Friday, June 3, 2016

Politik Para Magangers Mengenali Tipologi Strategi Idiil dan Strategi Modifikasi

Keberadaan the so called "tenaga magang" di kantor gubernuran Jakarta sebenarnya tipologi baru yang mungkin baru berkembang kurang dari lima belas tahun terakhir dalam birokrasi pemerintahan kita.
Secara sederhana pegawai magang di luar negeri dikenal sebagai novis, apparantis, atau intern yang bekerja untuk menambah pengalaman di institusi pemerintah atau swasta. Mereka tentu saja tidak menduduki sebuah jabatan apalagi jabatan strategis. Sementara para magangers di kantor Gubernur Jakarta mereka menduduki jabatan-jabatan penting seperti staf khusus, staf ahli, atau penasehat.
Bila kita cari kontekstualisasinya atau bila dikaitkan dengan perhubungan-perhubungan lain seperti bahwa si A, B, atau C adalah peneliti di lembaga think-thank CSIS, SKSB, SDSB, atau ternyata mereka adalah famili dari perusahaan Lipo, Agung Podowae, Cikutra, dan Sinaremas maka fahamlah kita jika tipologi The Magangers ini jauh lebih kompleks dari yang kita lihat.
Mengapa mereka sampai ada di pusat kekuasaan Jakarta sebenarnya dapat diterangkan melalui tipologi strategi berdasarkan isi atau konten (Miles-Snow, Porter,Rubin, Nutt, Wechler-backoff dll.)
0.1
Pertama bahwa sejak kita menganut demokrasi pilih langsung yang melibatkan begitu besar aliran-aliran modal kepada kandidat pejabat publik maka persoalan politik publik dapat diasumsikan serupa dengan politik bisnis. Ini juga dapat dijelaskan juga dengan fakta bahwa dalam kurun lima belas tahun ke belakangan kita kerap mendengar seminar istilah dari Rulling Government ke Good Governance, dari Management Business ke Management Public dan pelatihan-pelatihan outbounding, kerjasama tim dll., yang intinya semacam dorongan agar terjadi perubahan paradigma dalam birokrasi pemerintahan.
Di pemerintahan dipersepsikan sebagai lambat, besar, kompleks, tidak efektif-dan effisien sehingga perlu adanya strategi baru yang mengadopsi model manajemen strategis dalam dunia bisnis. Maka apa yang kita lihat hari ini dengan banyaknya pelaku bisnis masuk ke dalam dunia publik yang berlanjut dengan proposal privatisasi perusahaan-perusahaan atau manajemen publik ke swasta adalah produk dari perubahan tadi.
0.2
Kedua bahwa pertimbangan perubahan strategi pemerintahan dari birokrasi yang ideal kepada birokrasi yang efektif-efisien adalah sebuah proses penyesuaian atau modifikasi dalam strategi. Alasan utamanya ada;aj bahwa kondisi lingkungannya telah berubah. Pendapat bahwa lingkungan hari ini sudah berubah menjadi faktor determinan bagi adanya penyesuaian dalam tubuh pemerintahan.
Pada saat kampanye tentu saja model ini tidak diungkap, karena kebanyakan kandidat akan mengatakan bahwa mereka butuh kabinet yang ramping, yang lincah, dan yang bukan politik akomodasi. Tetapi dalam kenyataannya cukup jelas yaitu ketika si A atau B menang konstestansi maka relasi antara pemodal dengan pemangku kebijakan (pejabat pemerintah) harus terus dijaga dengan alasan yang paling pragmatis dan oportunis.
0.3
Ketiga bahwa untuk memenangkan pemilu dibutuhkan tenaga pendukung yang besar dan dukungan para penyandang dana yang kuat maka hal yang paling tepat untuk memastikan bahwa politik balas jasa tadi benar-benar terlaksana adalah bagaimana memastikan efektivitas eksekusi dari strategi. Di sinilah para magangers itu memiliki bukan hanya fungsi akomodasi tetapi juga penekan.
Bila pada masa Soeharto the so called para bandar mengambil jarak terhadap birokrasi pemerintahan. Dengan birokrasi dipersepsikan sebagai organisasi yang diisi oleh mereka-mereka yang memiliki loyalitas terhadap partai, negara, atau ideologi. Namun tipologi yang kita lihat hari ini adalah sebaliknya dimana birokrasi pemerintahan dipenuhi mereka-mereka yang disebut sebagai para orang baru yaitu the "magangers".
Perubahan strategi birokrasi dari ideal ke modifikasi tadi dibenarkan oleh pandangan bahwa misalnya bahwa -kondisi lingkungan hari ini jauh dari yang diperkirakan- sehingga diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat diambil (desirable modified strategy) untuk benar-benar bahwa eksekusi tadi akan memenangkan kelompoknya.
Jika latar dari kedua tipologi ini (yaitu lingkungan berubah dan kepastian dalam hal eksekusi) diterapkan dalam organisasi pemerintahan maka sebenarnya ada empat unsur pokok yang dimainkan oleh para Magangers ini.
Pertama strategi prospektif, yaitu para magangers ini berupaya mencari peluang-peluang dan domain-domain baru yang bisa diolah dengan keberadaan mereka inside the city-hall.
Kedua mereka menerapkan strategi analisis, yaitu dimana the magangers dengan rekomendasi-rekomendasinya berusaha mengilmiahkan kebijakan-kebijakan yang nantinya akan menguntungkan.
Ketiga strategi pertahanan atau defensif. Yaitu the magangers di city hall memang ditempatkan untuk memblok dan mengamankan sektor-sektor yang menjadi core bisnis dari kepentingan tertentu dari pemodal kampanye.
Keempat para Magangers tadi menerapkan strategi reaksional. Yaitu mereka akan memainkan waktu untuk membuka atau menutup, menarik atau mengulur kebijakan-kebijakan yang mungkin menguntungkan atau merugikan mereka. Mereka juga berperan untuk membantu memastikan nama-nama lain yang dianggap dapat menjadi penghubung atau potensial sebagai rekanan.
Demikian Wassalaam
Bapak Andi Hakim

0 comments:

Post a Comment