Thursday, December 28, 2017

Uniknya Islam Indonesia

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.
Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.
Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.
Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.
Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa. 
Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz . 
Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet. 
Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice. 
Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing. 
Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit). 
Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab. 
Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.
Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia. 
Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.
Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.
Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.
Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.
Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah. 
Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni. 
Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia. 
Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama. 
Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama. 
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.
Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini. 
Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.
Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang. 
Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara. 
Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus. 
Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto. 
Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet. 
Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa. 
Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir. 
Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro. 
Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.
Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan. 
Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.
Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.
Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.
Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.
Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang. 
Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”
Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”
Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi. 
Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.
Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan. 
Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati. 
Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya? 
Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.
Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang. 
Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.
Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.
Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan. 
Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia. 
Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )
Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.
Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.
Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta. 
Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa. 
Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.
Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar. 
Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.
Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.
Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.
Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya. 
Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.
Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.
Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma. 
Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur. 
Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.
Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).
Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah. 
Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”
Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok. 
Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!
Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu. 
Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.
Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.
Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.
Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.
Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.
Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.
Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun. 
Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang. 
Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin. 
Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.
Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.
Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.
Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.
Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.
Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir. 
Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.
Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.
Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:
Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x
Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar. 
Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan. 
Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.
Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.
Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan. 
Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda. 
Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.
Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.
Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.
Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama. 
Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.
Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.
Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.
Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali. 
Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng. 
Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath. 
Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.
Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.
Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran. 
Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya. 
Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.
Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.
Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”. 
Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”. 
Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga. 
Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.
Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.
Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.
Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung. 
Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.
Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir. 
Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran. 
Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.
Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.
Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia. 
Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.
Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang. 
Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia. 
Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Tuesday, December 26, 2017

Pendapatan yang Terukur

Sebenarnya pandangan akan adanya 'gaji tetap' atau pendapatan yang terukur dari adanya deposito, saham, usaha dan lain-lain adalah ilusi yang bisa mencederai tawakal seseorang kepada Allah. Memang natur hawa nafsu manusia selalu menginginkan 'yang pasti-pasti'. Padahal kepastian hanya ada di tanganNya. Sebaik apapun seseorang membentengi kehidupannya setidaknya ada tiga variabel kehidupan yang di luar jangkauannya. Pertama adalah sakit yang dengannya kekayaan sebanyak apapun tidak dapat dinikmati penuh, kedua adalah kondisi lingkungan jika terjadi bencana alam atau peperangan maka harta benda yang ada menjadi relatif tak bernilai, dan variabel yang bisa memutus seseorang dari semua kenikmatan hidup yaitu kematian.
Ada alasannya Rasulullah bersabda bahwa "Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan (tijaroh)". Karena mentalitas utama seorang pedagang sesungguhnya terletak pada rasa tawakalnya. Bayangkan kita sebagai penjual yang keluar di pagi hari berkeliling menjajakan dagangannya, atau membuka lapak di pasar. Tidak ada satu pun yang tahu pasti berapa pendapatan yang akan ia terima di hari itu. Kadang ia pulang dengan membawa hasil dagangan yang terjual habis, di lain waktu ia harus menutup hari dengan sisa dagangan yang menumpuk. Mentalitas seorang pedagang membuat lisannya berdoa setiap pagi "Ya Allah berikan kepadaku rezekiku di hari ini." Doa itu yang melambungkan keimanannya dan mengguncangkan langit hingga menurunkan hujannya berupa rezeki-rezeki batin. Karena kalau rezeki lahiriyah itu sudah dikadar, terbatas setiap orang akan diberi sesuai pembagia jatahnya yang telah dituliskan saat ia masuk ke rahim ibu pada usia janin 120 hari. Adapun rezeki batiniyah itu tak terbatas jumlahnya karena bersumber dari Sang Maha Ilmu. Rezeki batiniyah itu yang dapat membantu seseorang membaca kehidupan hingga berkurang kebingungannya, yang dapat meneguhkan seseorang manakala harus menghadapi musibah, yang menguak informasi perihal kejatidiriannya, dan yang memberikan visi bagi kehidupannya.
Inilah sesungguhnya kekayaan sejati yang patut diperjuangkan oleh setiap orang. Agar manusia tidak dibuat murung oleh pengkadaran Ilahiyah, tidak dibuat gelisah oleh dinamika kehidupan yang kerap tak mampu dicerna oleh akalnya. Kunci membuka khazanah itu diantaranya dengan tawakal. "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QD Ath-Thalaq : 3) Yaitu yang mencukupinya, Ar-Robi’ bin Khutsaim berkata : Dari segala sesuatu yang menyempitkan (menyusahkan) manusia. (HR Bukhari). Lebih yakin dengan apa yang di tangan Allah dibandingkan ikhtiar dirinya sendiri. Karena "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya”. (QS Az-Zumar : 36)
Tessa S

