romawi di tengah gurun pasir yang sama sekali tidak memiliki keuntungan ekonomi tetapi sangat besar bagi dukungan moral diplomasi politik.
Sehingga ketika dua minggu terakhir di laman sosial media bersebaran foto-foto korban pemboman rumah sakit di kota Allepo dengan banyak korban sipil terutama anak-anak. Selanjutnya berlanjut dengan saling tuduh atau blaming game di media internasional pro Arab Saudi dan Turki bahwa pemboman dilakukan pemerintah Suriah dan dorongan adanya intervensi internasional untuk aksi-aksi kemanusian maka Assad ada di posisi bertahan yang kuat.
Melalui strategi genjatan senjata yang diperpanjang maka Tentara Arab Suriah (SAA) ada diposisi tidak sedang menyerang dan mereka menghindari diri dari permainan saling menyalahkan untuk kemudian menjadi pre-text atau dalih bagi peningkatan kehadiran tentara koalisi AS yang anti Assad. Assad tentu menyadari bahwa kejatuhan Allepo kembali ke tentara suriah akan menjadi pukulan memalukan bagi Eropa-AS-Turki-Saudi dalam politik perang di Suriah. Mereka tentu tidak akan begitu saja menerimanya.
Namun dengan jatuhnya pos suplai di desa Khan Touman yang strategis bagi dukungan logistik ke Allepo selatan ke tangan pemberontak, maka pemerintah Assad dan koalisi prinsipalnya yaitu Rusia-Iran-milih Hezbollah akan memulai kampanye di wilayah selatan kota secara masif dan final.

0 comments:

Post a Comment