Friday, June 30, 2017

Belajar Filsafat

“Kamu kuliah di jurusan apa?”
“Filsafat Om.”
“Kamu mau jadi ateis ya?”
Beberapa hari ini, cuplikan dialog di atas banyak menyebar, baik di FB mau pun di WA group. Seorang sahabat saya menuliskan tanggapannya sebagai berikut:
“Dulu, waktu saya mau kuliah psikologi, diprotes oleh paman: “Nanti sekuler...” Dan ternyata memang sekuler...”
Saya menanggapi: “Kuliah mana sih saat ini yang gak ‘sekuler’?”
Lalu ditanggapi ramai-ramai, di antaranya adalah: “Kuliah Subuh nggak insya Allah.” Dan “Kuliah Dhuha dan juga Kuliah Tujuh Masehi eh Menit (Kultum)”...
Kembali ke cuplikan komentar di atas, sebenarnya itu hanya satu dari sekian stereotip ihwal orang yang belajar filsafat. Saya sendiri pernah dinasehati dengan sangat serius oleh seorang aktivis Islamisme bahwa ‘belajar filsafat akan membuatmu gila’...
Well, kalau sekadar ‘gangguan jiwa’, tak perlu belajar filsafatlah, karena menurut Opa Freud, kita semua ini menderita neurotik... Mau apa lagi?
Tapi, di sisi lain, saya malah lebih sering mendapat pertanyaan: “Kang, bagaimana sebaiknya mempelajari filsafat? Buku apa yang direkomendasikan?”
Well, belajar filsafat itu relatif mudah kok, dan banyak buku yang bagus untuk mengajarkan itu, apalagi kalau biasa baca buku berbahasa Inggris. Yang lebih sulit itu adalah belajar filsafat sambil mendalami agama hingga dimensi esoteriknya. Itu baru namanya tantangan tak berujung sepanjang hayat dikandung badan. Petualangan yang menegangkan.
Misalnya, banyak kalangan terpelajar mengomentari isu LGBT—yang belakangan ini semakin ramai—cukup dengan hanya bermodalkan filsafat dan wawasan teoretik ini itu, dengan pedoman kemanusiaan dan toleransi. Mudah. Sangat mudah. Tinggal kutip pemikiran ini itu, dan dengan semangat humanisme sekular dan anti-esensialisme, selesai sudah. Tidak rumit kok. Kesimpulannya: “penolakan agama atas LGBT itu tidak masuk akal; harus direvisi. Ini udah zaman (post)modern...”
Mengomentari bahwa agama itu begini begitu, harus ‘dikoreksi’ dan ‘direvisi’ dengan teori ini itu. Misalnya, “Jilbab itu represi terhadap perempuan”; “Allah tak melihat orientasi seksual, dia hanya melihat hati, hanya melihat ketakwaan”, tapi saat bicara soal poligami tinggal dibalikan saja sudut pandangnya bahwa ‘itu cuma urusan selangkangan yang mencari pembenaran melalui agama’, ‘itu hanya hukum yang berlaku buat masyarakat saat itu, sekarang sih udah beda’; sehingga kesimpulannya ‘bela LGBT, ganyang poligami’; dan berbagai pernyataan lainnya yang sejalan dengan kepentingan politik wacananya agar sesuai seleranya.
Singkatnya, jadikan agama itu sebagai keset atau budak yang harus senantiasa melayani dan menyesuaikan diri terus menerus dengan perubahan wacana rasional sekular. Mudah bukan?
Tapi, cobalah dalami juga agama, hingga dimensi esoterisnya. Alami dan jalani secara langsung, jangan cuma sebatas bacaan lalu kutip sana kutip sini. Coba sintesiskan tapi bukan dengan cara utak atik gathuk alias cocokologi; lalu coba lihat berbagai perkembangan dan isu yang tengah berkembang. Terbayangkankah?
Well, sebagai manusia yang pernah merasakan jadi ateis, agnostik, anarkis dan akhirnya ‘mendarat’ di dunia esoterik, secara pribadi akhirnya saya menyadari bahwa kebutuhan saya tidak sebatas wacana rasional sekular yang memuaskan kepala. Saya butuh lebih dari itu. Dan itu merupakan pergulatan yang menegangkan namun juga membuka banyak wawasan, karena saya tidak membatasi serta membonsai diri sendiri hanya pada wawasan rasional sekular semata dan menolak menjadikan agama sebagai budak atau keset dari wacana rasional sekular.
Itu yang bikin hidup jadi lebih hidup :-)
Kembali kepada cuplikan obrolan di atas, di kalangan pembelajar filsafat, sebenarnya ateis itu bukanlah suatu kemestian. Tapi ‘tidak peduli lagi pada agama’ itulah yang paling lazim terjadi. Atau, agama dipaksakan untuk menyesuaikan diri agar selaras dengan wacana yang digelutinya, misalnya ‘posisikan Rasulullah sebagai seorang feminis modern dan Islam disesuaikan dengan aliran pemikiran feminis tertentu, maka segala hal dalam Islam yang tak sejalan dengan ‘kepentingan’ wacana tersebut tinggal dibabat habis saja. Maka, Islam dan Rasulullah pun tampil dalam wajah modern (sesuai selera sang pewacana).
Menurut saya, selain hal tersebut di atas, yang paling menakutkan namun sering terjadi pada pembelajar filsafat adalah AROGANSI. Merasa diri telah menjadi manusia setengah dewa dan memandang rendah orang-orang yang tak belajar filsafat yang dikategorikan sebagai kalangan mami alias malas mikir.
Dalam Islam, kita mengenal istilah UJUB, yang, secara etimologi, mempunyai arti sebagai kegembiraan atau kebahagiaan. Namun, kata ini juga memiliki arti pengagungan atau membesarkan. Menurut Ahmad Rifa‘i, secara bahasa, ujub adalah membanggakan diri dalam batin. Sedangkan menurut terminologis, ujub adalah perasaan takjub terhadap diri sendiri sehingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Al-Qur‘an menegaskan hal ini sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18).
Sedangkan dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Seandainya kamu tidak melakukan dosa, niscaya Aku (Nabi) mengkhawatirkanmu melakukan dosa yang lebih besar, yaitu ‘ujub.”
Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi pernah menuliskan bahwa ada empat orang yang selama-lamanya tak akan pernah keluar dari neraka dan tak akan pernah bertemu dengan Tuhannya, yaitu, orang yang ateis dan orang yang sombong. Dua lagi saya lupa. Saya cuma ingat dua jenis manusia itu karena, secara tak sadar, dua hal itulah yang paling dekat dengan diri saya dan harus saya ingat baik-baik untuk diri sendiri.
Nah, selain arogansi merasa paling kritis dan cerdas karena nalarnya tajam, hal lain yang mengikuti biasanya adalah ego yang setinggi langit, enggan mengaku salah atau meminta maaf. Masalahnya, nalar yang terlatih dengan filsafat bisa menyediakan pembelaan diri yang canggih kok. Jangan ragukan itu.
Secara pribadi, hal semacam inilah yang paling sering menjadi ketakutan yang membayangi diri saya. Bukan ateisme. Saya sudah pernah merasakan jadi ateis dan bersyukur bahwa akhirnya saya menyerah kalah di hadapan-Nya. Tapi, untuk menjadi seorang yang sombong dan ego setinggi langit, merasa telah menjadi manusia setengah dewa dengan nalar yang sakti mandraguna, itu sih tidak perlu menjadi ateis dulu.
Jadi, menurut saya, ketimbang memperingatkan seorang pembelajar filsafat dengan perkataan “kamu mau jadi ateis” atau “hati-hati nanti jadi gila”, sebenarnya lebih baik diingatkan agar mereka selalu rendah hati. Kalau soal agama dijadikan keset atau budak untuk melayani kepentingan wacana yang jadi ‘selera pembelajarannya’, itu sih susah. Biasanya kesadaran akan ‘ketergesa-gesaan akibat keterpesonaan pada akrobat nalar ([post]modern)’ semacam itu baru muncul saat usia makin menua dan kematian semakin mendekat. Toh, belakangan, dalam salah satu tulisannya, Ulil Absar Abdala pun akhirnya mengakui ‘ketergesa-gesaannya’ saat di awal mengusung wacana Islam Liberal, yang dia istilahkan dengan ‘bias against’ dan ‘bias for’...
Saya teringat secuplik obrolan lama dengan Romo Setyo di Masjid Salman, saat kami pertama kali bertemu, dan saya belum jadi mahasiswa STF Driyarkara, adapun saat itu beliau diundang untuk menjadi pembicara soal Platon. Beliau bertanya: “Al, kamu tidak anti kan sama Islam Liberal?” Saya jawab: “Tidak Romo, hanya saja saya tidak tertarik mengikuti cara berpikirnya. Itu saja.”
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam. (Alfathri A)

