Thursday, December 7, 2017

Membagi Shalat

Saat shalat, kita memulainya dengan gerakan berdiri. Posisinya, kepala (sebagai simbol pikiran, fungsi otak kita) berada di atas hati (seringkali disimbolkan dengan jantung yang menyerupai buah shanaubar, dan memunculkan istilah ‘hati sanubari’). Saat berdiri itu, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah, dan sebagaimana dinyatakan dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876), Rasulullah saw bersabda:
Allah Ta‘ala berfirman: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) antara Diri-Ku dengan hamba-Ku dua bagian. Tatkala insan mengucapkan, ‘Alhamdulillahi Rabbil Alamin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Ar-Rahmani Rahim’, Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan Diri-Ku.’ ‘Maliki yaumiddin’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan Diri-Ku.’ Di lain kesempatan Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.’ Manakala ia mengucapkan, ‘Iyyakana‘ budu wa iyyakanasta‘in’, Allah Ta‘ala berfirman, ‘Ini antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’ Dan ketika ia mengucapkan,‘Ihdina shirathal mustaqim, shirathal ladzina an‘am ta‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim waladhaalin’, Allah Ta’ala menjawab, ‘Inilah milik hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya.’”
Jadi, mudahnya, Al-Fatihah itu terbagi dari satu bagian milik Allah, satu bagian terbagi menjadi milik Allah dan milik hamba-Nya, serta satu bagian lagi milik sang hamba.
Lalu, kita pun ruku‘ dengan posisi badan yang benar adalah lurus. Nenek saya pernah bercerita bahwa saat beliau muda, di Padangpanjang, para santri dilatih agar ruku‘ dengan posisi badan yang lurus menggunakan papan sebagai media latihannya. Posisi lurus ini akan membuat ‘kepala’ dan ‘hati’ kita jadi sejajar. Dan saat ruku‘ ini, kita membaca ‘Subhana Rabbiyal Adzim’. Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan ihwal Rasulullah saw bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah. Sebagai umat beliau saw, kita harus menjadikan beliau saw sebagai ‘uswatun hasanah’, dan sebagaimana halnya beliau saw, kita pun harus memiliki ‘khuluqul adzim’. Posisi ruku‘ ini menunjukkan bahwa sebagai hamba, kita masih bisa disematkan asma Al-Adzim dalam kaitan dengan akhlaq sebagai umat Rasulullah Muhammad saw.
Lalu, kita pun sujud, yang merupakan gerakan paling agung dan mulia dalam shalat, yaitu saat ‘kepala’ kita berada di bawah ‘hati’, lalu kita pun membaca ‘Subhana Rabbiyal A‘la’, yang menunjukkan Dia sebagai Yang Maha Tinggi, dan sama sekali tak ada yang menyamai apalagi menyerupai-Nya. Di hadapan Dia Yang Maha Tinggi ini, kita ‘meniadakan diri’ dengan sujud sedalam-dalamnya, meringkuk nyaris menyerupai angka nol. Dan bahkan saat sujud akhir kita dianjurkan berdoa dan meminta kepada Dia Yang Maha Tinggi ini. Demikian yang Mursyid Penerus ajarkan kepada saya.
Nah, dengan melihat rangkaian gerakan shalat ini, semoga kita bisa lebih menyiapkan diri dalam momen perjumpaan dengan-Nya tersebut. Setidaknya secara pakaian saja dulu, sebelum ke masalah khusyu dan berbagai hal yang lebih dalam lagi. Seandainya kita diundang untuk bertemu dengan selebritis idola atau pejabat, maka kita akan ‘berdandan’ sedemikian heboh dan wangi. Lalu, kenapa saat hendak ‘menjumpai’ yang telah menciptakan kita dan memberi kita banyak kebaikan (dengan janji bahwa ‘rahmat-Ku mendahului murka-Ku’), kita malah seperti sekenanya saja. Setelah tidur semalaman, badan berkeringat dan menempel di baju tidur, kusut, lalu bangun untuk kemudian mengerjakan shalat subuh dengan masih mengenakan pakaian saat tidur yang kondisinya entah bagaimana. Seperti itukah penghargaan kita untuk momen perjumpaan dengan-Nya? Sungguh, jika kita menghargai momen perjumpaan dengan-Nya melalui penghormatan sebagaimana yang kita berikan kepada selebritis atau pejabat, atau bahkan lebih, pastilah Dia akan menghargai upaya kita tersebut. “Shalatlah dengan pakaian yang khusus”, demikian yang Mursyid (alm.) ajarkan kepada saya.

Tuesday, December 5, 2017

Yang Ini Kafir, Yang Itu Bukan Islam.

