Friday, June 30, 2017

Tujuan Penciptaan Manusia



Untuk apa Allah menciptakan manusia? Jawaban yang seringkali diajukan adalah: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzâriât [51]: 56)
Lalu, bagaimana cara kita mengabdi kepada-Nya? Apakah hanya dengan sujud minimal 34 kali dalam sehari? Apakah memang Dia butuh untuk kita sujudi sedemikian rupa? Padahal, dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku.” (HR. Muslim, no.2577)
Lalu untuk apa kita menghamba dan mengabdi kepada-Nya, sementara semua itu tidaklah menambah apa pun bagi-Nya? Apakah ibadah atau ritual yang banyak dipercaya sebagai tujuan penciptaan manusia itu juga merupakan alasan agar manusia tidak masuk surga atau neraka? Sementara dalam salah satu hadits dinyatakan:
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?” Jawab Rasulullah Saw, “Ya!” Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?” Beliau menjawab: “Masing-masing beramal sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari)
Baiklah, jika penghuni surga dan neraka itu sudah dikenali, maka apa yang harus manusia lakukan?
Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)
Dan, Allah pun menegaskan dalam Al-Quran bahwa “Sesungguhnya usaha kamu berbeda-beda. Ada pun orang yang berderma dan bertaqwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang mudah. Ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al-Lail [92]: 4-11)
Dalam kitab Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi menjelaskan sebagai berikut: “Dan seseorang berkata, ‘Aku telah melupakan sesuatu.’ Sesungguhnya, hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan. Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi melupakan yang satu itu maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim seorang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun… ‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada petala langit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka menolak untuk memikulnya dan gentar kepadanya; tetapi Al-Insan mengambilnya; dan sungguh, ia itu zalim dan bodoh’” (QS Al-Ahzab [33]: 72).
Amanah? Apa itu amanah?
Pada suatu ketika Nabi saw sedang berbicara dengan orang banyak, tiba-tiba datang seorang Arab dusun menanyakan kepada beliau: “Bilakah datangnya sa‘at (hari-hari kehancuran)?” Rasulullah tidak langsung menjawab, tetapi beliau meneruskan pembicaraannya dengan orang banyak. Karena sikap Rasulullah yang demikian itu, sementara orang mengatakan Rasulullah mendengar pertanyaan itu tetapi beliau tidak menyukainya. Dan setengah lagi mengatakan beliau tidak mendengarnya. Setelah Rasulullah selesai berbicara beliau bertanya, “Di mana orang yang bertanya perkara sa‘at tadi?” Orang itu menyahut, “Saya ya, Rasulullah!” Rasulullah bersabda “Apabila amanah telah disia-siakan orang, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.” Tanya orang itu, “Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?” Jawab Rasulullah, “Apabila suatu amr (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.”(HR Bukhari)
Lalu dalam salah satu syair Matsnawi, Rumi kembali menegaskan:
“Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.”
Dan dalam Rubaiyat F#77, Rumi pun menuliskan sebagai berikut:
Bertahun kucoba kukenali diriku, dengan meniru orang lain.
Dari dalam diriku, aku tak tahu harus lakukan apa.
Tak kulihat siapa, kudengar namaku di seru dari luar.
Lalu jiwaku melangkah keluar dari dalam diriku.
Jadi, apakah Allah menciptakan kita hanya untuk sujud minimal 34 kali dalam sehari? Hanya untuk berhaji? Berzakat dan berbagai ritual lainnya? Sesederhana itukah Dia menciptakan alam semesta ini dengan hadirnya seorang khalifah di muka bumi? Hanya untuk itukah Dia menciptakan manusia lalu menyuruh malaikat bersujud di hadapannya? Hanya untuk beribadah dan beribadah sambil tidak tahu: hanya untuk ini sajakah sehingga saya harus ada di muka bumi ini? Saya tak minta diciptakan dan tak meminta semua masalah ini, dan untuk apa Dia ciptakan saya? Kenapa saya dimudahkan melakukan hal ini dan tidak hal yang lain? Saya tidak meminta ini semua, lalu untuk apa saya ada?
Maka, cobalah kita mengingat kembali sebuah hadits qudsi saat Allah berfirman: “Aku adalah Khazanah Tersembunyi (Khanzun Mahfiy), dan Aku cinta untuk dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk sehingga Aku dikenal.”
Bagaimana agar kita bisa mengenal-Nya? Bukan tahu, entah melalui cerita para ustadz atau membaca buku. Bagaimana agar mengenal-Nya karena bertemu dengan-Nya? Dalam hadits yang dishahihkan oleh kalangan Syi‘ah dan banyak dikutip oleh para sufi—mungkin ini yang membuat para sufi selalu diidentikkan dengan Syi‘ah, entahlah, dan menurut saya, itu memang tuduhan asbun dan asal-asalan—bahwa “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, yang artinya “barangsiapa mengenal nafs-nya (yaitu, jiwanya) maka sungguh dia akan mengenal Rabb-nya.”
Namun, bukankah kita saat ini mirip Jason Bourne, seorang agen CIA, dalam film Bourne Identity? Dalam film ini diperlihatkan Bourne yang menderita amnesia dan berjuang untuk menemukan kembali ingatannya. Dia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berantem, tangkas ngebut, pandai ngobrol berbagai bahasa, namun, sialnya, ada satu hal penting yang tak Bourne ketahui, yaitu ‘siapa dirinya’...
Bourne bertanya kepada Marie yang ditemuinya di Kedutaan Amerika: “Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?”
