Thursday, July 27, 2017

Bertakwa dengan Sesuatu yang Mudah

Seorang laki-laki menghadap Nabi Isa as. "Bagaimana seorang hamba dapat betul-betul bertakwa kepada Allah?" tanya laki-laki itu. "Dengan sesuatu yang mudah", jawab Nabi Isa as.
"Kamu mencintai Allah harus benar-benar keluar dari lubuk hatimu, kamu berbuat kebaikan dengan sungguh-sungguh dan dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, serta menyayangi keturunan bangsamu dengan kasih sayang yang tulus"
"Wahai pengajar kebaikan, apa yang dimaksud dengan keturunan bangsaku itu?"
Jawab Nabi Isa as, "Seluruh keturunan Adam. Apapun yang kamu tak sukai jika itu menimpa dirimu janganlah kamu timpakan pada orang lain. Jika kamu melaksanakannya berarti kamu benar-benar bertakwa kepada Allah!"
(Dari wall kang Zamzam A J Tanuwijaya)

SINDROM PADA WANITA

Tulisan ini bisa dijadikan bahan referensi bagi para pria, suami, atau yang akan menjadi suami.
Bukan masalah pre menstruasi sindrom apalagi baby blues sindrom, ada sindrom lainnya yang bagi saya sindrom yang sangat lucu namun benar adanya.
PRINCESS SYNDROME namanya, mungkin timbul diakibatkan banyaknya tontonan dimasa kecil tentang putri2 cantik, kurus, tinggi, langsing, berhidung mancung, berkulit putih bersih.
Dimana suatu saat kelak putri tersebut akan dijemput oleh seorang pangeran berkuda nan tampan dan membawanya keistana dengan kereta kuda emasnya.
Sindrom2 ini muncul saat masa mulai puber hingga akhirnya menemukan pasangan yang mungkin jauh sekali dari cerita pangeran tampan berkuda tersebut.
Sehingga akhirnya, ada dua pilihan, berdamai dengan keadaan atau bermimpi terus dan menuntut pasangannya agar sesempurna pangeran tampan berkuda tersebut.
Dan sindrom itu akhirnya berakhir sesuai kenyataan yang ada, namun hati2 saat sindrom itu berganti menjadi sindrom KOREA HANDSOME.
Dimana wanita disuguhi film yang penuh kebaperan dengan pemeran para lelaki ganteng, tinggi, kurus, sipit, mancung dan berkulit mulus, sindrom ini akan menjadi ujian kembali bagi para pria khususnya para suami. Karena suami akan dituntut seganteng dan seromantis opa-opa di korea sana 😂
Fenomena ini sebetulnya bisa jadi dua mata uang, tergantung bagaimana menghadapinya...
1. Sisi positif: pingin membahagiakan istri? Ternyata ga usah susah2 contek aja gaya ngegombalnya drama-drama korea seperti kim shin, kapten yoo shi jin hingga habaek
2. Sisi negatif: para istri yang terlalu terobsesi akan merubah pasangannya sesuai yang dia harapkan dalam sindrom2 tersebut yang pada akhirnya membuat pasangan tidak nyaman.
Pada akhirnya sindrom-sindrom ini akan pupus bila antar pasangan bersedia untuk saling memberi satu sama lain, seperti yg telah disyariatkan selama ini:
Guidance untuk para istri:
“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya”.
HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)
Guidance untuk para suami:
“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”.
(HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))
*Dicatat saat selingan film the bride of habaek episode 7 😉
- by bun 2 w - irma

Wednesday, July 26, 2017

Ringkasan Agama

Islam: the problem is false-self / the solution is submission
Christianity: the problem is sin / the solution is salvation
Buddhism: the problem is suffering / the solution is awakening
Judaism: the problem is exiled from God / the solution is to return to God

Herry M

Rumi: Mana yang Lebih Mulia?

