Friday, June 30, 2017

Teror dalam Konflik

Membedakan teror sebagai modus operandi dalam konflik dan teror sebagai pre-text atau dalih dalam konflik itu sebenarnya tidak sulit-sulit juga.
Teror sebagai modus operandi bertujuan menciptakan ketakutan publik kepada sebuah otoritas -seperti ISIS di Irak dimana mereka melakukan eksekusi, menyembelih, memancung orang di pinggir jalan- agar di saksikan publik dengan tujuan menggetak, mengancam, menakut-takuti untuk mendapatkan penghormatan atas ideologi yang mereka bawa.
Teror yang seperti ini ia memiliki lebih banyak kepentingan politis daripada strategis.
Sementara teror sebagai sebuah dalih, lebih banyak memiliki kepentingan strategis daripada politis. Ini bisa meliputi kepentingan ekonomi, politik, dan institusi sebuah grup atau negara.
Pada berita terbaru mengenai penikaman anggota kepolisian oleh seseorang dalam masjid saiya melihatnya bukan sebagai tindakan "teror" atau"terorisme" yang sifatnya modus operandi.
Seperti pernah kita bahas dalam kejadian bom bunuh diri di dekat posko polisi di Terminal Kampung Melayu, maka serangan-serangan tadi bersifat terukur. Target yang diserang telah diobjektivikasi -yaitu kepolisian- adalah mereka yang dianggap kombatan (terlibat konflik) dan memiliki persenjataan. Kemungkinan besar serangan kepada anggota kepolisian adalah bagian dari "perang" antara pihak berwajib dengan mereka yang dianggap teroris. Dalam kasus ini definisi teror atau terorisme untuk menciptakan ketakutan publik dengan bentuk serangan acak tidak dapat digunakan.
Di sini publik harus berhati-hati dengan kemungkinan penggunaan teror sebagai sebuah dalih. Teror sebagai sebuah dalih, dalam sejarahnya lebih sering digunakan oleh negara dan pemerintahan yang legal demi tujuan-tujuan yang sebenarnya mirip dengan terorisme. Hanya saja kepentingannya bisa berbeda. Misal terorisme negara yang dilakukan AS di Afganistan, Libya, Suriah, atau Yaman bertujuan geopolstratejik sekaligus ekonomi (minyak-gas dan penjualan senjata).
Pada pemanfaatan teror bagi dalih ini kita perlu berhati-hati. Masih kita ingat ketika terjadi serangan bom Kampung Melayu menjelang bulan Ramadhan lalu yang dikatakan kepolisian sebagai serangan teror, meskipun target atau korbannya adalah anggota kepolisian.
Seorang perwira tinggi mengancam akan menuntut mereka yang menganggap serangan bom kampung melayu sebagai sebuah rekayasa.
Sejak kapan berbeda opini dianggap melawan institusi kepolisian apalagi negara dan dimana ada serangan bom dilakukan tanpa proses enjinering atau rekayasa.
Pada kasus-kasus selanjutnya, seperti penyerangan mapolda Sumut, kepolisian begitu cepat mengungkap para tersangka dan menyebut sebuah jaringan teror. Beberapa orang di sosial media mengatakan jika motif penyerangan tadi bukanlah teror mendirikan negara Islam melainkan persoalan hutang-piutang.
Di dunia yang serba terbuka seperti sekarang, dimana setiap orang dapat mengakses dan memverifikasi sebuah berita, maka dominasi kesimpulan dengan cara membingkai cara berpikir dan berkesimpulan publik adalah sebuah tindakan teror intelektual.
Kita harus membuka diri atas pendapat-pendapat lain yang pasti perlu untuk dipertimbangkan. Jika tidak, maka setiap ada kejadian A maka publik harus menerimanya sebagai kesimpulan B. Jika kesimpulan B maka perlu ditingkatkan anggaran untuk kegiatan C, D, F atau G.
Ini adalah contoh bagaimana sebuah teror difungsikan sebagai sebuah pre-text.

0 comments:

Post a Comment