Travel tips dan trik

Bagi yang ingin melancong ke eropa.
Visa
1. Bahwa untuk izin masuk, di eropa ada visa schengen tetapi tidak semua negara eropa anggota schengen.
Cek juga Daftar negara subyek bebas visa eropa dan yang menyediakan visa on arrival (visa di urus di gate kedatangan). Negara2 anggota persemakmuran biasanya memberikan kepengurusan visa ke pihak ke tiga atau via online.
2. Ada beberapa negara eropa yang tidak membutuhkan visa bagi pemegang passport dinas/biru Indonesia. Mereka Belanda, Belgia, dan Prancis.
3a. Bandara utama yang jadi hub eropa ada 4: Franfurt, Amsterdam Schipol, Charles Gaule Paris, dan Zurich Swiss.
3b. Jika berkunjung ke negara yang tidak menggunakan schengen seperti Swiss, Bulgaria, Belarus, harap diperhatikan dimana pesawat transit. Bandara Frankfurt atau Zurich akan meminta visa schengen, karena Jerman dan bagian Swiss ini terima schengen.
Biasanya pas naik pesawat menuju transit pertama (Singapura, KL) kita akan diturunkan petugas imigrasi.
Saran, sebaiknya bila penerbangan transit di eropa pilih dua negara ini: Belanda (Schipol) dan Prancis (Charles de Guile).
4. Waktu mengurus visa bisa berbeda tiap kedutaan. Jerman bisa diurus dalam 3 hari kerja, sementara Inggris lebih lama.
5. Untuk negara-negara yang cerewet, seperti Inggris atau AS, saiya mengurus visa masuk di Singapura. Selain gak perlu terhina antri dari subuh di kedutaan dan diperlakukan seperti teroris, di singapura bisa selesai dalam satu hari (besok diantar ke lokasi tinggal/inap).
Tiket
1. Saiya suka naik kelas ekonomi. Selain harganya murah, saiya kadang berkenalan dengan beberapa penumpang lainnya. Kelas yang lebih tinggi biasanya diminati mereka yang mengejar privasi. Sementara saiya agak mudah bosan kalau duduk lama tapi nganggur.
2. Pembelian tiket paling murah via online. Bisa dibayar pakai kartu kredit saudara atau kartu debit. Kartu debit Indonesia yang baru bisa dipakai itu ATM keluaran CIMB, BCA. BNI atau BRI mungkin juga bisa, belum pernah coba
3a. Saiya suka pakai situs pencari Skyscanner.com, atau traveloka di Indonesia. Perhatikan kalo harga tertera bisa jadi blum termasuk pajak, bea admin, tempat duduk.
Tiket pesawat atau kereta eropa biasanya jual pisah antara tiket naik dan tempat duduk.
3b. Sepengetahuan saiya tiket akan murah bila dibeli jauh-jauh hari. Tetapi belakangan saiya membeli tiket "nyaris" waktu keberangkatan. Ternyata harganya dibanting. angebote kata orang Jerman.
4. Kalau mau lebih murah, harus rajin-rajin cari penerbangan aneh. Misal naik dari Bandung ke Kuala Lumpur, atau jakarta Quangzhou, Azerbaijan, baru ke Frankfurt, CDG Paris atau Schipol.
Rencana Perjalanan
1. Ini yang jarang difahami pelancong Indonesia. Memprint-out rencana perjalanan.
Maskapai, kereta api atau bus ke eropa selalu membuka kemungkinan mengubah jadwal rencana perjalanan. Jangan sampai naik kreta dari Amsterdam ke Paris gak taunya 4x transit ganti kereta.
2. Rencana perjalanan membantu kita menghitung waktu transit di bandara. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit dari kedatangan Cengkareng di Changi ke pesawat menuju eropa. Atau hampir satu jam dari kedatangan lokal eropa ke gate penerbangan asia. Jika waktu transit hanya satu jam, ini benar-benar sport jantung. Belum lagi pemeriksaan2 yang mungkin padat antrian.
Saiya pilih waktu transit minimal 2 jam, biar bisa sedikit santai.
Penginapan
1. Penginapan mudah dibooking tanpa perlu membayar di muka atau kena denda bila dibatalkan. Booking saja beberapa tempat.
Handy
1. Beli segera nomor lokal agar bisa internetan. Nelpon, internetan, Ngandelin jaringan ponsel indonesia bikin miskin.

Teror dalam Konflik

Membedakan teror sebagai modus operandi dalam konflik dan teror sebagai pre-text atau dalih dalam konflik itu sebenarnya tidak sulit-sulit juga.
Teror sebagai modus operandi bertujuan menciptakan ketakutan publik kepada sebuah otoritas -seperti ISIS di Irak dimana mereka melakukan eksekusi, menyembelih, memancung orang di pinggir jalan- agar di saksikan publik dengan tujuan menggetak, mengancam, menakut-takuti untuk mendapatkan penghormatan atas ideologi yang mereka bawa.
Teror yang seperti ini ia memiliki lebih banyak kepentingan politis daripada strategis.
Sementara teror sebagai sebuah dalih, lebih banyak memiliki kepentingan strategis daripada politis. Ini bisa meliputi kepentingan ekonomi, politik, dan institusi sebuah grup atau negara.
Pada berita terbaru mengenai penikaman anggota kepolisian oleh seseorang dalam masjid saiya melihatnya bukan sebagai tindakan "teror" atau"terorisme" yang sifatnya modus operandi.
Seperti pernah kita bahas dalam kejadian bom bunuh diri di dekat posko polisi di Terminal Kampung Melayu, maka serangan-serangan tadi bersifat terukur. Target yang diserang telah diobjektivikasi -yaitu kepolisian- adalah mereka yang dianggap kombatan (terlibat konflik) dan memiliki persenjataan. Kemungkinan besar serangan kepada anggota kepolisian adalah bagian dari "perang" antara pihak berwajib dengan mereka yang dianggap teroris. Dalam kasus ini definisi teror atau terorisme untuk menciptakan ketakutan publik dengan bentuk serangan acak tidak dapat digunakan.
Di sini publik harus berhati-hati dengan kemungkinan penggunaan teror sebagai sebuah dalih. Teror sebagai sebuah dalih, dalam sejarahnya lebih sering digunakan oleh negara dan pemerintahan yang legal demi tujuan-tujuan yang sebenarnya mirip dengan terorisme. Hanya saja kepentingannya bisa berbeda. Misal terorisme negara yang dilakukan AS di Afganistan, Libya, Suriah, atau Yaman bertujuan geopolstratejik sekaligus ekonomi (minyak-gas dan penjualan senjata).
Pada pemanfaatan teror bagi dalih ini kita perlu berhati-hati. Masih kita ingat ketika terjadi serangan bom Kampung Melayu menjelang bulan Ramadhan lalu yang dikatakan kepolisian sebagai serangan teror, meskipun target atau korbannya adalah anggota kepolisian.
Seorang perwira tinggi mengancam akan menuntut mereka yang menganggap serangan bom kampung melayu sebagai sebuah rekayasa.
Sejak kapan berbeda opini dianggap melawan institusi kepolisian apalagi negara dan dimana ada serangan bom dilakukan tanpa proses enjinering atau rekayasa.
Pada kasus-kasus selanjutnya, seperti penyerangan mapolda Sumut, kepolisian begitu cepat mengungkap para tersangka dan menyebut sebuah jaringan teror. Beberapa orang di sosial media mengatakan jika motif penyerangan tadi bukanlah teror mendirikan negara Islam melainkan persoalan hutang-piutang.
Di dunia yang serba terbuka seperti sekarang, dimana setiap orang dapat mengakses dan memverifikasi sebuah berita, maka dominasi kesimpulan dengan cara membingkai cara berpikir dan berkesimpulan publik adalah sebuah tindakan teror intelektual.
Kita harus membuka diri atas pendapat-pendapat lain yang pasti perlu untuk dipertimbangkan. Jika tidak, maka setiap ada kejadian A maka publik harus menerimanya sebagai kesimpulan B. Jika kesimpulan B maka perlu ditingkatkan anggaran untuk kegiatan C, D, F atau G.
Ini adalah contoh bagaimana sebuah teror difungsikan sebagai sebuah pre-text.

Thursday, June 29, 2017

Do'a

Islam mengajarkan banyak do'a. Misalnya:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).
Rosululloh s.a.w. sendiri mengajarkan banyak do'a yang dipakai dalam keseharian kita. Dimulai dari do'a bangun tidur, masuk ke kamar mandi, memakai pakaian, bepergian ke luar rumah, sampai do'a menjelang tidur. Seolah-olah semua kehidupan manusia tidak pernah lepas dari do'a karena kita yakin tidak ada daya dan upaya melainkan atas pemberian Allah yang sangat menyayangi kita.

