Sunday, December 25, 2016

Teologi Martirdomship dalam Aksi Massa- Melawan Aksi dengan Aksi lewat simbolisasi korban

Sumber
Saiya mendapatkan undangan terbuka untuk menghadirir acara Bhineka Tunggal Ika, 19 November 2016.
Lengkap dengan dress code merah-putih dan pengantar bahwa tujuan dari acara tersebut adalah menegaskan kembali kebhinekaan karena rupanya terorisme atas nama agama telah menyebabkan jatuhnya korban balita Olivia di Samarinda. Beberapa nama seperti Budiman Sudjatmiko adalah nama yang tertera dalam undangan tadi.
Dengan membawa-bawa korban balita mungil tadi sebenarnya apa yang dituju dengan parade bhineka tunggal ika adalah praktik politik pengerahan massa lewat massa kanonisasi korban. Satu tindakan yang sebenarnya juga membawa-bawa tradisi agama.
Kanonisasi atau penyucian korban adalah bagian dari tradisi tua umat manusia untuk mrmberikan makna kematian yang mulia. Praktik ini masih dilakukan sampai sekarang.
Si pelaku dan juga korban atas nama ideologi, isme, dan tentu saja keyakinan dinaikkan atau di-pakai- statusnya kematiannya sebagai jiwa suci. Ini karena ia dinilai telah menjalankan kehidupannya sebagai sosok yang telah berperjuang di jalan tuhan, di jalan ide, atau dijalan keyakinan.
Gagasan untuk memanfaatkan kematian si balita dan kemudian menautkannya dengan teknik mengompori massa aksi lewat kesimpulan bahwa telah terjadi ancaman atas integritas atas nama teror berbasis agama maka sebenarnya parade tersebut adalah satu bentuk kontradiksi dari kebhinekaan itu sendiri. Dimana di sini secara implisit atau tak tertulis parade sebetulnya bertujuan sebagai aksi politis men-test soliditas Aksi masif massa umat Islam sebelumnya
Dengan menghantam ISLAM sebagai agama yang akan dipersalahkan atas kematian gadis kecil di dalam gereja maka agenda setting dari parade akan menemukan frame yang tepat.
B.
Pada kemungkinan terjadinya kanonisasi, penyucian, atau pensyahidan korban tewas sebagai amunis bagi massa aksi inilah maka sebetulnya kita perlu risau.
Melihat besarnya massa aksi umat Islam yang berjalan damai pada 4/11 lalu sebetulnya kita sudah risau dengan jatuhnya korban tewas Syahri bin Umar yang terserang asma akibat menghirup gas tepung airmata
Bila mengikuti komentar belasungkawa kepada keluarga korban, hampir ribuan komentar berdoa untuk Syahri yang telah meninggal dengan jalan terbaik, syahid ketika membela penistaan atas agama dan kepercayaannya.
Syahri seperti halnya Olivia punya potensi untuk dikanonisasi dan membakar massa aksi ke tingkat kejenuhan yang lebih akut. Kedua korban telah cukup memenuhi syarat-syarat orang suci dan karenanya akan menjadi politis ketika mereka diangkat ke level yang lebih tinggi sebagai simbol perjuangan.
Saiya berpikir mendatangi acara yang menjadikan korban gadis kecil di Samarinda sebagai alasan mengumpulkan orang adalah usaha coba-coba mengetes massa aksi umat Islam dan ini adalah hal yang menjadi kontradiksi bagi kebhinekaan.
Kita tentu tidak ingin nanti setelah parade-parade kebhinekaan yang tujuannya memang mempolitisir kematian balita Olivia akan muncul lagi massa aksi Umat Islam dengan foto-foto syahid Syahri sebagai simbol solidaritas dimana semua siap mati mempertahankan akidah. Lengkap dengan teriakan-teriakan seperti.
"La baik ya syahid Syahri", Kami datang menyusulmu wahai Syahid Syahri."

0 comments:

Post a Comment