Friday, June 3, 2016

Budaya Berpikir Massal

Semenjak Terry Eagleton mendefinisikan budaya massal sebagai sebuah a tout court discourse, atau satu bentuk murahan dari budaya tinggi maka pencarian ideologi dibalik lahirnya seni, sikap, dan wacana pikiran di era budaya massal (mass culture) berakhir pada keseimpulan bahwa; apa yang dikatakan sebagai ideologi hari ini lebih merupakan sub-ordinasi dari struktur emosi.
Seperti ketika kita membaca mulai dari wacana kontrak Freeport, kereta Tangkas Jkt-Bdg, Penggusuran pemukiman miskin kota, Jual Beli Sumber Waras, sampai kopi sianida maka baik pro maupun kontra menunjukkan bahwa wacana yang dibangun menunjukkan lebih kuatnya dorongan emosi ketimbang logika pikiran itu sendiri.
Sehingga pewacanaan tadi berakhir pada baik atau buruk, benar atau salah yang kemudian seturut nasibnya menunjuk pula kepada personifikasi. Bahwa misalnya karena si A mendukung B yang dianggap orang jahat oleh C, maka A menjadi jahat.
Tautologi seperti ini celakanya menarik lebih jauh persoalan aktual dari realitanya. Seorang Goenawan Moehamad atau Dian Sastro misalnya lebih tertarik melihat persoalan kejujuran dan politisasi di balik dukungan LSM atau akademisi terhadap penggusuran pemukiman warga Luar Batang dan Perempuan petani Kendeng yang menyemen kakinya. Mereka sudah lagi tidak tertarik menimbang kenyataan mengapa wanita itu menyemen kakinya atau mengapa orang Luar Batang empat generasi hanya mampu hidup di tempat kumuh.
Mereka sama sekali tidak tertarik pada realita adanya orang miskin yang dihinakan dan dicabut hak tinggalnya dengan alasan-alasan pertamanan dan lingkungan. Selain mempertanyakan niat dan latar dukungan seseorang adalah juga sebuah ketololan. Bagaimana seseorang menilai kejujuran atau ketulusan kecuali dari tindakannya.
Justru bagi mereka tindakan menjadi tidak penting, karena apa yang ingin dinilai dalam wacana berpikir massal adalah sejauh mana ia meledakkan subordinasi dari ideologi, yaitu emosi-emosi yang bukan inti dari tindakan dari berpikir benar.
Sehingga tidak mengherankan bila dalam masyarakat tontonan dengan budaya massalnya hal yang penting ingin diangkat bukanlah sejauh mana persoalan seperti kemiskinan atau perampasan hak anah itu dijawab, tetapi sejauh mana ia dapat meledakkan provokasi dan kontroversi untuk menularkan emosi-emosi.
Sedemikian dominannya ideologi berpikir seperti ini maka ia pun memberanakkan ideolog, akademisi, atau orang-orang yang merasa lebih penting menjaga keintelektualannya dengan memainkan dirinya dalam pusaran provokasi dan kontroversi tadi.
Mereka memang melawan arah, berwacana kontroversial, atau liberal tetapi dengan tujuan sekedar memainkan riak-riak biar dianggap hebat. Lebih parahnya di masa era jejaring berbagi seperti sekarang, maka itu dilakukan bukan hanya sekedar memuaskan follower atau teman-teman virtualnya tetapi lebih dominan itu adalah pelepasan emosi pribadi bagi konsumsi sosial.
Reff.
Eagleton; ideologi, fiction, narrative
Swingwood: The Myth of Mass Culture

0 comments:

Post a Comment