Saturday, June 4, 2016

Putin dan Benturan Kebudayaan

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi gereja Orthodok Kristen Yunani dalam kunjungannya ke negeri itu.
Kristen Ortodok Athos adalah komunitas orang Rusia di Yunani dan kunjungan Putin ke tempat ini ingin menegaskan bahwa kehadirannya adalah dalam rangka mempererat hubungan kebudayaan antar kedua negara.
Hal-hal politik-ekonomi dikemas dalam diplomasi budaya karena pada pada saat bersamaan Uni Eropa menyetujui pembahasan kembali bantuan keuangan kepada Yunani setelah mengetahui bahwa Rusia mengajukan kepada Yunani proposal peningkatan hubungan ekonomi terutama sektor pariwisata mengingat Turki bukan lagi destinasi wisata utama setelah memburuknya hubungan dengan Turki pasca penembakan Su-24 di Suriah.
Yang menarik dari hal ini sebenarnya memetakan politik ideologi Putin, dimana ia secara jelas menegaskan bahwa politik luar negeri seharusnya memiliki basis kepercayaan/keyakinan dan nilai-nilai. Pada saat relasi dengan dunia barat dunia sekarang yang mengedepankan kekuatan militer dan politik intervensi maka strategi kebudayaan putin menjadi relevan.
Putin tidak lagi menggunakan pendekatan a la sosialisme-komunis tetapi agama. Ini dapat kita lihat bagaimana ia mendorong pembangunan masjid raya di seluruh Rusia, bantuan pendanaan kepada gereja-gereja orthodok dan sinagog, dan mendorong kedutaan-kedutaan mereka melakukan hubungan kebudayaan. Seperti baru-baru ini mereka menyelenggarakan Requem musik klasik untuk mereka yang martir/syahid di bekas reruntuhan Palmyra Suriah.
Sebetulnya dari fakta-fakta ini menunjukkan bahwa teori Clash of Civilization dari Huntington atau The End of History dari Fukuyama menjadi tidak relevan. Bila kita perhatikan apa yang disebut Huntington dengan benturan antara dunia Islam dan Barat (dalam hal ini Kristen) ternyata masih membutuhkan definisi kerja lebih jauh.
Seperti misalnya kristen atau Islam yang manakah yang akan berbenturan. Bila kira merujuk kepada Pax Koalisi antara NATO-Arab Saudi-Qatar-Jordan-dan Turki dimana telah terjadi bentuk-bentuk kerjasama daripada berbenturan. Dimana yang pertama mewakili Kristen Katolik Roma dan pihak lain sebagai Islam Fundamental.
Sementara itu kita juga menyaksikan pada hari ini Pax Orthodok-Islam antara Rusia yang mayoritas penganut Kristen Orthodok dengan Lebanon-Suriah-Irak-Iran dalam perang semi-proxy di Suriah.
Jadi benturan ke depan itu memang bukan benturan peradaban, tetapi lebih kepada benturan antara kelompok yang mengabaikan nilai-nila hubungan antar negara dengan politik intervensi dan uniteralismenya dan mereka yang memahami perlunya dibangun kembali dasar-dasar nilai dan filosofi saling menghormati harga diri (sovereignity) dalam perhubungan antar kebudayaan.
Di sini Putin dan aliansi yang dibangunnya memilih strategi menjadi kelompok yang mengedepankan nilai-nilai.

0 comments:

Post a Comment