SETIAP bangunan suci pasti didirikan dengan suatu tujuan tertentu. Sebagian dibuat untuk menampilkan kepemurahan pembangunnya. Sebagian agar pembangunnya dikenal, dan sebagian lagi mengharapkan imbalan-imbalan di akhirat kelak. Namun tujuan yang sesungguhnya dari bentuk-bentuk penghormatan terhadap para kekasih Allah dan memperindah makam-makam mereka, seharusnya adalah Allah.
Para kekasih Allah sendiri tidak peduli dengan sikap-sikap pemuliaan semacam itu. Kemuliaan mereka adalah karena yang di dalam mereka sendiri sudah mulia, dan kemuliaan itu sudah memancar dengan sendirinya–bukan karena dimuliakan orang lain.
Jika sebuah lentera harus ditempatkan di tempat yang tinggi, sesungguhnya itu karena kepentingan orang lain yang membutuhkan jangkauan cahaya yang lebih jauh, dan bukan karena lentera itu merasa lebih mulia dari lentera lainnya. Apakah di tempat tinggi atau rendah, dimanapun dia, keinginan sebuah lampu hanyalah memancarkan cahaya. Cahayanya harus menjangkau mereka yang membutuhkan.
Seandainya matahari yang ada di langit itu sekarang berada di bawah kita, ia tetap saja matahari yang sama. Namun dunia kita yang menjadi gelap. Matahari ada di atas, bukan karena kemuliaan dirinya, namun demi kepentingan makhluk lain. Maka mudahnya, sama seperti itu, para kekasih Allah sudah melampaui ‘atas’ dan ‘bawah’, ‘tinggi’ dan ‘rendah’, maupun pujian-pujian penghormatan dari orang lain.
Kita sendiri, ada saat-saat ketika setitik cahaya dari alam jiwa mengenai kita atau terwujud dalam diri kita, pada titik itu kita tidak akan peduli dengan ‘tinggi’ atau ‘rendah’, ‘mulia’ atau ‘pembesar’, atau bahkan terhadap kepentingan diri kita sendiri, hal yang terdekat dengan diri kita. Maka bagaimana mungkin para kekasih Allah, yang menjadi sumber cahaya dan sumur air hikmah itu, masih terikat pada ‘tinggi’ atau ‘rendah’?
Kemuliaan bagi mereka adalah sirna, lenyap dalam apa yang Allah kehendaki bagi dirinya, sementara Allah sama sekali terlepas dari ‘tinggi’ dan ‘rendah’. ‘Tinggi’ dan ‘rendah’, ‘atas’ dan ‘bawah’ adalah untuk kita yang ada dalam eksistensi fisik, pada kita yang terpenjara dengan kedudukan ‘kaki’ dan ‘kepala’.
Rasulullah saw bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian mengatakan bahwa aku lebih baik dari Yunus bin Matta (Nabi Yunus a.s)”–H. R. Bukhari 3160–hanya karena ‘mi’raj’-nya Nabi Yunus adalah ke perut ikan paus, dan Rasulullah ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Yang Beliau saw maksud adalah, jangan memuliakan Beliau dari Nabi Yunus hanya karena puncak spiritualnya adalah di perut ikan paus sementara Rasulullah di langit ketujuh–karena Allah sama sekali tak terkait ‘atas’ dan ‘bawah’. Dia ta’ala di luar itu. Bagi-Nya, di langit ke tujuh dan di perut ikan paus sama saja, jika itu adalah puncak kedekatan seseorang pada-Nya.
Begitu banyak manusia melakukan hal-hal yang ‘berlawanan’ dengan kehendak Allah. Allah menghendaki ajaran yang dibawa Muhammad saw. menjadi agama yang agung, selalu ada, dan terus berlaku sampai akhir zaman. Tapi lihatlah ada berapa perbedaan interpretasi terhadap Al-Qur’an yang telah dibuat, dengan tambahan lagi perbaikan volume kesepuluh dari sepuluh volume, atau volume kedelapan, atau keenam. Tujuan masing-masing pengarangnya adalah untuk menampilkan kelebihan buatannya, atau kelebihan dirinya, dibandingkan yang lainnya. Zamakhsari dalam kitab “Al-Kasyaf”-nya menjelaskan begitu banyak rincian-rincian spesifik terhadap tatabahasa, gaya bahasa, maupun pengungkapan retoris Al-Qur’an untuk menunjukkan kepintarannya. Meski begitu, tujuan besarnya tetaplah terpenuhi: itu adalah pemuliaan tentang apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
Setiap orang, pada dasanya sedang melaksanakan kehendak Allah, seberapapun tidak pahamnya mereka dengan tujuan tersebut, walaupun dengan tujuan yang sama sekali berbeda dalam pikiran mereka. Allah menghendaki dunia terus ada, maka manusia membiarkan diri mereka tenggelam dalam hasrat dan memuaskan hasrat-hasrat mereka dengan lawan jenis untuk tujuan-tujuan pencapaian kenikmatan belaka, namun dari sana akan lahir anak-anak manusia. Seperti ini, mereka melakukan hal-hal demi memuaskan kesenangan mereka saja, namun sebenarnya yang mereka lakukan adalah memastikan dunia terus berjalan dan dijaga keberlangsungannya. Maka kehendak mereka pun sebenarnya tunduk pada kehendak Allah, walaupun tidak ada sama sekali niat itu pada mereka. Sama seperti itu juga, orang-orang yang membangun masjid menghabiskan uang yang banyak untuk membeli pintu-pintu yang indah, dinding, dan atap. Namun pintu, dinding dan atap masjid sesungguhnya dibeli karena adanya ka’bah di arah kiblat, obyek ‘pemuliaan’ yang lebih agung lagi dari sekedar pintu yang mahal, dinding, atau atap, walaupun para penyumbang sama sekali tidak menyadari hal ini ketika menyedekahkan uangnya.
Keagungan dan kemuliaan para kekasih Allah tidak akan tampak dalam bentuk-bentuk luar. Ketinggian dan kemuliaan yang ada dalam diri mereka tidak bisa dibandingkan. Sekeping dirham (keping perak) tentu “di atas” sekeping pul (keping tembaga), namun apa sebenarnya makna “di atas” sekeping pul? Tentu bukan karena bentuk-bentuk lahiriahnya. Kalau kau taruh sekeping dirham di atap dan sekeping emas di ruang bawah tanah, biar bagaimanapun sangat bisa dipastikan bahwa keping emas di bawah tanah tetap ada “di atas” keping dirham di atap. Demikian pula, rubi dan mutiara “di atas” keping emas, tak peduli di manapun atas bawahnya kau letakkan mereka. Sama seperti itu, gandum berkedudukan di atas batu penggilingan, dan kedudukan tepung ada di bawahnya. Kalau tepung ingin di atas, bagaimana mungkin ia akan menjadi tepung? Kemuliaan tepung bukanlah karena sifat-sifat fisiknya.
Di alam yang hanya berisi hakikat, sesuatu ada “di atas” adalah karena esensinya.
: :
(Jalaluddin Rumi, “Fihi Ma Fihi”: Kuliah ke-24, terjemahan oleh Herry Mardian. Dari “Signs of the Unseen”, translated by W. M. Thackston, Jr.).

