Sunday, December 25, 2016

Menghancurkan stigma buruk Aksi Umat Islam

Aksi Damai umat Islam 2 1 2 membuktikan jika mitigasi pemeritnah sebelumnya dengan cara memecah belah arus massa aksi dengan melakukan kanalisasi terbukti gagal.
Pembelahan massa aksi dengan kelompok sebutan kelompok Islam garis keras, islam wahabi, islam anti demokrasi, dan islam radikal dengan anti thesisnya Islam bhineka, islam nusantara, islam NU, atau islam tradisis tetap saja gagal menjawab logika massa aksi.
Habieb Ridzieq, pimpinan FPI yang selama ini diframe media sebagai sosok mirip onta, kearab-araban, bodoh, bebal, kasar, anti dialog, ternyata harus diakui dalam aksi kemarin adalah sosok sentral yang membawa catatan sejarah penting. Bahwa ia telah memimpin gerakan moral jutaan massa umat islam yang turun ke jalan dari berbagai provinsi, berbagai tingkatan ekonomi, berbagai pondok pesantren kampung sampai kota.
Bahkan aksi yang begitu rapi, indah, dan damai tadi menarik pula simpati dari puluhan yayasan-yayasan Katolik, Budha, Konghuchu dst. Dimana sebagian besar kita benar-benar kagum bahwa aksi 2 Desember lalu adalah satu atraksi massa yang terkoordinasi, terorganisasi dan tentu saja membengkokkan berbagai kenyinyiran, konspirasi-konspirasi, dan kusumat lainnya.
Semua stigmasi buruk atas dirinya dan umat islam pada umumnya benar-benar berantakan. Terbukti bahwa justru umat Islam-lah yang benar-benar dapat menunjukkan dan mendapatkan dukungan luas bahwa segala sesuatu harus dihadirkan dalam konteks hukum, berwarganegara yang benar.
Sekarang giliran, pemerintah dan aparatur kekuasaannya untuk menunjukkan rasa keadilan yang dimintakan umat islam atas penistaan agama yang dilakukan Basuki Ahok. Jika tidak, maka aksi massa umat akan bergerak menjadi massa aksi rakyat.
Ini karena persoalan ke depan bukanlah lagi masalah penistaan agama namun penistaan hukum, penistaan rasa keadilan dan lebih buruk lagi yaitu penistaan akal sehat.

0 comments:

Post a Comment