Thursday, June 29, 2017

Tugas Manusia

“Kang, apakah di surga nanti tidak akan ada kesedihan dan rasa sakit, termasuk sakit hati, seperti yang kita rasakan di sini?” Begitu pertanyaan yang saya dapatkan dari seorang teman saat dia berkunjung ke rumah di bulan Ramadhan kemarin. Ingatan saya pun melayang ke diskusi di kampus, dalam matakuliah “Humanisme dan Agama”, saat teman-teman sekelas mempertanyakan ‘betapa tidak masuk akalnya jika nanti, di surga, manusia hanya hidup bersenang-senang saja, setelah bersusah payah menjalani hidup dengan berbagai permasalahannya di dunia ini.’ Saat di kelas, saya memilih diam saja, tak ikut memberikan pendapat. Toh yang saya ketahui ihwal topik tersebut memang berasal dari agama Islam dan, bisa dibilang, tidak filosofis sama sekali.
Dan kini, saya mendapatkan pertanyaan ihwal ‘kehidupan di ujung mauthin sana', di mauthin akhirat; sementara, sebelum sampai ke sana, manusia harus melewati dulu mauthin barzakh dan mauthin mahsyar.
Mari kita coba bayangkan dulu kehidupan yang telah kita lalui.
Sebelum nafs dan ruh dimasukkan ke jasad, nafs manusia sudah melewati dua mauthin, yaitu mauthin awwal sebagaimana tertulis dalam QS Al-Insan [76]: 1, yaitu: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” Di sini, Allah menciptakan nafs manusia dengan berbagai spesifikasi dan ‘kuantitas cahaya’ masing-masing, namun belum dipersaksikan ihwal siapa Rabb-nya dan diberikan amanah ihwal apa misi hidup yang harus ditunaikannya di muka bumi ini.
Lalu beralih ke QS Al-A‘raf [7]: 172, yaitu “Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Ayat ini menegaskan beberapa hal penting yang harus diingat, yaitu, bahwa tanpa jasad sekali pun, nafs (jiwa [sebagai wujud terpisah dari tubuh, dan bukan mental seperti yang dibahas dalam psikologi modern]) erupakan entitas otonom yang sudah bisa bersaksi dan diambil persaksiannya di hadapan Rabb, sebab nafs (atau jiwa) inilah yang merupakan diri manusia sejati. Barulah kemudian, Al-Quran dan hadits menjelaskan ihwal ruh yang ditiupkan ke dalam jasad; sedangkan wadah bagi ruh adalah nafs. Maka, jika Al-Quran mengatakan ‘meniupkan ruh’ berarti beserta nafs sebagai wadah bagi ruh, sebab, jika hanya ruh saja yang ditiupkan ke dalam jasad, maka manusia tak berbeda dengan binatang. Ya, binatang tidak memiliki nafs sebagaimana manusia, sebab jika binatang memiliki nafs, maka binatang pun harus mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya di muka bumi ini, dan berarti binatang pun memikul amanah berupa misi hidup yang agung seperti manusia. Ini jelas meleset dan absurd. Tak ada dasarnya dalam Al-Quran maupun hadits.
Lalu, para muslim pun bersyahadat; berulang-ulang kali. Apa landasannya syahadat atau persaksian tersebut? Apakah dia memang ingat pernah bersaksi saat di mauthin syahadah sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-A‘raf [7]: 172 di atas? Jika dia berkata bahwa landasannya karena dia membaca ayat tersebut di Al-Quran, maka apa bedanya hal semacam itu dengan orang yang mengaku jadi saksi di sebuah pengadilan bukan karena memang menyaksikan suatu kejahatan, tapi hanya karena membaca, entah itu di koran, media sosial atau hasil googling. Bukankah yang demikian itu sama sekali bukan saksi yang haqq (bahkan bisa digugat karena memberikan kesaksian palsu)? Hanya mereka yang bisa mengingat kembali dengan haqq peristiwa persaksian primordial tersebut yang layak disebut sebagai syuhada (atau saksi yang haqq). Sedangkan, untuk orang seperti saya yang masih menderita insomnia seperti Jason Bourne, maka apa yang Al-Quran tegaskan itu masih merupakan cerita yang sudah tidak bisa saya ingat lagi (dan sedang berusaha saya ingat lagi).