Tuesday, July 25, 2017

Setelah Kepala Saya 'Dibongkar'

Status yang Saya Tulis 16 Hari Setelah Kepala Saya 'Dibongkar' untuk Pengangkatan Kista Epidhermoid di Batang Otak... Dua Tahun yang Lalu... 21 Juli 2015.
**********************
Beberapa hari sebelum naik ke meja operasi, Mursyid tercinta memberitahukan beberapa hal yang harus saya lakukan terlebih dahulu, dan salah satunya adalah: ziarah ke makam ibunda, membaca surat Yasin untuknya serta meminta maaf untuk kelalaian saya selama bertahun-tahun karena tak pernah mendoakannya. Ya, ini benar apa adanya; saya yang banyak bicara agama di media sosial semata agar terlihat bijak dan paham agama—dan tampaknya upaya pencitraan ini berhasil juga—ternyata tak pernah mengirimkan Yasin kepada perempuan yang telah melahirkannya ke muka bumi ini, sering lupa mendoakannya setiap habis shalat, dan bersikap acuh tak acuh akan hal itu. Maka, saya pun datang ke makam ibunda tercinta, ditemani oleh istri, membaca Yasin dan meminta maaf kepadanya, serta menangis sejadi-jadinya.
Lalu, terlintaslah kembali ingatan akan pertengkaran terakhir kami, pertengkaran yang dipicu oleh kemarahan ibunda akan keputusan Aa Gym untuk berpoligami. Ibunda, seperti halnya kebanyakan perempuan dan masyarakat Indonesia saat itu, menghakimi Aa Gym tanpa belas kasihan sama sekali. Segala caci maki dan pandangan negatif dilemparkan kepada Aa Gym untuk menempatkan dia di posisi paling rendah hingga layak diperlakukan seperti itu. Saya, di sisi lain, membela pilihan beliau. Saya bukanlah murid Aa Gym. Saya hanya beberapa kali saja hadir di pengajiannya ketika saya masih duduk di bangku SMA. Setelah lulus SMA, saya tak pernah lagi hadir di pengajiannya, tak pernah menyimak pengajiannya dari awal hingga akhir. Aa Gym tidak kenal saya, dan saya pun tak pernah hadir di pengajiannya hingga detik ini. Jadi, pembelaan saya sama sekali bukan berdasarkan kedekatan personal.
Lantas, atas dasar apa saya membelanya?
Di akhir pertengkaran kami, saya bertanya kepada ibunda: “Mama, tolong tunjukkan kepada saya: hukum syariat mana yang Aa Gym langgar? Hukum mana dalam Islam yang beliau langgar?”
Ibunda menjawab: “Iya sih, tapi masalahnya, dia kan cuma mengikuti kesenangan hasrat seksualnya dengan pilihan poligami tersebut!”
Saya balik bertanya: “Jadi Mama tahu dengan pasti niat beliau? Jadi Mama tahu niat yang tersembunyi di dalam hatinya? Hebat sekali Mama bisa tahu sampai sana. Bukankah hanya Allah yang tahu niat sebenarnya dari tindakan seseorang? Kenapa menghakimi hanya dari prasangka dan kebencian kita? Apa yang Mama tahu soal niat seseorang?”
Ibunda terdiam. Pertengkaran kami pun berhenti hingga di sana. Saya tersenyum mengingat pertengkaran terakhir kami tersebut. Saya pun sadar bahwa hingga detik ini, saya sama sekali tidak menyesali sikap saya dalam membela Aa Gym di hadapan ibunda, membela orang yang tidak kenal saya sama sekali dan saya pun tak pernah hadir di majelis pengajiannya. Yang saya sesalkan adalah: ‘pasti ada kata-kata yang salah terlontar saat kami bertengkar tersebut yang telah melukai ibunda.’ Hanya itu yang saya sesali hingga detik ini. Selebihnya, saya hanya ingin menyelamatkan ibunda tercinta jangan sampai terjatuh dari ketidaksukaannya terhadap pilihan hidup seseorang hingga malah menjadi menginjak-injak hukum Islam.
Pada saat itu, salah satu hal yang membuat saya marah juga adalah: ‘bungkamnya mereka yang digelari sebagai ulama dalam membela hukum tersebut.’ Dalam kemarahan tersebut, saya sampai berkata: ‘Mereka hanya takut kehilangan amplop karena terancam tidak akan lagi diundang ke berbagai majelis pengajian ibu-ibu jika membela Aa Gym!’
Dan saya tahu pasti, bahwa ada banyak teman di FB ini yang tidak akan suka pada pilihan sikap saya ini lalu melontarkan berbagai argumen di kolom comment untuk mematahkan sikap dan pandangan saya tersebut. Saya memberi saran: ‘Simpan saja energi Anda. Saya tak mau berdebat, apalagi di media sosial. Itu hanya onani dan buang-buang waktu. Kasihan saja, Anda menulis argumen panjang lebar ini itu, dan ternyata saya pun tidak menanggapinya secara serius; bahkan, jika saya sedang iseng, maka saya delete saja comment tersebut dari wall saya. Jadi, simpan tenaga Anda, lebih baik salurkan itu untuk sesuatu yang produktif.’
