Friday, June 3, 2016

Catatan Orang Pinggir Goenawan Muhamad dan Mbah Subur

Saiya pernah memiliki buku kumpulan catatan pinggir dari Goenawan Moehamad (GM) yang kini mungkin sudah tidak ada lagi di rak buku karena sudah dibagikan kepada siapa saja yang memintanya. Ini kemungkinannya adalah bahwa buku-buku tadi memang diharapkan mencerahkan pikiran orang -tokh untuk apa memiliki perpustakaan tanpa orang lain boleh membacanya-, atau memang buku tadi tidak lagi layak untuk disimpan lama-lama.
Ketika seorang kawan me-link kepada sebuah twitter dari Goenawan Moehammad yang mempertanyakan hak aktivis mewakili suara sub-alterns (orang bawahan) dalam kasus-kasus seperti penggusuran Luar Batang, Kalijodo, Kampung Pulo di Jakarta oleh pemprov, atau lahan pertanian penang Sedeng, maka saiya teringat pada buku-buku tadi.
GM mengutip Gayatri Sivak, dan seperti menunjuk bahwa di bawah bayang-bayang studi pasca-kolonial maka untuk bersuara saja kelompok orang bawahan tidak dapat mewakili dirinya sendiri.
Saiya tidak mau melacak lebih dalam komentar-komentar yang berkembang oleh kicauan GM belakangan memang GM sering sekali membela kebijakan-kebijakan yang kontroversial dengan keyakinan publik. Bagi pembaca Jurgen Habermas dan Paul Ricoer tentu mengetahui jika pementasan sebuah aksi memang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks institusi sosial dan kondisi struktural. Keterbatasan seseorang atau kelompok dalam mengeluarkan kalimat atau bahasa yang tepat memang tersusun oleh tradisi sosial dan struktural yang dimilikinya.
Seorang perempuan di Jawa cukup menangis atau diam untuk mengungkapkan kekecewaan, tetapi tidak begitu bagi perempuan di Meksiko city. Kekecewaan bagi mereka bukanlah hal yang harus disimpan, ia harus keluar bersama aksi kemurkaan agar orang faham akan sebuah kejadian.
Seorang gadis dari kampung Parakan Salak mungkin diam saja ketika ditilang polisi, tetapi gadis ABG di kota Medan membela diri dengan mengaitkan dirinya kepada struktur sosial yang dianggap lebih superior.
Melalui keterbatasan berbahasa ini Ricouer menyarankan agar cara kita mengalisa pesan sebaiknya dikembangkan dari sekedar entitas tekstual kepada seluruh fenomena sosial dan struktural. Mengingat baik fenomena sosial maupun struktural itu sendiri boleh dikatakan merupakan tanda, karakter yang bersifat semiologi.
Meski begitu, tuan Ricouer menyarankan agar kita berhati-hati mengingat bahwa analogi tidak dapat sepenuhnya mewakili terjadinya kekerasan atau konflik.
Seperti misalnya sekumpulan perempuan petani dari Kendeng Jateng duduk di depan Istana Negara dengan kaki disemen. Meski mereka diam tetapi ada satu aksi yang bersifat yang menunjukkan adanya konflik dan perlawanan terhadap manifestasi kekuasaan oleh struktur dalam hal ini negara dan pemodal yang ingin mendirikan pabrik semen.
Bagaimana mereka mendapatkan ide merangkai semiologic antara aksi petani bercaping dengan kaki tersemen semen dan ideologi kapitalisasi ruang oleh pabrik semen yang ingin mereka lawan mungkin tidak datang dari mereka sendiri.
Seseorang yang pandai dalam aksi jalanan -yang tentu saja bukan petani- mesti berupaya mewakilkan kesulitan petani tadi dalam ungkapan bahasa aksi atau teaterikal. Bagian siapa mewakili bahasa siapa ini yang mungkin dikicaukan oleh Goenawan Moehammad.
Tetapi meskipun disjungsi aksi tadi lemah dalam segi perhubungan tetapi dalam realitanya itu cukup menerangkan bahwa para ibu-ibu tadi terlepas mereka bagian dari sebuah skenario "orang pintar" namun kenyataannya memang sedang memperjuangkan apa yang harus mereka perjuangkan. Jadi merujuk kepada Ricouer, aksi tadi tetap menjadi bagian utama untuk ditafsirkan.
Memperdebatkan siapa intelektual atau aktivis dan atas mandat atau disposisi siapa mereka mewakilkan suara orang pinggiran atau sejauh mana mereka menyisipkan kepentingan kekuasaan di buku-buku jari kaki petani seperti dikicaukan Goenawan sebenarnya tidak ada gunanya.
Selain bahwa GM juga akan dipertanyakan untuk kepentingan siapa dia meragukan orang lain yang ingin membantu petani Kendeng atau nelayan Luar Batang, kita tetap saja dapat melihat adanya mandat yang diberikan orang bawah (sub-alterns) kepada pihak lain untuk mengamplifikasi bahasa mereka.
Melalui penyerahan diri kepada skenario yang dibangun aktivis adalah mandat kepercayaan meski kita asumsikan itu adalah mandat yang paling lugu. Tetapi mandat adalah mandat.
Kita juga tidak dapat memungkiri bahwa sebuah disjungsi seperti petani dengan kaki disemen dan kapitalisasi pegunungan untuk proyek pabrik semen meski sering tidak saling berhubungan tetapi ia menunjukkan bahwa orang kecil pun sebenarnya memiliki swa-mekanisme sosial yang ingin mereka tunjukkan.
Mekanisme sosial untuk mengungkapkan kode-kode eksistensi inilah yang ditunjukkan para perempuan petani dari Kendeng, pria nelayan yang ditelanjangi sedang dipukuli satpol PP di penggusuran Luar Batang, manusia gerobak di Gondangdia. Juga nelayan pesisir Indramayu, petani nanas kehilangan lahan di Sawit Subang, atau petani padi dikejar-kejar satpam pabrik di Karawang. Mereka sebenarnya adalah aktor bagi diri mereka sendiri.
Terlepas nantinya ada kepentingan yang menumpangi sebagaimana kebiasaan GM berkomentar mendukung kebijakan pemerintah yang dianggapnya aman bagi petualangan imajinasi intelektualitasnya maka mengutip Gidden (Central Problem in Social theory) bahwa manusia seperti sub-alterns tadi sedang menunjukkan bahwa struktur sosial yang adil di negeri ini memang sudah habis-sehabis-habisnya.
Begituuuu mbah Subur.

0 comments:

Post a Comment