Sunday, December 25, 2016

Saudi semakin Lemah dan Ongkos Naik Haji naik 2x lipat.

Belum lagi tiga tahun setelah Double Security policy yang dimainkan Arab Saudi lewat cara membanjiri pasar dengan harga murah untuk mendanai perang terornya sekarang sudah menunjukkan arah kebangkrutannya. Perusahaan raksasa minyak Aramco Saudi mau dijual karena merugi.
Meski mereka dulu pernah berkata bahwa Saudi kokoh dalam 5 tahun mendatang dalam permainan double sekuriti ini namun kita faham kejatuhan saudi ekonomi itu akan terjadi jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Dua tahun lalu kita sudah prediksi dalam mimpar status ini tentang Double Security Dilemma. Saudi mesti abruk ekonominya dengan memainkan kebijakan standar ganda keamanan melawan Iran, Rusia dengan membanjiri pasar dengan minyak murah.
Sekedar penyegaran, Double Security Dilemma adalah satu kebijakan yang dilakukan oleh sebuah negara dengan membelanjakan anggarannya untuk meningkatkan keamanan dalam negerinya dan memperkuat posisi militernya. Disebut dilemma karena setiap anggaran yang disuntikkan bagi pengembangan kekuatan militernya maka negara saingan/lawan akan melakukan hal yang sama. Akibatnya berlaku hukum dilemma; semakin banyak uang dikeluarkan untuk memperkuat keamanan maka sebenarnya ancaman keamanaan tidak semakin berkurang, melainkan ikut meningkat.
Sehingga membandingkan dengan apa yang dilakukan Saudi dengan membanjiri pasar minyak agar harga jatuh dengan harapan Iran, Rusia sebagai pesaing pasar minyaknya menjadi kehilangan pendapatan untuk belanja keamanan maka kita dapat menghitung arah kebangkrutan ini.
Pertama Saudi tidak seperti Iran dan Rusia -yang juga terpukul dengan politik minyak murah dunia- tidak memiliki sumber ekonomi lainnya. Arab Saudi hanya bergantung dari berkah minyak sementara Iran dan Rusia tidak menempatkan minyak sebagai sumber utama devisa mereka. Selain waktu itu kita katakan Iran, Rusia akan lebih mudah bertahan karena mereka sudah terbiasa melakukan alternate best solutiondengan mengembangkan produksi non migas dan swadaya dalam negeri akibat politik embargo dan sanksi.
Kedua, keamanan yang dikembangkan Saudi adalah offensif dengan membiayai perang di tempat-tempat lain dan bahkan mereka secara langsung terlibat perang terbuka dengan Yaman. Pendanaan keamanan dengan biaya dari cadangan duit negara sementara pemasukan dari minyak terus menurun ini yang kita prediksi akan masuk ke hitung-hitungan rasionalnya. Saudi, dengan belanja nomor 3 terbesar di dunia untuk arsenal perang akan gagal bertahan.
Ketiga, kenyataannya mereka pun kalah di front-front perangnya baik di Irak, Libya, Suriah dan yang lucunya meski hebat dalam persenjataan kini ada sepuluh kota perbatasan Saudi yang kini dikontrol milisi Houthi Yaman.
Sekarang mereka mesti bersiap menjadi negara paria, dan tentu saja ongkos haji naek 2x lipat

0 comments:

Post a Comment