Kini, setelah di penghujung Ramadhan saya diberi kesempatan untuk mengalami dzikrul maut, saya hanya ingin menyerahkan sisa usia saya di muka bumi ini untuk menolong agama-Nya. Semoga Dia berkenan menerima niat tersebut.
Mursyid penerus pernah mengajari bahwa syukur itu bukanlah Alhamdulillah. Alhamdulillah merupakan ungkapan lisan dari syukur. Sementara bentuk syukur itu sendiri adalah dengan menggunakan apa yang telah Dia Ta’ala berikan untuk bekerja. Dalam hal ini, salah satu bentuk kebersyukuran saya adalah: Dia Ta’ala telah memberi saya pikiran yang bisa melahap buku-buku filsafat dan cultural studies, bahkan buku-buku humaniora lainnya hingga sejarah; dan Dia Ta’ala pun telah memberikan saya minat yang besar untuk mendalami Islam hingga dimensi esoterisnya, bahkan menjalaninya dalam sebuah thariqah. Bentuk kebersyukuran saya karena telah diberi-Nya dua kaki—satu kaki di humaniora dan satu kaki di kajian agama—adalah dengan mencoba membuat sintesis yang apik atas kedua wilayah ini, dan bukannya uthak atik gathuk bin cocokologi.
Karena itulah, saya memang selalu mengkritik kalangan terpelajar Muslim yang menjadikan Islam hanya semata sebagai keset atau budak bagi wacana teoretik (post)modern. Ketika di Barat ada teori ini itu, lalu hal itu dengan mudah diterapkan ke dalam Islam semata biar Islam jadi selaras dengan agenda politik wacananya dan bisa terlihat keren lagi up to date. Pemilahan NATURE VS CULTURE digadang-gadang untuk mencari celah di mana Islam bisa didekonstruksi sesuai agenda politik wacana dan—bukan tidak mungkin—kemauannya sendiri.
Kita berbelok dulu sebentar ya. Saat saya masuk STF Driyarkara, awalnya saya berniat hendak membuat tesis berupa perbandingan antara pemikiran Platon dan Ibn ‘Arabi. Namun, Romo Herry sejak awal sudah memperingatkan bahwa jika tesis Anda berupa perbandingan antara dua pemikir, maka sejak awal Anda harus bersikap adil kepada keduanya, dan tidak berat sebelah. Saya jadi ciut; saya takut bersikap tidak adil kepada salah satu dari mereka, hingga saya pun memutuskan: ‘Baiklah, untuk tesis kali ini kita hanya bahas Platon, nanti, jika bisa lanjut ke S3, maka disertasinya adalah tentang Ibn ‘Arabi.’
Itulah etos yang baik dari dunia ilmiah yang saya sukai: adil dan objektif, tidak berat sebelah.
Nah, dalam hal ini, apakah adil dan objektif jika seorang terpelajar dari kalangan Muslim, dengan hanya bermodalkan pengetahuan agama Islam yang memprihatinkan—apalagi jika sama sekali tidak tersentuh oleh khazanah esoterik Islam yang sangat kaya—lalu membongkar dan mengoreksi Islam dengan bermodalkan pemahaman akan wacana teoretik Barat yang detail dan mendasar? Adilkah sikap seperti itu? Sebagai seorang intelektual, coba tanya diri sendiri: seperti itukah etos seorang ilmuwan?
Mari kita mulai dengan berbagai pertanyaan membingungkan yang dimunculkan oleh Islam. Kenapa Al-Quran itu tidak disusun secara runut seperti Alkitab atau kitab-kitab suci agama lainnya? Al-Quran ternyata merupakan kitab yang berantakan; dengan mudah—dalam satu surat—topiknya berpindah-pindah tak terduga, ketika bercerita kisah nabi sedikit mendadak berbicara topik lain, lalu berpindah lagi ke topik lain, dan tiba-tiba kembali ke kisah para nabi, dan tiba-tiba berpindah topik lagi. Demikian terus menerus. Kenapa Al-Quran menyebutkan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, maka Dia beralih menciptakan langit? Bukankah itu salah secara sains? Para saintis tahu bahwa bumi ini tercipta terakhir, bukan bumi dulu tercipta lalu ruang angkasa? Kenapa Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta bisa salah dalam menceritakan tentang ciptaan-Nya? Kenapa Islam mempunyai syariat yang membolehkan majikan bercampur dengan budaknya? Hukum macam apa itu? Kenapa Islam mempunyai hukum rajam dan hukum potong tangan? Bukankah itu melanggar HAM? Kenapa Islam mempunyai hukum poligami? Bukankah itu merendahkan perempuan hanya menjadi objek seksual saja? Dan banyak lagi hal lainnya yang seharusnya membuat banyak Muslim jadi pusing serta bertanya-tanya, dan bukannya sibuk memuji lalu mengagung-agungkan agamanya sendiri sambil mengabaikan berbagai hal membingungkan tersebut. Bukankah itu adalah fanatisme buta?