Siapa saya? Kenapa saya ada di sini? Pernahkah kita bertanya seperti itu? Sejenak saja, sambil menegakkan shalat di sepertiga malam, saat di mana Allah dekat dengan langit dunia, yaitu dekat dengan nafs (jiwa) kita.
Dalam banyak film Hollywood, saya sering menangkap adanya pertanyaan besar soal ‘siapa kita dan kenapa kita di sini?’ Dan mereka meyakini bahwa mereka hadir ke dunia ini untuk suatu tujuan, namun karena agama sudah mereka enyahkan, maka mereka mencoba mencari jawabannya dengan cara-cara syaikhular hi hi hi hi hi hi.... sekular maksudnya.
Sementara, di Timur, di mana agama masih mendapat tempat, justru pertanyaan eksistensial semacam itu tak mendapat tempat, dan tertimbun oleh berbagai doktrin yang ‘taken for granted’ dari agama: ‘harus beribadah’, ‘harus jadi baik (atau shalih)’, ‘hormat dan menurut pada mama dan papa’, ‘jangan berzina’, ‘jangan mabuk-mabukan’, ‘jangan mencicipi narkoba’ dan berbagai ‘jangan lainnya’ yang jika dilaksanakan, maka ‘kamu akan masuk surga’...
Tapi, saat hidup terasa tak bermakna, lalu muncul pertanyaan ihwal kenapa saya harus ada di muka bumi ini, siapa diri saya sebenarnya, kenapa saya dimudahkan untuk memahami dan mengerjakan ini, namun bukan hal lainnya, kembali agama membungkam: ‘sudahlah jalankan ini itu, pasti masuk surga, gak usah banyak tanya’...
“… Supaya mereka mengabdi kepada-Ku”; mengenai lafadz “Illa Liya‘budun” tersebut, Ibn Abbas, mufasir terbesar, menafsirkannya dengan “Illa Liya‘rifun”, artinya, “...Supaya mereka mengenal-Ku.”
Menjadi abdi-Nya (akar katanya sama: abid [hamba, budak], ya’bud [mengabdi], ibadat [pengabdian]). Namun, untuk apa seorang abdi bila tanpa suatu peran atau tugas khusus yang diembannya? Kita dibimbing dengan puasa, shalat dan zakat, lalu menganggap bahwa itu semua sebagai tujuan, tanpa mencoba menilik kembali bahwa barangkali itu semata sarana, yaitu, sarana demi sesuatu yang lebih agung. Adakah maksud yang lebih besar lagi di balik diberlakukannya hukum-hukum yang merupakan semacam “standard operating procedures” tersebut?
Dan akhirnya, Bourne pun mendapatkan penjelasan ihwal dirinya:
Jason Bourne: “Who am I?”
Conklin: “You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning-thirty-million-dollar-weapon.”
Setiap manusia itu diciptakan dengan tujuan agung dan amanah spesifik satu sama lain, yaitu misi hidup, lalu Dia tempatkan manusia di Jubah Terjauhnya, di alam dunia fisikal ini, agar mereka berjalan kembali kepada-Nya sambil mengenali alam demi alam yang dilalui dalam perjalanan kembali tersebut, mengenal kekayaan khazanah-Nya. Dan berbagai ibadah serta hukum yang Dia berikan itu adalah sarana dan panduan dalam perjalanan kembali kepada-Nya tersebut. Jangan sampai tertukar, sarana malah dianggap sebagai tujuan, walau memang tujuan tak bisa dicapai tanpa sarana yang telah Dia berikan dan tetapkan bagi manusia.
Kembali kita menoleh kepada hadits qudsi: “Aku adalah Khazanah Tersembunyi (Khanzun Mahfiy), dan Aku cinta untuk dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk sehingga Aku dikenal.”
Dan QS Fushshilat [41]: 53 menegaskan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada nafs mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah al-haqq, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Inilah yang kemudian dikenal sebagai makrokosmos dan mikrokosmos dalam khazanah tashawwuf, bahwa apa yang tampak di segenap ufuk itu ada juga dalam nafs manusia, tapi bagaimana manusia bisa mengenali bahwa itu semua ada dalam dirinya sementara dirinya menderita amnesia ihwal siapa dirinya sebenarnya. Tak tahu siapa dirinya dan diciptakan untuk menjadi apa. Nasir-i Khusrau menuliskannya sebagai berikut:
*********************
Kenalilah dirimu
Kalau kau pahami dirimu sendiri,
Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci
Pertama, akrablah dengan dirimu
Kemudian jadilah pembimbing lingkunganmu
Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya
Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana
Kau tak tahu nilaimu sendiri
Sebab kau tetap begini
Akan kau lihat Tuhan, kalau kau kenal dirimu sendiri
Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu
Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu
Jangan pusingkan kenikmatan hewani
Kalau kau pencari surgawi
Jadilah manusia sejati
Tinggalkan tidur dan pesta ria
Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa
Apa pula tidur dan makan-makan?
Itu semua urusan binatang buas
Dengan ilmu jiwamu bertunas
Jagalah sekarang juga
Sudah berapa lama kau tidur?
Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?
Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani
Ada maksud kau dicipta serupa ini
Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu ini.
*********************
Tidakkah hal semacam ini semestinya direnungkan secara mendalam oleh setiap muslim? Ataukah berbagai “standard operating procedures” berupa ibadah dan hukum ‘lakukan ini dan jangan lakukan itu’ telah mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih agung ihwal penciptaan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi? Atau, lebih mengerikan lagi, gemerlap kehidupan dunia ternyata lebih memukaunya untuk dihasrati, dikejar dengan segala cara dan dicandui?
Silakan. Itu pilihan masing-masing.
Demikian. Semoga ada gunanya. Mohon maaf jika selama ini saya banyak kesalahan dan menyakiti Anda. Allah tidak menciptakan saya sebagai malaikat, jadi pastilah banyak salahnya, maka tolong maafkan saya. Hatur nuhun. Wassalam.

0 comments:

Post a Comment