Sunday, December 25, 2016

Sepanci Air Mata

Ahok nangis itu bukan karena penyesalan namun karena bandar besar sudah memastikan menutup akun dana dukungan.
Proses pengadilan yang cepat sekali digelar sebetulnya hanya mempercepat sahnya bendera putih sehingga tidak ada yang akan dipersalahkan bila bandar menarik dan mengalihkan investasinya.
Ini persoalan politik-ekonomi, yang dulu pernah kita bahas bahwa pilkada Jakarta merupakan proyeksi dari persaingan pilpres sebelumnya. Bila keliru menyusun siasat muslihat akan sampai ke tahap yang paling kritis seperti sekarang.
Tim kampanye Tim Ahok telah gagal mengukur target kampanye lewat isu politik aliran. Dipikirnya yang akan muncul sebagai saingan kuat adalah Yusril yang dekat dengan kelompok Islam totok, ternyata Yusril seperti kita tahu gagal maju.
Akibatnya serangan 'politisasi agama' yang sengaja digarap tim kerja Ahok untuk menghantamkan energi sektarian atas diri Yusril secara langsung menusuk jantung umat Islam dan berbalik sebagai satu kekuatan demonstratif 4 November dan 2 Desember yang fenomenal. Yang harus kita akui merupakan satu masa aksi yang luar biasa tertib, cerdas, dan matang yang menarik simpati jutaan masyarakat.
Kebanyakan pengamat atau komentator tidak berani menyimpulkan prediksi sampai ke titik kritis ini. Sebagian karena memiliki preferensi yang mengharuskan dirinya tetap dalam pendapatnya sendiri karena faktor-faktor emosional atau hitung-hitungan keuntungannya masing-masing. Atau karena reputasi yang dibuat-buat mengenai intelektualitas telah menjadikan mereka berpikir bahwa sebaliknya mengambil posisi aman saja dalam penilaian.
Inilah mengapa kita perlu sering makan acar ketimun. Rasa asam membuat jaringan syaraf otak lebih sensitif dalam mengenali fakta dan realitas.

0 comments:

Post a Comment