Karena itu, dalam mendalami agama Islam, dan khususnya membuka rahasia Al-Quran, saya Insya Allah ingin mengikuti apa yang QS Al-Baqarah tandaskan sejak awal surat. Di awal QS Al-Baqarah 1-2, Allah berfirman: “Alif Lam Mim. Itulah Alkitab, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi al-muttaqin.” Apakah Alkitab yang dimaksud di ayat tersebut? Alif Lam Mim. Itulah alkitab yang dimaksud, dan sering diandaikan begitu saja dengan perkataan: “Alif Lam Mim itu hanya Allah yang tahu apa maksudnya.” Oh ya? Lantas bagaimana dengan QS Al-Baqarah 282 yang menandaskan: “Dan bertaqwalah, maka Allah akan mengajarimu.” Ini menjelaskan bahwa bagi al-muttaqin alias mereka yang bertaqwa—taqwa yang haqq, bukan taqwa yang disebut secara longgar dalam banyak khotbah—maka Alif Lam Mim akan menjadi alkitab yang nyata bagi mereka yang Allah telah mengajarinya secara langsung.
Karena itu, jangan heran jika sebagai seorang peminat bacaan filsafat dan cultural studies, saya membuka diri kepada dimensi dan khazanah esoteris dalam Islam. Saya tak mau membatasi dan membonsai diri sendiri dengan sikap sok rasional hingga menolak khazanah yang teramat kaya tersebut dalam Islam. Maka, dalam mempelajari Islam dan terutama membuka rahasia Al-Quran yang susah ditembus kecuali oleh kesucian hati dan ketaqwaan, maka saya ingin bisa merendahkan diri di hadapan-Nya dan berkata: “Ampuni aku dan tolong ajari aku ihwal agama ini; aku bodoh tidak mengerti.” Itulah sikap saya dalam menyikapi seluk beluk hukum Islam: meminta Dia Ta’ala mengajari rahasianya dan bukan menggunakan berbagai wawasan teoretik untuk mengoreksi dan menghukumi ini itu dalam Islam seolah telah paham dan melihat banyak ‘kesalahan’ dalam hukum-hukum Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw.
Namun, di sisi lain, saya pun menyayangkan sikap sebagian kalangan Muslim yang menghakimi banyak wawasan teoretik—yang kebetulan kini memang banyak dikembangkan oleh negara-negara Barat—sebagai sesat pikir, ghawzul fikri dan lain sebagainya. Itulah sebabnya kenapa hingga detik ini saya masih aktif di Studia Humanika, lalu Forum Studi Kebudayaan, kemudian Asian African Students Forum; lalu saya jadi editor buku-buku teoretik humaniora sejak di Jalasutra hingga kini di Pustaka Matahari. Saya pun mencetuskan kegiatan penulisan ilmiah untuk banyak mahasiswa dan dosen karena didorong oleh keprihatinan akan memprihatinkannya budaya literasi dalam dunia pendidikan kita. Mahasiswa S1, S2 dan S3 tak mampu menuliskan satu kalimat yang make sense, lalu bagaimana dengan tugas akhirnya? Bagaimana kualitasnya? Jumlah doktor meningkat pesat di Indonesia, namun jumlah ilmuwan sama sekali tidak bertambah. Dan berbagai keprihatinan lainnya akan dunia pendidikan kita yang semakin lama semakin berantakan.
Secara pribadi, saya sering kagum kepada para pemikir Barat. Saat membaca buku-buku mereka, saya kagum pada ketajaman nalar mereka dalam membedah suatu masalah hingga detail dan rinci. Lalu, dengan nalarnya tersebut, mereka menemukan banyak masalah dalam hidup kita, dan salah satu yang sering mengemuka adalah masalah yang mereka temukan di berbagai agama yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan sudah seharusnya disingkirkan dari kehidupan manusia. Saya kagum pada kemampuan mereka menemukan itu semua. Kenapa? Karena dengan temuan tersebut, mereka telah menunjukkan kepada saya: sampai sinilah batas nalar dalam memahami berbagai perkara dalam agama. Saya berterima kasih untuk upaya pikir mereka, sehingga saya pun bisa meneruskan jalan buntu yang mereka temukan tersebut dengan melangkah ke dalam wilayah esoterik dalam Islam dan terkagum-kagum kepada-Nya bahwa Dia Ta’ala telah menyediakan jalan keluar yang dipenuhi khazanah tak terhingga dalam agama-Nya di wilayah yang sering dihakimi sebagai tidak rasional, tidak Rasulullah saw ajarkan, wilayah bid’ah yang harus dijauhi dan lain sebagainya.
