Sunday, December 25, 2016

Tentang Ketunggalan dan Kebhinekaan -Catatan serius pada beberapa isu penting terkait ke-apaan-.

Tidak dapat ditolak bahwa beberapa waktu ke belakang kita membahas dan mempersoalkan apa yang disebut dengan problematika dalam ketunggalan dan kebhinekaan (unitas dan multiplisitas). Satu topik dalam filsafat yang cukup penting dan menjadi kajian yang cukup hidup sampai hari ini.
1.0
Bila kita perhatikan latar dari persoalan ini di bumi Indonesia maka kita memperoleh kenyataan bahwa satu kelompok yang menuduh seseorang melakukan bentuk penistaan dinyatakan oleh pihak lain sebagai kelompok yang intoleran dan anti kebhinekaan. Pada saat yang bersamaan pula pihak tertuduh akan membalas dengan konsepsi yang sama; bahwa pelaku dan pendukungnya sama sekali tidak menghargai adanya kebhinekaan dan karenanya dengan mudah melakukan tindakan penistaan terhadap keyakinan dan perbedaan dari yang lainnya.
Secara konseptual apa yang disebut ketunggalan dan kejamakan, kesatuan dan kerangkapan, adalah persoalan definisi dengan karakter yang paling sederhananya adalah merupakan proses natural atau alamiah dari manusia untuk membedakan sesuatu (thing) dari sesuatu yang lainnya (other thing).
Proses membedakan ini bertujuan untuk mengenali sesuatu sebagai sesuatu yang berbeda dengan lainnya agar ia dapat diketahui oleh manusia. Ada dua hal yang dilakukan dalam proses pembedaan yang alamiah ini yaitu pertama manusia melakukan apa yang disebut dengan proses pengelompokan, dan kedua proses pemisahan.
Bila saiya ditanya siapakah si Andi Hakim, maka kita akan mengelompokkannya dalam kategorisasi makhluk hidup. Kemudian dalam kelompok lainnya lagi yaitu makhluk manusia, dan selanjutnya dalam kategori-kategori lainnya seperti, manusia-laki-laki-Asia-suku sunda-palembang-makassar, tinggal di Indonesia dan berambut hitam atau bergigi bolong.
Jadi dalam proses pembedaan yang alamiah tadi sebetulnya manusia secara lahiriah akan melakukan apa yang disebut dengan mencari kesamaan sekaligus perbedaan sebagai proses mengenali si -apa tadi.
2.0
Dalam dunia filsafat konsep ke-apaan, ke-siapaan ini mesti dibedakan melalui dua cara, yaitu menyebutnya secara keseluruhan (bi tamam al-dzat) atau menyebutkan pembeda dan pembandingnya (bi tamam al tardid).
Misalnya pada kambing, kerbau, sapi, dan babi akan terdalam persamaan secara keseluruhan (bi tamam al dzat) dengan cukup menyamakannya dari segi kebinatangannya. Namun pada saat menyebutkan pembeda antar hewan tadi maka akan terjadi parsialitas. Dimana ada kemungkinan lebih dari satu konsep dibutuhkan sebagai pembanding. Misal membedakan dari cara makannya, cari beranak, cara kawin, tempat tinggal atau hal-hal lainnya.
Jika proses ini diteruskan maka sebenarnya konseptualisasi tadi bergerak dari hal-hal yang umum atau common share kepada ekpresi-ekpsresi yang bersifat individuasi atau khusus.
3.0
Selanjutnya dari proses membeda-bedakan sesuatu yang satu dengan sesuatu lainnya tadi maka sebenarnya ada dua hal yang dicari sebagai sebuah keadaan oleh manusia. Pertama bahwa nyata segala sesuatu yang rupanya berbeda-beda tadi benar-benar "nyata", "eksis".
Kedua bahwa dari proses unitas atau mengumpulkan ciri-ciri pada sesuatu yang dilakukan secara keseluruhan (misal kambing, rusa, sapi adalah kebinatangan) maka sebenarnya manusia hanya menerima konsep kesatuan sebagai sesuatu secara individual. Bahwa pada diri sapi, rusa berlaku kesatuan kebinatangan, dan pada diri orang cina, orang sunda, orang jawa, orang batak terdapat kesatuan kemanusiaan pada diri mereka masing-masing.
Meski demikian pada saat yang bersama, ketika dalam unitas itu terdapat individu-individu yang kita katakan sekelompok maka akan terjadi proses multiplisitas, penggandaan, pemajemukan sebagai satu kolekfif tertentu. Misal satu orang sunda berlaku konsep individu namun pada banyak orang sunda akan terjadi proses penggandaan individu kepada aplikasi yang berbeda misalnya kita sebut saja etnis sunda. Kemudian etnis sunda tadi pun menjadi konsep yang bergradasi dengan misalnya sunda cianjur, etnis sunda parahyangan, sumedang larang, galuh, sunda kacirebonan, sunda kebantenan dan lain-lainnya.
Di sini kembali kita fahamkan jika keunivikasian atau ketunggalan dan kemultiplikasi atau kebhinekaan adalah satu konsep yang sederhana. Meski pada satu sisi ia sebuah konsep yang univocal atau semua dapat mengucapkannya dengan mudah namun bila diamati maka konsep-konsep yang kita maksudkan dengan ketunggalan dan kebhinekaan itu nyata-nyatanya juga membentuk satu proses konseptualisasi yang bergradasi meski dalam satu unitas yang seragam.
4.0
Bila kita kembalikan persoalan filsafat ini untuk melihat debat-kusir mana yang merasa lebih bhineka daripada si tunggal benar sendiri di media sosial dan media massa kita belakangan ini, maka kita sekedar mengingatkan bahwa persamaan dan perbedaan, keberagaman dan keseragaman yang kita lihat dan klaim atau konsepsikan sebagai milik kita itu sebenarnya tidak perlu diterangkan dan diperjelas kecuali bahwa itu adalah suatu proses alamiah terjadi pada setiap orang.
Tidak ada yang dapat mengklaim dirinya paling bhineka kecuali bahwa ia sebenarnya sedang menunggalkan /univikasi dirinya menjadi satu kelompok terisolir dengan kelompok besar lainnya. Setiap sesuatu akan menggunakan preferensinya sendiri untuk membedakan dirinya dengan yang lainnya. Namun ini tidak berarti bahwa anda yang berkulit putih akan lebih baik dari mereka yang berkulit hitam, atau yang berkulit putih lebih buruk dari yang berkulit kuning.
Perbandingan-perbandingan yang kita upayakan untuk membedakan keapaan kita dengan keapaan yang lainnya sebenarnya adalah satu aktivitas yang menunjukkan bahwa pada dasarnya kita bukanlah makhluk yang independent. Yang sejatinya adalah bahwa pada saat kita membutuhkan yang lainnya, misalnya untuk dibodoh-bodohi atau dicela-cela sebenarnya itu adalah dalam rangka meninggikan status atau menaikkan level kekitaan dari yang lainnya.
Yang terbaik tentu saling meninggikan keapaan kita dengan saling memuji dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya.

0 comments:

Post a Comment