Tujuan Penciptaan Manusia



Untuk apa Allah menciptakan manusia? Jawaban yang seringkali diajukan adalah: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzâriât [51]: 56)
Lalu, bagaimana cara kita mengabdi kepada-Nya? Apakah hanya dengan sujud minimal 34 kali dalam sehari? Apakah memang Dia butuh untuk kita sujudi sedemikian rupa? Padahal, dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku.” (HR. Muslim, no.2577)
Lalu untuk apa kita menghamba dan mengabdi kepada-Nya, sementara semua itu tidaklah menambah apa pun bagi-Nya? Apakah ibadah atau ritual yang banyak dipercaya sebagai tujuan penciptaan manusia itu juga merupakan alasan agar manusia tidak masuk surga atau neraka? Sementara dalam salah satu hadits dinyatakan:
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?” Jawab Rasulullah Saw, “Ya!” Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?” Beliau menjawab: “Masing-masing beramal sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari)
Baiklah, jika penghuni surga dan neraka itu sudah dikenali, maka apa yang harus manusia lakukan?
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)
Dan, Allah pun menegaskan dalam Al-Quran bahwa “Sesungguhnya usaha kamu berbeda-beda. Ada pun orang yang berderma dan bertaqwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang mudah. Ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al-Lail [92]: 4-11)
Dalam kitab Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi menjelaskan sebagai berikut: “Dan seseorang berkata, ‘Aku telah melupakan sesuatu.’ Sesungguhnya, hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan. Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi melupakan yang satu itu maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim seorang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun… ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada petala langit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka menolak untuk memikulnya dan gentar kepadanya; tetapi Al-Insan mengambilnya; dan sungguh, ia itu zalim dan bodoh’” (QS Al-Ahzab [33]: 72).
Amanah? Apa itu amanah?
Pada suatu ketika Nabi saw sedang berbicara dengan orang banyak, tiba-tiba datang seorang Arab dusun menanyakan kepada beliau: “Bilakah datangnya sa‘at (hari-hari kehancuran)?” Rasulullah tidak langsung menjawab, tetapi beliau meneruskan pembicaraannya dengan orang banyak. Karena sikap Rasulullah yang demikian itu, sementara orang mengatakan Rasulullah mendengar pertanyaan itu tetapi beliau tidak menyukainya. Dan setengah lagi mengatakan beliau tidak mendengarnya. Setelah Rasulullah selesai berbicara beliau bertanya, “Di mana orang yang bertanya perkara sa‘at tadi?” Orang itu menyahut, “Saya ya, Rasulullah!” Rasulullah bersabda “Apabila amanah telah disia-siakan orang, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.” Tanya orang itu, “Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?” Jawab Rasulullah, “Apabila suatu amr (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.”(HR Bukhari)
Lalu dalam salah satu syair Matsnawi, Rumi kembali menegaskan:
“Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.”
Dan dalam Rubaiyat F#77, Rumi pun menuliskan sebagai berikut:
Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain.
Dari dalam diriku, aku tak tahu harus lakukan apa.
Tak kulihat siapa, kudengar namaku di seru dari luar.
Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.
Jadi, apakah Allah menciptakan kita hanya untuk sujud minimal 34 kali dalam sehari? Hanya untuk berhaji? Berzakat dan berbagai ritual lainnya? Sesederhana itukah Dia menciptakan alam semesta ini dengan hadirnya seorang khalifah di muka bumi? Hanya untuk itukah Dia menciptakan manusia lalu menyuruh malaikat bersujud di hadapannya? Hanya untuk beribadah dan beribadah sambil tidak tahu: hanya untuk ini sajakah sehingga saya harus ada di muka bumi ini? Saya tak minta diciptakan dan tak meminta semua masalah ini, dan untuk apa Dia ciptakan saya? Kenapa saya dimudahkan melakukan hal ini dan tidak hal yang lain? Saya tidak meminta ini semua, lalu untuk apa saya ada?
Maka, cobalah kita mengingat kembali sebuah hadits qudsi saat Allah berfirman: “Aku adalah Khazanah Tersembunyi (Khanzun Mahfiy), dan Aku cinta untuk dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk sehingga Aku dikenal.”
Bagaimana agar kita bisa mengenal-Nya? Bukan tahu, entah melalui cerita para ustadz atau membaca buku. Bagaimana agar mengenal-Nya karena bertemu dengan-Nya? Dalam hadits yang dishahihkan oleh kalangan Syi‘ah dan banyak dikutip oleh para sufi—mungkin ini yang membuat para sufi selalu diidentikkan dengan Syi‘ah, entahlah, dan menurut saya, itu memang tuduhan asbun dan asal-asalan—bahwa “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, yang artinya “barangsiapa mengenal nafs-nya (yaitu, jiwanya) maka sungguh dia akan mengenal Rabb-nya.”
Namun, bukankah kita saat ini mirip Jason Bourne, seorang agen CIA, dalam film Bourne Identity? Dalam film ini diperlihatkan Bourne yang menderita amnesia dan berjuang untuk menemukan kembali ingatannya. Dia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berantem, tangkas ngebut, pandai ngobrol berbagai bahasa, namun, sialnya, ada satu hal penting yang tak Bourne ketahui, yaitu ‘siapa dirinya’...
Bourne bertanya kepada Marie yang ditemuinya di Kedutaan Amerika: “Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?”
Siapa saya? Kenapa saya ada di sini? Pernahkah kita bertanya seperti itu? Sejenak saja, sambil menegakkan shalat di sepertiga malam, saat di mana Allah dekat dengan langit dunia, yaitu dekat dengan nafs (jiwa) kita.
Dalam banyak film Hollywood, saya sering menangkap adanya pertanyaan besar soal ‘siapa kita dan kenapa kita di sini?’ Dan mereka meyakini bahwa mereka hadir ke dunia ini untuk suatu tujuan, namun karena agama sudah mereka enyahkan, maka mereka mencoba mencari jawabannya dengan cara-cara syaikhular hi hi hi hi hi hi.... sekular maksudnya.
Sementara, di Timur, di mana agama masih mendapat tempat, justru pertanyaan eksistensial semacam itu tak mendapat tempat, dan tertimbun oleh berbagai doktrin yang ‘taken for granted’ dari agama: ‘harus beribadah’, ‘harus jadi baik (atau shalih)’, ‘hormat dan menurut pada mama dan papa’, ‘jangan berzina’, ‘jangan mabuk-mabukan’, ‘jangan mencicipi narkoba’ dan berbagai ‘jangan lainnya’ yang jika dilaksanakan, maka ‘kamu akan masuk surga’...
Tapi, saat hidup terasa tak bermakna, lalu muncul pertanyaan ihwal kenapa saya harus ada di muka bumi ini, siapa diri saya sebenarnya, kenapa saya dimudahkan untuk memahami dan mengerjakan ini, namun bukan hal lainnya, kembali agama membungkam: ‘sudahlah jalankan ini itu, pasti masuk surga, gak usah banyak tanya’...
“… Supaya mereka mengabdi kepada-Ku”; mengenai lafadz “Illa Liya‘budun” tersebut, Ibn Abbas, mufasir terbesar, menafsirkannya dengan “Illa Liya‘rifun”, artinya, “...Supaya mereka mengenal-Ku.”
Menjadi abdi-Nya (akar katanya sama: abid [hamba, budak], ya’bud [mengabdi], ibadat [pengabdian]). Namun, untuk apa seorang abdi bila tanpa suatu peran atau tugas khusus yang diembannya? Kita dibimbing dengan puasa, shalat dan zakat, lalu menganggap bahwa itu semua sebagai tujuan, tanpa mencoba menilik kembali bahwa barangkali itu semata sarana, yaitu, sarana demi sesuatu yang lebih agung. Adakah maksud yang lebih besar lagi di balik diberlakukannya hukum-hukum yang merupakan semacam “standard operating procedures” tersebut?
Dan akhirnya, Bourne pun mendapatkan penjelasan ihwal dirinya:
Jason Bourne: “Who am I?”
Conklin: “You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning-thirty-million-dollar-weapon.”
Setiap manusia itu diciptakan dengan tujuan agung dan amanah spesifik satu sama lain, yaitu misi hidup, lalu Dia tempatkan manusia di Jubah Terjauhnya, di alam dunia fisikal ini, agar mereka berjalan kembali kepada-Nya sambil mengenali alam demi alam yang dilalui dalam perjalanan kembali tersebut, mengenal kekayaan khazanah-Nya. Dan berbagai ibadah serta hukum yang Dia berikan itu adalah sarana dan panduan dalam perjalanan kembali kepada-Nya tersebut. Jangan sampai tertukar, sarana malah dianggap sebagai tujuan, walau memang tujuan tak bisa dicapai tanpa sarana yang telah Dia berikan dan tetapkan bagi manusia.
Kembali kita menoleh kepada hadits qudsi: “Aku adalah Khazanah Tersembunyi (Khanzun Mahfiy), dan Aku cinta untuk dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk sehingga Aku dikenal.”
Dan QS Fushshilat [41]: 53 menegaskan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada nafs mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah al-haqq, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Inilah yang kemudian dikenal sebagai makrokosmos dan mikrokosmos dalam khazanah tashawwuf, bahwa apa yang tampak di segenap ufuk itu ada juga dalam nafs manusia, tapi bagaimana manusia bisa mengenali bahwa itu semua ada dalam dirinya sementara dirinya menderita amnesia ihwal siapa dirinya sebenarnya. Tak tahu siapa dirinya dan diciptakan untuk menjadi apa. Nasir-i Khusrau menuliskannya sebagai berikut:
*********************
Kenalilah dirimu
Kalau kau pahami dirimu sendiri,
Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci
Pertama, akrablah dengan dirimu
Kemudian jadilah pembimbing lingkunganmu
Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya
Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana
Kau tak tahu nilaimu sendiri
Sebab kau tetap begini
Akan kau lihat Tuhan, kalau kau kenal dirimu sendiri
Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu
Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu
Jangan pusingkan kenikmatan hewani
Kalau kau pencari surgawi
Jadilah manusia sejati
Tinggalkan tidur dan pesta ria
Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa
Apa pula tidur dan makan-makan?
Itu semua urusan binatang buas
Dengan ilmu jiwamu bertunas
Jagalah sekarang juga
Sudah berapa lama kau tidur?
Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?
Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani
Ada maksud kau dicipta serupa ini
Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu ini.
*********************
Tidakkah hal semacam ini semestinya direnungkan secara mendalam oleh setiap muslim? Ataukah berbagai “standard operating procedures” berupa ibadah dan hukum ‘lakukan ini dan jangan lakukan itu’ telah mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih agung ihwal penciptaan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi? Atau, lebih mengerikan lagi, gemerlap kehidupan dunia ternyata lebih memukaunya untuk dihasrati, dikejar dengan segala cara dan dicandui?
Silakan. Itu pilihan masing-masing.
Demikian. Semoga ada gunanya. Mohon maaf jika selama ini saya banyak kesalahan dan menyakiti Anda. Allah tidak menciptakan saya sebagai malaikat, jadi pastilah banyak salahnya, maka tolong maafkan saya. Hatur nuhun. Wassalam.