Muslim itu apa? Apa batasan seorang disebut muslim atau Islam?
Tentu keberserahdirian kepada Allah adalah persoalan hati. Nggak kelihatan dari luar. Tapi ada indikatornya.
"Siapa yang bersaksi Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), menghadap ke kiblat kita, shalat sepeti shalat kita dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah Muslim, baginya hak dan kewajiban sebagai seorang Muslim." (H. R. Bukhari 379, 391, 392, 393, H. R. Muslim 30. Hal senada juga ada dalam H. R. Muslim 47).
: :
Bagaimana jika kesaksiannya itu palsu?
Walaupun kesaksiannya palsu. Sabda Rasulullah, "apakah sudah engkah belah dadanya, sehingga engkau melihat hatinya sungguh-sungguh mempersaksikan itu atau tidak?"
Bahkan kalimat itu, walaupun dinyatakan secara palsu, sudah membuat seseorang memperoleh perlindungan dan hak-haknya dari Allah ta'ala.
Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.,
Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menemukan seorang kafir. Dia segera mengucapkan: "Laa ilaaha illallah", tetapi aku terus saja menikamnya.
Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku. Maka (karena hatiku tidak enak) aku menyampaikannya kepada Nabi saw.
Rasulullah saw. bertanya: 'ia mengucapkan "Laa ilaaha illallah" dan (kenapa) engkau tetap membunuhnya?'
Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang (takut dibunuh).
Rasulullah saw. bersabda: "Apakah engkau sudah membelah dadanya, sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?"
Hari itu Beliau terus saja mengulang-ulang perkataan itu ("Apakah engkau sudah membelah dadanya, sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?") kepadaku dan terus melancarkan kritiknya kepadaku, sampai-sampai aku berandai-andai, kalau saja hari aku baru masuk Islam (sehingga Rasulullah tidak sedemikian marahnya kepadaku)."
~ H. R. Bukhari 3935, Bukhari 379, H. R. Muslim 140
: :
Siapapun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, maka baginya hak dan kewajiban sebagai muslim. Ia memperoleh perlindungan.
Dan justru dengan mengkafirkan, memerangi atau membunuhnya adalah kekufuran.
Hadits-hadits berikut menegaskan hal itu.
“Barangsiapa memanggil seseorang dengan 'kafir' atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal ia tidak demikian, maka panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” (H. R. Muslim)
Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya; 'Wahai Kafir' maka (kekufuran itu) akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (H. R. Bukhari 5639)
Rasulullah saw bersabda, "apabila seorang lelaki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut." (H. R. Muslim 91)
Rasulullah SAW bersabda, "mencela orang muslim adalah fasik, dan memeranginya adalah kufur." (H. R. Bukhari 6549, 5584. H. R. Muslim 97)
Rasulullah SAW bersabda, "jangan mengkafirkan orang yang melakukan shalat karena perbuatan dosanya, meskipun mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa." (H. R. Ath-Thabarani)
: :
Hadis riwayat Miqdad bin Aswad ra., ia berkata:
"Wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, sambil berkata: 'Aku berserah diri kepada Allah (masuk Islam)'. Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu?"
Rasulullah saw. menjawab: "Jangan engkau bunuh dia."
Aku memprotes, "Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya?"
Rasulullah saw. tetap menjawab: "Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau sama seperti dia sebelum engkau membunuhnya (kafir), dan engkau sama seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan (kafir). (H. R. Muslim 139)
: :
Jangan menzalimi, mengganggu kehormatan, menyakiti hati, membuka aib, memfitnah, dan sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda, "seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Ia tidak boleh berbuat zalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, makan Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak." (H. R. Muslm 4677, H. R. Bukhari 2262, 6437)
Rasulullah SAW bersabda, "muslim yang sempurna adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan Al-Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah dari apa-apa yang Allah larang." (H. R. Bukhari 6003)
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "muslim yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab, "Yaitu muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya." (H. R. Muslim 57)
: :
Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci dan saling memusuhi.
Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli atas sesuatu yangg masih dalam penawaran muslim lainnya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.
Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara, tak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Taqwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya; maksudnya, tidak terlihat dari luar). Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.
Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.
Sesungguhnya Allah tak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).
(H. R. Muslim 4650)
: :
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia katakan. Barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa di neraka Jahannam dengan sesuatu yang ia pergunakan untuk bunuh diri. Barangsiapa melaknat seorang muslim maka ia seperti membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang muslim dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya.” (H. R. Bukhari 5640)
*
Siapapun yang bersaksi 'La Ilaha Ilallah', yang shalat, yang menghadap kiblat, yang menyembelih hewan makanan dengan bismillah, adalah muslim.
Semua yang muslim tidak boleh dihujat, dicela, diganggu, dikafirkan, disakiti hatinya. Apalagi diperangi dan dibunuh.
Di sisi lain, demikian pula Abu Bakr r.a., Umar r.a., Utsman r.a., Aisyah r.a., mereka muslim juga. Jangan juga dihujat dan dicela. Memandang rendah, menghina dan menghujat mereka, tentu juga akan menyakiti hati muslim lain, selain jelas-jelas melanggar larangan Rasulullah di hadis-hadis tersebut. Lagipula, untuk apa menghujat mereka, selain sebagai ekspresi kebencian?
Masalah beda jalur, beda mahzhab, beda sejarah, itu persoalan lain.
Hadis-hadisnya begitu jelas. Semuanya sangat sahih. Rasulullah melarang mengkafirkan, jangan menghujat, jangan menyakiti, jangan mengganggu. Kenapa bersikeras mengikuti anjuran yang sebaliknya? Apakah anjuran itu derajatnya lebih tinggi daripada hadits?
Jangan karena satu atau dua perilaku yang membuat kita tidak suka, sakit hati, atau marah, atau mungkin karena persoalan sejarah (yang diwariskan turun-temurun), membuat kita menjadi tidak adil sudut pandangnya.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, mempersaksikan dengan keadilan (qist). Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil dekat dengan taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8)
Jika sebuah kebencian atas suatu hal membuat persaksian kita terhadap seluruh persoalan jadi nggak adil, itu salah.
Dan di ayat itu juga, adil itu 'qarib' dengan taqwa. Herry M