Kembali kepada peniupan ruh ke janin, di mauthin rahim inilah jasad, nafs dan ruh menyatu untuk pertama kalinya.
Berapa lama kita berada dalam kandungan? Sembilan bulan sepuluh hari? Kurang lebih. Berapa usia kita sekarang? Bandingkan dengan usia kita di kandungan. Tampak bahwa lamanya waktu kita berada di kandungan tidak ada apa-apanya dibandingkan usia kita sekarang.
Berapa besar ‘ruangan’ yang tersedia bagi kita dalam kandungan? Bandingkan dengan, setidaknya, bumi yang kita tinggali sekarang (jangan bandingkan dengan galaksi dulu). Berapa juta kali lipatkah besarnya bumi ini jika dibandingkan ruangan yang dulu tersedia bagi kita di dalam rahim?
Dalam rahim, kita tak punya masalah bokek, putus pacaran, sakit hati, gagal dapat proyek dan lain sebagainya. Kita ‘tidur’ dengan nyaman, semua makanan disediakan oleh ibunda dalam bentuk sudah terolah. Tinggal ‘sedot’, tak perlu mengunyah. Apa warna yang dominan melingkupi kita dalam rahim? Hanya warna-warna organ tubuh ibunda.
Lalu kita pun lahir ke muka bumi ini. Kita menangis dan disambut dengan tangis bahagia orangtua. Saya ingat salah satu cerita Papa (alm.): “Ketika bayi lahir, tangannya dalam posisi terkepal, seakan menyatakan ‘akan aku kuasai dan genggam dunia ini di tanganku.’ Lalu, saat dia mati, tangannya terbuka, seakan menyatakan: ‘kini sudah selesai urusanku di dunia ini, dan aku tak membawa apa pun di tanganku.’”
Saat meninggal dunia pun, Alexander Agung memerintahkan kepada para jenderalnya agar membuat peti mati yang dilubangi di kedua sisinya, dan kedua tangannya dijulurkan keluar dari kedua sisi tersebut agar para raja dari negeri yang ditaklukkannya dapat melihat bahwa Alexander Sang Penakluk Agung itu mati tanpa membawa apa-apa.
Maulana Jalaluddin Rumi menuliskan kecintaan manusia pada dunia, pada “rest area” yang merupakan tempat persinggahannya ini dalam salah satu syairnya sebagai berikut:
****************
Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek.
Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan,
Sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri.
Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang;
di antara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang.
****************
Lalu, bagaimana dengan makanan? Apa makanan favorit Anda sekarang? Pernahkah Anda mencicipinya saat di rahim dulu? Kini, di hadapan Anda, ada jutaan kuliner dengan cita rasa yang kaya dan bisa Anda cicipi di seantero bumi ini.
Bagaimana dengan warna? Pernahkah Anda melihat beraneka macam warna, yang kini ada di sekitar Anda, saat masih berada dalam rahim? Maulana Jalaluddin Rumi kembali menggambarkan apa yang terjadi saat manusia hadir di mauthin dunya ini dalam syairnya sebagai berikut:
****************
Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota, setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan, serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.
Ia tak pernah berkata pada dirinya, ”Ini sebuah kota baru: aku adalah seorang asing di sini”;
Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan di sini.
Apakah mengherankan apabila, kemudian, jiwa tak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahiran,
Karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan?-
Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu.
