Friday, June 3, 2016

Mentalitas Aktor dalam Konflik di Yaman

mengapa Saudi tidak menaikkan harga minyak dengan mengurangi produksi daripada mengeskalasi konflik di Timur Tengah. Ada beberapa latar yang perlu diketahui untuk menganalisa persoalan secara lebih luas (meski mungkin membosankan pemirsa).
0.00 Mentalitas cari untung, sampai dilema keamanan
Rendahnya harga minyak beberapa bulan ke belakang disebakan kebijakan over produksi minyak Saudi yang membanjiri pasar dunia dan membuat harganya jatuh. Konsekuensi dari kebijakan over produksi adalah gain (perolehan) baik Saudi maupun produsen lain (yg tergabung atau tidak dalam OPEC) akan menurun karena terpaksa menerima opsi minimum gains.
Keuntungan ekonomi (oil revenues) dibutuhkan negara-negara produsen energi minyak dan juga gas di timur tengah ini untuk tetap menjadi pemain utama di kawasan baik ekonomi, politik dan keamanan. Dorongan untuk mendapatkan untung maksimal dari bisnis energi fosil dilakukan lewat dua cara, yang disebut dengan psikologi (mentalitas) mencari untung.
0.10 Dilema Keamanan
Konsekuensi menguatnya ekonomi negara selalu beriringan dengan tendensi untuk mempertahankannya dimana kemudian alokasi keuntungan diinvestasikan kepada persoalan security (keamanan) baik ekonomi, politik, pangan, dan militer. Untuk tetap berdiri sebagai hegemonik super power di sana negara-negara yang kuat akan menghabiskan sebagian besar keuntungan dari bisnis energi bagi keperluan keamanan mengingat sejarah energi adalah sejarah konflik.
Kondisi ini yang kemudian menciptakan apa yang dikenal dengan istilah dilema keamanan (security dillema) karena masing-masing pihak selalu akan berada dalam posisi tersandera. Setiap peningkatan anggaran keamanan untuk alasan keamanan oleh satu negara selalu akan diikuti dengan kenaikan anggaran negara rivalnya. Artinya ketika Saudi meningkatkan alat-alat pengaman justru nilai ancaman tidak semakin mengecil karena negara lain seperti Qatar, UEA, Irak, dan terutama Iran -sebagai produsen migas nomor tiga- akan ikut pula menaikkan anggarannya. Ini yang dimaksud dengan dilema keamanan (Herz).
Demi menjaga konflik dan penyelenggaraan negara tetap berjalan, maka negara2 produsen tim-teng ini harus mengadopsi dua opsi dalam diplomasi luar negerinya; yaitu di satu sisi mereka adalah rival dalam politik namun di segi ekonomi mereka kerap menjadi mitra untuk menentukan harga terbaik migas. Keadaan ini yang disebut dengan dilema keamanan ganda (double security dillema).
Mengapa Saudi tidak mengurangi saja produksinya untuk mendapatkan harga ekonominya daripada melibatkan diri dalam konflik?
Ini karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi mentalitas mencari untung (gain seeking mentality) dari aktor-aktor. Faktor ini nanti akan menentukan cara dan pilihan dari aktor mengambil opsi-opsi tertentu. Mengapa dikatakan opsi tertentu? itu karena sebenarnya tidak pernah ada maksimum gain (secara teori sih ada) tetapi yang ada adalah perolehan dinamik atau relatif yang bergantung kepada faktor2 tadi.
0.20 Sifat Aktor
Pertama dia bersifat alamiah saja atau dia terdorong karena intensitas.
Secara alamiah, Saudi, Iran, Qatar adalah produsen migas raksasa yang secara eksklusif membuat mereka menjadi super power kawasan karena uang dari penjualan energi fosil ini. Secara intensitas, wilayah mereka selalu mengundang perseteruan dan konflik yang melibatkan banyak pemain internasional untuk menguasai sumber energi ini. Selain bahwa migas mereka membutuhkan alat-alat produksi termasuk jalur distribusi yang mau tidak mau melibatkan negara-negara sekitar.