Monday, December 4, 2017

pandangan Islam atas psikologi



Seorang mahasiswi psikologi datang untuk wawancara. Dia menanyakan: Apa pandangan Islam atas psikologi? Bagaimana posisinya?
Saya tegaskan bahwa yang saya katakan ini bukan mewakili posisi psikologi dalam Islam. Ini hanya pendapat saya. Sebagaimana dinyatakan oleh Jane Idelman Smith & Yvonne Yazbeck Haddad bahwa “…sebagian dari ajaran-ajaran eskatologi yang lebih populer, yang dalam hal ini, para penulis—kalangan teolog tradisionalis—telah gagal membedakan antara istilah nafs dan ruh, jiwa dan roh, baik dengan cara mempertukarkan kedua istilah itu maupun menggunakan yang satu untuk mengganti yang lain. Kecenderungan ini juga menjadi ciri sebagian besar analisis kontemporer. Persoalan bagaimana menamakan dan memahami fithrah kemanusiaan memang cukup njelimet sehingga banyak penulis kontemporer menegaskan bahwa mereka sangat malas membicarakan hal ini.”
Kerancuan itu bahkan terlihat lebih luas lagi dalam wacana Psikologi Islam, misalnya, bagaimana ketidaktelitian untuk membedakan antara nafs dengan hawa nafsu, nafs dengan psikis, lubb atau ‘aql (orang yang memilikinya disebut ulil albab) dengan nalar (otak), dan lain sebagainya. 
Gejala ini sebenarnya telah diungkapkan penyebabnya oleh Al-Ghazali sepuluh abad yang lalu, dan ternyata masih terus terjadi hingga hari ini, yaitu, dikarenakan pemahaman akan istilah nafs, ruh, qalb dan ‘aql yang “…sedikitlah kalangan ulama-ulama yang terkemuka, yang mendalam pengetahuannya tentang nama-nama ini, tentang perbedaan pengertian-pengertiannya, batas-batasnya dan apa yang dinamakan dengan nama-nama tersebut. Kebanyakan kesalahan itu terjadi karena kebodohan dengan arti nama-nama ini dan persekutuannya di antara apa yang dinamakan itu yang bermacam-macam.”
Saya katakan bahwa saat masuk ke toko buku, lalu melihat buku-buku yang membahas "kemana ruh kita akan pergi setelah kematian?", saya terdiam. Atau buku yang menceritakan bahwa seorang sufi telah didatangi oleh ruh Abu Yazid al-Busthami? Hah, bagaimana bisa ruh Abu Yazid datang kepada sufi itu? Bukannya nafs? Bahkan membedakan nafs dengan ruh pun sudah gagal, bagaimana mau membahas soal hidup setelah kematian? Lebih hancur lebur lagi saat muncul istilah 'arwah gentayangan'; oh ya? Ada arwah gentayangan? Apaan itu? Atau mendengar kata-kata: 'Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan.' Lho, satu orang itu punya berapa ruh sih sampai dikatakan 'semoga arwahnya' yang merupakan bentuk jamak dari ruh? Lagi pula, Al-Quran sama sekali tak pernah menyebutkan ada ruh yang ternodai oleh dosa dan disiksa karenanya. Atau melihat buku psikologi Islam dan sang penulis menyamakan psikis dengan nafs, bahkan dengan ruh. Saya langsung hilang selera. Saya katakan kepada sang mahasiswi: "Tolong sebutkan kepada saya, satu saja teori psikologi yang memandang bahwa psikis itu adalah entitas hidup yang terpisah dari tubuh. Tolong sebutkan satu saja teorinya. Apakah ada?" Dan dia menggeleng. Saya lanjutkan: "Itulah kenapa bab 2 tesis saya isinya membahas soal perubahan dari konsep diri sebagai jiwa yang terpisah dari tubuh hingga menjadi seperti sekarang, bahwa diri itu ya diri yang menempel di tubuh ini, atau gampangnya, ya tubuh ini sendirilah yang disebut sebagai diri."
Lalu saya katakan: "Merleau-Ponty bercerita tentang Schneider, seorang veteran perang, yang kepalanya kena pecahan granat dan jadi bermasalah dengan gerakan abstrak. Singkatnya, kalau ada kerusakan di otak kita, maka itu bisa berpengaruh juga pada psikis kita bukan? Kalau psikis itu punya kaitan erat dengan struktur fisiologis otak kita, maka saat kita mati dan otak ini terurai jadi tanah lagi, kenapa mendadak ada yang hidup lagi untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di muka bumi ini kepada Tuhan? Apa itu? Otak dan syaraf kita yang maujud jadi wujud astral bernama entah itu jiwa atau ruh, terserah sang penulis, itukah? Atau misalnya pernah ada penulis yang menyamakan id sebagai nafs amara bi su, lalu nafs lawammah sebagai ego, dan nafsul muthmainnah sebagai superego, maka nanti, saat Allah memanggil: 'Wahai nafsul muthmainnah' maka yang datang ke hadapan Allah Ta'ala adalah 'tempat penyimpanan nilai yang diajarkan oleh orangtua maupun para pengganti orangtua', karena itulah definisi superego menurut Freud. Begitukah?"
Lalu saya tunjukkan koleksi buku-buku saya sambil berkata: "Itulah sebabnya kenapa koleksi buku saya mayoritas adalah buku filsafat Barat juga psikologi Barat plus kajian budaya, di satu sisi, lalu kitab-kitab para sufi dan kajiannya, di sisi lain. Buku yang membahas topik seperti psikologi Islam, misalnya, sama sekali tidak saya beli karena seringkali hanya membuang uang saja."

Sunday, December 3, 2017

Berhentilah kamu dari kebiasaan mencela aib seseorang

Sudah sepatutnya, bagi mereka yang beroleh nikmat Allah berupa penjagaan dari kesalahan dan keselamatan dari perbuatan keji, untuk mengasihani orang-orang yang terjerumus ke dalam dosa-dosa dan pelanggaran. Lalu menjadikan syukur kepada Allah sebagai sesuatu yang lebih diutamakannya dan mencegahnya dari melontarkan celaan kepada orang-orang itu.
Betapa pula seseorang sampai hati mempergunjingkan saudaranya, lalu mengejeknya dengan bala yang menimpanya? Lupakah ia bagaimana Allah SWT telah menutupi dosa-dosanya sendiri yang jauh lebih besar daripada dosa saudaranya yang dipergunjingkannya? Bagaimana ia tega mencelanya dengan sesuatu yang ia sendiri juga pernah melakukannya! Dan seandainya ia belum pernah melakukan dosa seperti itu, ia pasti pernah melakukan pelanggaran yang mungkin lebih besar daripada itu terhadap Allah! Demi Allah, seandainya pula ia belum pernah melakukan pelanggaran yang besar maupun yang kecil sekali pun, namun keberaniannya mencela orang lain sudah merupakan dosa yang besar sekali.
Wahai hamba Allah, jangan tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya; siapa tahu barangkali Allah telah mengampuninya. Dan jangan sekali-kali meremehkan dosamu sendiri yang pernah kau lakukan, betapa pun kecilnya; siapa tahu barangkali kau akan mendapatkan azab Allah karenanya.
Berhentilah kamu dari kebiasaan mencela aib seseorang yang kebetulan kamu ketahui, demi menyadari aibmu sendiri. Dan sibukkanlah dirimu dengan mengucap syukur kepada Allah atas terhindarnya dirimu dari bala atau dosa yang menimpa orang lain.
(Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib ra)

