Friday, June 3, 2016

Reasoning dalam Reklamasi

- Dari Semakau Singapur ke Teluk Jakarta
Jika tidak ada aral melintang maka dalam waktu dekat PTUN Jakarta akan memberikan putusan mengenai status proyek reklamasi pantai utara Jakarta.
Terlepas bahwa putusan pengadilan dalam kasus sengketa biasanya lebih condong kepada pemilik modal dalam hal ini pemerintah dan pengembang properti maka kenyataannya sudah ada kelompok masyarakat dan lingkungan yang dirugikan dari proyek ini.
1.00
Jika kita tarik apa pun argumen dari reklamasi ini maka yang kita peroleh adalah:
1. Reklamasi berfungsi menahan penurunan muka tanah dan intrusi air laut ke daratan. Singkatnya mencegah Jakarta tenggelam.
2. Reklamasi dengan Giant Sea-Wall akan menjadi semacam waduk laut yang dapat menampung air bagi kebutuhan warga kota Jakarta.
3. Reklamasi akan digunakan sepenuhnya bagi kepentingan masyarakat seperti perumahan rakyat, fasilitas umum dan sosial (fasus-fasos).
Bagi kelompok yang menolak, maka terbagi menjadi
1. Kelompok argumen ekologis seperti Analisa Dampak Lingkungan
2. Kelompok Argumen sosio-geografis bahwa keberadaan reklamasi akan merubah struktur sosial masyarakat. Misal hilangnya pantai bagi pemukiman kampung nelayan Luar Batang dll..
3. Begitu juga ada kelompok alasan ekonomi-politik bahwa proyek ini sarat dengan penyelewengan seperti dari mana tanah-tanah penimbunan diperoleh dari wilayah mana. Serta pihak swasta mana yang paling diuntungkan dengan proyek raksasa ini.
2.00
Saiya akan memberikan pendapat dari kasus reklamasi pulau karang Semakau Island Singapura. Satu gugusan karang bakau yang muncul bila air laut surut. Sejak tahun 2000 pemerintah Singapura mencanangkan proyek reklamasi dan amalgamasi (menghubungkan antar gugusan pulau karang) di Semako sebagai proyek "percontohan dunia" Singapore 2050. Yaitu dengan menambah tanah urugan agar menjadi satu pulau permanen dengan total biaya lebih 500 trilyun rupiah.
1. Argumen yang disampaikan pemerintah Singapur adalah bahwa Semako akan menjadi biosphere baru pulau berwawasan lingkungan.
2. Semakau ditimbun dengan abu dari sisa pembakaran sampah kota Singapore dan tidak dengan pasir curian dari Riau atau Vietnam.
3. Semakau akan menjadi kota hutan dunia dengan kombinasi apartemen rakyat ramah lingkungan.
Reasoning atau penalaran dasar dari proyek Semakau bukanlah ketiga hal di atas, tetapi dengan penduduk yang semakin bertambah dengan perkiraan 12 juta pada 2050, Singapura membutuhkan lahan. Sejak melepaskan diri dari Pan Malaysia luas Singapur bertambah dari 341Km2 (separuh Jakarta) menjadi 768Km2 yang salah satunya dibentuk dengan melakukan banyak proyek reklamasi.
Jadi di sini penalaran paling dasar dari reklamasi baik di Singapura maupun di Jakarta sebenarnya sama saja, yaitu bagaimana menambah lahan untuk kepentingan properti. Hanya karena isu dengan negara tetangga seperti Indonesia yang mencurigai tanah diambil melalui perdagangan ilegal pasir Kepri dan keberatan Malaysia bahwa pulau tadi akan mengganggu arus laut dan pergerakan ikan ke Semanjung Johor maka mereka menyebut bahwa ini bukan proyek reklamasi tetapi amalgamasi.
Pada kasus Singapur alasan reklamasi Jakarta juga tidak dapat digunakan, misal soal Giant Sea Wall sebagai pemecah gelombang yang merusak pantai Jakarta dan waduk penangkapan air. Berbeda dengan Singapura yang memiliki Marine Barack sebagai waduk modern yang menampung air tawar maka Jakarta secara praktik tidaklah kekurangan air bersih. Singapur adalah negara karang, dimana kebutuhan air ketika mereka merdeka diperoleh hanya dari Johor dan tiga water catchment seperti Bukit Timah.
Menyadari bahwa tanah mereka tidak dapat menghasilkan air, maka Singapura mengembangkan banyak waduk dan penangkapan air yang diperoleh dari air hujan. Ini alasan mengapa mereka membangun giant sea wall Marine Barack. Sementara Jakarta, cukup dengan 20 meter menancap jet pump air tersedia melimpah. Ini ada sebutan jika Jakarta adalah kota sejuta jet pump karena setiap rumah memasang sendiri sumber airnya.
3.00.
Alasan reklamasi teluk Jakarta yang katanya akan digunakan sebagai zonanisasi antara kebutuhan pengembang yang akan sepadan dengan pembagian jatah bagi kepentingan rakyat kebanyakan.
Dengan dana lebih dari 500 trilyun rupiah, pemerintah Singapura tidak akan menjadikan wilayah reklamasi Semakau yang akan menjadi garda depan negara kota dijadikan pemukiman rakyat. Tentu lebih masuk akan bila dibangun distrik keuangan, perkantoran, pariwisata, dan bisnis utama. Begitu pula dengan tujuan reklamasi pantai utara Jakarta yang menelan biaya sangat-sangat mahal, mustahil akan digunakan bagi peruntukan perumahan rakyat kebanyakan seperti bekas pemukiman nelayan atau pekerja sektor informal kecil.

0 comments:

Post a Comment