Wednesday, January 4, 2017

Keilmuan dan Karakternya -Peran ulama di Suriah-

Yang belum kita kaji secara santai di forum fesbuk adalah faktor keilmuan dan karakter dalam perang panjang di Suriah.
Secara mudah kita katakan bahwa kemenangan pasukan Pemerintah Bashir al Assad difront-front tempur dalam hampir enam tahun melawan pemberontak, milisi bersenjata, dan kemudian kelompok ISIS/Daish (Daurah Al Islamiyah min Iraq wa Syam) adalah berkat dukungan Rusia, Iran, milisi Hezbollah, dan milisi popular Syiah di Iraq.
Pendapat demikian adalah benar hanya saja tidak berimbang dan terlalu memudahkan cara kita mengambil kesimpulan lapangan.
Mengingat pertanyaan yang serupa dapat kita lemparkan kepada pihak yang berseberangan. Seperti misalnya mengapa para pemberontak, ISIS/Daish -di plesetkan menjadi daesh (pengacau)- yang didukung persenjataan, penasehat militer, keuangan, diplomasi, dan juga media-framing secara besar-besaran dan lebih kuat oleh AS, Prancis, Inggris, Saudi, Qatar, Jordan, dan Turki itu bisa gagal menjatuhkan rejim Assad?.
Maka untuk menjawab ini ada beberapa hal yang dapat kita pungut dari teori konflik Johan Galtung, yaitu: steadfastness atau kekokohan masyarakatnya untuk bertahan dan keilmuan serta karakter dari pemimpinnya.
Kemudian bila disandingkan dengan empat elemen konflik dari Edwar Azar yang salah satunya adalah peran pemuka (agama, etnis, sipil/masyarakat, militer, pemodal, dll..) sebagai syarat apakah konflik akan berlangsung cepat atau berkepanjangan dan melibatkan modal-modal sosial (protracted social-conflict), maka dalam kita melihat besarnya peran tokoh agama sebagai pemicu sekaligus solusi konflik Suriah.
***
Tidak dapat diabaikan bahwa kedatangan the so called ratusan ribu milisi asing ke Suriah antara lain dipicu oleh adanya fatwa Syek Jusuf Al Qardhawi penulis banyak buku fatwa yang sangat produktif di Saudi. Adalah Qardhawi yang secara terbuka via media-massa, media sosial berbagi yang menyatakan bahwa perang ke Suriah menjatuhkan rejim Assad, untuk membunuh para ulama, militer dan rakyat Suriah yang mendukungnya sebagai perang Jihad.
Yusuf Qardhawi, yang buku-bukunya banyak diterjemahkan di Indonesia (dimana saiya pun dengan senang hati mendapatkannya secara gratis) sampai pada satu kesimpulan bahwa; semua muslim di dunia harus datang berjihat ke Suriah. Ia sendiri bahkan bersumpah untuk datang berjihad ke Suriah.
Reproduksi fatwa melalui media framing inilah yang dengan cepat ditangkap kebanyakan orang bahwa di Suriah tengah terjadi perang jihad antara Suni versus Syiah. Pendapat inilah yang dipercaya menjadi alasan dari kelompok yang membunuh Ulama terkemuka Sunni Suriah Syech Ramadhan al Buthi dan puluhan muridnya lewat ledakan bunuh diri di dalam masjid raya Damaskus.
Seperti kita ketahui Ramadhan Bouthi -beberapa bukunya diterjemahkan ke Indonesia; Menggugat Islam tanpa madzab?- dikenal ketinggian ilmunya karena menjadi emeretus dalam bidang perbandingan antar madzhab, ilmu-ilmu tarekat Islam, dan salah satu tokoh penting dialog antar kebudayaan. Selain beberapa habib terkenal di Indonesia pernah berguru kepadanya.
Ramadhan Bouthi adalah kunci dari kuatnya dukungan kelompok penganut Sunni kepada pemerintahan Bashir Assad. Bouthi dibunuh karena di awal-awal gerakan pro reformasi ia adalah orang yang menolak digunakannya kekerasan terhadap pemerintah dan ia juga yang mengeluarkan ajakan agar rakyat Suriah tetap dalam satu barisan. Kelak kematian Bouthi inilah yang malah menggerakkan mobilisasi tentara cadangan rakyat Suriah dan milisi Hezbollah yang Syiah untuk semakin kuat bergabung dengan militer Assad dalam perang terhadap kelompok Daesh/ISIS.
Eksekusi yang gagal juga dilakukan kepada Imam masjid Aleppo Syech Badrudin Hassan,meskipun kemudian anaknya menjadi korban pembunuhan. Seperti halnya Bouthi, Badrudin adalah ulama yang menolak digunakannya perlawanan bersenjata dan masuknya milisi jihadis ke Suriah. Ia juga bersama Syech Ramadhan Bouthi yang mendorong undang-undang amnesty perang di parlemen Suriah yang mengikat presiden untuk memberikan pengampunan luas kepada rakyat Suriah yang terlibat terorisme melawan negara. Syeck Badrudin bahkan menjadi orang yang pertama mengusulkan amnesti penuh kepada para pembunuh anaknya.
Menjelang Natal Desember, ketika Aleppo kembali dikuasai pemerintah Assad dan masjid raya Umayah Aleppo kembali mengumandang adzan lewat menara-menaranya (yang sebelumnya dibid'ahkan kelompok ISIS), Syeck Badrudin Hassan pula yang menawarkan kepada Syeck Yusuf Qardhawi untuk merenungkan kembali ajakan fatwa jihadnya dengan datang mengunjungi masjid Aleppo dan sembahyang bersama jamaahnya.
Tanpa ketinggian ilmu dan karakter yang luhur, pemimpin seperti ini mustahil dapat menumbuhkan ketahanan dan kesabaran masyarakat Suriah untuk tetap berbesar hati dengan apa yang mereka alami. Ketahanan ulama dan pemuka agama lainnya inilah yang membuat Assad berhasil mengerahkan modal masyarakat untuk memenangkan perang.

0 comments:

Post a Comment