Friday, June 3, 2016

Ke Arah Perang Timur Tengah Raya

Pertemuan Menlu Rusia Sergey Lavrov dan AS John Kerry untuk mencari solusi permanen gencatan senjata di Suriah hanyalah perlambatan dari strategi geopol AS di Timur Tengah (Timteng) dari Musim Sepi Demokrasi kepada perlawanan anti regime yang ternyata berkembang liar menyeret negara-negara Arab seperti Syria-Irak-Libya-Saudi-Yaman ke arah perang Timur Tengah Raya.
Sepertinya tidak akan dapat dicegah jika strategi pergantian rejim dengan mengatasnamakan "demokratisasi" yang didampingi AS kini memukul balik (Brian T.Edwards) hegemoni barat di tim-teng. Pembalikkan keadaan di Suriah dengan keterlibatan Rusia secara terbuka (Kair el Haseel) yang segera disusul Iran secara terbuka militer mendukung rejim Assad pada waktu dekat (Jamal Kashogi) akan memaksa perubahan-perubahan strategi lapangan yang lebih keras ( Andreas Krieg).
Musim Semi yang memaksa perubahan sistem dan aktor di negara-negara Arab mulai dari Tunisia, Aljazair, Mauritania, Oman, Lebanon, Jordan, Mesir, Suriah, Djibauti, Maroko, Sudan, Palestina, Irak, Bahrain, dan Libya adalah proyek lain dari AS untuk mengkalibrasi ulang kekuatan hegemoninya di kawasan kaya minyak dan gas dunia ini (James Scott).
Tidak seperti yang direncanakan AS dan sekutu Eropa dan Timteng (Qatar-Saudi-Turki) nya jika Arab Springs di Suriah menjadi titik balik dari strategi asistensi demokrasi ini. Assad tidaklah begitu mudah sebagaimana mereka mendongkel Raja Ben Ali Tunisia, Presiden Mesir Husni Mubarrak, Pemimpin Libya Moammar Qaddafi, dan pergantian-pergantian rejim secara "sukarela" termasuk di Arab Saudi.
Suriah seperti halnya Iran, Suriah dan Lebanon terutama partai Hezbollah adalah target utama dari New Arab World Order yang dipersiapkan (Derek Chollet). Trisula ini adalah ganjalan sebenarnya dari cita-cita mengingat secara politik, ekonomi, dan ideologi mereka adalah kelompok perlawanan permanen atas kepentingan Barat di kawasan. Assad dengan dukungan mayoritas penduduk di wilayah barat yang subur dan kaya serta loyalitas tinggi dari Tentara Arab Suriah (TAS) memukul balik strategi Arab Springs. Pukulan ini yang kemudian berubah menjadi Arab Up-rising (perlawanan Arab) sebagai strategi AS dengan mendukung kelompok-kelompok oposisi dengan bantuan dan asistensi militer.
Seperti halnya Arab Spring, Arab Uprising ini juga bergerak liar sebagaimana terjadi di Libya (penyerangan dan pembunuhan Duta Besar AS), Bahrain dan Yaman (perlawanan terhadap presiden dukungan AS), Irak dan terlibatnya Hezbollah Lebanon di Suriah untuk menentang intervensi AS (Anthony Cordesman).
Selanjutnya di awal 2014 muncul satu kelompok teror mengatasnamakan Negara Islam Raya yang mendeklarasikan perlawanan terhadap rejim-rejim untuk segera menggantikannya dengan sistem Islam. Rusia berkali-kali menuding AS-Barat dan sekutu timtengnya (Turki, Qatar, dan Saudi) adalah pihak sponsor dibalik munculnya kelompok ini. Turunnya grup perlawanan Iran, Hezbollah ke medan-medan perang Suriah dan memberikan nasehat militer politik di Irak untuk kemudian didukung secara diplomatik oleh Rusia dan Cina membuat kelompok ini mengubah namanya menjadi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).
Belakangan geopolitik timteng semakin jauh dari strategi musim semi dan mengarah kepada perpecahan kepentingan di tubuh sekutu Barat. Ledakan pengungsi ke jantung-jantung negara Eropa dengan meningkatnya serangan teror membuat beberapa negara eropa utama seperti Spanyol, Italia dan Jerman membatasi keterlibatan mereka dalam proyek timur-tengah.
Meski demikian, stabilitas baru dari proyek kalibrasi ulang rejim melalui operasi destabilisasi menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Terlibatnya sekutu AS seperti Saudi di proyek Arab Spring di negara-negara arab tetangganya melalui bantuan militer dan keuangan semakin menarik negeri ini ke arah perang dan konflik yang lebih rumit.
Jika di awal mereka terpaksa terlibat dengan perubahan rejim yang "tidak sesuai rencana" di Bahrain kini mereka harus lebih banyak mengeluarkan banyak uang bagi proyek mendukung bekas presiden Al Hadi di Yaman yang dijatuhkan kelompok perlawanan Houtis.
Begitu juga dengan eskalasi Israel versus Lebanon (Hezbollah) yang diprediksi akan meningkat, mengingat keterlibatan Hezbollah dalam perang melawan ISIS di Suriah membuat mereka memiliki akses lebih besar kepada pengetahuan, koordinasi, dan perangkat tempur untuk model perang asimetris (Anthony Cordesman) dan model perang semi proxy (Kim Cragin) yang akan mereka pergunakan jika terjadi perang dengan Israel.
Adalah bukan hal yang mustahil bilamana perang semi-proxi antara kekuatan nuklir seperti AS dan Rusia terus berlanjut maka ancaman kepada destabilitasi kawasan semakin besar. Pada kasus arab Springs, Rusia dan Iran sudah ada berada di atas garis merah untuk melawan secara penuh proyek destabilisasi di dunia Arab dan timteng.
Sementara AS sedang menyadari proyek Musim Semi ini memukul balik kepentingan n minyak dan gas di timur tengah tetapi mereka juga akan terbebani jika menarik diri secara penuh dan mengakui kegagalan proyeknya. Sehingga pertemuan Sergey dan Kerry untuk membahas gencatan senjata permanen dapat dilihat dari kacamata menurunkan eskalasi konflik demi mencegah perang raya yang pastinya menghancurkan semua kepentingan bukan hanya Barat di timteng.
Meskipun demikian kita masih menunggu arah selanjutnya dari perang di dunia Arab hari ini. Mengingat Rusia akan tetap membaca perubahan sikap politik AS dengan menerima genjatan senjata ini mesti memiliki kondisi dan prasyarat. Seperti misalnya AS menerima Assad tetapi menginginkan satu bentuk kon-federasi Suriah dengan dasar Etnis, Agama, dan Sekte Agama (yang ini ditolak Suriah dan Iran). Juga dorongan agar mengakui eksistensi Israel (yang juga ditolak beberapa negara arab serta Iran tetapi disetujui Qatar dan Saudi). Namun hal yang cukup menarik adalah yang ditulis Dominic Tierney, bahwa Amerika sedang mencari cara yang benar untuk kalah dalam perang mengingat mereka memang tidak memenangkan konflik di timur tengah.
Meski ini pun bukan jalan yang mudah, dan Arab menuju ke arah perang raya

0 comments:

Post a Comment