Wednesday, November 22, 2017

Membebaskan Jiwa dari Pengaruh Jasad

Proses membebaskan jiwa kita dari pengaruh jasad adalah proses yang panjang. Setelah sekian puluh tahun lamanya jasad kita terbiasa dengan pola makan tertentu, pola tidur tertentu, memiliki selera tertentu, keinginan tertentu yang semuanya seperti membentuk siapa diri kita, padahal semuanya kebanyakan terpengaruh dari orang tua, masa asuhan, keluarga dan masyarakat sekitar. 'Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu', kenali dirimu maka engkau akan mengenali Rabb-mu, proses membebaskan jiwa dari pengaruh jasadiyah merupakan bagian dari proses pengenalan diri.
Lalu dimulai dari mana? Minimal kita mengimani dulu bahwa kehidupan kita yang tampaknya berserakan dan tak berhubungan ini ada hubungannya dengan Al-Qur'an. Minimal itu. Karena kalau sudah tidak yakin dengan Al-Qur'an, maka Al-Qur'an itu tidak akan bekerja untuk kita. Sesuatu yang tidak diyakini, pastilah tidak akan mujarab.
Prinsipnya, jika sudah ada kepercayaan bahwa ada hubungan antara kita dengan Al-Qur'an, baru akan terbuka rahasianya. Kalau tidak peduli dengan Al-Qur'an-nya, dibaca pun tidak, tidak peduli juga dengan nasib kita, dan kita pun tidak berusaha mencari jawaban pertanyaan dalam kehidupan selain hanya menunggu entah mentor yang menerangkan, entah pak ustadz, maka, sungguh, harta karun itu tidak akan terbuka. 
Jadi, masing-masing harus membuka sendiri. Kenapa? Karena setiap orang beda-beda kepalanya, beda-beda ujiannya, beda jalan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui dengan detail kehidupan sahabat sekalian kecuali diri sendiri dan Allah Ta'ala.
(Sepenggal pemaparan dari Mursyid saya ketika beliau mengampu Pengajian Hikmah Al-Quran.)

Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.

“Akhlaq yang mulia itu adalah karya seni terbaik Allah SWT.”
(Zamzam Ahmad Jamaluddin T., Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu (fîkum) ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan (al-‘amri) benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada ‘al-iman’ dan menjadikan ‘al-iman’ itu indah (zayana) di dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (alrrâsyidûna), sebagai karunia dan ni‘mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hujurât [49]: 7-8)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Akhlaq dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari “khuluq”, dan secara bahasa akhlaq sering diterjemahkan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, perangai atau tabiat. Namun, akar kata “khalaqa” yang artinya ‘menciptakan’ menjadi pembentuk kata khuluq, akhlaq, makhluq (yang diciptakan) dan Khaliq (Sang Pencipta). Dalam QS Al-Qalam [68]: 4 dinyatakan, ihwal Rasulullah saw, bahwa “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (khuluqul adzim).” Al-Adzim adalah salah satu asma (nama) Allah, dan untuk lebih memahami hal ini, perlu disimak tentang hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menoleh dengan memalingkan mukanya—yakni menoleh dengan memutar lehernya—karena jika menoleh, beliau menghadap dengan seluruh tubuhnya. Sadruddin Al-Qunawi menjelaskan bahwa:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketahuilah, di antara masalah yang menjadi sandaran para muhaqqiq dan syariat adalah bahwa kesempurnaan manusia adalah dalam berakhlak dengan akhlak Allah serta berhias dan meniru sifat-sifat-Nya yang agung. Tidak ada keraguan dalam keesaan al-Haqq, keesaan limpahan karunia-Nya, dan perhatian-Nya untuk menciptakan apa yang Dia kehendaki ciptakan. Perhatian-Nya pada penciptaan semut adalah seperti perhatian-Nya pada penciptaan ‘Arsy dan al-Kursiy. Karena, Dia disucikan dari terbayang padanya berbagai arah yang berbeda yang memberi aib di dalam tindakan-Nya sebab tidak ada kemajemukan dan pembagian. Keberbilangan, kemajemukan, perbedaan, dan sebagainya termasuk sifat-sifat segala yang bersifat mungkin (mumkinat) yang menerima perlakuan-Nya, dan menampakkan limpahan karunia-Nya.
Ketika masalahnya seperti itu, maka wajib bagi setiap orang yang berakhlak dengan akhlak Tuhannya agar tidak memperhatikan sesuatu kecuali secara keseluruhan. Dia harus menjaga diri dari mencampurkan bagian sesuatu dengan yang lain, sehingga dapat membagi perhatian. Bahkan, ia harus memperhatikan dengan sempurna segala sesuatu dengan kehadiran yang sempurna, meniru Tuhannya dalam hal menampakkan sifat-sifat-Nya yang menghiasi dirinya. Maka pahamilah niscaya engkau mendapat petunjuk. Insya Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ayat Al-Quran, hadis dan paparan dari Sadruddin Al-Qunawi di atas memperlihatkan keterkaitan antara akhlaq dengan makhluq dan Khaliq; bahwa, sebagaimana telah dijelaskan di awal, manusia itu diciptakan menurut citra Ar-Rahman, maka dalam ber-akhlaq pun, makhluq (manusia) harus berperilaku sebagai representasi atau perpanjangan dari Khaliq (Sang Pencipta).
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Etika [dalam] Islam” dan pernah dimuat di Majalah Basis.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Istilah lain yang suka dilekatkan kepada tashawwuf adalah mistisisme. Kata mistik berasal dari kata Yunani “mio” dan juga “myein” yang berarti “menutup mata” dan menunjukkan batas dari pengalaman inderawi untuk memandang ke dalam diri. Dalam pengertian ini, mistik berkaitan dengan upaya untuk masuk ke kedalaman (realitas). Kata “myeo” dalam bahasa Yunani juga merupakan asal kata mistik yang berarti “mengantar ke dalam misteri”, sementara kata “mysterion” berarti “upacara rahasia” untuk menyelami rahasia-rahasia iman. Kata “mystikos” dalam bahasa Yunani berarti “sebuah pencapaian kesatuan dengan yang sakral.” Mistik adalah pengalaman yang ‘melampaui' (transenden) pengalaman sehari-hari dengan ‘menyentuh inti realitas’ (yaitu yang Ilahi). Dalam ‘persentuhan’ itu terjadi ‘peleburan’ antara subjek yang mengalami dan isi pengalaman (Yang Ilahi). Karena bersentuhan dengan kedalaman misteri, pengalaman mistis tidak bisa diungkapkan sepenuhnya secara diskursif. Orang memakai metafora, perumpamaan dan simbol untuk mengekspresikan pengalaman itu, misalnya “perkawinan jiwa”, “larut bagai setetes air dalam lautan”, “mabuk cinta Ilahi”; selain itu ada juga lambang-lambang yang lazim seperti perjalanan, keheningan, terang dan gelap, kekeringan, padang gurun dan lain sebagainya. Mistisisme merupakan Jalan yang “tidak dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual” dan merupakan “arus besar keruhanian yang mengalir dalam semua agama” yang dalam Islam disebut dengan tashawwuf. Dalam ilmu ergonomi, dijelaskan bahwa 80% aktivitas tubuh manusia itu menggunakan mata; dengan demikian, kata mistisisme itu sendiri mengisyaratkan suatu cara perolehan pengetahuan bukan melalui tubuh maupun inderanya. Istilah ‘mistik’ yang biasa diucapkan secara populer dan asal-asalan di Indonesia tidak mengacu pada batasan di atas. Dalam pemakaian populer dan asal-asalan itu, kata ‘mistik’ tidak lain adalah sinonim dari ‘magi’ atau ‘sihir’ atau hal-hal klenik lainnya. Al-Ghazali membedakan dua jenis penglihatan, yaitu mata lahir yang disebut bashar, dan mata batin yang disebut bashirah. Dengan bashar, manusia hanya mampu melihat hal-hal yang lahiriah atau hanya penampakannya saja, yang Al Ghazali sebut sebagai khalq atau fisik. Sedangkan dengan bashirah, manusia bisa melihat khuluq atau wujud batin. Dari kata khuluq inilah nantinya dibentuk kata plural akhlaq, sehingga dengan demikian, akhlaq itu tak lain adalah wujud batin manusia. Sedangkan pengalaman mistik dalam tashawwuf itu tujuannya adalah untuk “fana” yaitu berserah diri total kepada Allah dan juga agar bisa mengenal Allah.
(Cuplikan dari tulisan saya yang berjudul “Ketika Tashawwuf Jadi Sebatas Tamasya Wacana: Mendudukkan Kembali Signifikansi Mursyid, Salik dan Thariqah” dan Insya Allah akan dimuat dalam Journal of Tashawwuf Studies, PICTS, Juli 2018.)
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad...

Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?

"Anda Bisa Menjadi Apapun yang Anda Inginkan?"
'Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Asal berusaha keras!'
Well, no. Nggak juga, sebenarnya. Itu cuma 'comforting lie', kalimat setengah BS untuk menaikkan semangat belajar kita ketika kanak-kanak.
Atau sekedar bumbu untuk memotivasi para trainee yang somehow sudah sulit melihat makna hidup dalam pekerjaannya atau kesehariannya--sehingga sekedar untuk menyalakan motivasinya sendiri ia sudah tidak mampu, lalu membayar dan menyuruh orang untuk menyalakannya.
Yah, kadang menyala sih. Untuk beberapa hari.
Kalau sampai dewasa dan kita masih percaya bahwa 'kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan', mungkin perlu sedikit lebih membuka mata melihat kenyataan.
The truth is, no. Kita nggak bisa menjadi seperti apapun yang kita inginkan.
Kalau kita nggak punya suara yang bagusnya agak jauh di atas rata-rata, ya nggak bisa jadi penyanyi. Nggak akan sukses dan bahagia di sana.
Kalau sampai usia SMU kita masih belum bisa mengimajinasikan konsep dan abstraksi di balik rumus-rumus matematika dan fisika (yang kita kira itu cuma hafalan), ya nggak akan jadi saintis di NASA. Kalau kita sampai kuliah selalu buruk dalam koordinasi otot jemari, ya nggak akan bisa jadi ahli bedah syaraf atau pemain piano. Kalau di usia 40 anda tiba-tiba ingin berubah haluan menjadi dokter, ya nggak bisa berkarir sebagai dokter.
Batasan itu ada. Selalu ada.
Gimana kalo berusaha keras?
Gini. Kalau kita terus berusaha keras meski tidak berbakat, tetap akan kalah oleh orang yang berbakat PLUS berusaha keras.
Saya tidak sedang bilang untuk tidak berusaha keras mencapai sesuatu dan hidup santai-santai saja. Bukan. Tapi, daripada berusaha keras pada bidang-bidang yang bukan bakat kita dan bukan natur kita, bukankah jauh lebih mudah--dan lebih menyenangkan--jika kita berusaha keras pada bidang-bidang yang memang kita berbakat di sana, dan senang berada di sana?
Bayangkan kalau Anda tidak berbakat masak, tapi ingin menjadi master chef. Anda berusaha keras, membeli buku-buku, dan sepulang kerja waktu Anda gunakan untuk kursus ini dan itu demi meningkatkan kemampuan, sampai lewat tengah malam. Waktu untuk anak istrinya dikorbankan. Badannya yang perlu istirahat tidak dipedulikan. Sedikit banyak, ia menzalimi kesehatan dirinya dan waktu untuk keluarganya.
Sementara rekan Anda, yang berbakat masak. Sekedar melihat dan mencicipi sebuah masakan, ia sudah bisa membayangkan resepnya dan bisa langsung membuatnya. Sekedar masak biasa saja, orang sudah meminta dibuatkan masakan. Ketika mencoba buka restoran, restorannya laku keras. Rezeki mengalir mudah. Dan mencapai titik ini dengan biasa saja, tanpa harus kursus sampai lewat tengah malam, sehingga tetap punya waktu untuk anak dan istrinya. Badannya tetap sehat karena hak istirahatnya tidak dilanggar.
Jika seseorang berhasil menemukan bakatnya dan bekerja pada naturnya, maka lingkungannya (baca: semestanya) pun terpenuhi semua hak-haknya dengan adil dan tidak terzalimi.
: :
Sabda Rasulullah, "Sesungguhnya setiap diri dimudahkan untuk mengerjakan untuk apa dia diciptakan." Bukhari 2026.
"Setiap manusia diciptakan untuk sebuah jenis pengabdian tertentu, sebuah tugas tertentu. Dan hasrat untuk melakukan jenis pekerjaan masing-masing itu telah disematkan dalam hati setiap orang." Jalaluddin Rumi.
"Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja." Confucius.
Artinya, ketika kita melakukan apa yang kita sukai, dan mudah bagi kita, kita tidak akan merasa sedang bekerja membanting tulang. Kita akan riang dalam bekerja.
: :
Bakat itu salah satu tanda yang akan mengarahkan kita ke bidang-bidang yang dimudahkan buat kita.
Di sisi lain, itu juga berarti bahwa setiap manusia juga memiliki bidang-bidang yang tidak dimudahkan baginya. Pagar ini jangan dilanggar. Nanti jadi bencana: kita tidak bahagia. Akhirnya jadi tidak bersyukur. Sampai tua mengeluh dan mati dengan menggerutu.
It's perfectly ok untuk menerima bahwa kita (ternyata) nggak bisa menjadi apapun sebagaimana yang kita inginkan. Makin cepat kita bisa menerima itu, makin baik. Artinya, kita bisa semakin fokus ke bidang-bidang lain: bidang yang kita suka, mudah mengerjakannya. Bidang yang kita sangat berbakat di sana.
Daripada sibuk menambal apa yang kurang, lebih baik fokus mengasah bakat dan kelebihan. Daripada memikirkan yang kita tidak punya, lebih baik menggunakan apa yang sudah di tangan.
Berusaha keras. Jangan diam dan santai-santai. Tapi akan lebih enak jika itu dilakukan dalam koridor bakat, atau yang mudah (baca: dimudahkan Allah) bagi kita.
Tapi saya nggak berbakat apa-apa, kang.
Itu mustahil. Setiap orang pasti, pasti, pasti, punya bakat dalam hal-hal tertentu. Hal-hal yang buat kita gampang, tapi buat orang lain sulit.
Allah itu --mustahil-- tidak memberikan bakat pada manusia. Itu kan modal dasar untuk menempuh kehidupan? Masa nggak dikasih.
Masalah sudah ketemu atau belum, atau belum mencoba mengeksplorasi dan menguji apa saja bakat kita atau pada bidang apa saja kita dimudahkan, itu persoalan lain.
Memang idealnya sejak kecil anak dibiarkan bereksplorasi pada berbagai hal--jangan dibilang boros. Biarkan anak mengerti pada bidang apa saja ia suka, dan bidang-bidang apa saja yang membuatnya bosan dan tidak suka, dan selalu gagal di sana -- meski sudah berusaha keras. Itu artinya, dia belajar mengenal dirinya. Sehingga kelak di usia SMA, anak sudah yakin dengan bidangnya dan pada hal-hal apa saja ia akan berkarya dengan ringan dan dimudahkan.
Dengan demikian, kuliahnya pun tidak 'sekedar' kuliah, 'sekedar' sarjana, 'sekedar' mencari pekerjaan, dan 'sekedar' untuk mencari uang, 'sekedar' syarat naik pangkat dan kenaikan gaji. Tidak. Jika seorang anak memasuki usia dewasa dengan memahami kelebihan-kelebihan dirinya dan pada bidang apa saja ia 'gape' dalam melakukannya, ia akan --berkarya-- di sana, bukan sekedar bekerja.
Ikan akan mati kalau ingin hidup di darat. Elang akan tersiksa dan hilang keindahannya jika dipaksa hidup di permukaan air. Itu naturnya bangau, bukan elang. Meski keduanya sama-sama burung. Itu sebuah ayat dari Allah ta’ala.
Kalau orang terus memaksa diri dalam pekerjaan dan lingkungan yang salah, itu akan jadi neraka baginya. Tapi, kalau orang ada dalam bidangnya, ia akan bersinar menjalaninya. 
Salam.
(Herry Mardian)
: :

