Friday, June 30, 2017

Belajar Filsafat

“Kamu kuliah di jurusan apa?”
“Filsafat Om.”
“Kamu mau jadi ateis ya?”
Beberapa hari ini, cuplikan dialog di atas banyak menyebar, baik di FB mau pun di WA group. Seorang sahabat saya menuliskan tanggapannya sebagai berikut:
“Dulu, waktu saya mau kuliah psikologi, diprotes oleh paman: “Nanti sekuler...” Dan ternyata memang sekuler...”
Saya menanggapi: “Kuliah mana sih saat ini yang gak ‘sekuler’?”
Lalu ditanggapi ramai-ramai, di antaranya adalah: “Kuliah Subuh nggak insya Allah.” Dan “Kuliah Dhuha dan juga Kuliah Tujuh Masehi eh Menit (Kultum)”...
Kembali ke cuplikan komentar di atas, sebenarnya itu hanya satu dari sekian stereotip ihwal orang yang belajar filsafat. Saya sendiri pernah dinasehati dengan sangat serius oleh seorang aktivis Islamisme bahwa ‘belajar filsafat akan membuatmu gila’...
Well, kalau sekadar ‘gangguan jiwa’, tak perlu belajar filsafatlah, karena menurut Opa Freud, kita semua ini menderita neurotik... Mau apa lagi?
Tapi, di sisi lain, saya malah lebih sering mendapat pertanyaan: “Kang, bagaimana sebaiknya mempelajari filsafat? Buku apa yang direkomendasikan?”
Well, belajar filsafat itu relatif mudah kok, dan banyak buku yang bagus untuk mengajarkan itu, apalagi kalau biasa baca buku berbahasa Inggris. Yang lebih sulit itu adalah belajar filsafat sambil mendalami agama hingga dimensi esoteriknya. Itu baru namanya tantangan tak berujung sepanjang hayat dikandung badan. Petualangan yang menegangkan.
Misalnya, banyak kalangan terpelajar mengomentari isu LGBT—yang belakangan ini semakin ramai—cukup dengan hanya bermodalkan filsafat dan wawasan teoretik ini itu, dengan pedoman kemanusiaan dan toleransi. Mudah. Sangat mudah. Tinggal kutip pemikiran ini itu, dan dengan semangat humanisme sekular dan anti-esensialisme, selesai sudah. Tidak rumit kok. Kesimpulannya: “penolakan agama atas LGBT itu tidak masuk akal; harus direvisi. Ini udah zaman (post)modern...”
Mengomentari bahwa agama itu begini begitu, harus ‘dikoreksi’ dan ‘direvisi’ dengan teori ini itu. Misalnya, “Jilbab itu represi terhadap perempuan”; “Allah tak melihat orientasi seksual, dia hanya melihat hati, hanya melihat ketakwaan”, tapi saat bicara soal poligami tinggal dibalikan saja sudut pandangnya bahwa ‘itu cuma urusan selangkangan yang mencari pembenaran melalui agama’, ‘itu hanya hukum yang berlaku buat masyarakat saat itu, sekarang sih udah beda’; sehingga kesimpulannya ‘bela LGBT, ganyang poligami’; dan berbagai pernyataan lainnya yang sejalan dengan kepentingan politik wacananya agar sesuai seleranya.
Singkatnya, jadikan agama itu sebagai keset atau budak yang harus senantiasa melayani dan menyesuaikan diri terus menerus dengan perubahan wacana rasional sekular. Mudah bukan?
Tapi, cobalah dalami juga agama, hingga dimensi esoterisnya. Alami dan jalani secara langsung, jangan cuma sebatas bacaan lalu kutip sana kutip sini. Coba sintesiskan tapi bukan dengan cara utak atik gathuk alias cocokologi; lalu coba lihat berbagai perkembangan dan isu yang tengah berkembang. Terbayangkankah?
Well, sebagai manusia yang pernah merasakan jadi ateis, agnostik, anarkis dan akhirnya ‘mendarat’ di dunia esoterik, secara pribadi akhirnya saya menyadari bahwa kebutuhan saya tidak sebatas wacana rasional sekular yang memuaskan kepala. Saya butuh lebih dari itu. Dan itu merupakan pergulatan yang menegangkan namun juga membuka banyak wawasan, karena saya tidak membatasi serta membonsai diri sendiri hanya pada wawasan rasional sekular semata dan menolak menjadikan agama sebagai budak atau keset dari wacana rasional sekular.
Itu yang bikin hidup jadi lebih hidup :-)