****************
Dalam hal ini, Maulana Jalaluddin Rumi mencoba memberikan penjelasan detail dari apa yang sudah Rasulullah saw peringatkan dalam beberapa hadits berikut ini:
****************
Dari Abdullah bin Umar ra ia berkata, Rasulullah saw memegang kedua bahuku dan bersabda, “Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang lewat.” Ibn Umar berkata, “Jika engkau ada pada waktu sore, maka jangan menunggu pagi hari. Jika engkau ada pada waktu pagi, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu untuk bekal matimu.” (HR al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).
Dalam riwayat lainnya, Ibn Umar ra berkata: “Rasulullah saw memegang kedua bahuku dan bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau orang lewat dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, ath-Thabarani dan al-Baihaqi)
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada untukku dan untuk dunia ini, sesungguhnya permisalan aku dan dunia itu hanyalah seperti orang yang berkendaraan menempuh perjalanan, lalu ia bernaung di bawah pohon pada hari yang panas, lalu ia beristirahat sejenak, kemudian meninggalkan pohon itu.” (HR Ahmad, al-Hakim, Abu Ya’la dan Ibn Abi Syaibah)
****************
Kesemua hadits ini menandaskan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan, seperti oase di tengah gurun tempat kita beristirahat dan mengambil air untuk perbekalan yang sebenarnya. Ya, perjalanan yang sebenarnya. Dunia ini hanyalah “rest area” di sebuah jalan tol panjang, sebagaimana sebuah oase yang berada di tengah gurun pasir yang sangat luas. Perjalanan sebenarnya yang jauh lebih berat justru setelah kita meninggalkan oase tersebut, setelah kita bergerak meninggalkan “rest area” dan menyusuri jalan tol yang panjang itu.
Namun, meskipun hanya “rest area”, bacalah berbagai hadits dan ayat Al-Quran ihwal kehidupan sesudah kematian kita nanti; bukankah semua urusan yang akan dimintai pertanggungjawaban dan ‘merepotkan’ setiap manusia justru adalah “apa yang sudah kamu lakukan di rest area”, ihwal perbekalan macam apa yang manusia persiapkan di oase yang berada di tengah pada pasir tersebut.
Lalu kita pun mati. Apa bayangan tentang kehidupan di tahap berikutnya? Tidur nyenyak sampai kiamat tiba? Atau luntang-lantung seperti ‘arwah gentayangan’ di film-film horor Indonesia? Yang selamat akan tidur nyenyak, yang tidak mendapat siksa; begitukah? Kok kebluk amat ya bayangannya; di dunia doyannya tidur, lalu saat mati bayangannya juga cuma tidur dan tidur lagi. Seolah manusia itu dicipta untuk selalu tidur.
“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” demikian tandas Ali bin Abi Thalib.
Lalu bagaimana dengan Al-Quran yang biasa kita baca? Bazzar meriwayatkan dalam kitab “La‘âli Masnunah” bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat, yaitu Munkar dan Nakir, yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat tersebut agar memudahkan tanya jawab. Tetapi si tampan itu berkata: “Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam surga.” Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al-Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.” Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala‘il A‘la. (Diambil dari “Himpunan Fadhilah Amal”, hlm. 609)
Di mauthin barzakh (atau lebih umum dikenal sebagai alam kubur), kita tidak akan tidur dan tidur lagi, dan kenapa juga selalu membayangkan tidur melulu? Kurang banyak tidur selama hidup di dunia?
Nah, agar mudah membayangkan apa yang akan kita hadapi di sana, maka bayangkan bahwa kehidupan dunia ini tak ubahnya sesederhana kehidupan dalam rahim, sedangkan kehidupan di mauthin barzakh itu nanti jauh lebih kompleks, tak ubahnya seperti kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan dalam rahim. Dan waktunya, sama seperti jika kita bandingkan antara lamanya umur kita saat ini dengan saat ada dalam rahim.
