Friday, June 3, 2016

Sikap Eropa di Suriah dan Blunder Saudi di Yaman

Saiyah baru mendapatkan kabar e-mail dari kolega di GIGA Hamburg bahwa setelah pertemuan terakhir di Berlin, Jerman akan merealisasikan anggaran 155 milyar euro untuk pengungsi Suriah. Sikap Jerman ini tentu menarik dikaji, mengingat sebagai motor keuangan dan politik eropa langkah kemanusiaan Gerd Muller dapat dilihat sebagai perubahan paradigma dalam memandang konflik di Suriah sebagai tragedi kemanusiaan.
Melalui komitmen bantuan ini, mau tidak mau eropa di bawah Jerman harus menarik kembali semua pihak bertikai untuk maju ke meja perundingan dan mengambil opsi politik. Ini artinya secara tersirat Eropa mengakui Presiden Assad adalah "pemenang" dan penyelesaian lewat jalan perang melalui dukungan terbuka terhadap kelompok-kelompok perlawanan Suriah (FSA) dan dukungan tertutup kepada ISIS/ISIL sepertinya akan banyak berubah.
Dasar dari perubahan itu ada beberapa faktor, pertama; karena alasan kemanusiaan. Sampai hari ini lebih dari 300.000 orang terbunuh dan 3 juta rakyat Suriah menjadi pengungsi dan kondisi ini membangkitkan kekecewaan publik eropa/Jerman mengenai tugas dan fungsi mereka dalam konflik. Beberapa teror yang dikaitkan dengan relatasi dari konflik Suriah juga menambah ketidaksetujuan publik pembayar pajak Jerman yang melihat eskalasi konflik dapat saja merambah ke daratan eropa dengan pulangnya those so called "jihadis putih/eropa ke negara asalnya.
Kedua, Jerman bergerak lebih realistik melihat perkembangan perang. Sepertinya bersama-sama AS untuk terus mendukung kelompok perlawanan menjadi tidak lagi relevan ketika rakyat Suriah sendiri lebih percaya kepada Assad. Penyebabnya niat berjuang kelompok perlawanan Suriah sudah dikorupsi oleh tindakkan brutal milisi yang menyebut dirinya jihadist Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIL). Semakin besar dana dan personel ISIS tidak membuatnya semakin populer di lapangan dan hanya menjadikan mereka kelompok tidak jelas (no-name) di kawasan Timur Tengah sendiri.
Boleh kita katakan jika kebijakan luar negeri dengan mengintervensi negara lain menjadi kurang relevan bagi orang Jerman sekarang. Selain kenyataan bahwa kepentingan Eropa di sana adalah bagaimana berpartisipasi dalam pembangunan Timur Tengah. Pilihan Jerman untuk mengambil langkah kemanusiaan (yang biasanya akan diikuti langkah teknis perbaikan infrastruktur pasca perang) tentu sedikit banyak akan mempengaruhi sikap negara-negara eropa lainnya untuk memulai investasi di Timur Tengah.
Melihat kecenderungan eropa yang sepertinya tidak ingin menciptakan eskalasi konflik di Timur Tengah maka dapat sedikit kita fahami mengapa Eropa seperti tidak terlalu bersemangat mendukung tindakkan agresi Saudi di Yaman. Tanpa dukungan eropa, maka serangan Saudi ke Yaman hanya membuat langkah ini sebagai blunder bagi mereka sendiri.

0 comments:

Post a Comment