Saturday, June 4, 2016

Tuan Long dan Petasan

Saiya bertemu Tuan Long yang sedang mengantar putra satu-satunya les. Bersama istrinya yang tidak dapat berbahasa Indonesia tetapi selalu menimbrung pembicaraan. Ia mengatakan senang sekali bertemu kembali setelah sekian lama tidak bersua. Ya, memang unik menemukan pasangan dimana si suami menjadi penerjemah dari istrinya meski si istri sebenarnya tidak pula terlalu ingin mencampuri urusan suaminya
Ia dulu konselor bidang politik dan investasi di kedutaan, dimana saiya mengenalnya karena beberapa kali pada masa itu mendapatkan undangan dari beberapa think-tank di Cina daratan untuk mempersiapkan draft negara berkembang terkait negosiasi pembangunan pasca 2015. Mereka bukan baru menikah, hanya saja anaknya itu lahir setelah usia mereka melepas 50 tahun.
Tuan Long berbicara fasih bahasa Indonesia, yang dipelajarinya di sekolah diplomat di Beijing dulu. Menjelang runtuhnya rezim orde baru, ia dikirim untuk mempelajari arah Indonesia dan peluang-peluang bisnis yang dapat dikembangkan di sini.
"Bapak boleh menerangkan kepada saiya, mengapa mega proyek Indonesia-Cina yang sudah diresmikan presiden Jokowi, tidak dilanjutkan...?"
Ia tersenyum dan mengatakan bahwa sudah hampir lima belas tahun ia mengundurkan diri dari kerja sebagai pegawai pemerintah dan memilih bisnis. Menurutnya Indonesia akan maju dan bekerja rutin sebagai pegawai Cina yang hanya diperbolehkan satu suara, tidak lagi cocok baginya.
"Buat kami, orang Cina, ini akan menjadi hal yang kurang baik. Sebab di Cina, bila pemimpin sudah mencanangkan suatu proyek maka seluruh usaha diarahkan ke sana. Tetapi dalam kasus kereta cepat ini, benar-benar membuat banyak investor Cina berpikir-pikir untuk investasi di Indonesia." Ia melanjutkan.
"Ya, banyak faktor, tetapi perlu penelitian untuk membuat pernyataan yang terukur ya. " Saiya menjawab dan ia manggut-manggut.
"Nah soal terukur dan penelitian tadi, memang banyak pemain Cina yang mudah percaya kepada proposal-proposal tentang Indonesia." Tuan Long menyela.
"Maksud saya, banyak orang Cina menghubungi orang keturunan Cina di Indonesia untuk menjadi kepanjangan tangan mereka di Indonesia. Tetapi orang keturunan ini banyak juga menipu pengusaha Cina."
"Ya, itu dimungkinkan ya. Siapa bisa menipu siapa, karena dalam bisnis selalu saja ada orang seperti itu." Kata saiya
"Jika Bapak berkenan...bolehkah kita bertemu untuk membantu saya menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan investor-investor Cina."
"Pertanyaan mereka itu tentang hubungan orang Cina keturunan di Indonesia dengan pejabat-pejabat militer yang katanya memback-up mereka." Wajahnya berubah menjadi sedikit serius.
"Ada perusahaan petasan Cina, yang meminta saiya mempelajari hubungan ini. Mereka tahun lalu tertipu lebih dari 1 juta US Dollar oleh rekanan yang menjamin bahwa bisnis petasan di Indonesia akan aman bila menggandeng mitra pensiunan militer."
"Ya, itu benar sekali." Tuan Long menerangkan lebih lanjut karena dianggapnya saiya berpikiran bagaimana mungkin bisnis petasan di Indonesia bisa sampai 1,5 trilyun rupiah dari satu kali pengiriman barang.
"Si pebisnis ini, heran karena setiap rekan yang mau menjadi mitra di Indonesia selalu mengatakan mereka di-back-up orang militer."
"Padahal ketika mereka hubungi orang militer ini, si orang militer malah bertanya kemana si orang Cina keturunan itu menghilang. Jadi baik orang militer maupun pengusaha petasan cina ini kena tipu dua-duanya. Ha ha ha. Tetapi ya itu tadi ya, tetap saja alasan kerjasama bisnis diback-up militer itu tetap terdengar hebat buat orang Cina Mainland"

0 comments:

Post a Comment