Thursday, December 21, 2017

Ke Konflik Suriah versus Israel

Lima tahun ke belakang telah kita bahas sebuah skenario yang pada akhirnya akan menghadapkan Israel dengan Suriah dalam sebuah konflik. 
Saat ini, Pasukan Suriah Arab hanya tinggal memberikan satu pukulan terakhir kepada milisi takfiri di wilayah Dataran Tinggi Golan. Bila ini diselesaikan maka tidak ada penghalang bagi Suriah untuk mulai meledakkan perang terbuka dengan Israel.
0.1
Sejak dimulainya konflik Suriah pada 2011, Beit al Jin salah satu kota Suriah yang menjadi pintu masuk ke wilayah Golan yang dikuasai Israel jatuh ke tangan sekelompok orang yang mengaku sebagai oposisi. Selanjutnya kelompok oposisi ini mengubah namanya menjadi grup-grup yang mengaku berafiliasi dengan Al Qaeda dan ISIS. 
Sesungguhnya, Israel memanfaatkan kelompok ekstrimis ini untuk memperluas zona penyangga Golan bagi kepentingan politik okupansinya. Hanya saja, Assad tidak ingin mengambil langkah terburu-buru menyelesaikan persoalan di wilayah perbatasan ini. Mengingat ia perlu menjaga Damaskus sebagai prioritasnya dari kemungkinan jatuh oleh the so called pemberontak revolusioner Suriah. 
Setelah gagal menguasai Damaskus, dan gagal mempertahankan Homs serta terakhir kota Allepo, maka titik balik permainan ada di pihak pemerintah Assad. Ia hanya tinggal membersihkan sisa-sisa kelompok teroris di kantong-kantong desa dan dari kemampuannya menginkubasi sosial masyarakat Suriah maka tidak ada lagi tempat dimungkinkan bagi kelompok ini untuk bertahan. 
Kini Suriah dengan dukungan Iran dan Hezbollah memiliki basis untuk memulai memicu perang dari wilayah dataran tinggi Golan seandainya Israel melakukan serangan unilateral ke wilayah Suriah. 
0.2
Beberapa alasan dari kemungkinan ini adalah;
Pertama, perang selama enam tahun telah merevolusi tentara Suriah dari jenis tentara pertahanan menjadi tentara gerilya dan teritorial. Mereka dapat digerakkan dengan cepat dari satu kota ke kota lain, dan dari satu posisi ke posisi lain. Tidak ada lagi konsep mempertahankan kota dengan mati-matian. Mereka menjadi pasukan ringan yang mobile tetapi menjadi sangat efektif. 
Kedua, bahwa mereka mampu menciptakan inkubasi sosial di masyarakat yang membuat rasa nasionalisme Suriah semakin kuat. Ini karena mereka menyadari bahwa keberadaan Khilafah atau Daulah Islamiyah tidak dapat diterima oleh masyarakat karena sifat-sifatnya yang bertentangan dengan kondisi empirik masyarakat Suriah yang heterogen. 
Sentimen nasionalis ini yang membuat tentara Suriah tidak pernah kekurangan personel meskipun mereka telah kehilangan lebih dari setengah pasukan regulernya dalam perang melawan ISIS dan pemberontak. 
Ketiga, perang ini membuktikan jika persenjataan utama sistem pertahanan bukanlah pada alat perang yang mutakhir dan mahal. Melainkan ada pada manusia. 
Suriah hanya menggunakan pesawat-pesawat Mig tua dan artileri peninggalan era Soviet. 
Perang yang brutal ini hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen mempertahankan kedaulatan negaranya. Sementara mereka menyadari bahwa ISIS dan pasukan pemberontak tidak memiliki basis kesadaran akan tanah air ini. Mereka hidup di alam realitas sementara musuhnya hidup di dunia realisme. 
Kesadaran ini pula yang kemudian menjadikan isu Golan kembali ke Suriah menjadi perbincangan penting masyrakat suriah bila perang melawan ISIS telah usai.
0.3
Dalam perang ini, Suriah menjadi sekutu efektif bagi Hisbullah Lebanon dan Iran. Keduanya adalah kelompok perlawanan yang menempatkan Israel dan isu Al Quds Jerusalem sebagai tujuan utamanya. 
Perang enam tahun ini juga telah mengubah tentara Hezbollah dari milisi pertahanan menjadi tentara profesional yang dapat dimobilisasi sesuai kebutuhan. Hisbullah kehilangan lebih dari 1500 milisinya, tetapi jumlah tadi tidak menjadikannya lemah. Ini karena dalam perang Suriah, Hezbollah mengambil keuntungan dari kerjasama dan arsenal yang diperolehnya di lapangan. 
0.4
Perang Suriah, membalik keadaan di lapangan. AS dan Israel yang berharap Assad terjungkal dan Suriah menjadi negara lemah, harus menerima kenyataan jika kini mereka berhadapan dengan Super Power Rusia sekaligus Iran di belakang Suriah. 
Hanya dibutuhkan sedikit triger seperti pernyataan presiden AS Donald Trump yang mendukung Jerusalem sebagai ibukota Israel. 
Perhitungan-perhitungan ke arah konflik sudah tidak lagi dapat dihindari. Persoalannya hanyalah masalah waktunya saja.

