Friday, June 3, 2016

Soal Panama Papers dan Negara Rentenir Baru

Saiya masih membaca bahan-bahan terkait data yang diterima Koran Jerman Selatan dari seseorang tak dikenal yang disebut Skandal Berkas Panama. Satu peretasan data terbesar dunia mengalahkan apa yang dilakukan Snowden dan Julian Assange dengan Wikileak.
Tetapi ada kesamaan dari apa yang dilakukan Snowden dan seseorang tidak dikenal di Panama untuk membocorkan data yang menyangkut transaksi "illegal", pencucian uang, pengemplangan pajak yang dilakukan oleh famili orang-orang penting di seluruh dunia di bawah manajemen Firma Hukum Mossack Fonseca.
Siapa saja yang menjadi klien dari firma dengan spesialis off-shore accounts management ini maka Koran Jerman Selatan mengirimkannya ke lebih dari 140 media internasional seluruh dunia. Yang artinya ini kasus sepertinya sedang dibuat untuk menjadi skandal kelas atas.
Bagi yang senang menonton dulu ada film dengan judul the Firm yang diangkat dari novel John Grisham. Barangkali Fonseca ini perannya mirip dengan Firma dalam film tadi.
Sekedar iseng bila kita buatkan profiling "skandal" ini maka.
1. Panama adalah negara terkenal dengan bisnis taxes heaven, surganya pengemplang pajak. Mereka banyak memiliki perusahaan sejenis Fonseca yang spesialis mengurus akun-akun antar negara.
1.1 Bagaimana mereka melakukannya, ya karena sistem pemerintahannya yang neo-patriomornial dimana melalui sedikit modifikasi setelah tumbangnya Noriega oleh operasi Just Case-nya George Senior Bush. Negeri ini otomatis telah menjadi apa yang disebut dengan A Democratic Rentier State. Yaitu sebuah negara yang sebagian besar penghasilannya diperoleh dari usaha jual beli jasa bunga dan pajak di bawah bayang-bayang sistem keuangan US.
1.2 Panama adalah tempat menarik untuk transaksi seperti ini karena keberadaan terusan yang menghubungkan jalur barang dan transportasi komoditi offshore trans Atlantik dan Pasifik.
2. Kebocoran ini juga punya modus operandi yang mirip dengan peristiwa Wikileaks dll-nya yaitu:
2.1 Satu kegiatan contra hukum (peretasan) tetapi berniat membongkar secara hukum (investigasi) atas kasus-kasus yang diungkap
2.2 Sifatnya yang seolah-olah dilakukan untuk membuka pengamatan umum dan reaksi sosial. (Mirip-mirip kasus Arab Springs gituh)
2.3 Menyerang sosok-sosok, kelompok, atau negara-negara tertentu. (biasanya yang gak seneng sama barat)
2.4 Belum tentu menjelaskan tetapi berdampak politik dan kemungkinan adanya kebohongan yang tidak dapat diverifikasi di dalamnya. Ini mirip mendengarkan laporan seseorang yang bilang bahwa dia melihat pocong di pengkolan kuburan.
Kesimpulan.
Jika menggunakan pendekatan teori permainan, maka ini ada dua persoalan yang mau dimajukan secara bersamaan; Pertama bahwa negara-negara maju (yang dicurigai sebagai pendorong dari munculnya peretasan ini) mengancan the so called kelompok banyak duit untuk lebih banyak menyetor pajak ke negara.
Kedua bagi negara berkembang, dampak yang paling mudah dilihat adalah efek politiknya daripada efek ekonominya. Karena sebentar lagi koran-koran seperti Tempo yang katanya menjadi media massa pertama yang mendapatkan data dari Koran jerman Selatan akan mengungkap nama-nama. Tentu saja akan lebih berat secara politik dan bukan alasan ujungnya adalah penerapan pengawasan pajak yang lebih luas.
Sementara sambil nungguin kira-kira mau ambil untung apa negara dengan isu ini, maka itu saiya mau baca-baca dulu tagihan Pajak Bumi Bangunan, pasal2 pajak pernghasilan pribadi, e-filling pajak online, sampai pajak kantong kresek ... Kok ya seperti mengarahkan Indonesia menjadi a new Rentier State, negara rentenir baru.
Bedanya cuma kalau di Panama yang dicari adalah pengemplang pajak external dari luar negarinya, tetapi di Indonesia kayaknya mau diambilin dari ra'jat sorangan.
Ya emang belakangan kita kok semakin banyak saja yang dipajakin.

0 comments:

Post a Comment