Tuesday, November 21, 2017

Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati

"Kemuliaan seseorang itu terletak dalam keridhaannya terhadap takdir Allah Ta'ala, entah apakah Allah sedang menempatkan ia seperti Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, atau seperti Nabi Musa yang terusir dari negeri Mesir atau dalam keagungan singgasana Nabi Sulaiman, baginya sama saja, bahwa ia tetap ridha akan Allah, dan dalam pandangan Allah, itulah kemuliaan yang sejati."
(Ucapan Mursyid saya yang sampai kepada saya melalui istrinya. Setahu saya, dalam salah satu hadits, Rasulullah saw pernah bersabda "Mengabdilah kepada Allah dengan segala kerelaan hati. Jikalau engkau tidak sanggup, maka bersabar atas apa yang tiada engkau sukai itu banyak kebajikannya.")
# # # # # # # # # # # # # # # # #
Adakah pelukis yang melukis sebuah lukisan indah demi lukisan itu sendiri?
Tidak, tujuannya ialah untuk menyenangkan anak-anak atau mengingatkan kembali teman-teman yang telah lama berpisah kepada kenangan terhadap mereka yang mencintainya.
Adakah pembuat tembikar yang membuat kendi demi kendi itu sendiri dan bukan karena mengharapkan air?
Adakah kaligrafer yang menulis demi tulisan semata dan bukan demi kepentingan pembacanya?
Ini seperti langkah dalam catur, anakku: hasil dari setiap langkah dirasakan pada langkah selanjutnya.
Dengan memahami sebab di balik sebab, satu setelah lainnya, engkau mencapai kemenangan dan men-skak-mati.
Orang yang jiwanya bebal tidak tahu bagaimana maju: dia berbuat berdasarkan keyakinan serta melangkah secara buta.
Keyakinan buta, jika engkau ikut bertempur, adalah sia-sia seperti keyakinan penjudi atas keberuntungannya.
Apabila rintangan di muka dan di belakang terangkat, maka mata akan menembus dan membaca lembaran Yang Tak Terlihat.
Orang yang waskita ini melihat ke belakang ke asal keberadaannya – dia melihat para Malaikat mendebat Yang Maha Kuasa ketika hendak menjadikan Ayah kita (Adam) sebagai wakil-Nya,
Dan, sambil mengarahkan matanya ke masa depan, dia melihat segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Pengadilan.
Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.
Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala.
Kesucian ruhani terlimpah dari Karunia Ilahi; keberhasilan dalam menggosoknya juga merupakan Anugerah-Nya.
Usaha dan doa tergantung pada cita-cita: Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Tuhan sendiri adalah Pemberi aspirasi: orang yang kasar takkan bercita-cita menjadi Raja;
Namun takdir Tuhan tentang nasib tertentu bagi seseorang tidak merintanginya untuk berkemauan dan mengambil pilihan.
Ketika kesulitan datang, orang yang bernasib sial akan berpaling dari Tuhan, sementara orang yang diberkahi akan mendekat kepada-Nya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Sedekah

