Monday, December 26, 2016

Policy dan Reasoning - Dari Konflik Suriah ke Duwit Baru

Ada dua hal yang perlu dikumpulkan dalam mengamati persoalan diplomasi politik internasional dan tentu juga dapat diaplikasikan bagi hal-hal lainnya. Misal kita perlu membedakan apa yang disebut dengan reasoning (penalaran) dan argument (pendalihan).
Reasoning adalah penalaran yang tujuannya mencari gagasan utama dari mengapa satu pernyataan atau tindakan (policy) dilakukan oleh subjek sendiri. Sementara pendalihan sendiri lebih kepada upaya penguatan agar nalar tadi dapat diterima pihak lain. Mengingat dalam politik diplomasi selalu hal-hal yang dipaparkan dibuat berputar-putar namun tetap saja pesan intinya hanya satu.
1. Pada kasus Dewan Keamanan PBB mempertegas resolusi pasca jatuhnya benteng terakhir milisi anti-Assad di kota Allepo dengan mengeluarkan resolusi "utusan untuk Allepo bagi misi kemanusiaan" yang disusun Prancis.
Alasan dari DK PBB yang digunakan di sini adalah utusan dan misi kemanusiaan bagi Aleppo. Namun reasoningnya hanya satu, bahwa mereka ingin mengadakan intervensi di lapangan dengan tujuan mencegah pasukan Arab Suriah menghabisi kartu terakhir diplomasi intervensionis yang dapat dimainkan Barat yaitu menyelamatkan proxy asisten, pemberontak moderat (moderate rebels), dan teroris ISIS/Alqaeda afiliasi yang ada di Aleppo atas nama misi melawan tragedi kemanusiaan.
Terlepas dari kalimat-kalimat selanjutnya seperti, telah terjadi ancaman kemanusiaan, tragedi bagi perempuan dan anak-anak, serta menyelamatkan 250 ribu sipil dari zona perang adalah hal-hal tidak terlalu penting. Mengingat misalnya alasan intervensi PNN ini tidak ada lagi relevansinya dengan kenyataan bahwa selama 6 tahun perang, PBB dan lembaga kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Internasional, dll.. sudah bekerja di sana jauh sebelum adanya resolusi ini.
2. Pertemuan marathon pembicaraan tentang Suriah yang digagas Iran, Rusia, dan kini Turki akan membahas hal-hal mengenai perpindahan kekuasaan dan lain-lain setelah kondisi terakhir dimana medan pertahanan oposisi terakhir yaitu kota Alepo direbut kembali oleh pasukan pemerintah Arab Suriah.
Reasoning dari pertemuan ini adalah menunjukkan jika Iran dan Rusia adalah pihak yang menang dalam perang proxy dan mereka dengan cepat menyusun dua langkah lebih dahulu menggalang pertemuan tripartit dengan melibatkan Turki yang juga punya kepentingan geopolitikekonomi. Yang artinya pihak-pihak seperti Kelompok Kurdi akan ikut dibicarakan dan kemungkinan dilibatkan pula sebagai penentu masa depan kawasan.
Pertemuan tripartit antar aktor-aktor penting dalam konflik adalah salah satu jalan bagi disusunnya items atau poin-poin yang akan dinegosiasikan bagi pertemuan lanjutan, Termasuk siapa yang mendapatkan konsensi pembangunan kembali infrastruktur, jalan, gedung, fasilitas publik, jaringan pipa gas, minyak.
Semua pertemuan tentang Suriah, seperti sebelumnya digagas AS, Prancis, Inggris, dan Saudi dengan "Friends of Syria" atau yang didorong Qatar, EUA, melalui "Koalisi untuk Syria" menjadi kehilangan relevansinya.
3. Soal polemik uang baru di RI itu sebetulnya negara sedang menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Soal desain yang mirip duit Yuan Tiongkok, desain yang buruk, atau gambar-gambar yang dianggap kontroversial kepahlawanannya hanyalah pendalihan saja.
Ya siap-siap saja merasa harga-harga barang naik, yang padahal itu karena nilai mata uang semakin lemah. Nalar kita merasa bahwa nilai mata uang semakin redup saja tetapi jangan sampai pula gelap mata.
*Herbstzeit im Hamburg mit my humble Kurdistan Special Outonomy presidential secretary Tawfiq Rahman, #2015#Diplomacy by Networking.

0 comments:

Post a Comment