Sunday, December 25, 2016

Hmi, shalat jum'at, Moet dan Logo -Ir Ahmad Noeman dan Dakwah ke Kaum Urbanist



Kira-kira awal tahun 2000, saiya dan Tuan Madroji mendatangi Ir. Ahmad Noeman di studio Birano yang didirikannya di jalan Ganesha 5/7. Satu lantunan musik dari radio jazz KLCBS 100.55 yang dibangunnya sebagai media dakwah Islam urban menemani kami di ruang tunggu.
KLCBS dengan narasumber Prof. Sakib Machmud yang juga salah satu konseptor ideologi bagi organisasi Hmi. Sampai sekarang KLCBS masih menjadi barometer radio jazz di Indonesia dengan pilihan musik dan tema obrolan yang ringan tapi berbobot. Lewat kombinasi musik dan dakwah Islam dengan sisipan pesan-pesan moral dan nilai-nilai universal, ia bisa bertahan lama di ceruk yang radio musik yang kecil itu.
0.1
Hari itu adalah hari Jum'at. Seperti biasa dosen luar biasa arsitektur dan desain kayu ini menyempatkan diri melaksanakan shalat jum'atan di masjid Salman ITB. Tepat jam 11.00 siang Ir. Ahmad Noeman akan berangkat dan memilih duduk di bagian-bagian tengah saja. Selesai shalat tentu ia akan melihat-lihat buku-buku yang dijual di kios-kios buku sepanjang masjid lalu kembali ke studio rancang arsitektur dan interior miliknya.
Pada kebiasaan tadi saiya tentu hafal, karena dua semester dia mengajar gambar kerja dan desain furniture untuk kelas interior di ITB. Setiap kamis pagi 15 menit menjelang jam 07.00 tepat ia sudah berdiri di muka kelas. Berbincang-bincang ringan dengan mahasiswa yang sudah datang. Semua topik dengan bahasa yang ringan-ringan dan cenderung menghindari keseriusan.
Tepat jam menunjukkan pukul 07.00 ia akan masuk kelas, mengatakan dengan hormat di depan bahwa hari ini ia akan berbagi ilmu.
"Karena harta yang dibagi akan menjadi habis, sementara ilmu yang dibagi akan bertambah-tambah banyaknya."
Bila diantara kami ada yang terlambat masuk ia akan mempersilahkan masuk dan tersenyum ramah sambil berkata.
"Dosen saiya dulu Prof. Schoemaker, orang Belanda. Bila dilihatnya ada mahasiswa yang terlambat maka ia akan berkata: Eeh Tuan Badu, saiya iri sekali dengan tuan karena tuan bisa menyelesaikan tidur tuan dengan baik sekali." Ir. Noeman berkata terkekeh-kekeh.
0.2
Pertemuan itu adalah untuk satu keperluan mendokumentasikan sejarah Hmi. Ir. Ahmad Noeman adalah adik kandung dari an outstanding Indonesian artis, Prof. Ahmad Sadali. Ketika masih mahasiswa keduanya adalah adalah tokoh-tokoh pergerakan Hmi Jawa Barat. Ahmad Sadali yang dikenal sebagai ustad yang seniman, adalah tokoh sentral perlawanan mahasiswa Islam terhadap anasir PKI di kampus-kampus di Jawa Barat.
"Dulu kalau mau shalat Jum'at saja anak-anak muslim harus jalan jauh. Kadang suka diledek di kampus sebagai kaum minderwardigheit, orang sarungan, tradisional dan kuno."
Bukan hanya sayap PKI menyerang ulama, mereka pun melarang praktik-praktik keagamaan di dalam kampus.
"Masjid Salman itu dulunya tanah rumput, dan beberapa rumah dengan gang-gang tempat masyarakat Taman Sari bawah memberi makan kambing-kambingnya."
"Lalu kami melakukan beberapa kali shalat Jum'at di sana, dengan menyebarkan pamflet di dalam kampus berupa ajakan shalat berjamaah." Setiap minggu jumlah mahasiswa yang ikut mulai bertambah banyak dan ini rupanya cukup merisaukan PKI.
Awalnya tidak mudah, karena mahasiswa dan dosen yang ke-kiri-kirian mulai menggunakan rektorat untuk melarang kegiatan tadi.
