Sunday, December 25, 2016

Tentang Nilai dari Pengetahuan

Bila sedikit waktu kita sisihkan untuk mengamati bahwa di dunia sosial media berlangsung perdebatan pro dan kontra maka kita akan menemukan ada pula kelompok di antara keduanya.
Kelompok yang di tengah ini adalah mereka yang barangkali karena ingin menyulitkan dirinya membaca banyak buku-buku filsafat dari Descartes, Roussall, dan Ricouer. Sayangnya karena gagal faham karena terjemahan yang kurang memadai atau edisi selanjutnya tidak terbit maka mereka menenggelamkan dirinya dalam kajian-kajian sufistik dengan membaca Mohadam Gandhi, Ibnu Arabi, Mulla Sadra, kitab keampuhan, inti jiwa, Stephan Covey, Mario Teguh, dan ESQ. Sampai pada akhirnya berakhir di karya-karya penuh motivasi dari Tung Desen Waringin.
Bila kita angkat apa yang membuat mereka pada posisi tersebut adalah kesulitan menentukan kriteria dari apa yang dikenali sebagai "kebenaran". Termasuk memahami realitas kebenaran dan kriteria2 apa yang disebut dengan kebenaran itu. Meski demikian bila kita perhatikan dengan seksama maka kesulitan tadi lebih sering muncul karena keraguan akibat hilangnya kepercayaan atas apa yang dihasilkan oleh pikiran mereka sendiri.
Pada kompleksitas berpikir yang skeptikal seperti ini maka mereka akhirnya menyimpulkan pada dirinya satu pilihan untuk mengucilkan diri dalam posisi netral. Sambil memandang pada mereka-mereka yang saling serang dalam pro maupun kontra satu dengan penilaian bahwa sikap-sikap seperti itu adalah naif dan bebal.
Sikap seperti ini awalnya dianggap benar, misal dengan mengatakan bahwa sikap yang paling tepat di antara dunia yang penuh fitnah adalah menjadi anak unta. Tidak dapat diperah susunya dan tidak dapat diambil manfaatnya untuk mengangkat beban.
Yang tentu saja pandangan mereka sebenarnya merupakan sebuah eksepsi dari apa yang kita sebut sebagai sikap afirmatif dan propositif. Meskipun pada pandangan seperti ini dikatakan bahwa "berdasarkan pengalaman saiya", "berdasarkan apa yang saiya alami", atau "merujuk kepada yang pernah terjadi di Irak, Suriah," maka (misalnya) pro dan kontra ini dapat menghancurkan kebhineka tunggal ikaan. Yang menarik Indonesia ke dalam konflik seperti di Suriah, Myanmar, dll,.
Di sini ketika gagasan mengambil sikap tengah tadi diutarakan secara sengaja maka ia dengan sendirinya secara tidak langsung menjadi komponen proposisi; yang tentu saja berisi penilaian atas pengetahuan dirinya atas yang lainnya.
Bahwa di sini kemudian perdebatan pro dan kontra yang dikritisi tadi didorong kepada satu realitas dengan cara diproyeksikan kepada satu imajinasi di masa depan. Yang mana Imajinasi akan kemungkinan munculnya perang itu sendirindipertautkan kepada masa lalu. Kerisauan bahwa pro dan kontra akan membawa kita kepada perang (imajinasi) seperti perang di Suriah (fakta) sebagai realitas yang diverifikasi.
Maka secara alamiah jalan pikiran ini mengarahkan kepada kesimpulan bahwa apa yang disebut dengan kebenaran menurut mereka dan juga kita adalah apa yang tidak bertentangan dengan kenyataan, dan apa yang disebut kekeliruan adalah apa yang berbeda dengan kenyataan.
Selintas pendapat ini tidak memiliki masalah, hanya saja ketika pandangan tadi diturunkan ke dalam level bagaimana memverifikasi bahwa satu kebenaran tadi memang memiliki realitasnya dan bagaimana kekeliruan tadi berbeda dengan kenyataannya maka ini menimbulkan paksaan untuk mengambil sikap dan keputusan. Sebagaimana perdebatan di sosial media yang ditakutkan akan menjadi seperti Suriah, yang kita faham perang yang terjadi di sana bukanlah karena persoalan si A mendukung harga daging murah dan si B mendukung pembuatan gorong-gorong. Juga bukan si C mendukung penista agama dan si G menjadi relawannya.
Jadi problematika ini tentu menimbulkan kesulitan pada diri mereka yang biasa ada di tengah untuk menjelaskannya. Bahwa adanya pengetahuan yang membutuhkan pengantar atau perantara antar objek diketahui dan subjek pengenalnya rupanya tidak mudah ditetapkan melalui verifikasi. Mengingat bahwa bercampurnya imajinasi, realitas, dalam proses pengambilan yang kacau balau. Problematika antara si yang mengetahui dengan apa yang diketahuinya atau intermediari ini memungkinkan ia sendiri tidak menjadi bebas dari bias dan korupsi.
Kegagalan menempatkan kepercayaan pada apa yang difahaminya tadi itulah mengapa Intermediari antara si mengetahui dengan apa yang diketahui dari mereka yang senang berdiri di tengah tadi hanya melahirkan bias-bias dalam pengetahuan yang lalu melahirkan hanya dua macam jenis manusia: dia yang skeptis dan masa bodoh. Di antara keduanya kemasabodohan atau ignorant inilah yang justru lebih membahayakan.

0 comments:

Post a Comment