Karena itulah, saya mengajak siapa pun yang mau, untuk mempelajari wawasan teoretik tersebut hingga mendasar dan paham dengan baik. Jangan sok berkomentar ini itu dan menghakimi hanya dengan modal pemahaman yang dangkal. Saya teringat pada pesan Mursyid saya: “Katanya ada seekor naga di balik gunung, di suatu negeri. Tapi itu katanya—dan tak jelas kata siapa. Sebagian besar orang di negeri itu memilih berlindung diri walau tidak pernah melihat, apalagi bertemu sang naga; tak mau berusaha untuk mencari tahu hingga akhir hayat, hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui perihal ada atau tidaknya. Hanya sedikit sekali di antara mereka yang berani menghampiri, mencari tahu. Itu perlu keberanian, jiwa ksatria. Keberanian untuk salah, kalah, bahkan mati. Tapi mereka yang berani itu memenangkan sebuah keyakinan; tahu yang hakiki.”
Kebetulan, kini beberapa pintu terbuka untuk saya. Romo Setyo meminta saya untuk rutin menulis kajian keislaman di Majalah Basis, majalah yang dikelola oleh para Romo Jesuit, agar majalah tersebut tidak terkesan hanya untuk kalangan Katolik. Saya bahagia dengan tawaran itu. Maka, di Majalah Basis, Insya Allah saya akan menulis hal-hal yang bersifat leksikografis, menjelaskan berbagai definisi dalam Islam agar kita bisa lebih tertib dan bertanggung jawab saat menyebut berbagai istilah dalam Islam. Misalnya: apa beda syahwat dengan hawa nafsu? Apa beda nafs dengan ruh? Apa beda nafs dengan psikis yang dibahas dalam psikologi? Apa beda otak kita dengan lubb? Benarkah ulil albab itu gelar untuk mereka yang berilmu karena beruntung bisa sekolah dan kuliah? Lalu bagaimana dengan mereka yang tak tamat SD? Mereka tak mungkin jadi ulil albab? Apakah Islam tak bicara soal ketaksadaran? Apa itu shudur? Apa beda shudur dengan qalb? Dan banyak lagi lainnya. Hal-hal seperti itulah yang akan saya tuangkan di Majalah Basis, sehingga kalau ada teman-teman yang tertarik untuk mempelajari berbagai definisi tersebut—sehingga setidaknya bisa berhenti untuk mendoakan ‘semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan’ ketika ada yang meninggal, karena itu adalah doa yang meleset—silahkan menyimak tulisan-tulisan saya di Majalah Basis yang dikelola oleh para Romo Jesuit. Asyik bukan? Belajar Islam dari majalah milik kalangan Katolik? Saya tidak menulis hal-hal yang ‘berbahaya’ di sana, karena saya tidak mau para Romo didemo dan diteror oleh kalangan Islam radikal dan fundamental. Saya tak mau menyusahkan mereka karena tulisan saya.
Sedangkan untuk tulisan kajian keislaman yang lebih komprehensif dan sensitif, Insya Allah saya akan menuangkannya di Jurnal Salman yang ikut saya kelola juga. Di sana saya ingin menulis soal tafsir Al-Quran dalam kaitannya dengan hermeneutika, soal ilusi negara Islam dan berbagai hal sensitif lainnya. Sedangkan untuk tulisan seputar kajian humaniora, saya akan utamakan Jurnal Kultura, jurnal milik Forum Studi Kebudayaan yang turut saya kelola juga. Dan mungkin akan sesekali mampir di jurnal lainnya.
Nah, dengan pilihan saya dalam wacana teoretik dan agama tersebut yang mungkin tidak Anda sukai, mengecewakan dan malah menyebalkan, maka saya hanya bisa berkata: “Maafkan pilihan saya tersebut, saya tak bisa sejalan dengan Anda dalam politik wacana, namun izinkan saya menawarkan satu hal: ‘Bisakah kita tetap berteman tanpa terganggu dengan politik wacana saya tersebut?’ Jika itu diterima, maka tolong terima saya sebagai teman."
Sekadar contoh dan gambaran saja: Saya berguru kepada pak Yasraf Amir Piliang dan juga pak Bambang Sugiharto. Mereka berdua banyak berjasa membentuk pemikiran saya. Namun, apakah pemikiran dan tulisan saya hanyalah perpanjangan dari mereka berdua? Kami sudah banyak berbeda, namun mereka berdua tetaplah guru saya sampai kapan pun. Sejarah tak bisa menghapuskan hal itu. Kemudian, sintesis antara Islam dan wawasan teoretik (post)modern yang sedang saya rintis ini banyak terinspirasi juga oleh upaya yang telah lebih dahulu dilakukan oleh guru saya yang lainnya, yaitu Bang Armahedi Mahzar. Namun, kami sering terlibat perbedaan pendapat—terutama dalam hal definisi—yang mungkin ‘tak terselamatkan’ lagi. Namun, apakah saya dengan beliau bermusuhan? Tidak! Kami tetap akrab dan beliau tetap saya akui sebagai guru dan yang menginsiprasi saya untuk menempuh jalur intelektual seperti yang saya tempuh kini.
Jadi, teman-teman sekalian, maafkan kalau ternyata kita berbeda jalan dan tujuan. Namun, bisakah kita tetap berteman?
Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

