Sunday, December 25, 2016

Long March Penaklukan Makkah

Yang jarang dikaji orang dalam kisah long march Muhammad dalam penaklukan Makkah (Futuh Makkah) adalah bahwa ia bukanlah sebuah unjuk kekuatan kaum muslim kepada oligarki Quraisy yang menguasai Mekkah, tetapi perjalanan tersebut merupakan posesi religius bagaimana manusia menundukkan amarah.
Adalah Ibnu Arabi dalam tafsir-tafsir sufistik Pembukaan Mekkah (futuhat al Makiyah) yang menggambarkan perjalanan ke Mekkah sebagai perang manusia menundukkan amarah.
Tidak ada satu pun darah yang ditumpahkan Muhammad dalam penaklukan Mekkah. Bahwa benar telah terjadi satu kekecewaan yang digerakkan oleh dorongan alamiah kemarahan (amarah) setelah menempuh ujian-ujian perjalanan menuju Mekkah, tetaplah tinggal sebagai sesuatu yang terbenam (ghaizd). Ia tidak pernah keluar sebagai sesuatu yang terlampiaskan (ghadab).
Pada bani Sulaim yang ditemuinya di ujung kota Madinah, ia mengajarkan untuk menahan pedang-pedang dari menyakiti musuh yang telah menyerah.
Menjelang senja di desa tua Yaztrib di hadapan khabalah bani Qathafa ia melarang pasukannya membunuh orang tua, anak-anak dan perempuan.
"...dan cegahlah tanganmu dari menyakiti orang-orang shaleh yang membunyikan kidung pujian dibihara-bihara dan gereja-gereja."
Rombongan bergerak dalam malam dingin udara Hijaz, tidak ada kata-kata cacia, hujatan, fitnah kebencian kecuali kalimat tasbih, takbir, tahlil, tahmid, dan istigfar. Sampai bertemu mereka dengan pemilik ladang dari bani Muzain yang bertanya apakah ia akan dibunuh dan harta benda miliknya akan dirampas.
"...tahan tanganmu dari merusak tumbuhan, menghancurkan ladang-ladang, dan membunuh hewan tanpa alasan.".
Pasukan bergerak dalam deraan penderitaan panas gurun hijaz. Kesusahan hidup dan kesenangan dibatasi oleh waktu yang fana, kematian hanya sehitungan tarikan nafas saja. Maka ketika pasukan dengan zirah yang dibunyikan canting tasbih, takbir, tahll, tahmid dan istigfar itu memasuki gapura Marr Zahran ditepi kota Mekkah. Peperangan telah diselesaikan.
"Apakah yang akan engkau harapkan aku lakukan kepadamu?" Ia berkata kepada rombongan besar pasukan Quraisy yang menyerah.
"...adat kami adalah kematian bagi para pengkhiatan, dengan begitu engkau mengembalikan kehormatan kami wahai Muhammad."
"Kehormatan manusia adalah ketika ia tercegah dari amarah yang terlampiaskan."
Maka pasukan muslim pada hari itu menyaksikan satu persatu pasukan quraisy mengucapkan syahadah. Pasukan yang semasa lalu adalah orang yang akan membunuh mereka kini menjadi saudara.
Muhammad tersungkur ke tanah di bawah kaki Qashwa, unta tua yang lemah yang telah membawanya kembali dari perjalanan hijrah 13 tahun lalu untuk kembali ke Mekkah.
"Bila datang padamu pertolongan dari Tuhanmu."
"dan di hari itu engkau Muhammad menyaksikan manusia dari segala penjuru datang berbondong-bondong kepada kemuliaan addin."
"Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mintalah Ampunannya. Sesungguhnya ia adalah Tuhan yang Maha pemaaf."
Apabila hakikat telah menyeru dalam hati, Ibn Arabi melanjutkan dalam catatan, ketika ia tafakur pada tanah Mekkah yang berdebu maka dunia ini hanyalah sebuah pentas bagi pengembara dan satu jembatan yang harus dijalani. Seandainya manusia tidak menghiasinya dengan sifat-sifat dan kemuliaan yang terhalangi kebencian dan kemarahan maka tiadalah akan terbuka jalan baginya menemukan kebahagian yang hakiki.
(Ilmu dan Perjalanan: Futuhat al Makiyah)

0 comments:

Post a Comment