Namun, di mauthin barzakh ini, kita akan dihukumi ihwal segala dosa personal yang kita lakukan selama di “rest area” bernama mauthin dunya. Adapun segala dosa yang terkait dengan mu‘amalah akan dimintai pertanggungjawabannya nanti, saat di Padang Mahsyar.
Kembali kepada mauthin barzakh, jika saat dalam rahim, kita tak banyak merasakan sakit ini itu. Kalau pun ada masalah, kalau tidak mati, ya cacat atau keguguran. Namun, di kehidupan dunia ini, kita merasakan berbagai macam rasa sakit dengan berbagai tingkatan intensitasnya, dari ‘rasa sakit’ karena bekas digigit nyamuk hingga luka berat karena kecelakaan fatal atau sakit berat. Dari yang yang tertahankan hingga yang membuat kita mengaduh dan menjerit-jerit.
Sekarang, bayangkan, jika di dunia ini kita bisa menjerit kesakitan karena tertusuk jarum, atau merasa perih karena suatu bagian tubuh kita terbakar api, maka di mauthin barzakh nanti, rasa sakitnya berkali-kali lipat daripada di mauthin dunia ini. Singkatnya, di mauthin barzakh, segalanya menjadi lebih berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan di ‘mauthin dunya’ ini.
Kemudian kiamat.
****************
“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang Dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS Az-Zumar [39]: 68)
****************
Sebagaimana ditandaskan dalam ayat Al-Quran di atas, setelah dibangkitkan kembali, kita semua dikumpulkan di Padang Mahsyar. Jangan bayangkan ada banyak loket paralel di mana sekian milyar manusia bisa ‘dihakimi’ secara paralel sehingga antrian bisa cepat berkurang. Setiap manusia, satu per satu, dihakimi di hadapan semua manusia lainnya.
****************
“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS Maryam [19]: 25)
****************
Semua perbuatan manusia selama di “rest area” diperlihatkan kembali, namun, kali ini hingga lintasan dan kata-kata yang hanya kita ucapkan dalam hati. Perbuatan dosa yang hanya diketahui seorang diri dan tak diketahui manusia lainnya. Semua dibuka, tak ada yang disembunyikan. Bisa membayangkan? Film ihwal diri kita, dari yang fisikal hingga yang ada dalam hati, semua diperlihatkan apa adanya untuk dihakimi-Nya di hadapan seluruh umat manusia? Ditambah dengan tuntutan dari manusia lainnya yang pernah kita sakiti, yang kita punya hutang kepadanya dan belum dilunas, dan berbagai urusan mu‘amalah lainnya.
****************
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS ‘Abasa [80]: 34-37)
****************
Pernah berada di pesta pernikahan selama 3 jam? Bising musik, banyak manusia berlalu lalang serta bercakap-cakap, dan masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Sesudahnya, kita merasa capek bukan? Nah, kini bayangkan kita berada di tengah lautan manusia, milyaran jumlahnya, dan masing-masing sibuk serta panik dengan urusannya masing-masing, meminta pertolongan kepada para Nabi, saling menuntut satu sama lain ihwal urusan di dunia yang belum beres, dan itu berlangsung entah berapa lama, hingga manusia terakhir selesai dihakimi-Nya.
Lalu, surga dan neraka...
Sebelum ke sana, ada baiknya kita baca dulu penjelasan Maulana Jalaluddin Rumi dalam salah satu syairnya sebagai berikut:
******************
Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenagan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan, dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang,
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;
Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa –
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina
Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.