Saturday, July 22, 2017

Rindu Panggilan

Rindu Panggilanmu

Meski lelah ragaku
Kupaksa datang ke rumahmu
Sekedar melepas rindu
Menjawab panggilanmu

Bandung, 20 Juli 2017

Ujian Cinta

Ku bilang aku mencintaimu.
Percaya itu.
Tapi kau bilang, kau pasti akan menguji setiap cinta,
Seperti halnya kepada orang2 yg mendahuluiku.
Ah sungguh aku takut ujian cintamu.
Aku kenal betul betapa lemahnya cintaku padamu.

Disruptive Enterpreneur

Disruptive Enterpreneur
Bisnis Hotel Kardus (Andi Hakim)
Tuan Ben, pria subur pemilik saham Box Hotel Goettingen yang ramah berkata ia masih mengantuk.
"Aha anda datang pagi sekali. Check in mu di sini jam 3 sore ya." Ia menguap sambil memandang layar thinkpad yang dijinjingnya.
Saiya katakan bahwa itu bukan masalah, karena sampai sore saiya ada urusan di universitas.
"Ach so, jadi mau titip barang ya. " Tuan Ben berkata bahwa hotelnya tidak menyiapkan tempat penitipan. Ia lalu membawa koper saiya ke kamar yang penghuninya baru keluar.
"Nah di sini saja ha ha"
"Seperti anda tau, ini hotel konsep. Baru ada satu di Jerman sini. Tapi nanti dalam enam bulan akan buka di Frankfur, Hamburg, Koln atau Munchen....jadi kami betul betul menghitung biaya setiap centimeter. Ha ha iya ya ya"
Ben berkata ide ini datang dari kawannya yang mantan agen penjualan obat.
"...nah dia pikir apa bedanya menyusun kotak2 obat di mobil boks dengan membuat boks seperti kotak karoeke menjadi kamar2 hotel...ha ja'. Ia kembali tertawa senang waktu saiya katakan bahwa ini asyik meskipun mirip toilet umum.
"Nah, karena bisnis adalah bisnis maka kami tetap meyebutnya hotel dan ada aturan Jerman tentang hotel yang harus dipenuhi. Standar keamanan, material tidak mudah terbakar, alamat, pegawai dan termos kopi ha ha ha."
Ia kembali tertawa sambil menunjuk dua ceret kopi dan meja kecil tempat dia duduk sebagai kantor resepsionis.
"Begini saja sudah jadi omongan orang se eropa. Pong Ma, Ma Yong atau siapa itu....orang cina pemilik situs belanja online yang kaya mau datang melihat model bisnis kami...."
"Kalau dia datang saiya khawatir saiya tidak bisa menerima dengan baik dan merapikan kamar tamu. Kami punya 50 kotak kamar dan hanya 3 orang pegawai termasuk saiya ha ha ha."
Menurut Tuan Ben ia tidak mau berurusan dengan bank soal modal investasi.
"Biaya semuanya kira2 12 milyar (dirupiahkan) dengan BEP 3-4 tahun..ini mungkin karena semua transaksi via booking online, restoran buat sarapan kami kerjasama dengan restoran sebelah, dan pembangunan hanya menyusun modul modul kamar yang kami sewa dari perusahaan modul pameran. Hanya butuh 6 bulan sampai siap operasi dibanding waktu tahunan bila membuat hotel regular."
Yang menarik dari konsep hotel kotak ini menurut Ben adalah fenomena middle class baru Jerman dalam menentukan cara wisata dan perjalanan bisnis mereka.
"Sekarang orang2 tua dan pebisnis adalah mayoritas pengguna hotel kami. Sangka kami dulu ini akan menarik pasar anak mudanya saja."
"... Rupanya mereka malas mengorder kamar bila harus menggunakan kartu kredit dengan nilai lebih dari 50 euro semalam. Jadi hotel atau hostel yang bermain diorderan di atas 50 100 euro permalam cukup terganggu. Ha.ha ha ha ini aneh juga tapi menarik. Teman saiya bilang kita sudah menjadi disruptive enterpreneur entahlah apa maksudnya dia ha ha ha"
"Ya semua serba diperhitungkan sekarang ini. Ekonomi melambat, semua tahu itu. Ini alasan kami menyedikitkan jumlah pegawai dan menolak kerjasama dengan bank."
"Bank itu banyak omong dan suka mengatur. Bila bisnis ini sukses mereka yang paling sibuk mengklaim sebagai suporternya. Bila kami rugi mereka nantinya yang paling cepat menyalahkan dan ngotot untuk minta pelunasan ha ha ha kita mau bisnis yang jelas jelas saja."

Jihad Hati

Untukmu yang berjihad hati di hari ini.
Setiap hati selalu sedang berperang,
Untuk berat atau ringan setiap hati selalu lelah,
Sebab setiap hati akan digoda uzur,
Yang bahkan mungkin membinasakan,
Karena perjalanannya telah mencapai dusta,
Hati yang pejuang tak akan takut,
Karena tahu kemana harus bertaqwa,
Dan hati yang meminta izin adalah hati yang bimbang.
At-Taubah 41-45

(Ikhwan Sopa)

Dua tapi satu

Setiap hari bisa menjadi surga atau neraka
Begitu pula setiap menit dan detiknya
Dititipkan ke dalam dada manusia
Agar mereka ingat siapa Penciptanya
Karena sungguh,
Dua itu hanyalah satu
*Cieee....
(Ikhwan Sopa)

Thursday, July 20, 2017

Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja

Lirik Lagu Panji – Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja

jiwaku sekuntum bunga kemboja
dihempas angin, didera hujan
disengat matahari, dicekam cerita
dan aku kan mengingatnya

sebagai cinta yang memahami
bagaimana pun akhir cerita kita
sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu
pada dia pemilik semesta

jiwaku sekuntum bunga kemboja
dihempas angin, didera hujan
disengat matahari, dicekam cerita
dan aku kan mengingatnya

sebagai cinta yang memahami bagaimana pun akhir cerita
kita sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu pada dia pemilik semesta
sebagai cinta yang memahami bagaimana pun akhir cerita
kita sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu pada dia pemilik semesta

jiwaku sekuntum bunga kemboja, dihempas angin, didera hujan
disengat matahari, dicekam cerita, dan aku kan mengingatnya sebagai cinta



