Saturday, June 4, 2016

Nasib

Dari pagi hari ke pagi hari pada saat kebanyakan pikiran diarahkan kepada telepon genggam, saiya selalu menemukan bahwa perempuan dengan maskara tipis itu ada duduk di lini dua menemukan hal-hal baru.
Ya, ada hari dimana kebanyakan kita meletakkan hal-hal berat yang membebani pikiran di pagi hari, yang dengan segera membuat kehidupan diliputi awan kesedihan maka perempuan tadi hari ini menemukan bahwa kotak listrik tempat pengisian ulang di bagian ujung peron mengalami kerusakan. Seperti katak pohon, ia menoleh ke satu atau dua tempat menemukan hal-hal baru dari apa yang tidak diperolehnya barusan.
Sapuannya sebentar ke arah tiang menara kuning yang belum ditinggikan lalu ke kumpulan perempuan yang duduk sepanjang tangga naik kereta, untuk kemudian berhenti di pelataran peron dengan sedikit lebih lama menikmati dua petugas keamanan berbincang-bincang.
Suara petugas stasiun kereta mengatakan ada sedikit gangguan karena persinyalan dan karenanya ia memohonkan maaf kepada khalayak. Khalayak ini pun sebenarnya tidak tahu apakah mereka mampu memberikan maaf tadi dengan tulus dan ikhlas.
Beberapa tahun ke belakang, sebelum kereta lebih baik dari sekarang ada di Kemayoran penumpang mengamuk petugas stasiun. Ia yang mungkin bosan ditanya kapan kereta pengganti akan datang tanpa berpikirka panjang berbicara di corong; "Aah bayar dua ribu aja protes". Maka mereka yang merasa dua ribu itu adalah uang yang berarti, mendengarnya sebagai hal yang menjijikkan dan akhirnya menjurus kepada penghinaan.
Ia kena dipukili orang ramai di semua bagian badan. Sampai sebelum satu hantaman kayu bekas peti buah ia saiya tarik masuk ke dalam dengan pancaran titik-titik merah dan air mata ketakutan yang berkepak-kepak ke segala arah. Kita memang boleh takjub kepada kekuasaan, tetapi bila sebentar ia direnggut oleh sesuatu yang tidak disangka-sangka maka kita akan melihatnya sebagai sesuatu yang tenang terpencar liar, terisap ke dalam ruangan yang kosong dan remang-remang.
Perempuan tadi berbalik ke arah darimana dia datang. Kotak pengisian ulang baterai itu bukan rusak, tetapi penuh terisi. Seperti menyadari bahwa ia memang tidak terlalu membutuhkan dan barangkali juga dia ke sana untuk tujuan-tujuan lain maka pada tulisan Awas Lantai Licin ia kembali berhenti dan mengamati pria bagian kebersihan. Si perempuan maskara tipis bergerak lagi, ia merasa tidak perlu terlalu lama memahami pertanyaan apakah tulisan tadi bertujuan memperingatkan agar orang berhati-hati atau si pria itu memaksa orang berputar sedikit agar pekerjaannya tidak sia-sia.
Ya, mungkin bila kita dapat menemukan jalan masuk sebagaimana cahaya matahari pagi yang banyak disia-siakan dan yang telah membuat jiwa-jiwa bangkit tentu kita dapat sedikit menghalau persoalan seperti kesedihan dan rutinitas yang mengerikan.
Perempuan tadi sekarang ada di bagian paling ujung peron bersama-sama banyak perempuan-perempuan lain yang memang berharap mendapatkan gerbong perempuan. Berdiri saja di sana dan membiarkan dirinya pelan-pelan disinari cahaya matahari pagi yang lembut keluar dari balik atap bangunan dan pepohonan. Si perempuan tadi berpendar dan pelan-pelan berubah menjadi toko emas dan berlian. Seperti perjalanan dimana ada satu titik tempat berhenti dan diam, kita sebenarnya hanya punya satu kesempatan, yaitu menerima nasib. Ya dan itu kesempatan yang cukup sulit.

0 comments:

Post a Comment