Tugas Manusia

“Kang, apakah di surga nanti tidak akan ada kesedihan dan rasa sakit, termasuk sakit hati, seperti yang kita rasakan di sini?” Begitu pertanyaan yang saya dapatkan dari seorang teman saat dia berkunjung ke rumah di bulan Ramadhan kemarin. Ingatan saya pun melayang ke diskusi di kampus, dalam matakuliah “Humanisme dan Agama”, saat teman-teman sekelas mempertanyakan ‘betapa tidak masuk akalnya jika nanti, di surga, manusia hanya hidup bersenang-senang saja, setelah bersusah payah menjalani hidup dengan berbagai permasalahannya di dunia ini.’ Saat di kelas, saya memilih diam saja, tak ikut memberikan pendapat. Toh yang saya ketahui ihwal topik tersebut memang berasal dari agama Islam dan, bisa dibilang, tidak filosofis sama sekali.
Dan kini, saya mendapatkan pertanyaan ihwal ‘kehidupan di ujung mauthin sana', di mauthin akhirat; sementara, sebelum sampai ke sana, manusia harus melewati dulu mauthin barzakh dan mauthin mahsyar.
Mari kita coba bayangkan dulu kehidupan yang telah kita lalui.
Sebelum nafs dan ruh dimasukkan ke jasad, nafs manusia sudah melewati dua mauthin, yaitu mauthin awwal sebagaimana tertulis dalam QS Al-Insan [76]: 1, yaitu: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” Di sini, Allah menciptakan nafs manusia dengan berbagai spesifikasi dan ‘kuantitas cahaya’ masing-masing, namun belum dipersaksikan ihwal siapa Rabb-nya dan diberikan amanah ihwal apa misi hidup yang harus ditunaikannya di muka bumi ini.
Lalu beralih ke QS Al-A‘raf [7]: 172, yaitu “Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Ayat ini menegaskan beberapa hal penting yang harus diingat, yaitu, bahwa tanpa jasad sekali pun, nafs (jiwa [sebagai wujud terpisah dari tubuh, dan bukan mental seperti yang dibahas dalam psikologi modern]) erupakan entitas otonom yang sudah bisa bersaksi dan diambil persaksiannya di hadapan Rabb, sebab nafs (atau jiwa) inilah yang merupakan diri manusia sejati. Barulah kemudian, Al-Quran dan hadits menjelaskan ihwal ruh yang ditiupkan ke dalam jasad; sedangkan wadah bagi ruh adalah nafs. Maka, jika Al-Quran mengatakan ‘meniupkan ruh’ berarti beserta nafs sebagai wadah bagi ruh, sebab, jika hanya ruh saja yang ditiupkan ke dalam jasad, maka manusia tak berbeda dengan binatang. Ya, binatang tidak memiliki nafs sebagaimana manusia, sebab jika binatang memiliki nafs, maka binatang pun harus mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya di muka bumi ini, dan berarti binatang pun memikul amanah berupa misi hidup yang agung seperti manusia. Ini jelas meleset dan absurd. Tak ada dasarnya dalam Al-Quran maupun hadits.
Lalu, para muslim pun bersyahadat; berulang-ulang kali. Apa landasannya syahadat atau persaksian tersebut? Apakah dia memang ingat pernah bersaksi saat di mauthin syahadah sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-A‘raf [7]: 172 di atas? Jika dia berkata bahwa landasannya karena dia membaca ayat tersebut di Al-Quran, maka apa bedanya hal semacam itu dengan orang yang mengaku jadi saksi di sebuah pengadilan bukan karena memang menyaksikan suatu kejahatan, tapi hanya karena membaca, entah itu di koran, media sosial atau hasil googling. Bukankah yang demikian itu sama sekali bukan saksi yang haqq (bahkan bisa digugat karena memberikan kesaksian palsu)? Hanya mereka yang bisa mengingat kembali dengan haqq peristiwa persaksian primordial tersebut yang layak disebut sebagai syuhada (atau saksi yang haqq). Sedangkan, untuk orang seperti saya yang masih menderita insomnia seperti Jason Bourne, maka apa yang Al-Quran tegaskan itu masih merupakan cerita yang sudah tidak bisa saya ingat lagi (dan sedang berusaha saya ingat lagi).
Kembali kepada peniupan ruh ke janin, di mauthin rahim inilah jasad, nafs dan ruh menyatu untuk pertama kalinya.
Berapa lama kita berada dalam kandungan? Sembilan bulan sepuluh hari? Kurang lebih. Berapa usia kita sekarang? Bandingkan dengan usia kita di kandungan. Tampak bahwa lamanya waktu kita berada di kandungan tidak ada apa-apanya dibandingkan usia kita sekarang.
Berapa besar ‘ruangan’ yang tersedia bagi kita dalam kandungan? Bandingkan dengan, setidaknya, bumi yang kita tinggali sekarang (jangan bandingkan dengan galaksi dulu). Berapa juta kali lipatkah besarnya bumi ini jika dibandingkan ruangan yang dulu tersedia bagi kita di dalam rahim?
Dalam rahim, kita tak punya masalah bokek, putus pacaran, sakit hati, gagal dapat proyek dan lain sebagainya. Kita ‘tidur’ dengan nyaman, semua makanan disediakan oleh ibunda dalam bentuk sudah terolah. Tinggal ‘sedot’, tak perlu mengunyah. Apa warna yang dominan melingkupi kita dalam rahim? Hanya warna-warna organ tubuh ibunda.
Lalu kita pun lahir ke muka bumi ini. Kita menangis dan disambut dengan tangis bahagia orangtua. Saya ingat salah satu cerita Papa (alm.): “Ketika bayi lahir, tangannya dalam posisi terkepal, seakan menyatakan ‘akan aku kuasai dan genggam dunia ini di tanganku.’ Lalu, saat dia mati, tangannya terbuka, seakan menyatakan: ‘kini sudah selesai urusanku di dunia ini, dan aku tak membawa apa pun di tanganku.’”
Saat meninggal dunia pun, Alexander Agung memerintahkan kepada para jenderalnya agar membuat peti mati yang dilubangi di kedua sisinya, dan kedua tangannya dijulurkan keluar dari kedua sisi tersebut agar para raja dari negeri yang ditaklukkannya dapat melihat bahwa Alexander Sang Penakluk Agung itu mati tanpa membawa apa-apa.
Maulana Jalaluddin Rumi menuliskan kecintaan manusia pada dunia, pada “rest area” yang merupakan tempat persinggahannya ini dalam salah satu syairnya sebagai berikut:
****************
Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek.
Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan,
Sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri.
Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang;
di antara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang.
****************
Lalu, bagaimana dengan makanan? Apa makanan favorit Anda sekarang? Pernahkah Anda mencicipinya saat di rahim dulu? Kini, di hadapan Anda, ada jutaan kuliner dengan cita rasa yang kaya dan bisa Anda cicipi di seantero bumi ini.
Bagaimana dengan warna? Pernahkah Anda melihat beraneka macam warna, yang kini ada di sekitar Anda, saat masih berada dalam rahim? Maulana Jalaluddin Rumi kembali menggambarkan apa yang terjadi saat manusia hadir di mauthin dunya ini dalam syairnya sebagai berikut:
****************
Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota, setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan, serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.
Ia tak pernah berkata pada dirinya, ”Ini sebuah kota baru: aku adalah seorang asing di sini”;
Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan di sini.
Apakah mengherankan apabila, kemudian, jiwa tak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahiran,
Karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan?-
Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu.
****************
Dalam hal ini, Maulana Jalaluddin Rumi mencoba memberikan penjelasan detail dari apa yang sudah Rasulullah saw peringatkan dalam beberapa hadits berikut ini:
****************
Dari Abdullah bin Umar ra ia berkata, Rasulullah saw memegang kedua bahuku dan bersabda, “Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang lewat.” Ibn Umar berkata, “Jika engkau ada pada waktu sore, maka jangan menunggu pagi hari. Jika engkau ada pada waktu pagi, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu untuk bekal matimu.” (HR al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).
Dalam riwayat lainnya, Ibn Umar ra berkata: “Rasulullah saw memegang kedua bahuku dan bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau orang lewat dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, ath-Thabarani dan al-Baihaqi)
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada untukku dan untuk dunia ini, sesungguhnya permisalan aku dan dunia itu hanyalah seperti orang yang berkendaraan menempuh perjalanan, lalu ia bernaung di bawah pohon pada hari yang panas, lalu ia beristirahat sejenak, kemudian meninggalkan pohon itu.” (HR Ahmad, al-Hakim, Abu Ya’la dan Ibn Abi Syaibah)
****************
Kesemua hadits ini menandaskan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan, seperti oase di tengah gurun tempat kita beristirahat dan mengambil air untuk perbekalan yang sebenarnya. Ya, perjalanan yang sebenarnya. Dunia ini hanyalah “rest area” di sebuah jalan tol panjang, sebagaimana sebuah oase yang berada di tengah gurun pasir yang sangat luas. Perjalanan sebenarnya yang jauh lebih berat justru setelah kita meninggalkan oase tersebut, setelah kita bergerak meninggalkan “rest area” dan menyusuri jalan tol yang panjang itu.
Namun, meskipun hanya “rest area”, bacalah berbagai hadits dan ayat Al-Quran ihwal kehidupan sesudah kematian kita nanti; bukankah semua urusan yang akan dimintai pertanggungjawaban dan ‘merepotkan’ setiap manusia justru adalah “apa yang sudah kamu lakukan di rest area”, ihwal perbekalan macam apa yang manusia persiapkan di oase yang berada di tengah pada pasir tersebut.
Lalu kita pun mati. Apa bayangan tentang kehidupan di tahap berikutnya? Tidur nyenyak sampai kiamat tiba? Atau luntang-lantung seperti ‘arwah gentayangan’ di film-film horor Indonesia? Yang selamat akan tidur nyenyak, yang tidak mendapat siksa; begitukah? Kok kebluk amat ya bayangannya; di dunia doyannya tidur, lalu saat mati bayangannya juga cuma tidur dan tidur lagi. Seolah manusia itu dicipta untuk selalu tidur.
“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” demikian tandas Ali bin Abi Thalib.
Lalu bagaimana dengan Al-Quran yang biasa kita baca? Bazzar meriwayatkan dalam kitab “La‘âli Masnunah” bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat, yaitu Munkar dan Nakir, yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat tersebut agar memudahkan tanya jawab. Tetapi si tampan itu berkata: “Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam surga.” Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al-Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.” Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala‘il A‘la. (Diambil dari “Himpunan Fadhilah Amal”, hlm. 609)
Di mauthin barzakh (atau lebih umum dikenal sebagai alam kubur), kita tidak akan tidur dan tidur lagi, dan kenapa juga selalu membayangkan tidur melulu? Kurang banyak tidur selama hidup di dunia?
Nah, agar mudah membayangkan apa yang akan kita hadapi di sana, maka bayangkan bahwa kehidupan dunia ini tak ubahnya sesederhana kehidupan dalam rahim, sedangkan kehidupan di mauthin barzakh itu nanti jauh lebih kompleks, tak ubahnya seperti kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan dalam rahim. Dan waktunya, sama seperti jika kita bandingkan antara lamanya umur kita saat ini dengan saat ada dalam rahim.
