Monday, December 26, 2016

Phobia Jum'atan

Di bawah Khomenei, shalat jum'at yang sebelumnya disarukan karena tekanan rejim Pahlevi mulai diwajibkan bagi orang Iran yang mayoritas Syiah.
Masjid-masjid dan karpet-karpet digelar sampai ke jalan-jalan. Bazariah atau kaum pedagang didorongnya berpartisipasi untuk meramaikan jum;atan.
Apa yang dilakukannya bertujuan mengembalikan jum'atan sebagai sebuah praktik ibadah sosial Islam yang diajarkan Rasullulah.
Hanya di hari jum'at umat Islam diwajibkan menggunakan pakaian terbaiknya, memperindah diri, memanjakan tubuh dengan wangi-wangian, mengunjungi yang sakit, melaksanakan hajat-hajat sosial, berderma, dan menyampaikan maksud-maksud hatinya secara terbuka. Yang lebih penting, melalui jum'atan umat muslim menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah satu kesatuan yang indah.
Bila kita periksa di literatur sejarah, maka di masa pemerintahan rejim keluarga Yazid bin Muawiyahlah jum'atan menjadi satu kegiatan yang merisaukan penguasa. Kritik-kritik konstruktif terhadap ketidakadilan, ketimpangan hukum, yang dilakukan dalam majlis-majelis jumatan dilarang keras. Ulama-ulama diancam, aneka fatwa-fatwa bidah dikeluarkan. Termasuk yang sampai hari ini kita terapkan adalah fatwa "mustami/jamaah dilarang berkata-kata atau bertanya", adalah produk-produk fatwa pada masa itu.
Ketika Khomenei mengeluarkan kritik terhadap hiprokisme Barat yang melindungi Salman Rudise karena menghina tauladan umat Islam nabi Muhammad melalui buku The Satanic Verses melalui fatwa penistaan agama pun dikeluarkan pada hari Jum'at.
Bukan hanya Khomenei, Djalaludin Al Afghani, Hassan Al bana Mesir, Mochtar Omar Libya, para musafir dan tokoh perlawanan modern anti kolonial menggunakan kharamah hari Jumat sebagai waktu terbaik menyampaikan maksud dan tujuan-tujuan.
Belakangan, gejala ngeri-ngeri sedap tadi muncul lagi. Rupanya ada saja orang yang merasa jengah dan risau dengan keinginan ribuan orang melakukan shalat jum'at di jalan. Sampai perlunya menuduh makar, menyebarkan ancaman selebaran via helikopter, mengancam pencabutan izin trayek bus yang akan membawa jamaah melakukan jumatan bareng. Lucunya lagi mereka yang mengatakan jum'atan di jalan mengganggu lalu lintas. Seolah-olah persoalan lalu lintas, macet, semrawut di Jakarta adalah shalat jum'at. Ha ha ha ha ha

0 comments:

Post a Comment