Friday, December 15, 2017

OKI yang Mandul di Istanbul

Ketidakhadiran pemimpin Saudi dan Mesir dalam sidang darurat Organisasi Konferensi Islam (OKI) membenarkan hipotesa kita bahwa pertemuan di Istanbul Turki tidak akan memberikan manfaat besar bagi krisis Al Quds (Yerusalem) kecuali sekedar lipstick saja.
Hal ini dapat dipaparkan dalam poin;
1. Kedua negara hanya mengirim pejabat di bawah menteri, yang artinya secara diplomatik mereka tidak menganggap penting apapun resolusi yang keluar dari pertemuan Istanbul.
Terutama Mesir, ia memiliki kontrol atas perbatasan Rafah, yaitu jalan masuk satu-satunya ke Jalur Gaza Palestina. Ketidakhadiran Presiden Asisi menunjukkan bahwa Mesir tidak ingin mengambil konsekuensi dari kemungkinan konflik yang terjadi dengan putusan Trumps.
Sementara juga Presiden Asisi tidak dalam posisi berani untuk berseberangan dengan AS. Ia membutuhkan dukungan asistensi dana dan manajemen dari AS untuk dapat mempertahankan kekuasaan dalam negerinya dari kemungkinan lepasnya dukungan kelompok militer dan bangkitnya oposisi garis keras Ikhwanul Muslim.
2. Pada saat yang sama, kita melihat ketidakhadiran Saudi -sebagaimana beberapa hari lalu kita prediksikan- adalah bentuk dari sikap politik pragmatis mereka.
Saudi tidak dalam posisi siap menerima poin yang mesti dimunculkan dalam pertemuan Istanbul. Yaitu "persatuan umat bagi Palestina".
Mereka masih memiliki masalah dengan perang unilateral di Yaman yang memakan korban jiwa sipil hampir 80 ribu jiwa dan sejauh ini belum ada tanda-tanda mereka dapat memenangkan perang.
Selain Saudi membutuhkan dukungan AS untuk dapat berkoar-koar menciptakan kampanye bahaya laten Iran. Iran sebagaimana kita maklum, telah menjelma menjadi pemain sangat penting di kawasan. Dalam keterlibatan mereka di perang anti terorisme baik di Irak maupun Suriah.
Hal lain yang tidak dapat kita lupakan adalah kenyataan bahwa Saudi sedang dalam posisi berkonflik dengan Qatar. Saudi mengembargo Qatar dari laut, udara, dan darat.Hal ini terkait dengan persoalan geo-politik dimana Qatar menolak menjadi bumpers Saudi sebagai negara inisator bagi kelompok takfiri (ISIS) dalam aksi-aksi teror di eropa.
Pada kasus Palestina, sikap ini ditunjukkan Saudi juga. Mereka berkonflik kepentingan dengan Qatar terkait dukungan pada faksi-faksi. Qatar mendukung Hamas secara finansial sementara Saudi tidak menyukai Hamas dan lebih condong kepada faksi Fatah.
3. Turki dan Erdogan hanya memanfaatkan konferensi ini -yang kebetulan Turki adalah ketua OKI periode ini bagi kepentingan politik dalam negerinya.
Ia membutuhkan dukungan kelompok Ikwanul Muslim, yang memiliki mimpi untuk menjadikan Turki sebagai model dari Kesultanan Islam Raya (Khilafah) dengan mengoptimalkan posisi mereka di OKI.
Sementara untuk urusan luar negeri, Erdogan memanfaatkan momentum krisis Jerusalem ini sebagai jembatan bagi Eropa yang sejak awal terlihat tidak menyetujui langkah spekulasi Trumps yang sangat berbahaya ini.
Ini karena krisis Jerusalem, yang sepertinya direspon reaktif oleh umat Islam pada kenyataannya diperhitungkan dan diamati dengan seksama oleh para pemimpin eropa terutama Gereja Vatikan. Langkah AS-Israel untuk mengklaim Jerusalem sebagai ibukota negara Yahudi bukan hanya menyedot kepedulian umat Islam tetapi juga negara-negara mayoritas kristen. Meski aktualisasinya yang berbeda.
Di sini Erdogan yang pragmatis mencoba melihat celah-celah untuk mengambil keuntungan dari krisis tadi bagi kepentingan yang dianggapnya cocok bagi diri dan kelompoknya.
Demikian saja. Andi H