******************
Jadi, setelah selesai di dunia ini, kita akan menghadapi kehidupan yang jauh lebih sederhana dengan asoy? Tidur nyenyak saban hari sambil menunggu kiamat? Coba pelajari dan pikirkan ulang, kita hidup di mauthin dunia dengan berbagai masalah seperti sekarang hanya untuk menjalani kehidupan berikutnya yang ‘isinya’ cuma enak-enakan saja (dan siksa yang pedih bagi yang celaka karena tak membawa bekal dari kehidupannya di mauthin dunia)? Kok syahwatiah sekali imajinasinya? Hanya karena di sini tak bisa mendapatkan Miss Universe sebagai istri, maka, gambaran soal bidadari yang selalu perawan dan berbagai syahwat seputar seksual sajalah yang menjadi gambaran ihwal kehidupan di mauthin akhirat nanti. Bukankah hal semacam itu lebih memperlihatkan obsesi syahwatiah atas segala hal yang tak bisa dicapai di mauthin dunya ini lalu diproyeksikan ke kehidupan di ujung mauthin sana nanti?
‘Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Dunia berjalan meninggalkan manusia, sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan masing-masing memiliki generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan janganlah kalian menjadi generasi dunia. Karena hari ini (di mauthin dunia) yang ada hanyalah amal dan belum dihisab, sedangkan besok (di mauthin akhirat) yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi amal.”
Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra bertanya kepada Rasulullah saw tentang makna “al-falaq” pada kalimah “Qul 'audzu bi Rabbil-falaq”. Rasulullah saw menjawab, “Al-falaq itu sebuah penjara di dalam neraka jahannam. Dipenjarakan di dalamnya setiap orang yang sombong lagi membesar-besarkan diri (al-jabbaarun). Dan jahannam itu adalah suatu tempat di mana kita memohon perlindungan Allah darinya.”
Jadi, sekali lagi, coba pikirkan baik-baik dan renungkan secara mendalam, meskipun keberadaan kita di “rest area” bernama dunia ini hanya sebentar, tak ubahnya menyiapkan bekal di oase untuk perjalanan sebenarnya menempuh gurun pasir, namun justru apa yang kita lakukan selama di “rest area” inilah yang akan selalu dimintai pertanggungjawaban dan membuat kita kewalahan sendiri di mauthin barzakh hingga mauthin akhirat nanti. Namun, seperti pernah saya tuliskan sebelum ini, bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk mengenal-Nya dan Dia tempatkan manusia di Jubah Terjauh-Nya untuk mengenal segenap khazanah-Nya, dari mulai alam material fisik ini hingga alam tertinggi, sebagai bekal perjalanan yang sebenarnya, justru setelah kita mati nanti. Maka, apa yang seharusnya kita lakukan saat sedang berada di rest area ini? Jangan pertukarkan antara tujuan dengan sarana!
Setidaknya, ini bisa memberi sedikit penyadaran betapa pentingnya kita untuk benar-benar “istirahat” dengan serius di “rest area” bernama kehidupan di ‘mauthin dunya’ ini. Dengan demikian, kita bisa lebih punya gambaran, bahwa setelah kita mati nanti, di mauthin berikutnya, segalanya akan mengalami pelipatgandaan kompleksitas terus menerus, termasuk rasa sakit jika kita diazab karena ‘tidak serius’ saat berada di “rest area”, dan kompleksitas itu akan terus meningkat hingga nanti di neraka (atau surga, jika kita selamat).