Kembali kepada cuplikan obrolan di atas, di kalangan pembelajar filsafat, sebenarnya ateis itu bukanlah suatu kemestian. Tapi ‘tidak peduli lagi pada agama’ itulah yang paling lazim terjadi. Atau, agama dipaksakan untuk menyesuaikan diri agar selaras dengan wacana yang digelutinya, misalnya ‘posisikan Rasulullah sebagai seorang feminis modern dan Islam disesuaikan dengan aliran pemikiran feminis tertentu, maka segala hal dalam Islam yang tak sejalan dengan ‘kepentingan’ wacana tersebut tinggal dibabat habis saja. Maka, Islam dan Rasulullah pun tampil dalam wajah modern (sesuai selera sang pewacana).
Menurut saya, selain hal tersebut di atas, yang paling menakutkan namun sering terjadi pada pembelajar filsafat adalah AROGANSI. Merasa diri telah menjadi manusia setengah dewa dan memandang rendah orang-orang yang tak belajar filsafat yang dikategorikan sebagai kalangan mami alias malas mikir.
Dalam Islam, kita mengenal istilah UJUB, yang, secara etimologi, mempunyai arti sebagai kegembiraan atau kebahagiaan. Namun, kata ini juga memiliki arti pengagungan atau membesarkan. Menurut Ahmad Rifa‘i, secara bahasa, ujub adalah membanggakan diri dalam batin. Sedangkan menurut terminologis, ujub adalah perasaan takjub terhadap diri sendiri sehingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Al-Qur‘an menegaskan hal ini sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18).
Sedangkan dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Seandainya kamu tidak melakukan dosa, niscaya Aku (Nabi) mengkhawatirkanmu melakukan dosa yang lebih besar, yaitu ‘ujub.”
Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi pernah menuliskan bahwa ada empat orang yang selama-lamanya tak akan pernah keluar dari neraka dan tak akan pernah bertemu dengan Tuhannya, yaitu, orang yang ateis dan orang yang sombong. Dua lagi saya lupa. Saya cuma ingat dua jenis manusia itu karena, secara tak sadar, dua hal itulah yang paling dekat dengan diri saya dan harus saya ingat baik-baik untuk diri sendiri.
Nah, selain arogansi merasa paling kritis dan cerdas karena nalarnya tajam, hal lain yang mengikuti biasanya adalah ego yang setinggi langit, enggan mengaku salah atau meminta maaf. Masalahnya, nalar yang terlatih dengan filsafat bisa menyediakan pembelaan diri yang canggih kok. Jangan ragukan itu.
Secara pribadi, hal semacam inilah yang paling sering menjadi ketakutan yang membayangi diri saya. Bukan ateisme. Saya sudah pernah merasakan jadi ateis dan bersyukur bahwa akhirnya saya menyerah kalah di hadapan-Nya. Tapi, untuk menjadi seorang yang sombong dan ego setinggi langit, merasa telah menjadi manusia setengah dewa dengan nalar yang sakti mandraguna, itu sih tidak perlu menjadi ateis dulu.
Jadi, menurut saya, ketimbang memperingatkan seorang pembelajar filsafat dengan perkataan “kamu mau jadi ateis” atau “hati-hati nanti jadi gila”, sebenarnya lebih baik diingatkan agar mereka selalu rendah hati. Kalau soal agama dijadikan keset atau budak untuk melayani kepentingan wacana yang jadi ‘selera pembelajarannya’, itu sih susah. Biasanya kesadaran akan ‘ketergesa-gesaan akibat keterpesonaan pada akrobat nalar ([post]modern)’ semacam itu baru muncul saat usia makin menua dan kematian semakin mendekat. Toh, belakangan, dalam salah satu tulisannya, Ulil Absar Abdala pun akhirnya mengakui ‘ketergesa-gesaannya’ saat di awal mengusung wacana Islam Liberal, yang dia istilahkan dengan ‘bias against’ dan ‘bias for’...
Saya teringat secuplik obrolan lama dengan Romo Setyo di Masjid Salman, saat kami pertama kali bertemu, dan saya belum jadi mahasiswa STF Driyarkara, adapun saat itu beliau diundang untuk menjadi pembicara soal Platon. Beliau bertanya: “Al, kamu tidak anti kan sama Islam Liberal?” Saya jawab: “Tidak Romo, hanya saja saya tidak tertarik mengikuti cara berpikirnya. Itu saja.”
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam. (Alfathri A)

0 comments:

Post a Comment