OKI akan Gagal dalam Resolusi Jerusalem

Pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (IOC, OKI) di Istanbul Turki untuk menyikapi pernyataan Trumps terkait Jerusalem menjadi ibukota Israel akan menghadapi jalan buntu.
Dapat dipastian bahwa masing-masing pihak dari negara anggota akan lebih banyak berbicara common-sense daripada mengambil langkah konkrit untuk menghukum Amerika dan Israel.
Beberapa poin yang perlu kita perhatikan dari konflik ini adalah:
1. Pernyataan Trumps tentang dukungan AS untuk Jerusalem sebagai Ibukota Israel bukanlah tanpa konsultasi dengan mitra di kawasan (MENA) Timur Tengah.
Ia bukan sesuatu yang begitu saja muncul. Trumps melihat ini sebagai kesempatan baik bagi kepentingan politik dalam negerinya dengan mengambil perhatian kelompok bankir Yahudi sekaligus melanjutkan politik unilateral mereka di kawasan.
2. Pernyataan ini mesti sudah diketahui Turki dan Saudi sebagai sekutu utama AS dalam NATO dan Timur Tengah.
3. Keberanian Trump juga didukung dengan kenyataan bahwa aktor berkonflik sebenarnya yaitu Palestina sendiri tidaklah dalam posisi bersatu.
Kelompok Fatah dan Hamas adalah dua kelompok Palestina yang saling bertikai dan berbeda sikap dalam perjuangan untuk Palestina merdeka. Sikap politik Hamas yang keras dan Fatah yang lebih moderat dan terbuka untuk dialog dengan Tel Aviv membuat keduanya tidak dapat bersatu.
4. Selanjutnya kedua faksi Palestina ini pun berbeda sikap dalam menyikapi isu Arab Springs. Faksi Fatah lebih dekat kepala Qatar sementara mereka dianggap organisasi pengacau oleh Saudi. Sebaliknya Saudi menganggap Fatah sebagai kawan dimana Qatar menganggapnya bukan kawan potensial.
5. Pada konflik Suriah, baik Fatah dan Hamas keduanya sama-sama menghendaki Basir Al Assad jatuh. Ada hampir 500 ribu orang Palestina yang menjadi pengungsi di Suriah, namun sebagian besar mereka tidak menyukai kebijakan Assad yang menolak naturalisasi (nasionalisasi) dengan mengeluarkan passport Suriah bagi pengungsi Palestina.
Bagi Assad, resistensi atau perlawanan harus terus dimunculkan oleh para pengungsi untuk mewujudkan negara Palestina merdeka. Kebijakan menolak naturalisasi pada para pengungsi inilah yang membuat mereka condong kepada kelompok oposisi dan ISIS.
Ada lebih dari tiga ribu pengungsi Palestina yang tewas dalam perang anti-teror Assad. Jumlah yang mencengangkan dan lebih mengejutkan lagi mereka ada di pihak melawan Assad, yang justru banyak mendukung Hamas dari segi senjata miiter.
