Wednesday, June 28, 2017

Belajar dari Aliansi Palsu Arab Teluk

Setelah Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat memutuskan hubungan diplomatik, mengembargo ekonomi dan memblokade Qatar dengan menutup jalur transportasi darat, laut, dan udara maka kita semakin percaya bahwa apa yang disebut perseketuan internasional hakikatnya tidak dapat mengalahkan kepentingan dalam negeri.
Perusahaan penerbangan Qatar Airways mengirimkan catatan kepada para pelanggan; bahwa armada udara dan pelabuhan udara internasional Doha tetap beroperasi seperti sedia kala. Bahwa mereka menyampaikan pula kini, penerbangan ke dan dari Qatar menuju eropa yang sedianya diblokade sepihak oleh Mesir, Saudi, Bahrain dan Uni Emirat kini telah mendapatkan izin menggunakan wilayah udara Iran yang aman.
0.1
Jika kita pelajari dari kasus-kasus ini maka hal tadi tidak tanpa kejadian-kejadian sebelumnya
Di Aliansi Arab, dan aliansi Negara Arab Teluk dalam konflik Suriah, Qatar bersama-sama Arab-Saudi, Bahrain, Uni Emirat, Maroko dan asistensi AS bekerjasama mendukung pemberontak Suriah menjungkakan Basyir Al Assad.
Lewat jalur Jordania mereka memasok milisi jihadis dan persenjataan modern dimana Qatar mendukung dari segi dana dan gaji para pejuang bayaran tadi.
Sementara dalam aliansi utara, bersama Mesir, dan Turki, Qatar menjadi pihak nomor dua setelah Saudi dalam mempersenjatai dan menggaji milisi jihadis dari eropa timur dan barat yang berperang di front Irak dan Suriah.
0.2
Kenyataannya, perkembangan politik di Suriah tidak mereka prediksi dengan baik. Sesama pemberontak memiliki agendanya masing-masing. Sebagian menginginkan Assad mundur, sebagian menerima Assad dengan penyesuaian formasi baru.
Sedianya operasi di front selatan menjatuhkan Assad pada akhirnya harus dilalui dengan mengeliminasi kelompok-kelompok oposisi yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan koalisi Arab Teluk-Jordan-dan AS.
Hal yang sama terjadi koalisi di front utara yang berbasis di Turki. Mereka melihat jika kelompok perlawanan utara (Daara, Aleppo) yang menamakan dirinya kelompok lebih moderat saling serang satu dengan lainnya.
Mereka dengan mudah terbelah kepada kelompok yang lebih mementingkan penguasaan atas aset-aset kota (urbanware) dan aset-aset industri (ladang gas, minyak) daripada menjatuhkan Assad di Damaskus.
0.3
Pada kondisi seperti ini, maka koalisi Arab plus AS-Inggris-Prancis mengubah rencana dengan mendatangkan kelompok mercenar (tentara bayaran) yang diimport dari wilayah eropa barat dan timur.
Agenda mereka adalah menciptakan kekhilafahan Irak (dan selanjutnya menjadi Irak-Suriah/Syam/Levant) dan mendirikan pemerintahan syariah.
Kehadiran kelompok milisi jihadis ini, menarik keterlibatan Iran, Hezbollah Lebanon, dan kemudian Rusia. Iran dan Hezbollah Lebanon memiliki argumentasi bahwa mereka berbagi perbatasan dengan Irak maupun Suriah. Kehadiran milisi ini sangat mungkin terjadi ke wilayah Iran atau Lebanon.
Sementara kepentingan Rusia, mereka memiliki bandar udara Heymeim dan bandar laut Tartus. Satu-satunya pangkalan militer Rusia peninggalan era Uni Sovyet yang ada di wilayah non Rusia dan federasi ICIS.
04.
Kehadiran milisi ISIL secara langsung menghadapkan koalisi AS-Arab Teluk-Maroko-Jordan-Turki-Inggris-Prancis dengan poros perlawanan Suriah-Irak-Rusia-Iran, dan Hezbollah.
05
ISIL kehilangan banyak front dan di ambang kehancurannya baik di Suriah maupun di Irak.
06
Terjadi eksodus raya, pengungsi Suriah, Irak dan Libya ke eropa.
07
Suriah, Iran dan Rusia mengirimkan data ke Uni Eropa bahwa ada ribuan dari ratusan ribu imigran Suriah ke eropa adalah mersenaries atau tentara bayaran yang minggat dari front tempur.
08
Rangkaian serangan teror di kota-kota Eropa. Paris, Munchen, dan London. Pelaku pernah terlibat dalam konflik Suriah.
09
Kelompok konservatif Inggris, Prancis, dan AS menuding Arab Saudi bertanggungjawab atas teror. Mereka memanfaatkan isu keamanan untuk menyudutkan pemerintahan kelompok buruh dan moderat eropa yang dianggap gagal menjamin keamanan warga.
10
AS memanfaatkan konflik Arab-Qatar untuk menekan kedua belah pihak membeli lebih banyak senjata. Di bawah Trump, AS mengikat kontrak hampir 1200 trilyun rupiah dengan kedua negara yang berseteru.
11. Aliansi Arab-Arab Teluk pecah kongsi.
12. Qatar meminta Iran dan Rusia memasok gas dan bahan makanan setelah Saudi dan Uni Emirat memblokade jalur logistik.
13, Qatar meminta Iran memberi akses melewati teritorial udaranya bagi kepentingan penerbangan domestik.
14 Qatar mengingat kontrak keamanan udara dengan Iran. Dimana Iran memberikan jaminan langit aman (safe sky policy) bagi pesawat-pesawat yang akan pergi dari dan menuju Hamat Doha.
15 Aliansi-aliansi tadi bertukar teman.
16 Yang namanya teman dalam aliansi, sejatinya hanyalah teman bagi kepentingan bisnis-politik semata.

0 comments:

Post a Comment