Namun, di mauthin barzakh ini, kita akan dihukumi ihwal segala dosa personal yang kita lakukan selama di “rest area” bernama mauthin dunya. Adapun segala dosa yang terkait dengan mu‘amalah akan dimintai pertanggungjawabannya nanti, saat di Padang Mahsyar.
Kembali kepada mauthin barzakh, jika saat dalam rahim, kita tak banyak merasakan sakit ini itu. Kalau pun ada masalah, kalau tidak mati, ya cacat atau keguguran. Namun, di kehidupan dunia ini, kita merasakan berbagai macam rasa sakit dengan berbagai tingkatan intensitasnya, dari ‘rasa sakit’ karena bekas digigit nyamuk hingga luka berat karena kecelakaan fatal atau sakit berat. Dari yang yang tertahankan hingga yang membuat kita mengaduh dan menjerit-jerit.
Sekarang, bayangkan, jika di dunia ini kita bisa menjerit kesakitan karena tertusuk jarum, atau merasa perih karena suatu bagian tubuh kita terbakar api, maka di mauthin barzakh nanti, rasa sakitnya berkali-kali lipat daripada di mauthin dunia ini. Singkatnya, di mauthin barzakh, segalanya menjadi lebih berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan di ‘mauthin dunya’ ini.
Kemudian kiamat.
****************
“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang Dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS Az-Zumar [39]: 68)
****************
Sebagaimana ditandaskan dalam ayat Al-Quran di atas, setelah dibangkitkan kembali, kita semua dikumpulkan di Padang Mahsyar. Jangan bayangkan ada banyak loket paralel di mana sekian milyar manusia bisa ‘dihakimi’ secara paralel sehingga antrian bisa cepat berkurang. Setiap manusia, satu per satu, dihakimi di hadapan semua manusia lainnya.
****************
“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS Maryam [19]: 25)
****************
Semua perbuatan manusia selama di “rest area” diperlihatkan kembali, namun, kali ini hingga lintasan dan kata-kata yang hanya kita ucapkan dalam hati. Perbuatan dosa yang hanya diketahui seorang diri dan tak diketahui manusia lainnya. Semua dibuka, tak ada yang disembunyikan. Bisa membayangkan? Film ihwal diri kita, dari yang fisikal hingga yang ada dalam hati, semua diperlihatkan apa adanya untuk dihakimi-Nya di hadapan seluruh umat manusia? Ditambah dengan tuntutan dari manusia lainnya yang pernah kita sakiti, yang kita punya hutang kepadanya dan belum dilunas, dan berbagai urusan mu‘amalah lainnya.
****************
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS ‘Abasa [80]: 34-37)
****************
Pernah berada di pesta pernikahan selama 3 jam? Bising musik, banyak manusia berlalu lalang serta bercakap-cakap, dan masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Sesudahnya, kita merasa capek bukan? Nah, kini bayangkan kita berada di tengah lautan manusia, milyaran jumlahnya, dan masing-masing sibuk serta panik dengan urusannya masing-masing, meminta pertolongan kepada para Nabi, saling menuntut satu sama lain ihwal urusan di dunia yang belum beres, dan itu berlangsung entah berapa lama, hingga manusia terakhir selesai dihakimi-Nya.
Lalu, surga dan neraka...
Sebelum ke sana, ada baiknya kita baca dulu penjelasan Maulana Jalaluddin Rumi dalam salah satu syairnya sebagai berikut:
******************
Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenagan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan, dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang,
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;
Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa –
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina
Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.
******************
Jadi, setelah selesai di dunia ini, kita akan menghadapi kehidupan yang jauh lebih sederhana dengan asoy? Tidur nyenyak saban hari sambil menunggu kiamat? Coba pelajari dan pikirkan ulang, kita hidup di mauthin dunia dengan berbagai masalah seperti sekarang hanya untuk menjalani kehidupan berikutnya yang ‘isinya’ cuma enak-enakan saja (dan siksa yang pedih bagi yang celaka karena tak membawa bekal dari kehidupannya di mauthin dunia)? Kok syahwatiah sekali imajinasinya? Hanya karena di sini tak bisa mendapatkan Miss Universe sebagai istri, maka, gambaran soal bidadari yang selalu perawan dan berbagai syahwat seputar seksual sajalah yang menjadi gambaran ihwal kehidupan di mauthin akhirat nanti. Bukankah hal semacam itu lebih memperlihatkan obsesi syahwatiah atas segala hal yang tak bisa dicapai di mauthin dunya ini lalu diproyeksikan ke kehidupan di ujung mauthin sana nanti?
‘Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Dunia berjalan meninggalkan manusia, sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan masing-masing memiliki generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan janganlah kalian menjadi generasi dunia. Karena hari ini (di mauthin dunia) yang ada hanyalah amal dan belum dihisab, sedangkan besok (di mauthin akhirat) yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi amal.”
Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra bertanya kepada Rasulullah saw tentang makna “al-falaq” pada kalimah “Qul 'audzu bi Rabbil-falaq”. Rasulullah saw menjawab, “Al-falaq itu sebuah penjara di dalam neraka jahannam. Dipenjarakan di dalamnya setiap orang yang sombong lagi membesar-besarkan diri (al-jabbaarun). Dan jahannam itu adalah suatu tempat di mana kita memohon perlindungan Allah darinya.”
Jadi, sekali lagi, coba pikirkan baik-baik dan renungkan secara mendalam, meskipun keberadaan kita di “rest area” bernama dunia ini hanya sebentar, tak ubahnya menyiapkan bekal di oase untuk perjalanan sebenarnya menempuh gurun pasir, namun justru apa yang kita lakukan selama di “rest area” inilah yang akan selalu dimintai pertanggungjawaban dan membuat kita kewalahan sendiri di mauthin barzakh hingga mauthin akhirat nanti. Namun, seperti pernah saya tuliskan sebelum ini, bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk mengenal-Nya dan Dia tempatkan manusia di Jubah Terjauh-Nya untuk mengenal segenap khazanah-Nya, dari mulai alam material fisik ini hingga alam tertinggi, sebagai bekal perjalanan yang sebenarnya, justru setelah kita mati nanti. Maka, apa yang seharusnya kita lakukan saat sedang berada di rest area ini? Jangan pertukarkan antara tujuan dengan sarana!
Setidaknya, ini bisa memberi sedikit penyadaran betapa pentingnya kita untuk benar-benar “istirahat” dengan serius di “rest area” bernama kehidupan di ‘mauthin dunya’ ini. Dengan demikian, kita bisa lebih punya gambaran, bahwa setelah kita mati nanti, di mauthin berikutnya, segalanya akan mengalami pelipatgandaan kompleksitas terus menerus, termasuk rasa sakit jika kita diazab karena ‘tidak serius’ saat berada di “rest area”, dan kompleksitas itu akan terus meningkat hingga nanti di neraka (atau surga, jika kita selamat).
Dalam Kajian Kitab Kitab Al-Hikam, tanggal 19 Juni 2016, yang diampu oleh Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah, Zamzam AJT, dijelaskan sebagai berikut:
****************
Salah satu ilusi yang paling banyak menggerus manusia adalah waham tentang kesuksesan. Seolah-olah parameter kesuksesan hanya diukur oleh pencapaian duniawi atau spiritual. Menurut waham kebanyakan orang, seseorang dikatakan sukses apabila punya jabatan yang tinggi, gelar akademik yang berjejer di belakang namanya, lulusan perguruan tinggi luar negeri, memiliki harta yang banyak, dsb. Juga ukuran kesuksesan di sisi spiritual dinilai dengan adanya pengikut yang banyak, dianggap berilmu tinggi, dipandang mempunyai kemampuan khusus, dan lain sebagainya. Sedemikian rupa waham itu sehingga kebanyakan manusia tergopoh-gopoh dalam ajang lomba mencari keunggulan di mata manusia, yang jika ditilik adalah suatu letupan hawa nafsu yang bermuara dari sifat tamak. Padahal orang yang paling mulia di mata Allah adalah yang paling bertaqwa, yaitu mereka yang paling menggenggam urusan sebagai amanah yang dikalungkan kepada diri masing-masing. Adapun manusia memang cenderung membeda-bedakan dengan membuat kotak-kotak derajat manusia, seolah pekerjaan yang satu lebih mulia dari pekerjaan yang lain, seolah urusan yang satu lebih bergengsi dibanding urusan yang lain, namun sesungguhnya kebanyakan manusia tidak menghukumi berdasarkan kebenaran, sehingga tidak kokoh landasannya. Singkat kata, orang yang masih tersibukkan dengan mencari ketenaran dan kemuliaan di mata manusia sesungguhnya belum paham dan belum punya kesadaran tentang persoalan mandat Ilahiyah yang ditanam di dalam qalb masing-masing jiwa. Sebaliknya, orang yang sudah paham mengenai konsep misi hidup yang berlandaskan ketaqwaan, maka dia akan teguh jalannya dan tidak goyah oleh cibiran atau pandangan rendah manusia, tidak malu dibilang miskin, bodoh atau kurang, karena ia hanya memedulikan penilaian dari Allah Ta'ala. Maka kuatkanlah tujuan masing-masing diri kita dalam bekerja untuk Allah Ta'ala supaya tidak terseret dalam kesibukan melayani dan menghindari sesat pandang hanya menurut kebanyakan manusia.
****************
Sebagai catatan penting, belakangan ini, kita banyak mendapati orang-orang yang memuji Allah sambil menghancurkan, bahkan membunuh orang lain, lalu diklaimnya sebagai jihad. Tidak ada manfaatnya membunuh seseorang atas nama Tuhan dengan cara seperti itu. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib ra pun berkata: “Awas! Jauhkanlah dirimu dari perbuatan menumpahkan darah siapa pun tanpa alasan yang menghalalkan. Tiada satu pun yang lebih dekat kepada pembalasan, lebih berat bebannya dan lebih cepat menghilangkan nikmat serta menghentikan masa kekuasaan, daripada menumpahkan darah tanpa sebab yang dibenarkan. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat, Allah SWT akan menjadikan persoalan penumpahan darah di antara hamba-hamba-Nya sebagai sesuatu yang pertama kali akan diadili-Nya.”
(Ini pula yang dikatakan Nabi Musa as, seorang nabi besar yang memiliki pengetahuan akan kebenaran ilahi, ketika berhadapan dengan Fir’aun: “Sesungguhnya sahabatku yang terbesar adalah Fir’aun, dan musuhku yang terbesar adalah hawa nafsuku sendiri.”)
Maka, kembali kepada pertanyaan di awal tadi, saya sejujurnya tak sanggup membayangkan sedahsyat dan seberat apa kehidupan di mauthin-mauthin berikutnya yang akan kita hadapi nanti. Karenanya, lebih baik saya menjalani kehidupan di “rest area” ini seserius mungkin, karena apa yang saya lakukan di “rest area” inilah yang akan menentukan seperti apa kehidupan saya di mauthin-mauthin berikutnya nanti.
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wallahu a‘lam bishshawwab.
*****************
Anas bin Malik ra berkata: “Nabi saw membuat garis-garis lalu bersabda, ‘Ini adalah manusia, ini angan-angannya dan ini adalah ajalnya. Maka tatkala manusia berjalan menuju angan-angannya, tiba-tiba sampailah dia ke garis yang lebih dekat dengannya (daripada angan-angannya).’ Yakni ajalnya yang melingkupinya.” (HR Al-Bukhari no. 6418)