6. Selain sikap kebanyakan pengungsi dan pemimpin Palestina yang memusuhi Damaskus, maka Suriah sendiri memiliki kepentingan untuk merebut kembali Dataran Tinggi Golan dari Israel. Dimana mereka akan membuat perhitungan besar dengan mengambil momentum kemenangan melawan kelompok teroris ISIS.
Tindakan Suriah ini adalah bagian dari komitmen koalisi perlawanan (resistance groups) baru yang terdiri dari Hezbollah (Lebanon)-Suriah-Iran-Irak.
7. Turki tidak dalam kepentingan untuk mengangkat urusan Jerusalem dan Palestina.
Turki memiliki hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel dan mereka terus meminta hubungan yang lebih luas termasuk kerjasama militer.
Pernyataan Erdogan yang "dengan keras" mengutuk pernyataan Trumps hanyalah bersifat lipstik saja. Ia membutuhkan pencitraan positif di mata kelompok politik Ikhwanul Muslim sebagai penggalang Islam. Erdogan tidak akan menaikkan eskalasi penolakan atas pernyataan Trump dalam wujud membekukan misi diplomatik dengan Israel apalagi mengancam perang.
8. Saudi Arabia tidak akan mau forum OKI menjadi forum persatuan bagi umat Islam.
Saudi sedang berkonflik dengan Yaman. Kematian Ali Abdullah Shaleh -mantan presiden Yaman- yang dibunuh kelompok Abdullah Houthi (milisi Houthi) karena dianggap berkhianat dengan pernyataan mendukung dialog negara Saudi dan menuduh Houthi sebagai milisi tak bertanggungjawab adalah titik tanpa pilihan.
Mereka (Saudi) harus menerima kenyataan bahwa soft-strategi untuk keluar sebagai pemenang dalam perang Yaman dengan berhasil mengubah keberpihakan Ali Abdullah Shaleh yang seharusnya dapat membuat mereka mudah menghadapi milisi Houthi dan memenangkan perang ternyata gagal.
Kematian Ali Shaleh, memaksa Saudi untuk menghadapi perang yaman lebih lama lagi dan tidak ada tanda-tanda mereka dapat meraih objektif atas sasaran-sasaran kemenangan. ,Maka usulan perdamaian dan persatuan dalam menghadapi musuh bersama yaitu Israel dalam isu Jerusalem nanti sama sekali tidak ada dalam pembahasan mereka.
9.Yang justru akan menarik adalah pernyataan delegasi Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon dalam menyikapi isu Jerusalem ini dengan lebih keras dan sasaran lapangan yang detail.
Artinya, bila kemungkinan akan pecah konflik Israel versus Arab, maka keempat negara ini yang akan berkonflik di tingkat lapangan.
Andi H

