Monday, December 26, 2016

Regionalisme Baru di Timur Tengah

Profesor Lenz melompat masuk ke postanostra sambil berkata cepat;
"Lantai lima, ruang kanan setelah keluar."
Postanostra yang ada Leibniz Institute lebih kecil dibandingkan dengan yang ada di Reichbank yang kini menjadi kantor kemenlu Jerman di Berlin. jadinya orang harus mengantri satu per satu untuk menggunakannya.
Ia adalah semacam lift di kantor-kantor modern masa kini, hanya saja berbeda dengan lift yang bekerja dengan cara ditarik turun-naik oleh semacam kabel sling besar, postanostra bergerak berputar seperti permainan korsel di pasar malam. Semacam rantai sepeda motor raksasa yang diolesi dengan gemuk berderak memutar kotak-kotak kayu seperti orang berzikir. Barangkali dari kemiripan itu lift peninggalan perang dunia kedua ini diberi nama Postanostra, tasbih pendeta.
Ambassador Wickendicht mengatakan bahwa ia tertarik bergabung dengan laboratorium timur tengah, dimana di sana akan dibahas konflik Suriah. Ada empat atau lima peneliti dari Leibniz, beberapa fellow researcher dari Jordania, Tunisia, Venezuela. Meksiko dan Profesor Lenz yang juga tertarik untuk ikut pembahasannya.
Seperti biasa moderator mengatakan bahwa untuk kopi dan kue-kue silahkan ambil sembarangan di sebelah meja besar. Ia mengatakan bahwa topik adalah semacam studi yang barangkali dapat menjadi rekomendasi untuk proposal resolusi konflik di Suriah yang baru tigaperempat tahun sebelumnya terjadi (2011). Ia kemudian mempersilahkan pemilik riset memaparkan gagasan dan temuan-temuannya melalui proyektor dan kertas-kertas catatan di meja. Selanjutnya pemapar lain menyampaikan temuannya dari riset-riset pembanding dimana dalam hal ini ia mengambil pembagian kekuasaan confessionalisme/Kemufakatan ala Lebanon.
Kurang lebih, peneliti memaparkan gagasan mengenai konfensionalisme atau pembagian kekuasaan politik di Suriah sebagai resolusi perdamaian. Ia mengatakan bahwa seperti halnya Lebanon yang membagi wilayah Presiden untuk kaum Kristen Manoret, Perdana Menteri dari Sunni, dan Ketua Parlemen dari golongan Syiah maka persaingan politik yang mengakibatkan perang sipil di Lebanon dapat diselesaikan.
Pada giliran sesi tanggapan, maka diskusi menjadi hangat. Saiya dan Nona Eboni dari Meksiko menolak pembagian-pembagian yang seperti itu. Selain tampak bahwa resolusi tadi membenarkan dugaan awal dari kebanyakan yang dipikirkan orang Suriah atas pernyataan Pemerintahnya; bahwa konflik sipil di Suriah yang kemudian melahirkan the so called Free Syrian Army, adalah proyek "devide et emperat" Barat dan sekutu timur tengahnya untuk melemahkan atau bahkan menjadikan Suriah sebagai negara pariah, negara gagal dan lemah.
Suriah adalah negara dengan tradisi percampuran yang sangat tua, dengan peradaban lebih dari 4000 tahun. Mereka membangun logika budaya toleransi di atas pandangan rasional, ini karena mereka dasarnya adalah masyarakat kanton atau pedagang. Secara logika, hal-hal yang berkaitan dengan persoalan etnis, sekte yang sekiranya tidak bermanfaat untuk dimunculkan dan menguntungkan tidak akan menjadi gagasan yang populis.
Kondisi ini yang kemudian membuat mereka membangun dasar rasionalitas di atas segalanya dalam hal keberagamaan dan keberagaman.
Kedua, setiap sekte, etnis, atau madzab sudah memiliki perwakilan di dewan militer Suriah. Militer Suriah adalah titik lebur atau melting poin dari kemajemukan masyarakatnya dan karenanya mereka bangga sebagai satu kesatuan sebagai pilar bagi Republik Arab Suriah.
Pembagian melalui model partisi yang digagas sejak awal oleh proposal negosiator Barat (AS, Prancis) dengan cepat ditolak kebanyakan masyarakat Suriah sendiri. Partisi dengan membagi wilayah utara bagi negara kurdi, di barat sebagai negara alawit, dan di selatan bagi negara sunni menjadi pembenaran bahwa proyek perang di Suriah adalah perang sipil yang kemudian menjadi perang proxy bagi kepentingan-kepentingan Barat dalam melemahkan Suriah.
"Ini tidak akan menjadi popular dan berhasil diterapkan di Suriah. yang paling mungkin terjadi seandainya konflik Suriah berakhir adalah; perluasan otonomi khusus dengan tetap di bawah payung Republik Arab Suriah."
Sampai setelah diskusi di bulan Agustus 2012 yang panas di Hamburg, kelompok kajian ini masih terus melakukan riset-riset dan laporan-laporan mengenai perkembangan di timur tengah dan khususnya Suriah.
Beberapa hal baru bermunculan dalam konflik Suriah yang bergerak dinamis dan sulit ditebak. Dulu ada kelompok FSA (tentara pembebasan Suriah), kemudian muncul the so called ISIL lalu ISIS dan kemudian faksi-faksi Al Qaeda. Selanjutnya muncul kelompok "moderate militants" yang disebut media massa barat dengan "freedom fighters".
Perang Suriah, secara tegas memang akan membentuk satu regionalisme baru yang lebih determinan di kawasan. Setelah direbut kembali Allepo oleh pasukan Arab Suriah maka secara simbolis kekuatan resistensi anti unitarianisme Barat yaitu Suriah-Lebanon Hezbollah dengan dukungan Rusia dan Iran menjadi pemain kunci yang menentukan arah timur tengah ke depan.

0 comments:

Post a Comment