Friday, June 3, 2016

Perang Suriah Front Golan

Serangan balasan Hisbullah di pertanian Sebba Lebanon Selatan yang menyasar konvoi militer Israel adalah balasan dari operasi militer Israel di Quneitra Dataran Tinggi Golan Suriah yang menewaskan komandan Hisbullah Mohammad Issa dan Penasehat Militer Iran Jendral Alladadi.
Serangan tit-for-tat ini menunjukkan beberapa kemungkinan konfigurasi perang Suriah di masa depan.
Pertama, keberadaan petinggi Hisbullah dan Iran di Quneitra yang merupakan pintu masuk ke Golan mustahil tidak diketahui pemerintah Suriah Assad. Ini menjadi indikasi bahwa telah terjadi aliansi secara natural di tingkat teknis (lapangan) dari kelompok perlawanan (axis of resistances); Hisbullah-Lebanon, Iran, dan Suriah untuk membuka masa depan perang di front Golan yang masih dikuasai Israel.
Kedua. Quneitra adalah provinsi dimana kelompok Jabatnusra dan ISIS masih melakukan perlawanan karena mereka cukup mendapakan dukungan langsung dari Israel lewat jalur Golan. Israel sendiri membutuhkan stronghold (kawasan pendukung) dengan melemahkan pengaruh Suriah di Quneitra untuk memperkuat penguasaan mereka atas kawasan subur Golan.
Ketiga, bahwa konsolidasi intelejen Hisbullah-Iran-dan SAA di Quneitra adalah proxy war bagi Hisbullah menghadapi Israel di masa depan dan cara Iran menback-up kelompok2 perlawanan di Palestina untuk memperkuat diplomasi luar negerinya. Selain alasan bahwa Hisbullah membutuhkan jalur ini bagi supply persenjataan dan masa depan mereka sendiri di Lebanon, Quneitra Golan yang jauh dari induk pasukan mereka di Lebanon selatan adalah wilayah konflik yang memungkinkan mereka menggunakan kawasan ini menyerang Israel bila mereka di serang.
Artinya bentuk perlawanan Hisbullah terhadap Israel berubah 180 derajat yaitu dengan lebih terbuka dan mulai masuk ke wilayah-wilayah demarkasi Israel, dimana pun tidak harus di wilayah Lebanon. Hal ini cukup merisaukan bagi politisi Israel.
Ke depan jumlah serangan SAA (Syuriah Arab Army) dari timur dan Hisbullah selatan akan bertambah dan mendesak kelompok ini ke perbatasan dengan Israel. Hal yang tidak terlalu disukai Israel bila kelompok jihadist ini masuk ke dalam wilayahnya.
Maka Quneitra dalam waktu dekat akan menjadi front baru dan kemungkinan terakhir dari SAA pemerintahan Assad untuk menyelesaikan 4 tahun perang Suriah sekaligus memperkuat aksis perlawanan terhadap Israel, yang dibutuhkan Assad untuk mengembalikan semangat nasionalisme lewat sentimen Suriah-Arab.

0 comments:

Post a Comment