SEGALA sesuatu ada sedekahnya. Kenapa? Karena kita tidak memiliki segalanya seratus persen. Selalu ada hak orang lain di dalamnya. Katakanlah, mungkin 2,5 persen. Saya juga nggak tahu angka persisnya.
Segala sesuatu ada sedekahnya. Sedekah harta, tentu kita sudah tahu semua. Sedekah bagi perut (haknya perut) adalah dipuasakan. Sedekah bagi pikiran, haknya pikiran, adalah dibawa hening untuk merenung. Sedekah rumah adalah ruang tamunya: untuk menerima tamu. Sedekah bagi wajah adalah senyum dan bermuka ramah. Sedekah bagi tulang belulang kita adalah shalat dhuha. Sedekah bagi ruangan adalah pernah digunakan shalat atau membaca quran di dalamnya.
Kalau kita tidak pernah memberikan hak perut, misalnya, suatu saat tentu ia akan bermasalah. Bukan karena ia marah. Tapi, simply, karena membuatnya bekerja tanpa henti itu bertentangan dengan naturnya. Jadi wajar kalau 'rusak'. Itu satu contoh saja.
Sedekah kendaraan? Memberi tumpangan. Sedekah tenaga adalah membantu orang. Sedekah waktu, sedekah kesehatan, sedekah kemampuan, sedekah keahlian. Jika kita seorang dokter, misalnya, harus ada saat setiap bulan atau setiap tahun, di mana kita berperan sebagai dokter tanpa dibayar. Mungkin untuk orang kecil, sebulan sekali? Teknisnya, terserah masing-masing.
Seorang raja akan dihukum berat kelak, jika hak-hak rakyatnya tidak terpenuhi. Kita mungkin bukan raja di negeri kita--dihukumi tentang ini akan menjadi urusan para pemimpin kita. Namun kita adalah raja di jasad kita masing-masing. Kita juga akan dihukumi, jika hak-hak para penduduk negeri kita ini kita lalaikan. Kita akan dihukumi terkait diri kita dan apa yang kita miliki (baca: rakyat kita): harta kita, jasad kita, perasaan kita, ucapan, pikiran, lintasan hati, tenaga, dan lainnya. Seorang ibu akan dihukumi terkait diri, anak, dan rumah tangga. Seorang ayah akan dihukumi terkait diri, anak, istrinya. Seorang atasan akan dihukumi terkait bawahan-bawahannya. Dan seterusnya.
Kalau kita lalai bersedekah, Allah akan melindungi kita dari penghisaban berat kelak, dengan mengambil apa-apa yang bukan hak kita sebelum kita wafat. Dengan begitu, Dia tidak perlu menghisab kita terkait hal itu. Entah mengambilnya dengan cara apa, Dia lebih tahu. Kecurian? Kebakaran? Sakit berat yang biaya pengobatan sangat mahal? Atau saudara yang butuh dinafkahi? Banyak cara Allah membersihkan harta kita. 
Untuk apa sedekah? Bukan sekedar untuk, misalnya, membantu orang miskin. Itu cuma kewajiban sosial. Atau sekedar 'merasakan penderitaan orang yang tidak mampu'. Bukan. Itu terlalu naif. 
Sedekah adalah untuk menghubungkan kita dengan Allah ta'ala. Tapi yang menghubungkan kita dengan dia dalam hal ini bukan 'cuma' pahala. Ada yang lebih utama dari itu.
Jadi apa?
Jadikan sedekah kita sebagai 'mas kawin' akad kita pada Allah ta'ala. Sebuah transaksi. Berdaganglah dengan Allah ta'ala, jika mau disebut begitu. Atau apapun lah namanya. Intinya, ketika sedekah--uang, waktu, tenaga, pikiran, kemampuan--akadkan, "Ya Allah, aku suka menolong orang ini, karena aku pun akan sangat suka jika Engkau tolong. Tolonglah aku dalam dalam hari-hari sulit kelak, di dunia maupun di akhirat." Atau, "Ya Allah, mudahkan aku dalam hari-hari sulit, sebagaimana aku memudahkan orang ini menghadapi kesulitannya." Semacam itu. Itu contoh agar sedekah kita terhubung dengan Allah ta'ala. 
Nah. Dengan begitu, sedekah kita itu menjadi "sebuah doa dalam bentuk perbuatan". Du'a bil hal. Ada harapan kepada Allah yang dibawa oleh tindakan itu. Itu jadi sebuah tanda butuhnya kita pada Dia. Ada sebuah ingatan kita pada Allah, sebuah zikir, yang kita pakukan pada Sang Waktu, melalui tindakan itu. Makin berat upaya yang kita keluarkan, artinya semakin dalam kita memakunya.
Setelah itu, lupakan. Forget it and just go. Go on and live the life. Biarkan Allah yang mengingatnya.
Jadi, berbuat baik atau menolong pada orang lain bukan dengan pengharapan agar kelak dia menolong kita balik pada saat sulit. Atau ada sebersit harapan kecil untuk membina hubungan baik, agar bisnis dengan bapaknya lancar. Itu pamrih namanya. Salah besar. Apalagi sedekah sekedar untuk mengusir orang agar cepat pergi.
Dengan demikian, karena bukan itu tujuannya, maka kita pun tidak boleh sakit hati jika orang yang pernah kita tolong ternyata tidak menolong balik ketika kita dalam kesulitan. Itu tanda bahwa kita belum murni pengharapan pada Allah-nya. Belum ikhlas.
Tapi seandainya pun kita masih begitu, ya tidak apa. Artinya kita masih harus memohon pada Allah agar Dia memperbaiki diri kita--dan 'kegagalan ikhlas' ini pun menjadi ilmu buat kita tentang kondisi hati kita hari ini. Ini sebuah hikmah yang lain dari sedekah.
Kepada siapa bersedekah? Kepada yang benar-benar butuh. Cari. Lebih utama pada mereka yang menyembunyikan kesulitannya, atau menolak meminta-minta. Ini lebih sulit nyarinya.
Nggak usah nanya agamanya apa. Dia sholat atau tidak, atheis atau alim, bukan masalah dalam hal ini. Just help. Apa kita mau Allah pilih-pilih terhadap kita--hanya menolong kita hanya ketika kita sedang alim dan rajin baca Qur'an? Kita tentu ingin ditolong-Nya dalam segala keadaan dan segala kelemahan kita. Dalam ingat maupun dalam keadaan berdosa.
Semoga bermanfaat, dan selamat berhari Jumat.
(Herry Mardian - 21 November 2014).
: :
#repost [edit 21-11-2017]

