Saturday, June 4, 2016

Intervensi Saudi ke Yaman dan bangkitnya Sentimen Nasionalisme

Intervensi Saudi ke Yaman dan bangkitnya Sentimen Nasionalisme
- Mengenali Attitude Publik sebagai Faktor Amplitudo dalam konflik -
Serangan udara Saudi ke negara berdaulat Yaman dengan mengusung alasan membantu pemerintahan berdaulat dan memerangi milisi pemberontak Houthi yang bermadzab Syiah adalah a false-flag atau bendera keliru dari politik intervensionis.
Ini merupakan keterlibatan langsung ke dua Saudi setelah sebelumnya mereka masuk menekan kelompok demonstrn anti rejim yang mayoritas penganut Syiah di Bahrain dengan mengirim pasukan darat.
Meskipun demikian menarik persoalan ini kepada isu madzhab adalah pandangan keliru. Mengingat segala bentuk pembenaran dari serangan tadi tidak akan menyangkal bahwa Saudi secara terang-terangan telah melakukan agresi ke satu wilayah negara berdaulat yang dilindungi konvensi PBB bukan karen alasan madzab tetapi lebih karena alasan politis.
Apabila kita telaah mekanisme politik intervensionis Saudi ini dari sudut pandang penduduk Yaman sendiri maka, akan ada dua hal mendasar yang dapat diimbuhkan kepada serangan Saudi ini; pertama bahwa Saudi telah menggunakan politik Islam sebagai alat diplomasi menekan dalam perang kepada tetangganya. Kedua bahwa intervensionisme ini akan menyinggung bangkitnya politik identitas kebangsaan (nasionalistik) di kalangan orang Yaman yang belakangan menghendaki jatuhnya pemerintahan Pro Saudi.
Dibanding politik sentimen (suni versus syiah) maka agresi Saudi ini akan lebih banyak menimbulkan sentimen nasionalisme. Jika kita mengenali faktor sentimen dalam satu konflik, maka ini akan cukup penting untuk melihat "public attitute" atau faktor penggerak massa yang dapat digunakan memperkuat amplitudo konflik.
Misalnya jika kita mengkaji politik di Turki maka akan ada dikotomi yang kuat yang mewarnai attitude publik yaitu; kelompok Islam versus kelompok Nasionalis-Sekular. Sementara di Mesir yang menguat adalah dikotomi politik militer-islam tradisi versus islam revisionis.
Di Yaman setelah lama pemerintahannya dikuasai pengaruh Arab Saudi dan kini tumbang karena perlawanan kelompok milisi misalnya berlaku dikotomi; pro Saudi/Rejim dan anti Saudi/anti Rejim San'a. Sebelumnya Saudi bermain tidak langsung dengan mempengaruhi Yaman secara politik saja, tetapi kini dengan agresi militer, Saudi segera menyulut sentimen nasionalisme Yaman.
Ketika Menlu Saudi berkata bahwa serangan udara ke Yaman adalah mempertahankan pemerintahan yang sah dan melindungi penduduk bermadzab Suni dari serangan milisi yang kebanyakan penganut Syiah maka ini adalah a false flag. Sebuah bendera keliru dari permainan mendeterminasi kecenderungan publik akan sentimen madzhab secara khusus dan regional secara umum.
Apa yang dilakukan Saudi dengan menyerang tetangganya yang miskin sebenarnya sedang mempertahankan hegemoni mereka di Yaman untuk tetap mengontrol negara ini dari menjadi pemain kuat karena posisi strategisnya di ujung tanduk selat Arab sebagai celah bagi jalur perdagangan minyak. Serangan udara Saudi hanya akan memancing balasan yang dibangkitkan oleh public attitude berupa sentimen nasional yang mengesampingkan perbedaan madzhab.

0 comments:

Post a Comment