Dalam Kajian Kitab Kitab Al-Hikam, tanggal 19 Juni 2016, yang diampu oleh Mursyid Penerus Thariqah Kadisiyah, Zamzam AJT, dijelaskan sebagai berikut:
****************
Salah satu ilusi yang paling banyak menggerus manusia adalah waham tentang kesuksesan. Seolah-olah parameter kesuksesan hanya diukur oleh pencapaian duniawi atau spiritual. Menurut waham kebanyakan orang, seseorang dikatakan sukses apabila punya jabatan yang tinggi, gelar akademik yang berjejer di belakang namanya, lulusan perguruan tinggi luar negeri, memiliki harta yang banyak, dsb. Juga ukuran kesuksesan di sisi spiritual dinilai dengan adanya pengikut yang banyak, dianggap berilmu tinggi, dipandang mempunyai kemampuan khusus, dan lain sebagainya. Sedemikian rupa waham itu sehingga kebanyakan manusia tergopoh-gopoh dalam ajang lomba mencari keunggulan di mata manusia, yang jika ditilik adalah suatu letupan hawa nafsu yang bermuara dari sifat tamak. Padahal orang yang paling mulia di mata Allah adalah yang paling bertaqwa, yaitu mereka yang paling menggenggam urusan sebagai amanah yang dikalungkan kepada diri masing-masing. Adapun manusia memang cenderung membeda-bedakan dengan membuat kotak-kotak derajat manusia, seolah pekerjaan yang satu lebih mulia dari pekerjaan yang lain, seolah urusan yang satu lebih bergengsi dibanding urusan yang lain, namun sesungguhnya kebanyakan manusia tidak menghukumi berdasarkan kebenaran, sehingga tidak kokoh landasannya. Singkat kata, orang yang masih tersibukkan dengan mencari ketenaran dan kemuliaan di mata manusia sesungguhnya belum paham dan belum punya kesadaran tentang persoalan mandat Ilahiyah yang ditanam di dalam qalb masing-masing jiwa. Sebaliknya, orang yang sudah paham mengenai konsep misi hidup yang berlandaskan ketaqwaan, maka dia akan teguh jalannya dan tidak goyah oleh cibiran atau pandangan rendah manusia, tidak malu dibilang miskin, bodoh atau kurang, karena ia hanya memedulikan penilaian dari Allah Ta'ala. Maka kuatkanlah tujuan masing-masing diri kita dalam bekerja untuk Allah Ta'ala supaya tidak terseret dalam kesibukan melayani dan menghindari sesat pandang hanya menurut kebanyakan manusia.
****************
Sebagai catatan penting, belakangan ini, kita banyak mendapati orang-orang yang memuji Allah sambil menghancurkan, bahkan membunuh orang lain, lalu diklaimnya sebagai jihad. Tidak ada manfaatnya membunuh seseorang atas nama Tuhan dengan cara seperti itu. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib ra pun berkata: “Awas! Jauhkanlah dirimu dari perbuatan menumpahkan darah siapa pun tanpa alasan yang menghalalkan. Tiada satu pun yang lebih dekat kepada pembalasan, lebih berat bebannya dan lebih cepat menghilangkan nikmat serta menghentikan masa kekuasaan, daripada menumpahkan darah tanpa sebab yang dibenarkan. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat, Allah SWT akan menjadikan persoalan penumpahan darah di antara hamba-hamba-Nya sebagai sesuatu yang pertama kali akan diadili-Nya.”
(Ini pula yang dikatakan Nabi Musa as, seorang nabi besar yang memiliki pengetahuan akan kebenaran ilahi, ketika berhadapan dengan Fir’aun: “Sesungguhnya sahabatku yang terbesar adalah Fir’aun, dan musuhku yang terbesar adalah hawa nafsuku sendiri.”)
Maka, kembali kepada pertanyaan di awal tadi, saya sejujurnya tak sanggup membayangkan sedahsyat dan seberat apa kehidupan di mauthin-mauthin berikutnya yang akan kita hadapi nanti. Karenanya, lebih baik saya menjalani kehidupan di “rest area” ini seserius mungkin, karena apa yang saya lakukan di “rest area” inilah yang akan menentukan seperti apa kehidupan saya di mauthin-mauthin berikutnya nanti.
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wallahu a‘lam bishshawwab.
*****************
Anas bin Malik ra berkata: “Nabi saw membuat garis-garis lalu bersabda, ‘Ini adalah manusia, ini angan-angannya dan ini adalah ajalnya. Maka tatkala manusia berjalan menuju angan-angannya, tiba-tiba sampailah dia ke garis yang lebih dekat dengannya (daripada angan-angannya).’ Yakni ajalnya yang melingkupinya.” (HR Al-Bukhari no. 6418)

0 comments:

Post a Comment