Wednesday, June 28, 2017

Krisis Diplomasi di Semenanjung Arab

Mesir, Bahrain, Uni Emirat memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar menyusul Arab Saudi. Tentu saja langkah ini tidak begitu saja terjadi tanpa sebab-musababnya.
1. Pemutusan hubungan dplomatik ini akan memukul Qatar, mengingat negara kecil tadi tergantung pada pasokan logistik yang dikirim melalui Saudi.
2. Qatar merupakan hub Jazirah Arab. Mereka memiliki pelabuhan dan bandara yang sibuk sebagai penghubung antara Asia-India-Afrika dengan Eropa. Tekanan ini akan mempengaruhi perekonomian mereka.
3. Langkah Saudi Arabia memutuskan hubungan diplomatik secara tiba-tiba ini tidak tanpa paksaan dari pihak kekuataan dominan. Dalam hal ini Inggris dan Eropa.
4. Pasca serangan bom di Manchester dan London, Partai Konservatif memanfaatkannya untuk menyerang Walikota Sadiq Khan yang cukup populer dari Partai Buruh. Mereka seperti biasa membutuhkan kambing hitam bagi praktik hiprokrit barat dalam perang teror. Kita tentu faham, jika eropa terutama Prancis dan Inggris adalah pemasok manusia dan senjata untuk perang proxy mereka di Suriah-Irak dan Libya.
Partai Konservatif segera mendorong diterapkannya High-Alert diseluruh Britania Raya yang beberapa poinnya adalah;
a. Menerapkan travel ban lebih luas bagi penduduk dan pendatang dari negara mayoritas Islam.
b. Menerapkan kebijakan renunsiasi (penghapusan kewarganegaraan) bagi orang Inggris yang terlibat perang di Suriah, Libya, dan Irak.
c. Menuntut (mencari kambing hitam) negara-negara arab yang dianggap bertanggungjawab mendanai teror-teror di eropa.
Sejauh ini, Sadiq Khan -yang potensial sebagai PM Inggris masa depan- dan juga politisi partai Buruh menolak mengomentari serangan kelompok konservatif.
6. Namun secara eksternal serangan kelompok konservatif ini langsung ditujukan kepada Saudi Arabia dan Qatar sebagai penggalang dana dan alat bagi serangan-serangan di UK dan eropa. Sekali lagi mereka membutuhkannya untuk dalih dan mencari kambing hitam.
7. Qatar dan Saudi Arabia secara terbuka menyatakan diri terlibat dalam up-rising (kerusuhan) dan perang teror oleh ISIS di Suriah, Libya dan Irak. Kedua negara secara terbuka mengajukan proposal untuk tidak mengakui pemerintahan Basir Al Assad Suriah dan mendukung fatwa Jihad lewat ulama-ulama Wahabi dan Salafi. Salah satunya Fatwa Jusuf Qardawi untuk membunuh siapa saja orang suriah yang mendukung Assad.
8. Saudi melemparkan persoalan tanggungjawab proxi faham terorisme kepada Qatar. Saudi menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam dukung-mendukung kelompok teroris seperti Al Qaeda dan ISIS.
9. Qatar dalam waktu dekat akan membalasnya. Namun sebelumnya mereka membutuhkan diskusi dengan pihak AS. Ini karena AS memiliki pangkalan militer terbesar mereka di Timur Tengah. Destabilisasi Qatar tentu harus terukur.
10. Jika krisis diplomasi ini berlanjut, maka akan berdampak kepada Bahrain, Uni Emirat, dan Mesir sendiri.
11. Aksi perlawanan Iran-Irak-Suriah-Lebanon (selatan) akan sedikit diuntungkan dengan sengketa persaingan Qatar dengan Saudi Arabia.
12. Israel juga akan sedikit diuntungkan, mengingat Qatar berbeda sikap dalam krisis Palestina dengan Saudi Arabia. Jika Arab Saudi selalu menyalahkan Hammas sebagai biang instabilitas di Palestina, sebaliknya Qatar mendukung Hamas dari pendanaan. Sengketa diplomasi ini akan menguntungkan Israel.
13. Iran tidak terlalu diuntungkan dengan persengketaan ini. Mengingat negara tadi lebih membutuhkan Timur Tengah yang stabil daripada menjadi pemain dominan di kawasan. Mengambil alih dominasi Saudi atas negara-negara arab adalah pilihan paling tidak mungkin untuk dijalankan oleh negara mullah ini. Selain mereka bukan arab (negara Parsi), Iran membutuhkan stabilitas bagi ekonomi mereka yang sedang ditata untuk terus tumbuh.

