Saturday, June 4, 2016

Dialektika Komunis dan Produksi Ruang

Ada yang dapat kita catat dari kejadian belakangan ini, yaitu persoalan reklamasi lengkap dengan bocoran bekas wagub DKI Ahox yang melibatkan perusahaan properti swasta mendanai proyek-proyek penggusuran kawasan miskin kota dan satu lagi adalah isu hantu komunisme.
1.0
Yang pertama,yang kita lihat hari ini sebenarnya gejala yang bermula sejak pertengahan abad ke-19. Sosiolog seperti David Harvey, dan sebelumnya Levebvre menjelaskan bagaimana untuk mempertahankan eksistensinya terutama di wilayah urban maka kapitalisme menancapkan pertaruhannya dalam bukan hanya perebutan ruang (koloni) untuk memproduksi komoditas, tetapi kini ruang sebagai komoditas itu sendiri (1976,21).
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan segera (immediate needs) seperti tempat tinggal, tempat bermukim, atau tempat berusaha maka ruang telah menjadi titik putar dari persoalan-persoalan kota. Persoalan klasik perkotaan adalah persoalan bagaimana keberlanjutan atau ketakberlanjutan dari keuntungan akan ditentukan melalui kontrol sebesar mungkin atas penguasaan ruang. Secara sosial produksi ruang adalah syarat dasar agar orde, aturan, dapat bertransformasi ke arah yang menguntungkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari kapitalisme.
Perspektif pencarian dan penciptaan ruang ini cukup memperjelas mengapa pemda, pemprov memaksa menggusur pemukiman yang dikategorikan sebagai kumuh, jorok, penyebab banjir melalui kampanye orde baru dan transformasi kehidupan yang lebih layak di rusun bagi penduduk, nelayan miskin di perkotaan. Nalar sebenarnya tetaplah sama, yaitu bagaimana pemda menggunakan mekanisme kekuasaan untuk menguasai tanah-tanah yang dihuni para pendatang (citadin) di kota-kota.
Penyebabnya adalah pemerintah tidak lagi banyak memiliki tanah karena telah dijual ke pihak swasta pengembang. Proses dialektika ekonomi-politik ini terus akan berlanjut di waktu-waktu mendatang. Kapital swasta dengan tabiat dan sifatnya akan terus memaksa pemerintah menyediakan ruang-ruang untuk memberanakkan modal-modal mereka. Sehingga demi meyakinkan bahwa produksi ruang-ruang tadi akan tetap jatuh kepada kelompoknya, maka pemilik kapital ini akan dengan senang hati memberikan satu bentuk kerjasama ekonomi-politik saling menguntungkan dengan penguasa.
Di sinilah kemudian koalisi klasik dari dialektika borjuasi-pengusaha yang dulu dikritisi Karl Marx dalam penguasaan alat-alat produksi berlanjut dengan penguasaan ruang-ruang produksi. Yang kini menjadi ciri khas perkotaan dan sebagai bukti bahwa persoalan masyarakat hari ini tidak terlalu jauh berbeda dengan persoalan manusia 200 tahun yang lalu. yaitu dialektika sosio-spasial untuk mencari ruang keadilan, dan kini keadilan ruang.
2.0
Pada isu kedua tentang komunisme, maka kita harus mengembalikannya kepada agenda dialektika itu sendiri. Apa yang kita lihat dengan isu kominis ini tidak lain dari dialektika kompetisi di tubuh si pemilik isu itu sendiri. Bahwa satu pihak yang diwakili purnawirawan TNI Luhut mengatakan bahwa logo palu-arit, dan tulisan PKI hanyalah trend mode berpakaian anak-anak sekarang dan pada kesempatan lain Menhan Ryamizard menyebutnya sebagai ancaman atas ideologi Pancasila yang tidak dapat ditolelir. Keduanya hanyalah kembangan dari persoalan lain yang sekedar mendompleng isu kuminisme
Dialektika antara apakah komunisme ini sebuah trend atau ia satu ideologi inilah yang menjelaskan mengapa semenjak 1970'an kajian-kajian Marxsisme menjadi lebih terbuka terhadap isu-isu yang lain seperti musik, fenomena mode pakaian, arsitektur, lesbian-gay, dll.. Bila kita perhatikan maka dialektika Marxisme hari ini sebenarnya bukan lagi persoalan historis dan atau historikal seperti peristiwa-peristiwa, tragedi-tragedi pembantaian. Ia juga bukan persoalan mekanisme temporal seperti thesis-anti-thesis-sintesis, dan bukan pula persoalan logika afirmasi-negasi-negasi dan negasi.
Dengan kata lain isu komunisme dengan dialektikanya hari ini tidak lebih dari persoalan bagaimana mengenali tempat, dan mengenali apa yang "mengambil tempat" dari perhatian publik dan bagaimana kita "mengambil tempat" dan memaksimalkan manfaat dari kontradiksi yang diciptakan. Singkatnya Marxisme atau anti marxisme (yang kemudian kita mudahkan dengan komunis vs anti komunsi) hari ini adalah sejenis ruang dimana diproyeksikan kebodohan yang genit dengan tujuan "Commentum Ergo Sum" Aku berkomentar maka aku eksis.
Kerapnya kontradiksi yang muncul seputar komunisme ini membuat perhatian kita sedikit terganggu. Yang membuat kita dengan mudah mengembalikan persoalan perebutan ruang (penggusuran kawasan Kampung-kampung tua Jakarta) dan produksi ruang (reklamasi Teluk Jakarta) sebagai persoalan bagaimana pemerintah seharusnya menghargai dan melindungi hak-hak warga nagari atas kota (citadin/city rights) menjadi persoalan diskursus belaka.

0 comments:

Post a Comment