Friday, June 3, 2016

Luar Batang dan Artefak Sejarah Perlawanan Islam

Hari ini rencananya pemkota DKI menggusur perkampungan Luar Batang.
Bagi yang pernah belajar mengaji di lingkungan pesantren kota milik orang betawi atau arab keturunan Yaman, Luar Batang adalah salah satu titik penting penyebaran Islam di wilayah Jakarta. Sedemikian kuatnya pengaruh para habib itu bila ada anak-anak mengaji yang sedikit nakal atau bodoh, ustadz atau guru-guru ngaji di masjid-masjid atau mushola kampung-kampung Jakarta biasa menggertak dengan berkata:
"Ya Habib, bloon beeng loh tong!" atau
"Ya Habib, muke lue kayak onte pade"
Habib yang dimaksud tentu habib Alawi Husein Alaydrus atau habib-habib dari keturunan Yaman. Salah satu keluarga pemuka penyebaran Islam di tanah Betawi.
Adalah Habib Alhusein Alaydrus sesepuh keluarga keturunan arab Jakarta Alawi Fam, yang pertama kali mendirikan masjid di perkampungan nelayan miskin di daerah ini. Bahwa ketika ia mengembangkan pesantren di sana ia dipercaya terdampar ke wilayah terluar benteng Kompeni yang kini dikenal sebutan nama Pasar Ikan.
Pihak kompeni kemudian mengeluarkan, Habib Alaysdrus dikeluarkan dari wilayah kota baru batavia (sekarang kota tua). Tetapi setiap dipindahkan dengan perahu konon ia menunjukkan keramatnya, yaitu perahu yang ditumpanginya kembali ke tempat dimana dia bertolak.
Luar Batang, sendiri adalah penamaan khas pada masa itu. Meski sebagian menerjemahkan bahwa nama tadi disebut karena ketika habib wafat, mayatnya tidak ada sirna atau menghilang dari dalam kurung batang.
Sebagian sejarawan percaya bahwa tujuan dari Habib Alaysdrus bermukim di luar batang adalah sebagai perlawanan dari perluasan benteng Kumpeni ke wilayah perdagangan milik pribumi. Kata Batang sampai hari ini masih digunakan masyarakat pesisir untuk menyebut muara atau pertemuan sungai.
Melalu penguasaan wilayah masuk yang sekarang masuk Penjaringan, Kompeni mengambil alih sisi barat jalur masuk ke Batavia yang adalah jalur masuk tradisional perdagangan, barang, ikan, hasis (opium), kapur barus, pinang dan garam milik pribumi untuk memberlakukan cukai masuk.
Jika kita percaya bahwa sejarah Luar Batang adalah sejarah perlawanan pribumi terhadap kolonial Belanda, yang sepertinya ini jauh lebih masuk akal maka penghancuran wilayah tadi adalah penihilan artefak perjuangan perlawanan umat Islam menentang pen-jajahan (pengambilan cukai) yang kemudian berlanjut menjadi perlawanan pribumi atas kolonialisme.
Sejarah besar ini tentu tidak pantas dihilangkan dengan alasan kebersihan dan atau meningkatkan wisata kuliner.

0 comments:

Post a Comment