Aliansi di Timur Tengah

Ada beberapa hal menarik yang dapat dicatat untuk memproyeksikan Timur Tengah ke depan.
0/1
Pertama, pemilihan umum dan presiden di Iran (19/05) yang kembali memenangkan Hasan Rouhani, doktor filsafat hukum dari Glasgow University. Rouhani mengalahkan kandidat kuat dari kelompok ulama tradisional Ibrahim Raeisi.
Kemenangan Rouhani meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan pemilu di tempat lain seperti Prancis dan Italia. Hal tadi menunjukkan jika topik kampanye kelompok konservatif, tradisionil dan ultra-nasionalis sepertinya mengalami masa surut.
Debut kedua Rouhani ini tentu tidak terlalu disukai aliansi Barat dan Arab Teluk. Mengingat Rouhani adalah salah satu pakar diplomasi luar negeri Iran yang lebih memilih jalur-jalur diplomatis ketimbang jargon seperti pendahulunya Ahmad Dinejaad.
Rouhani memenangkan diplomasi Nuklir Iran dengan Barat (JPOAC) setelah sebelumnya ia pernah memenangkan diplomasi Nuklir Iran E3. Ia juga sukses menjadikan Iran permain penting di kawasan teluk dengan keterlibatannya menjadi mediator perdamaian sekaligus penasehat militer dalam perang Suriah dan Irak melawan ISIS.
2.0
Kedua, tiga petemuan konsekutif AS-Arab-Islam yang juga dihadiri Jokowi dari Indonesia.
Dalam pertemuan puncak Islam (Islamic Summit) yang digagas AS dan Saudi Arabia ini, Donald Trump menyampaikan pernyataan bahwa dunia Islam bukan musuh Barat.
Di forum Arab masih dalam kegiatan Islamic Summit, Trump mengatakan jika Hizbullah Lebanon, Hammas Palestina, dan Iran adalah pendukung terorisme
Sementara dalam kegiatan AS-Saudi Arabia dimana Raja Salman menghadiahi Trump kapal yach, mahkota berlian, pedang, patung, dan plakat dari emas murni senilai 1,2 milyar US-Dollar. Kerjasaan Saudi juga memberikan nama jalan utama di Riyadh dengan nama Trump.
Yang cukup menjadi pemberitaan adalah Raja Salman menandatangani pembelian senilai 130 Miliar US Dollar persenjataan kepada pemerintah AS. AS adalah produsen senjata terbesar di dunia dan pembelian dengan nilai bombastis sudah tentu Saudi beresiko memainkan kembali politik doubel security dillema dengan mengorbankan pendapatannya dari sektor migas.
Doubel security dillemas sendiri adalah satu kondisi zero sum games, dimana untuk meningkatkan keamanan maka suatu negara mengorbankan pendapatnnya, Namun keamanan yang dimaksud belum bentu dicapai, karena pihak lawan (dalam hal ini Iran) akan meningkatkan juga anggaran keamanannya.
Berkaca pada opsi yang dipilih Rouhani yang pandai berdiplomasi sepertinya Iran tidak akan mengubah banyak politik luar negerinya. Mereka kemungkinan besar tidak akan tertarik memainkan isu keamanan ganda dengan berlomba-lomba memperkuat arsenalnya melawan Saudi. Melihat dengan begitu mudahnya sepuluh kota perbatasan Saudi yang dikontrol milisi Houthi dari Yaman menunjukkan jika "the man behind the gun" jauh lebih penting daripada persenjataan canggih itu sendiri.
3.0
Ketiga, koalisi Suriah-Irak dalam perang teror kini melibatkan kelompok Kurdi di utara di arahkan untuk mengamankan wilayah perbatasan negara. Operasi anti teror kedua negara menunjukkan beberapa indikasi penting;
Suriah dan Irak secara praktis telah menerapkan kerjasama anti teror yang efektif. Aksis anti teror yang didukung infrastruktur intelejen Iran dan serangan udara Rusia terbukti jauh lebih efektif daripada kampanye yang dilakukan AS dengan koalisi Barat dan Arab Teluk.
Operasi intensif yang dilakukan kedua pemerintahan secara bersamaan untuk menekan kelompok milisi bersenjata afiliasi Al Qaeda dan ISIS dengan menguasai perbatasan merupakan jawaban dari politik border safe zone Suriah-Irak-Jordan yang disampaikan menteri Luar Negeri Saudi Arab kepada Trump dalam pertemuan Islamic Summit.
Suriah dan Irak menolak usulan keberadaan border safe zone dari AS dan Saudi. Langkah ini meniadakan buffer zone bagi Jordan di selatan dan Turki di Utara untuk dapat terus memasok logistik dan menyelundupkan milisi bersenjata ke konflik Suriah dan Irak.
Kesimpulan
1. Saudi berusaha menarik simpati negara Islam untuk melanjutkan perang mengatasnamakan anti teror di Suriah, Irak dan Yaman.
2. Aksis perlawanan anti teror Suriah-Irak-Iran-Rusia-Hezbullah (milisi syiah lebanon) dan Mobilisasi Popular Irak (komponen milisi syiah Irak) telah menjadi sebuah aksis dari kelompok perlawanan.
3. Iran akan terus memainkan politik diplomasi dan menghindari konfrontasi dengan Saudi.
4.Saudi menempatkan dirinya semakin beresiko secara ekonomi dengan kampanye perang dan harga minyak yang semakin terpukul.
5. Ongkos umroh dan haji mesti naik. Saudi membutuhkan devisa non migas untuk menutupi defisit dari politik ekonominya yang boros.

Integrasi dan Disintegrasi Geo-pol Timur Tengah

Pada saat Arab Saudi menggalang lebih banyak negara teluk untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Rusia dan Cina sepakat mendorong keanggotaan Iran dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO). Sebuah lembaga kerjasama euro-asia politik-ekonomi-militer yang dimotori Rusia dan Cina pada 2001 untuk memperkuat kerjasama antar negara-negara berbagi perbatasan di kawasan Asia Tengah.
Tindakan mengeliminasi Qatar dalam forum negara teluk oleh Saudi ini adalah fakta bahwa segala bentuk kerjasama internasional sangat bergantung kepada batasan lokal, yaitu kepentingan domestik suatu negara. Ia tidak pernah menjadi sesuatu yang ideologis. Sehingga setelah dunia Arab sibuk dengan gagasan-gagasan besar seperti pan islamisme, pan arabisme, khilafah, serta negara utopia ISIL nyatanya mereka harus menerima bahwa persatuan tadi sulit diwujudkan.
Menajamnya persaingan geo-politik Saudi versus Qatar untuk menjadi pemain utama kawasan adalah contoh dari lebih kuatnya kepentingan dalam negeri ketimbang gagasan besar tadi. Persaingan yang dikemas dalam persatuan palsu tadi telah membawa kawasan ini ke jurang krisis diplomasi dan selanjutnya disintegrasi dunia arab (Islam) yang lebih terbuka.
Qatar dan Saudi dituduh oleh negara-negara tetangganya sebagai pemasok utama dana dan milisi jihadis dari banyak negara eropa dan islam lainya untuk menciptakan krisis di Libya, Suriah, dan Irak. Mereka berperan sebagai mesin proxy bagi kepentingan barat (Prancis, Inggris, AS) untuk mendestabilisasi dunia arab.
Sekarang setelah para jihadis tadi dipukul di banyak front terutama di Irak dan Suriah, mereka kembali ke eropa dengan lebih banyak pengalaman teror dan membuat serangan-serangan mematikan di eropa. Yang kemudian menciptakan krisis politik di eropa.
Di sisi lain kita melihat langkah cepat Rusia dan Cina menaikkan status Iran dari pengamat menjadi kandidat anggota dari SCO adalah juga langkah integrasi lebih luas untuk mengamankan kepentingan masing-masing anggota SCO.
Konflik Qatar dan Saudi yang dikenal sebagai pemasok dana, senjata dan manajemen bagi kelompok teror tidak memustahilkan masing-masing negara akan menggunakan milisi-milisi teror untuk saling mengganggu kepentingan mereka.
Ini artinya, akan ada medan-medan perang teror yang bisa saja muncul akibat persaingan dua pemasok besar teror di kawasan.
SCO telah merelease laporan bahwa ada lebih dari 80 ribu warga negara Euro-sia yang menjadi milisi teroris bayaran di Suriah dan Irak. Mereka diperkirakan akan kembali ke negaranya dengan semakin rumitnya persaingan antara Qatar dan Saudi. Yang artinya, ancaman keamanan oleh aksi-aksi teror para alumni ISIS dan Al Qaeda ini dapat merusak stabilitas kawasan.
Masuknya Iran sebagai anggota tetap SCO akan memperkuat kemitraan negara-negara euro-sia yang kebanyakan terdiri dari bekas pecahan Sovyet dan Cina. Iran dan Rusia telah bekerjasama dalam penanganan anti teror di front Suriah dan Irak, dan pengalaman ini dibutuhkan SCO untuk memperkuat kerjasama lebih luas dalam menghadapi kemungkinan distabilitas yang lebih buruk di kawasan.

Konflik Internal di Saudi Arabia dan Konflik ke Depan di Kawasan

Yang luput diperhatikan dari sengketa Saudi Qatar adalah pengambilalihan hak Mahkota (Coronation) Kerajaan Saudi dari Putra Mahkota Mohammad bin Nayef kepada sepupu mudanya Wakil Putra Mahkota Muhammad bin Salman.
Nayef dikenal sebagai "orang Washington", kepala anti-terorisme Saudi dan Menteri Dalam Negeri. Satu-satunya posisi penting terakhir dalam pemerintahan Saudi yang akhirnya diambil juga oleh Salman lepas penganugrahan ini.
Beberapa media Timur Tengah menyebut pengambilan alih hak Mahkota adalah sebuah "soft coup de etat", sebelum akhirnya Salman menggantikan ayahnya Raja Salman bin Abdul Azis digeser atau meninggal dunia. Setelah menguasai urusan luar negeri, minyak, kementerian pertahanan, kini Salman memperluas pengaruhnya ke persoalan dalam negeri dan terorisme.
Pengambilalihan ini tentu tidak tanpa persetujuan Gedung Putih. Nayef yang dikenal sebagai orang-nya Washington sedang digeser oleh Salman yang dilihat memiliki potensi lebih menguntungkan AS di bawah Administrasi Trump di Timur Tengah.
Pembelian senjata secara masif, 110 Milyar Dollar adalah bukti pertama politik oportunis yang menguntungkan Donald Trumps secara langsung. Hal ini terjadi berkat peran Pangeran Salman.
Ia juga menjadi tokoh utama dari krisis Saudi-Qatar yang menyudutkan Qatar dari grup Arab Teluk. Dimana AS setelah mengancam akan memperkarakan Emir Thamir Qatar karena tuduhan terorisme memaksa Qatar menyetujui pembelian senjata dari AS senilai 12 Milyar Dollar.
Salman lebih dapat memberikan keuntungan kontan kepada administrasi Trumps, dan soal ini AS paling faham kapan harus membuang teman lama dan mengambil teman baru. Nayef diangap telah kehilangan masa romantismenya dengan Washington.
Kegagalan proyek menumbangkan Assad, meluasnya sebaran milisi Al-Qaeda dan ISIS yang dibiayai Saudi akibat kekalahan di banyak front, membuat resiko mitigasi terorisme semakin meninggi dan ancaman internal Saudi semakin menguat.
Beberapa serangan di eropa adalah bukti jika kelompok terorisme ini telah menyebar dari wilayah inkubasi di Libya, ke Irak lalu kalah di Suriah dan kini mereka menyebarang ke tanah eropa. Nayef sebagai kepala anti teror dianggap tidak dapat mengontrol "orang binaannya".
Naiknya Pangeran Salman menjadi putra mahkota tentu akan meningkatkan eskalasi dengan Iran. Salman tentu tidak menyukai gaya diplomasi Iran dalam mempengaruhi negara Arab Timur Tengah. Iran dianggap menggagalkan banyak proyek Saudi di Bahrain, Suriah, Irak, Libya, Yaman dan kini Qatar.
Setiap hari Iran mengirim puluhan kontainer makanan dan buah-buahan yang dibutuhkan penduduk, supermarket, restoran dan hotel di Qatar. Seribu ton lebih bahan makanan dikirim Iran via laut dan udara yang dengan cepat menambal defisit kebutuhan selepas Saudi, Emirat, dan Mesir memblokade pengiriman logistik ke Qatar.
Bagi Iran sendiri konflik Saudi Qatar tidak akan menguntungkan mereka secara diplomatik. Benar bahwa pemberian izin bagi Qatar untuk menggunakan langit Iran telah membuka lebih banyak penerbangan Iran dan meningkatkan import barang produksi namun instabilitas semakin meningkat. Hal ini tidak akan disukai Iran, mengingat mereka membutuhkan Teluk Parsi yang aman bagi lalu-lintas perdagangan terutama minyak dan gas.
Naiknya Salman, tentu akan dihitung sebagai sebuah ancaman bagi perkembangan diplomasi yang positif di kawasan oleh Iran.
Sementara bagi pangeran Nayef dan pendukungnya, pengambilalihan "soft coup de cronation" ini mesti akan dihitungnya dengan balasan.
Artinya krisis internal di Saudi dalam waktu dekat akan mempercepat runtuhnya dinasti ini. Masing-masing kelompok akan mencari-cari dukungan dari AS agar dapat menjadi mitra terpercaya. Sementara bagi AS hal tadi tidak akan dipersoalkan, sejauh siapa saja yang dapat memberikan keuntungan kontan bagi administrasinya maka itulah yang mereka ajak berkawan.
Yang paling diuntungkan dari krisis yang mesti akan timbul ini tentu saja Israel. Salman adalah pemrakarsa kerjasama Saudi dengan Israel. Ia juga orang dibalik embargo senjata atas kelompok Hammas Palestina dan menuduhnya sebagai organisasi teror dan penyebab distabilitas kawasan.
Dengan Saudi yang semakin kehilangan banyak kawan di kawasan, maka bagi Israel kini mereka memiliki proxy yang potensial untuk berkonflik dengan Iran secara langsung.

