Sunday, December 25, 2016

Logika massa aksi - contoh kasus aksi 411 dan 212

Yang perlu kita fahami tentang massa aksi adalah bahwa ia berbicara dengan logika seperti pada umumnya.
Pada kasus penisataan agama oleh Ahok yang direspon publik dengan aksi populis 411 dan kemudian 212 (4 November dan 2 Desember 2016) maka kita katakan bahwa massa aksi umat Islam bergerak secara intensional (disengaja) ketimbang emosional seperti dituduhkan kebanyakan orang emosional.
Apa yang dimaksud dengan intensional atau disengaja adalah bahwa reaksi tadi tidaklah muncul tanpa pikiran-pikiran rasional yang logis.
Bila kita ambil teori konflik tentang call for action/panggilan kepada mobilisasi aksi maka yang disebut aksi publik ini sebenarnya reaksi logis dari hal-hal yang berkenan atau tidak berkenan yang diterimanya. Pernyataan Ahok di kepulauan seribu misalnya memang merupakan satu pernyataan yang disengaja dikeluarkan (by intention) untuk menyerang secara politik persepsi seorang atau sekelompok Islam.
Pertama bahwa ia sengaja diucapkannya dan bukan sesuatu yang tidak serta-merta muncul sebagai sebuah gagasan tanpa latar belakang. Jauh sebelumnya Ahok pernah mengatakan hal yang mirip dan ini perulangan ini memang disengaja sebagai satu bagian dari tema-tema kampanye yang barangkali disusun oleh konsultan politiknya.
Kedua, bahwa rangkaian serangan Ahok atas keyakinan umat Islam ini pun kemudian direproduksi melalui video yang dikeluarkan secara resmi oleh birokrasi pemkot DKI, tentu saja dengan kesengajaan. Tidak ada satu pun pihak di sana yang berkeberatan untuk menayangkan video tadi.
Ketiga, adanya kesadaran publik bahwa politik di Indonesia (dan juga dunia sih) selalu akan melibatkan apa yang disebut politik aliran. Termasuk untuk jangan menyinggung isu-isu SARA, suku, agama, ras/etnis, kelas, dan golongan kecuali akan mendapatkan reaksi baliknya. Sejak masa sebelum maupun sesudah kemerdekaan 1945, Islam dan simbol-simbolnya sudah menjadi alat perlawanan politik anti-kolonial. Hal ini pula yang secara sengaja memang dimanfaakan lewat kampanye-kampanye 'islam yes-politik islam no', atau 'jangan politisasi agama'. Yang tentu saja saran-saran seperti ini pun dasarnya adalah kepentingan politik juga.
Keempat, bahwa dalam call for action kepada publik, mesti berkaitan dengan banyak faktor-faktor rasional lainnya. Misalnya selain penistaan agama, ada juga penistaan hak ekonomi, hak politik, hak hidup di kota Jakarta, dan hak-hak lainnya. Begitu juga dengan adanya kewajiban, misal kewajiban sebagai umat islam, umat beragama, atau sebagai solidaritas umat manusia. Semua faktor ini mesti berjalan dengan logika pada umumnya.
Termasuk kemudian panggilan aksi susulannya seperti boikot makan Sari Roti, tidak menonton Metro tipi atau menarik tabungan dari BCA karena si pemilik dianggap meremehkan aksi massa Islam. Ini pun akan berjalan dengan logikanya. Meskipun ada tudingan hal-hal seperti ini sebagai sesuatu ajakan aksi yang emosional, pada kenyataannya ini dapat diukur dan logis. Misalnya tadi malam di seputar Matraman, ada saiya berbicara dengan pengantar barang mini market waralaba yang mengatakan SR lepas usulan boikot terpukul kuat sekali di hampir semua cabang penjualan.
Apabila kita mendengar tudingan kepada umat Islam peserta aksi 411 dan kemudian 212 yang dihadiri lebih dari 7 juta orang sebagai aksi kelompok emosional, korban miskin informasi, gagal move-on, gagal mencek-re-cek, atau korban permainan orang sama sekali tidak dapat diterima logika sederhana paling tolol sekalipun.

0 comments:

Post a Comment