Saturday, November 18, 2017

memasukkan siang ke dalam malam

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS Nuh [71]: 5-6)
#################
Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa “seandainya Nuh menyeru dengan cara ‘memasukkan siang ke dalam malam’ dan ‘malam ke dalam siang’, maka pasti dakwahnya berhasil.”
Dalam suatu kesempatan, Mursyid saya—yang kebetulan seorang dosen ITB dan doktor Geologi—menjelaskan bahwa: “‘Siang’ itu menyimbolkan aspek lahiriah seperti sains atau tradisi zaman, sedangkan ‘malam’ menyimbolkan aspek batiniah, seperti agama dan spiritualitas.”
Secara pribadi, itu pula yang ingin saya coba lakukan. Bahwa saya mempelajari filsafat dan cultural studies serta mencoba menulis dengan kaidah ilmiah—serta meninggalkan doktrin-doktrin agama yang harfiah lagi kaku yang pernah saya cicipi saat masih muda—maka itu adalah kegiatan “siang” saya. Juga aktivitas saya di Studia Humanika (Masjid Salman ITB) mau pun Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB, dan juga kuliah di STF Driyarkara. 
Bagi saya pribadi, itu bukanlah sekadar kegiatan serta kuliah demi selembar ijazah dan gengsi. Bagi saya, itu adalah jalan dakwah juga. Dengan memasukkan agama (malam) dalam setiap kegiatan tersebut; memasukkan malam ke dalam siang, namun juga memasukkan siang ke dalam malam. Saya melihat contoh itu langsung dari Mursyid saya. Sebagai seorang saintis, banyak pemaparan beliau soal hikmah ayat-ayat Al-Qur‘an dijelaskan melalui metafora dan alegori dari fenomena alam yang dideskripsikan secara saintifik. Namun bukan berarti beliau seorang Bucailis, yang menempelkan sebuah teori sains pada satu ayat Al-Qur‘an untuk menunjukkan ‘status ilmiah’ dari Al-Qur‘an. Itu fatal, karena jika suatu saat nanti, teori sains yang ditempelkan pada ayat Al-Qur‘an itu terfalsifikasi atau terbukti salah, maka, konsekuensinya adalah ayat Al-Qur‘an itu jadi ikut ‘terbukti salah’, sehingga bisa saja malah memunculkan tuduhan “ternyata Tuhannya orang Islam tidak tahu apa pun tentang alam yang diciptakan-Nya.” Fatal sekali bukan?
Dalam salah satu percakapan dengan Prof. Bambang Sugiharto, guru filsafat pertama saya, beliau pernah berkata: "Al, saya penasaran, seperti apa jadinya kalau ada seorang saintis merangkap mistikus juga? Kayak apa ya? Penasaran saya." Mendengar hal itu, saya hanya membatin dalam hati: "Saya kenal satu pak, bahkan beliau adalah Mursyid thariqah saya."
Nah, kini, mari kita lihat sejarah. Bukankah abad kejayaan Islam ditandai juga dengan abad kejayaan sainsnya? Tapi, hari ini, untuk menentukan awal bulan—entah itu Ramadhan maupun Syawwal—umat Islam di Indonesia masih meributkan hisab dan rukyat. Padahal astronomi Islam di abad pertengahan adalah yang terdepan di zamannya. Dulu, perkembangan pesat ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam itu justru lahir dari kebutuhan untuk ‘beragama’; bagaimana Aljabar lahir dari hukum waris, bagaimana astronomi lahir dari kebutuhan menentukan arah kiblat saat dalam perjalanan jauh, juga menentukan awal bulan Qamariyah, dan sebagainya. Bahkan indeks yang biasa kita temukan dalam berbagai buku ilmiah itu lahir dari kebutuhan untuk mengelompokkan hadits (karena hadits tidak seperti Al-Quran yang sudah baku urutan dan penomoran suratnya), dan banyak lagi hal lainnya.
Mursyid saya pernah berpesan bahwa “apa pun yang kita kuasai hari ini, yang ada di tangan kita, entah apa pun background keilmuannya, pada dasarnya itu adalah jembatan bagi kita masing-masing untuk berdakwah.” 
Itulah kenapa saya berulang kali menuliskan ihwal Skizofrenia Kultural yang banyak melanda umat Islam. Bagaimana seorang mahasiswa Fisika harus ‘memegang’ kaidah bahwa yang tercepat itu adalah kecepatan cahaya, namun saat datang ke Masjid Salman untuk mengikuti Peringatan Isra Mi‘raj, dia harus berganti ‘jubah’ menjadi seorang muslim yang mengimani ‘perjalanan lintas alam dan di atas kecepatan cahaya’ , atau mahasiswa Ekonomi yang di kampus belajar soal suku bunga dan seluk beluk perbankan lalu datang ke Masjid Salman untuk menyimak khutbah tentang haramnya riba dengan memakai ‘jubah’ sebagai seorang muslim. Dan banyak lagi fenomena semacam ini, belum lagi fenomena bagaimana Islam menjadi 'makmum' atau 'keset: bagi wacana-wacana teoretik (post)modern, sehingga Islam harus selalu menyesuaikan diri terus menerus dengan berbagai ritme perubahan dalam dialektika wacana teoretik (post)modern tersebut.
Belum lagi fenomena medioker, yang belajar segala hal serba tanggung. Seperti kata pepatah: ‘Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.’ Belum lagi fenomena ‘kata ustad ana’ yang sedemikian sakti dan bisa dipakai untuk mengkafirkan siapa pun yang tidak sepengajian dengannya. Walaupun sangat terkenal, tapi kalau kita cari di Google dengan keyword ‘ustad ana’, kok tidak muncul juga wajahnya. Heran. Palingan saya hanya berhasil menemukan obat bernama “ENTECAVIR”, tapi tidak untuk foto wajah ustad ana...
Selain itu, saya pun menolak misi dan visi hilirisasi dari Kemenristekdikti yang memposisikan “manusia hanya terlahir serta dididik untuk industri” yang harus melakoni pekerjaan nan tak disukai dengan pola ‘I don‘t like Monday’ ke ‘thanks God it‘s Friday’. Padahal inti ajaran agama itu bahwa “Allah menciptakan manusia itu dengan tujuan khusus bagi setiap individu.” Seorang Einstein saja bisa menyatakan bahwa “Semua orang terlahir jenius. Tetapi jika Anda memaksa seekor ikan harus bisa memanjat pohon, maka Anda telah membuat dia menghabiskan seumur hidupnya bahwa dirinya bodoh.”
Bagi saya pribadi, ini bukan cuma kata-kata bijak. Saya merasakan sendiri bagaimana menjadi mahasiswa biasa-biasa saja dan nyaris bego abis, karena kuliah di Desain Produk. Saya merasakan bagaimana tidak enaknya jadi “ular laut yang bisa bergerak lincah di dalam laut, namun mendadak kikuk saat diangkat ke darat”. Sedangkan, terkait dengan sisi malam, itu adalah sisi mistik saya sebagai seorang salik dari sebuah thariqah selama 20 tahun ini. Namun, yang saya bagi ke publik pun adalah ajaran-ajaran yang semoga berguna bagi siapa saja (dan bukan pengalaman mistik yang hanya untuk diri sendiri).
(Cuplikan obrolan lama bersama para sahabat yang memiliki visi sama.)