Thursday, November 24, 2016

HALUAN POLITIK PARA CUKONG SESUDAH AKSI JUMAT PON

Pak Wi dengan Om Bas itu satu paket politik. Dan sejak Om Bas menjadi suksesor Pak Wi di kereta ibukota pada 2014 silam, hanya soal conditioning saja ia bisa menjadi suksesor Pak Wi di kereta nasional. Namun, seperti kata-kata yang sering dikutip Mukidi, para cukong memang hanya bisa merencanakan, tapi Tuhan-lah yang menentukan. Mulut Om Bas, yang sebelumnya selalu berhasil mengigit lawan-lawan politiknya, kemudian malah mengunyah dirinya sendiri.
Muncul force majeur: aksi jutaan orang pada Jumat Pon lalu secara jelas menunjukkan jika Om Bas sedang menghadapi resistensi yang serius, bukan hanya di ibukota, tapi bahkan secara nasional. Posisinya sebagai suksesor sudah habis, atau paling tidak sedang dalam persoalan besar. Jangankan melanjutkan karir di kereta nasional, ia bahkan di ambang gagal meneruskan kekuasaannya di kereta ibukota.
Menghadapi situasi itu, jelas sangat berisiko bagi penumpang kelas satu di gerbong kepentingan yang berada di belakang Om Bas dan Pak Wi untuk bermain dalam skenario optimis. Mereka harus cari alternatif. Pertanyaannya kemudian: jika bukan Om Bas, lalu pada siapa mereka kemudian bisa menitipkan kepentingan?!
Pada saat bersamaan, dua tahun kinerja pemerintahan Pak Wi juga jauh dari kinclong dan stabil. Ini jelas kian merisaukan gerbong kelas satu tadi. Dengan kinerjanya yang paspasan itu, jangankan melanjutkan kekuasaan, untuk sekadar bertahan tanpa goncangan saja sepertinya sulit. Dan itu jelas tidak menggembirakan penumpang-penumpang necis tersebut. Mereka terpaksa bukan hanya harus segera mencari masinis baru bagi kereta ibukota, tapi juga memikirkan opsi lain terkait masinis kereta nasional seandainya Pak Wi tak bisa meneruskan perjalanan ke rute berikutnya.
Inilah yang membuat kenapa gonjang-ganjing ihwal Om Bas membuat Pak Wi juga jadi kalang kabut. Kalau Om Bas tergusur, posisinya akan makin ringkih. Satu-satunya hal yang harus dilakukannya adalah memastikan bahwa jikapun Om Bas tak bisa diselamatkan, paling tidak ia bisa selamat hingga stasiun tujuan.
Kembali ke pertanyaan tadi: jika bukan Om Bas, lalu siapa?
Banyak dari kita mungkin lupa bahwa penumpang kelas satu dalam gerbong tadi adalah penumpang yang sama yang sebelumnya selama sepuluh tahun mereka telah bepergian dengan dilayani oleh Pak Be. Mereka tentu telah kenal baik Pak Be. Dan ketika kini anak Pak Be juga merintis karir jadi masinis, tentu saja ia bisa jadi masinis alternatif. Dalam konteks inilah Pak Wi terlihat begitu sengit pada Pak Be, yang membuatnya sampai curhat ke Pak Wo.
Pak Be jelas bukan tipikal orang ugal-ugalan yang akan merebut kursi masinis dari orang lain. Meski bodinya Rambo, hatinya adalah Rinto. Sehingga isu penggantian masinis pada dasarnya hanya merupakan bentuk psy war saja dari Pak Wi agar Pak Be tidak terlalu agresif merebut penumpang di gerbongnya. Kalaupun ada penumpang gerbong kelas satu yang pindah, ya, jangan semuanyalah. Rejeki karcis harus dibagi-bagi, jangan dikuasai sendiri.
Masalahnya, Pak Be bukan satu-satunya pihak yang bisa mengambil hati penumpang gerbong kelas satunya Pak Wi!
Sebelumnya begini, baik Pak Wi maupun Om Bas, keduanya adalah masinis dari kalangan sipil. Gonjang-ganjing yang yang terjadi dalam dua tahun terakhir bisa menghidupkan kesan lama mengenai lemahnya leadership masinis dari kalangan sipil. Di situlah anak Pak Be yang berasal dari kalangan opas jadi punya nilai lebih sebagai calon alternatif menggantikan Om Bas di mata penumpang gerbong kelas satunya Pak Wi. Meskipun pangkatnya sebagai opas tidak tinggi, namun dia dimentori oleh bapaknya, bekas masinis dengan jam terbang sepuluh tahun, sekaligus bekas opas bintang empat.
Situasi itu juga menguntungkan posisi Pak Tot, komandan opas baju loreng saat ini, yang sejak naik jadi komandan opas sebenarnya telah rajin menjahit pendukung. Apalagi aksi Jumat Pon ternyata malah melentingkan namanya. Para penumpang yang mudah galauan segera menilainya pantas untuk jadi masinis. Inilah yang telah membuat Pak Wi makin tidak nyaman dan merasa perlu untuk turun pada kesatuan-kesatuan opas dalam sepurnya, untuk menunjukkan jika dalam sepurnya itu dialah penguasa tertinggi. Tahun depan ia mungkin akan memilih kepala opas baru, sesudah riak aksi Jumat Pon mereda. Mukidi bahkan sudah pasang taruhan dengan teman-temannya terkait hal ini 😂
Oya, kini Anda jadi tahu juga kan kenapa isu ikan bakar, eh, isu pergantian masinis hanya disuarakan oleh opas baju coklat, dan bukan opas baju loreng?! He he he. Begitulah.
Jadi, isu pergantian masinis itu hanya perang urat saraf saja. Bedanya, sebelum aksi Jumat Pon, psy war itu digunakan searah untuk menyerang Pak Be, sekaligus mendelegitimasi aksi moral yang bakal menggerus kredibilitas Om Bas itu. Namun, sesudah aksi Jumat Pon, yang ternyata mengail simpati jutaan orang, psy war itu jadi bola liar yang kini bahkan berbalik ke arah Pak Wi sendiri.
Ringkasnya, di balik isu gonta-ganti masinis ini sebenarnya hanyalah soal rebutan cari perhatian di depan penumpang gerbong kelas satu saja. Mereka adalah plutokrat yang sanggup menentukan siapa yang akan jadi masinis dari kereta yang kini melaju tersendat-sendat ini. Dan mereka kini memang sedang mencari aktor, eh, masinis baru.
Tentu saja mereka tak akan melabuhkan kereta ibukota ke tangan Kak Nies dan Kak Ndi, karena di belakang mereka ada Pak Wo, tokoh yang sejak lama telah mereka anggap sebagai musuh.
Para penumpang yang galauan akan mudah terpesona pada Pak Tot dan anak Pak Be. Tapi para penumpang yang teguh dan jernih pastilah tahu siapa yang sebenarnya pantas dititipi harapan di tengah konfigurasi aktor semacam itu.

0 comments:

Post a Comment