Belajar dari Aliansi Palsu Arab Teluk

Setelah Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat memutuskan hubungan diplomatik, mengembargo ekonomi dan memblokade Qatar dengan menutup jalur transportasi darat, laut, dan udara maka kita semakin percaya bahwa apa yang disebut perseketuan internasional hakikatnya tidak dapat mengalahkan kepentingan dalam negeri.
Perusahaan penerbangan Qatar Airways mengirimkan catatan kepada para pelanggan; bahwa armada udara dan pelabuhan udara internasional Doha tetap beroperasi seperti sedia kala. Bahwa mereka menyampaikan pula kini, penerbangan ke dan dari Qatar menuju eropa yang sedianya diblokade sepihak oleh Mesir, Saudi, Bahrain dan Uni Emirat kini telah mendapatkan izin menggunakan wilayah udara Iran yang aman.
0.1
Jika kita pelajari dari kasus-kasus ini maka hal tadi tidak tanpa kejadian-kejadian sebelumnya
Di Aliansi Arab, dan aliansi Negara Arab Teluk dalam konflik Suriah, Qatar bersama-sama Arab-Saudi, Bahrain, Uni Emirat, Maroko dan asistensi AS bekerjasama mendukung pemberontak Suriah menjungkakan Basyir Al Assad.
Lewat jalur Jordania mereka memasok milisi jihadis dan persenjataan modern dimana Qatar mendukung dari segi dana dan gaji para pejuang bayaran tadi.
Sementara dalam aliansi utara, bersama Mesir, dan Turki, Qatar menjadi pihak nomor dua setelah Saudi dalam mempersenjatai dan menggaji milisi jihadis dari eropa timur dan barat yang berperang di front Irak dan Suriah.
0.2
Kenyataannya, perkembangan politik di Suriah tidak mereka prediksi dengan baik. Sesama pemberontak memiliki agendanya masing-masing. Sebagian menginginkan Assad mundur, sebagian menerima Assad dengan penyesuaian formasi baru.
Sedianya operasi di front selatan menjatuhkan Assad pada akhirnya harus dilalui dengan mengeliminasi kelompok-kelompok oposisi yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan koalisi Arab Teluk-Jordan-dan AS.
Hal yang sama terjadi koalisi di front utara yang berbasis di Turki. Mereka melihat jika kelompok perlawanan utara (Daara, Aleppo) yang menamakan dirinya kelompok lebih moderat saling serang satu dengan lainnya.
Mereka dengan mudah terbelah kepada kelompok yang lebih mementingkan penguasaan atas aset-aset kota (urbanware) dan aset-aset industri (ladang gas, minyak) daripada menjatuhkan Assad di Damaskus.
0.3
Pada kondisi seperti ini, maka koalisi Arab plus AS-Inggris-Prancis mengubah rencana dengan mendatangkan kelompok mercenar (tentara bayaran) yang diimport dari wilayah eropa barat dan timur.
Agenda mereka adalah menciptakan kekhilafahan Irak (dan selanjutnya menjadi Irak-Suriah/Syam/Levant) dan mendirikan pemerintahan syariah.
Kehadiran kelompok milisi jihadis ini, menarik keterlibatan Iran, Hezbollah Lebanon, dan kemudian Rusia. Iran dan Hezbollah Lebanon memiliki argumentasi bahwa mereka berbagi perbatasan dengan Irak maupun Suriah. Kehadiran milisi ini sangat mungkin terjadi ke wilayah Iran atau Lebanon.
Sementara kepentingan Rusia, mereka memiliki bandar udara Heymeim dan bandar laut Tartus. Satu-satunya pangkalan militer Rusia peninggalan era Uni Sovyet yang ada di wilayah non Rusia dan federasi ICIS.
04.
Kehadiran milisi ISIL secara langsung menghadapkan koalisi AS-Arab Teluk-Maroko-Jordan-Turki-Inggris-Prancis dengan poros perlawanan Suriah-Irak-Rusia-Iran, dan Hezbollah.
05
ISIL kehilangan banyak front dan di ambang kehancurannya baik di Suriah maupun di Irak.
06
Terjadi eksodus raya, pengungsi Suriah, Irak dan Libya ke eropa.
07
Suriah, Iran dan Rusia mengirimkan data ke Uni Eropa bahwa ada ribuan dari ratusan ribu imigran Suriah ke eropa adalah mersenaries atau tentara bayaran yang minggat dari front tempur.
08
Rangkaian serangan teror di kota-kota Eropa. Paris, Munchen, dan London. Pelaku pernah terlibat dalam konflik Suriah.
09
Kelompok konservatif Inggris, Prancis, dan AS menuding Arab Saudi bertanggungjawab atas teror. Mereka memanfaatkan isu keamanan untuk menyudutkan pemerintahan kelompok buruh dan moderat eropa yang dianggap gagal menjamin keamanan warga.
10
AS memanfaatkan konflik Arab-Qatar untuk menekan kedua belah pihak membeli lebih banyak senjata. Di bawah Trump, AS mengikat kontrak hampir 1200 trilyun rupiah dengan kedua negara yang berseteru.
11. Aliansi Arab-Arab Teluk pecah kongsi.
12. Qatar meminta Iran dan Rusia memasok gas dan bahan makanan setelah Saudi dan Uni Emirat memblokade jalur logistik.
13, Qatar meminta Iran memberi akses melewati teritorial udaranya bagi kepentingan penerbangan domestik.
14 Qatar mengingat kontrak keamanan udara dengan Iran. Dimana Iran memberikan jaminan langit aman (safe sky policy) bagi pesawat-pesawat yang akan pergi dari dan menuju Hamat Doha.
15 Aliansi-aliansi tadi bertukar teman.
16 Yang namanya teman dalam aliansi, sejatinya hanyalah teman bagi kepentingan bisnis-politik semata.

Saudi-Qatar

Hanya dua yang benar2 produk unggulan AS, Inggris dan Prancis yaitu produksi Arsenal dan kendaraan perang. Mereka produsen utama dunia dari peluru sampe rudal dari taktikal mobil sampai kapal fregat.
Senjata laku kalau ada perang dan kaum konservatif juga hawkish barat faham sekali ini.
Mereka memaksa Saudi-Qatar membeli itu arsenal. Duitnya duit Saudi Qatar.
AS, Inggris, Francais buat itu perang proxy di Suriah, Irak, Libya, dan Yaman. Tujuannya agar senjata yg mereka jual segera habis terdistribusikan. Lalu mereka menjual lebih banyak lagi.
Saudi Qatar membutuhkan milisi yang mau berperang dan menggunakan itu senjata.
Sebagian yang dipersenjatai ada dari Inggris, AS dan Francais. Mereka kembali dari front Suriah, Irak atau Libya. Mereka meledakkan itu arsemal di Prancis dan Inggris.
Publik Inggris dan Prancis marah pada kelompok konservatif. Menuduh pemerintah barat sebagai penyedia amunisi bagi kelompok teror
Kaum konservatif barat melempar bola ke kaum serikat kerja. Mereka juga menekan Saudi Qatar sebagai terusannya.
Saudi menuding Qatar sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas aksi aksi terorisme.
Saudi memutus hubungan diplomatik.
Ini namanya, menepak air di dulang, terpercik muka sendiri.