Sadali lanjut Ir. Ahmad Noeman, mendekati Jendral Ibrahim Aji dari Detasemen Siliwangi untuk membacking proyek pembangunan masjid permanen dengan diam-diam. Caranya pertama-tama tanah lapang tersebut di pasang patok dan diberi tali pembatas dengan tulisan: "Di sini akan dibangun pertanian jagung percontohan." agar tidak terlalu dicurigai anak-anak kiri.
"TIdak lama setelah bangunan awal disusun, maka proyek pembangunan masjid pun dilaksanakan dengan segera. Sumbangan 1000 sak semen harus saiya pikirkan baik-baik agar cukup untuk membuat satu masjid besar yang dapat menampung jamaah shalat jum'at." Ia lalu menerangkan mengapa masjid Salman tidak memiliki kubah, yang salah satu alasannya adalah menghemat bahan dan waktu pengerjaan.
Demi tidak diganggu lagi oleh mahasiswa onderbouw komunis maka anak-anak Hmi dengan lihai membajak Soekarno yang tengah berkunjung ke ITB untuk meresmikan masjid baru tadi. Alhamdulilah Soekarno dengan senang hati memberikan ceramah dan menghibahkan nama bagi masjid baru tadi. Soekarno memberinya nama masjid Salman, satu dari pengikut setia Nabi Muhammad keturunan parsi (Iran).
Setelah resmi masjid tadi didatangi Soekarno, Ir. Ahmad Noeman mengatakan tidak ada lagi serangan-serangan kepada anak-anak Hmi. Bahkan kemudian Ir. Ahmad Sadali menjadikan Salman sebagai pusat pemikiran pembaharuan Islam kota. Dengan layanan-layanan sosial, pendidikan, konsultasi, ekonomi, dan penerjemahan serta penerbitan buku-buku Islam. Dr. Imaddudin Abdurrahim, Ir. Adi Sasono, adalah beberapa sosok pemikir baru Islam yang lahir dari khalakah (perkumpulan) Salman.
0.3
Ir. Ahmad Noeman tertawa kecil menceritakan kisah tadi. Ia kemudian masuk ke dalam, dan kemudian keluar membawa satu kertas buram dengan gambar yang cukup mengejutkan.
"Ini desain moet/baret dan logo Hmi..." Ia berkata sambil memasang kacamata.
"Kami membuat ini karena, kami sebagai anak Hmi iri dengan anak-anak GMNI, PMB -Perhimpunan Mahasiswa Bandung- atau anak-anak himpunan mahasiswa lainnya. Bila mereka berjalan di tengah kampus dengan seragam, topi baret tadi serasa gagah dan necis betul. ha ha ha. Kenapa Hmi tidak punya baret dan logo?"
Ia menceritakan kisah-kisah dibalik desan tadi, yang salah satunya agak heran juga mendengar kabar bahwa logo Hmi yang mereka desain kelak dikemudian hari memiliki tafsir-tafsir yang dibakukan di kalangan Hmi.
Ia bercerita jika sewaktu mendesain sama sekali tidak ada maksud-maksud tadi. Mendesain saja agar pantas dan bagus.
"Soal nanti ada ilmu gatuk-gatukan, misal jumlah sudut itu maksudnya iman, islam, ikhsan itu mungkin dipas-paskan saja dengan logo."
Begitu pula dengan bentuk moet yang mirip kupluk orang sunda sama sekali berbeda dengan moet Hmi yang hari ini lebih mirip kopiah atau songkok. Kupluk tadi memiliki dua sisi dengan masing-masing berwarna hijau dan hitam. Apabila dikenakan maka bagian atas kupluk akan jatuh ke samping seperti hiasan pada baret dan sepertinya cukup elegan.
0.4
Ya, terlepas dari penafsiran di masa sekarang, tetapi inilah yang bisa dituliskan dari sebuah catatan kecil yang saiya ditemukan tadi di antara arsip-arsip lama. Heran juga saiya bahwa gambaran tangan Ir. Ahmad Noeman tadi ada saiya temukan di antara berkas-berkas kelengkapan surat kelakuan baik untuk persyaratan saiya melamar menjadi sipir rutan-penjara.
Tentu saja ini mengherankan, tetapi sudah dijelaskan dalam buku wejangan hikmah dan kebaikan; bahwa tentang jalan sejarah dan penghidupan, kita tidak bisa menebaknya dengan tepat dan akurat.

0 comments:

Post a Comment