Saturday, June 4, 2016

Front Yaman dan Dillema Keamanan Ganda (Duppelten Sicherheitdillema)

- Invasi Saudi ke Yaman -
Serangan intervensi Saudi Arabia ke basis milisi Houthi di Yaman adalah bentuk ekspresi dari dillema keamanan ganda (double-security dillema). Dengan membawa kampanye anti milisi Syiah dan membantu pemerintahan Mohammad Hadi yang sah serangan Saudi sebenarnya tindakkan negara tadi menjaga posisi keamanannya sendiri.
Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu, mengenai kebijakan Saudi menekan minyak (oil) serendah mungkin di pasaran internasional rupanya memang tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana. Waktu itu pertanyaan kita adalah apakah benar Saudi ingin memukul produsen Minyak Rekahan yang murah di AS atau ia ingin menjatuhkan Iran dan Rusia dari segi pendapatan di sektor energi.
Bila menggunakan pendekatan neo-realis maka sebenarnya tindakan Saudi yang mengatakan akan terus menekan harga minyak meski turun sampai 20 dollar per barrel adalah anomali. Ini karena dengan menekan harga maka Saudi melepas perolehan maksimum dan mereka harus menggunakan tabungannya untuk menanggung resiko hilangnya "maximum gain" dari penjualan minyak ini.
Bukan sifat orang Arab Saudi yang mau hidup susah dan karena alasan itu kita memprediksikan tempo hari bahwa Saudi sedang memainkan strategi dillema keamanan ganda.
Teori ini dikembangkan dari tulisan Tuan John Herz (Politica Realism and Political Idealism) yang menulis bahwa keinginan meningkatkan tingkat keamanan oleh satu negara dengan alasan adanya ancaman selalu berkorelasi dengan meningkatnya ancaman itu sendiri. Menurut Herz, hal ini cukup logis karena negara lain akan terusik untuk melakukan hal yang sama. Intensi saling terusik ini yang akhirnya ia melahirkan istilah dilema keamanan (security dilema).
Ancaman yang terus meningkat dan berkesinambungan ini dalam realitasnya membutuhkan pembiayaan dan biaya besar ini diperoleh dari bisnis energi sektor minyak. Negara2 Timur tengah seperti Arab Saudi dan Iran yang menjadi produsen nomor dua dan tiga dunia memahami jika mereka di satu sisi saling membenci tetapi mereka juga harus membangun kartel untuk menentukan harga guna memperoleh maximum gain agar dapat menjaga posisi politik, ekonomi, dan pembiayaan militernya (Robert Mabro).
Relasi antara kompetisi di segi keamanan dan kooperasi (kerjasama) di segi kontrol harga minyak dan untuk menjaga dominasi kartel di antara kedua negara yang saling bersaing inilah yang disebut dengan istilah dilema keamanan ganda (duppelten Sicherheitdillema). Iran dan Saudi selalu dalam bandul benci tapi rindu.
Manuver Saudi dengan meningkatkan produksi yang membuat harga minyak kemarin sempat jatuh rupanya tidak dapat ditolong lagi telah membuat negeri ini keteter dari segi pembiayaan keamanan. Dan Iran yang seperti kita pernah tulis, telah terbiasa dengan embargo membuat mereka secara logis mendukung kelompok milisi Houthi guna mendapatkan akses front Yaman sebagai pintu pengaman ekspor minyak mereka ke pasar gelap Eropa.
Serangan invasi Saudi dengan beberapa negara teluk lainnya kepada milisi Houthi dan milisi2 kelompok perlawanan untuk menjatuhkan pemerintahan Hadi yang Pro Saudi sebenarnya adalah security action yang secara langsung akan menaikkan kembali harga minyak dunia sekaligus diharapkan akan menaikkan daya tawar mereka di regional.
Dengan serangan ini mereka berharap akan meningkatkan perolehan maksimum dari minyak sekaligus menaikan kekuasaan maksimum dengan memainkan isu sektarian Suni versus Syiah. Tentu peroleh ini juga akan meningkatkan keuntungan Iran sebagai pendukung milisi Houthi.
Persoalannya adalah bahwa Saudi melawan kelompok-kelompok milisi yang menjalankan perang asimetris dengan kekuatan gerilya yang bila kita melihat kasus Suriah maka kemungkinan akan memakan waktu lama.
Bila melihat kemampuan Saudi dalam perang terbuka sebagai negara maka Front Yaman dengan bentuk perang asimetrisnya akan membuat negara ini menjadi negara paria, dan Saudi akan gagal di sana dan harga minyak akan naik sedemikian rupa.

0 comments:

Post a Comment