Thursday, June 29, 2017

Konflik Internal di Saudi Arabia dan Konflik ke Depan di Kawasan

Yang luput diperhatikan dari sengketa Saudi Qatar adalah pengambilalihan hak Mahkota (Coronation) Kerajaan Saudi dari Putra Mahkota Mohammad bin Nayef kepada sepupu mudanya Wakil Putra Mahkota Muhammad bin Salman.
Nayef dikenal sebagai "orang Washington", kepala anti-terorisme Saudi dan Menteri Dalam Negeri. Satu-satunya posisi penting terakhir dalam pemerintahan Saudi yang akhirnya diambil juga oleh Salman lepas penganugrahan ini.
Beberapa media Timur Tengah menyebut pengambilan alih hak Mahkota adalah sebuah "soft coup de etat", sebelum akhirnya Salman menggantikan ayahnya Raja Salman bin Abdul Azis digeser atau meninggal dunia. Setelah menguasai urusan luar negeri, minyak, kementerian pertahanan, kini Salman memperluas pengaruhnya ke persoalan dalam negeri dan terorisme.
Pengambilalihan ini tentu tidak tanpa persetujuan Gedung Putih. Nayef yang dikenal sebagai orang-nya Washington sedang digeser oleh Salman yang dilihat memiliki potensi lebih menguntungkan AS di bawah Administrasi Trump di Timur Tengah.
Pembelian senjata secara masif, 110 Milyar Dollar adalah bukti pertama politik oportunis yang menguntungkan Donald Trumps secara langsung. Hal ini terjadi berkat peran Pangeran Salman.
Ia juga menjadi tokoh utama dari krisis Saudi-Qatar yang menyudutkan Qatar dari grup Arab Teluk. Dimana AS setelah mengancam akan memperkarakan Emir Thamir Qatar karena tuduhan terorisme memaksa Qatar menyetujui pembelian senjata dari AS senilai 12 Milyar Dollar.
Salman lebih dapat memberikan keuntungan kontan kepada administrasi Trumps, dan soal ini AS paling faham kapan harus membuang teman lama dan mengambil teman baru. Nayef diangap telah kehilangan masa romantismenya dengan Washington.
Kegagalan proyek menumbangkan Assad, meluasnya sebaran milisi Al-Qaeda dan ISIS yang dibiayai Saudi akibat kekalahan di banyak front, membuat resiko mitigasi terorisme semakin meninggi dan ancaman internal Saudi semakin menguat.
Beberapa serangan di eropa adalah bukti jika kelompok terorisme ini telah menyebar dari wilayah inkubasi di Libya, ke Irak lalu kalah di Suriah dan kini mereka menyebarang ke tanah eropa. Nayef sebagai kepala anti teror dianggap tidak dapat mengontrol "orang binaannya".
Naiknya Pangeran Salman menjadi putra mahkota tentu akan meningkatkan eskalasi dengan Iran. Salman tentu tidak menyukai gaya diplomasi Iran dalam mempengaruhi negara Arab Timur Tengah. Iran dianggap menggagalkan banyak proyek Saudi di Bahrain, Suriah, Irak, Libya, Yaman dan kini Qatar.
Setiap hari Iran mengirim puluhan kontainer makanan dan buah-buahan yang dibutuhkan penduduk, supermarket, restoran dan hotel di Qatar. Seribu ton lebih bahan makanan dikirim Iran via laut dan udara yang dengan cepat menambal defisit kebutuhan selepas Saudi, Emirat, dan Mesir memblokade pengiriman logistik ke Qatar.
Bagi Iran sendiri konflik Saudi Qatar tidak akan menguntungkan mereka secara diplomatik. Benar bahwa pemberian izin bagi Qatar untuk menggunakan langit Iran telah membuka lebih banyak penerbangan Iran dan meningkatkan import barang produksi namun instabilitas semakin meningkat. Hal ini tidak akan disukai Iran, mengingat mereka membutuhkan Teluk Parsi yang aman bagi lalu-lintas perdagangan terutama minyak dan gas.
Naiknya Salman, tentu akan dihitung sebagai sebuah ancaman bagi perkembangan diplomasi yang positif di kawasan oleh Iran.
Sementara bagi pangeran Nayef dan pendukungnya, pengambilalihan "soft coup de cronation" ini mesti akan dihitungnya dengan balasan.
Artinya krisis internal di Saudi dalam waktu dekat akan mempercepat runtuhnya dinasti ini. Masing-masing kelompok akan mencari-cari dukungan dari AS agar dapat menjadi mitra terpercaya. Sementara bagi AS hal tadi tidak akan dipersoalkan, sejauh siapa saja yang dapat memberikan keuntungan kontan bagi administrasinya maka itulah yang mereka ajak berkawan.
Yang paling diuntungkan dari krisis yang mesti akan timbul ini tentu saja Israel. Salman adalah pemrakarsa kerjasama Saudi dengan Israel. Ia juga orang dibalik embargo senjata atas kelompok Hammas Palestina dan menuduhnya sebagai organisasi teror dan penyebab distabilitas kawasan.
Dengan Saudi yang semakin kehilangan banyak kawan di kawasan, maka bagi Israel kini mereka memiliki proxy yang potensial untuk berkonflik dengan Iran secara langsung.

0 comments:

Post a Comment