Wednesday, December 13, 2017

Ikhwan

Majelis pertemuan itu diliputi keheningan. Semua yang hadir diam membisu. Mereka tampak sedang memikirkan sesuatu. Terlebih Abu Bakar. Itulah pertama kalinya dia mendengar orang yang sangat dikasihinya mengucapkan hal tersebut. Seulas senyuman terukir di bibirnya. Wajahnya yang tenang berubah roman: “Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Abu Bakar melepaskan kecamuk berbagai pertanyaan di kepalanya.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," jawab Rasulullah.
“Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” timpal sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Rasulullah berkata:
"Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman kepadaku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orangtua mereka."
Pada kesempatan lain, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ikhwan beliau: “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah saw.
“Malaikat,” jawab sahabat.
“Bagaimana para malaikat tidak akan beriman kepada Allah, sedangkan mereka senantiasa bersama Allah," jelas Rasulullah. Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”
“Bagaimana para nabi tidak akan beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”
“Mungkin kami,” timpal seorang sahabat.
“Bagaimana kamu tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengahmu,” tandas Rasulullah menjawab perkataan sahabatnya itu.
“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lainnya.
“Inginkah kalian tahu siapa gerangan mereka? Mereka ialah umatku yang hidup jauh sesudah masaku. Mereka membaca Al-Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman kepadaku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman kepadaku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
"Aku sungguh sangat rindu ingin bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah sesaat membisu. Alfathri

Tanda Kebenaran

"Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari individu-individunya, tetapi akan bisa dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui siapa saja yang mengikuti kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
"Kebenaran tidak diukur berdasarkan rijal (figur), pelajarilah kebenaran itu, niscaya engkau akan tahu siapa sejatinya pemanggul kebenaran."
(Ali bin Abi Thalib ra)
________________________________
Orang-orang yang bodoh salah mengambil uang logam palsu karena tampak seperti asli.
Bila di dunia tidak ada mata uang logam asli yang sah, bagaimana para pemalsu dapat mengedarkan uang palsu.
Kepalsuan tidak ada artinya jika tak ada kebenaran, yang membuatnya sedap dipandang.
Adalah cinta kebenaran yang memikat manusia ’tuk berbuat salah.
Biarkan racun dicampur gula, mereka akan menjejalkannya ke dalam mulutnya.
Oh, janganlah berteriak bahwa seluruh syahadat adalah sia-sia!
Berbagai aroma, sedikit saja bau kebenaran mereka miliki, selanjutnya mereka takkan terpedaya.
Jangan berseru, ”Alangkah sangat fantastis!”
Di dunia ini tiada khayalan yang sama sekali tak benar
Di tengah-tengah kerumunan Darwis, tersembunyilah seorang fakir sejati.
Carilah dengan teliti dan engkau akan menemukannya!
(Maulana Jalaluddin Rumi)
________________________________
Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbi. Sadarilah kenyataan ini.
Di dunia Waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.
Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi lainnya merupakan manis dan bermanfaat laksana gula.
Bisa ular merupakan kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang mematikan.
Zayd, meski orangnya sama, bisa jadi setan bagi seseorang dan menjadi Malaikat bagi lainnya:
Bila engkau ingin ia baik padamu, maka pandanglah ia dengan pandangan seorang pencinta.
Janganlah kau pandang Yang Maha Indah dengan matamu sendiri: melihat Yang Dicari itu dengan mata sang pencari.
Sebaliknya, pinjamlah pandangan dari Dia: pandanglah wajah-Nya dengan mata-Nya.
Tuhan berfirman, ”Barangsiapa telah menjadi milik-Ku, Aku menjadi miliknya: Aku adalah matanya, tangannya dan hatinya.”
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu pada Sang Kekasihmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Meminta Kepada Allah