Konflik di Yaman dapat dilihat dari posisinya yang menjadi penting karena ada di mulut teluk Aden dan Laut Merah yang merupakan akses via Terusan Suez menuju dan dari pasar migas Eropa. Ada jalur distribusi via pipa lewat Turki yang menyambung ke Suriah, Irak, dari Iran, atau Jordan dari Saudi dan Qatar. Tetapi Saudi dan Qatar tidak memiliki hubungan baik dengan Suriah selain bahwa negara Paman Assad ini terikat kerjasama keamanan dengan aksis perlawanan Iran-Lebanon Selatan-dan Rusia yang adalah rival Arab.
Maka pilihan lain adalah menguasai port Laut Merah Arab Saudi di kota Jazan/Jizan yang berbatasan dengan Yaman. Ini artinya menguasai Yaman yang merupakan muara baik ke eropa via Suez maupun via Aden ke pasar Asia. Di sini secara nature atau alamiah, Yaman yang tidak terlalu besar produksinya tetapi menjadi penting dari segi geo-politik-militer bagi distribusi migas.
0.30. Konstruksi Aktor
Kedua, selain sifat mentalitas aktor pencari untung ini tersusun oleh beberapa kombinasi atau konstruksi yaitu kelompok egois dan/atau posisionalis (oportunis), dan kelompok pro revisionis dan/atau pro status quo.
Secara ideal masing2 aktor ingin menjadi paling egois, yaitu sebisa mungkin memperoleh harga terbaik dengan melakukan monopoli seluas-luasnya. Pada kasus migas mereka membentuk kartel yang di dalamnya terjadi negosiasi-negosiasi berupa kerjasama atau kompetisi dimana selalu akan ada konstruksi kelompok yang egois (biasanya yang paling dominan, dalam hal ini Saudi dan Iran).
Semenjak Iran di embargo secara ekonomi oleh Barat, terutama ekspor migasnya sejak mula revolusi Islam (1978) mereka tidak dalam posisi egois, tetapi lebih posisionalis. Selain bahwa mereka juga terlibat perang memperebutkan ladang minyak dengan Irak selama delapan tahun, sehingga mereka mau tidak mau oportunis saja untuk menerima pihak ketiga untuk memasukkan produksi mereka via pasar gelap.
Di sini boleh kita katakan, gain seeking mentalitas atau mentalitas mencari untung dari sektor migas menempatkan Saudi sebagai pihak lebih ngotot ketimbang Iran. Ini karena dia secara alamiah memiliki lebih banyak pilihan dari segi cost-benefits dengan fungsi utilitas produksinya dari Iran yang diembargo karena dapat memainkan dua kartu distribusi; kerjasama atau melalui pasar gelap.
Dorongan untuk mengambil maksimum gain ini yang secara mudah juga menempatkan Saudi sebagai aktor yang lebih memilih dan mempertahankan mitra yang pro status quo ketimbang mereka yang revisionis atau terbuka.
0.40 Kesimpulan
Kedua kombinasi (sifat dan konstruksi) ini akan menentukan orientasi aktor yang terlibat konflik. Sehingga bila kita kembalikan kepada pertanyaan Oom Bambang Triatmojo, mengapa Saudi tidak mengambil opsi menurunkan saja produksi daripada terlibat konflik sudah dapat kita jawab. Ini karena sesuai dengan sifat idealis mencari untung maksimum dan konstruksi egois untuk tetap menjadi pemain dominan di regional yang membuat Saudi sebagai aktor lebih memilih jalan konflik dengan berusaha keras mempertahankan rejim pro Saudi dari President Mas Hadi yang dijungkalkan oleh kelompok revisionis anti rejim yang barangkali lebih sulit diajak kompromi.

0 comments:

Post a Comment