Sesungguhnya banyak meminta kepada Allah itu adalah sebentuk kebersyukuran dan bisa mencegah kita dari berkeluh kesah; sedangkan tidak meminta itu adalah sebentuk kesombongan kepada Allah. Setiap insan memiliki masalah, dan yang Allah lihat adalah cara kita menghadapi masalah tersebut. Misalnya, Allah mengizinkan dalam suatu saat kita jatuh sakit, itu agar kita memohon meminta kesembuhan kepada Allah.
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." (QS At-Taghabun [64]: 11)
Begitulah, semua perkara yang kita hadapi dalam keseharian intinya adalah agar kita meminta kepada Allah. Hendaknya dalam setiap hal kita biasakan memohon kepada Allah, bahkan ide; memohon bimbingan dalam semua hal, karena nanti kita akan dimintai pertanggungjawabannya atas semua hal. Ketahuilah, semua masalah yang kita terima kita sebagai hamba Allah, pastilah dikadar dan ada tujuannya. Dan itu dikatakan berhasil, jika kita mengembalikan semua urusan kepada Allah; itulah dzikir yang sesungguhnya.
Berserah diri adalah berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya. Pasrah kepada Allah berarti berserah kepada kehendak-Nya. Nah, yang tidak mudah itu adalah memahami tentang kehendak-Nya; belum lagi terkait perbuatan yang kita lakukan, apakah sesuai dengan kehendak Allah? Berserah diri itu mengalir kepada kehendak-Nya, berbaring pada kehendak-Nya, "sabbaha", bertasbih, berkerja keras untuk memahami kehendak-Nya.
Setiap musibah yang menimpa itu pasti atas izin Allah--jika Allah menghendaki itu terjadi maka ada sebuah perkara besar di baliknya karena setiap manusia berada dalam rancangan Allah Ta'ala. Sesungguhnya kehidupan akan menjadi "megah", jika kita memahami karsa Allah yang menciptakan keadaan. Bukanlah berserah diri itu hanya nrimo tapi hati mengeluh. Itu hanyalah pasrah kepada keadaan; tidak berdaya, itu hanya sebentuk keputusasaan. Semestinya seorang yang beriman itu senantiasa bergembira dalam setiap kondisi karena dia melihat karsa Allah di setiap keadaan. Sesungguhnya yang membuat seseorang menjadi mulia adalah daya perenungannya dalam kehidupan yang dijalani; sebuah kesadaran dalam memahami kehidupan; "daya kunyah"-nya atas semua yang hadir dalam kehidupan ini, baik susah mau pun senang.
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu" (QS Al-Hadiid [57]: 23)
Berserah diri adalah berkerja keras memahami kehendak-Nya; sebuah kesibukan pribadi mencari apa yang Allah kehendaki, hingga kemudian menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Allah. Berserah diri itu senantiasa mendudukkan Allah Ta'ala sebagai hal yang "terpenting" di atas segalanya. Sungguh, kehebatan seorang manusia yang beriman adalah mengikatkan antara realitas yang sepertinya sederhana dalam kehidupan keseharian agar senantiasa terkait dengan hal yang tertinggi; hal yang jauh (alam malakut, jabarut, yaumul akhir dlsb). Itulah sebuah kemegahan alam pikiran; suatu cahaya yang memancar di kepalanya; cahaya yang menunjukkan daya renung orang tersebut. Ahwal orang yang beriman adalah menyibukkan diri dengan Allah, membaca kehidupan yang fisik sedari hal yang kecil namun senantiasa biasa melihat karsa Allah dalam setiap hal; senantiasa bolak-balik antara Allah dengan kehidupannya; senantiasa mengharapkan bimbingan Allah dalam kehidupannya.
Adalah tidak mudah untuk memahami karsa Allah Ta'ala. Concern utama seorang yang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa membaca, mencari; seminimalnya menebak apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita semua memiliki kesempatan yang sama, yaitu kehidupan ini, yang kita jalani di alam dunia, siapa pun itu; entah nabi, rasul, wali atau kita; hanya bedanya, para nabi dan orang beriman itu memiliki kecerdikan dalam menyikapi kehidupan. Seperti saya katakan tadi, concern orang beriman adalah "perasaan Tuhan"; senantiasa "bergumul" dengan Dia; membangun relasi dengan Yang Maha Tinggi, yang menjadi jalan syafaat baik di alam dunia ini dan juga untuk alam-alam berikutnya.
Kebanyakan para penghuni di alam barzakh itu seperti orang yang tenggelam di lautan. Karena itu berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Jangan takut dengan kematian; yang ditakuti adalah bagaimana kita menjalani sebuah keberadaan setelah kematian. Karena itu, yang harus benar-benar dibangun adalah relasi dengan Yang Maha Tinggi mulai sedari di alam dunia ini, karena baik di dunia maupun di barzakh dan yaumil akhir toh Tuhannya masih Tuhan yang sama.
Ibn ‘Umair berkata, “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah Saw.”
Maka ‘Aisyah menangis, lalu berkata, “Setiap ihwalnya menakjubkan. Pada malam giliranku, ia datang kepadaku sehingga kulitnya menyentuh kulitku. Beliau berkata, ‘Biarkan aku shalat kepada Tuhanku.’
Maka beliau pergi ke tempat air, lalu berwudhu. Kemudian beliau shalat. Maka beliau menangis sehingga basah janggutnya. Kemudian beliau sujud sehingga air matanya membasahi tanah. Selanjutnya beliau berbaring pada salah satu sisinya hingga datang Bilal menyeru shalat subuh.
Maka Bilal bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.’
Beliau menjawab, ‘Bagaimana kamu ini, wahai Bilal, apa yang mencegahku untuk menangis. Sesungguhnya pada malam ini Allah SWT telah menurunkan wahyu, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. (QS Ali Imran [3]: 190)”
Selanjutnya beliau bersabda, ‘Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya.’”
(Sepenggal nasihat dari Mursyid saya di suatu sore, semoga ada gunanya...) alfathri

mengetuk pintu

Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Dan singgahlah ke hatiku cinta kepada-Mu, lalu ia beranjak pergi dengan riang.
Sekali lagi ia datang, tinggal sejenak, lalu bertolak pergi lagi.
Dengan sopan aku mengundangnya tinggal: "sebentar, barang dua, tiga hari."
Akhirnya ia menetap, tak pernah lagi ia ingin tinggalkan hatiku.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Mengapa bangkit hasadmu di tengah lautan kepemurahan ini?
Mengapa kau tolak datangnya kebahagiaan yang menggelombang?
Tak seekor pun ikan pertahankan secangkir air bagaikan harta karun; ketika dia tahu, samudera luas tak pernah tolak kehadirannya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Wahai insan, kau miliki sebuah negeri di balik petala langit, tapi pada tanah dan debu kau tujukan dirimu.
Telah kau hujamkan citra dirimu pada permukaan bumi; melupakan negeri yang jauh tempat kelahiranmu.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Aku masuk ke dalam hatiku untuk melihat bagaimana keadaannya.
Sesuatu di sana membuatku mendengar seluruh dunia menangis.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemahakuasaan Sang Pencipta.
Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin.
Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain?
Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya?
(Maulana Jalaluddin Rumi)