Sebuah Jalan

Oleh Al.
Di tahun 1997, saya menempuh sebuah jalan; dan kemudian, sekian yang lainnya pun jadi mengenal jalan ini melalui saya.
Cukup banyak orang berkata: “Saya mempelajari tashawwuf karena ingin mencari ketenangan”, padahal perjalanan jiwa dalam thariqah itu sangat berbahaya jika niatnya tidak murni hanya untuk-Nya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rumi menyebut seseorang yang tujuannya mendua itu sebagai ‘tukang selingkuh’ yaitu kadang kepada Allah tapi lebih sering kepada dunia. Dalam wayang kulit, ini disimbolkan dengan tokoh ksatria yang matanya hanya satu, yaitu hanya Allah tujuannya. Sedangkan para raksasa (buta), matanya dua karena keinginannya bercabang-cabang, tidak lurus hanya satu sebagaimana para ksatria. Seorang salik harus senantiasa memurnikan niat dalam bersuluk, jangan memelihara obsesi, misalnya ingin jadi presiden atau menteri, atau ingin dikenal sebagai pimpinan sebuah LSM atau malah berobsesi menjadi pemimpin spiritual sebuah sekte dengan berbagai istilah baru apa pun itu.
Dalam perjalanan waktu, siapa pun bisa menghilang begitu saja entah karena bosan, jenuh dengan ujian dalam kehidupan dan berbagai hal lainnya, sehingga akhirnya memilih untuk kembali hidup seperti sebelumnya. Sebagian malah bisa berbelok arah perjalanan karena tergiur dengan angan-angan kebesaran diri lalu membentuk sekte kleniknya tersendiri serta asyik dengan takhayulnya masing-masing. Mengenai hal ini, Rumi pernah menuliskan sebagai berikut:
*********************
Suatu hari, seseorang datang kepada tukang emas: “Berikan timbangan emas padaku,” katanya, “Aku ingin menimbang beberapa gram emas.”
“Pergilah,” kata si tukang emas, “Aku tak punya saringan.”
“Berikan timbangan itu padaku,” ulang si lelaki, “jangan bercanda denganku.”
“Aku tak punya sapu di dalam tokoku,” kata si tukang emas.
“Cukup, cukup!” kata si lelaki, “jangan bergurau lagi. Berikan timbangan emas yang kuminta. Jangan pura-pura tuli dan jangan berbicara yang tidak-tidak.”
“Aku dengar apa yang kau minta,” kata si tukang emas, “Aku tidak tuli. Jangan mengira kalau aku sedang bercanda. Aku mendengar semuanya. Tapi engkau adalah seorang tua yang sudah renta, tanganmu bergetar, tubuhmu pun sudah tidak tegak lagi. Emas yang kau bawa mengandung kadar yang sangat sedikit. Tanganmu yang bergetar akan menjatuhkan banyak serpihan emas. Lalu engkau pun akan berkata, ‘Tuan, bawakanlah aku sapu, sehingga aku dapat mencari serpihan emasku dalam debu.’ Ketika engkau menyapu dan mengumpulkan debu bersama emasmu, engkau akan berkata, ‘Aku minta saringan emas.’ Aku melihat semuanya dari awal sampai akhir. Pergilah dari sini dan carilah tempat yang lain, selamat siang!”
Hal yang permulaan telah menjelaskan akhirnya, maka dari itu engkau tidak dapat menyesali Hari Pembalasan.
*********************
Setelah genap dua puluh tahun, ternyata saya masih Allah kehendaki untuk menempuh jalan pertaubatan bersama-sama dengan kalian, para sahabat dan Mursyid Penerus tercinta. Semoga niat dan tujuan perjalanan kita tak pernah berubah hingga ajal menjemput. Amin Ya Rabb Al-Alamin...
*********************
Pernahkah kau dengar nama dari segala sesuatu dari Yang Mengetahui?: Dengarlah makna rahasia ’Dia mengajarkan kepadanya Nama-nama.'
Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk lahirnya; bagi Sang Pencipta, ia adalah hakikat batinnya.
Dalam pandangan Musa nama tongkatnya adalah ”tongkat"; dalam pandangan Tuhan namanya ”naga”.
Di dunia ini nama ’Umar adalah ”pemuja berhala”, namun di alam baka ia adalah ”mukmin yang sesungguhnya”.
Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Wali

Pada setiap zaman setelah Nabi Muhammad muncullah seorang Wali sebagai wakilnya: umat manusia diuji sampai Hari Kebangkitan.
Siapa yang berbudi baik akan selamat, siapa yang berhati lemah akan patah.
Wali itu, jadi imam yang hidup, muncul di setiap masa, apakah dia keturunan ’Umar atau ’Ali.
Dia adalah orang yang diberikan petunjuk Tuhan (Mahdi) dan Petunjuk (Hadi): dia tersembunyi maupun duduk di depanmu.
Dia laksana Cahaya Nabi, dan Akal Universal adalah Jibrilnya: wali yang lebih rendah menerima cahaya darinya, seperti sebuah pelita.
Tingkat wali yang berada di bawah “pelita” ini laksana ceruk pelita: Cahaya bertingkat-tingkat.
Karena Cahaya Tuhan memiliki tujuh ratus tabir: anggaplah tabir-tabir Cahaya itu sebagai tingkat yang banyak.
Di belakang setiap tabir tinggallah segolongan wali tertentu: Tabir-tabir ini mendaki tingkat demi tingkat sampai ke Imam.
Cahaya bagi kehidupan paling atas adalah menyakitkan dan tak tertahankan bagi yang di bawah;
Namun tingkat demi tingkat kesilauannya berkurang; dan setelah melintasi tujuh ratus tabir, dia menjadi Lautan.
Api adalah baik bagi besi dan emas — bagaimana ia akan baik bagi kuinci dan apel?
Apel dan kuinci hanya sedikit keras: tidak seperti besi, mereka hanya membutuhkan panas suam;
Tapi bagi api yang mudah menyerap kobaran api dari lidah naga, panas suam itu terlalu lunak
Apakah besi? Rasa malu diri Darwis: di bawah martil dan api dia merekah dan bahagia.
Dia adalah bendaharawan api, yang selalu berhubungan langsung dengannya: dia berjalan lurus menuju hati api.
Oleh karena itu, dialah Hati dunia, karena hatilah maka tubuh melakukan fungsinya yang sebenarnya.
Hati setiap orang laksana tubuh dalam hubungannya dengan Hati semesta Wali.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Tuesday, July 18, 2017

Pulang

Satu saat nanti aku akan pulang,
semoga sudah pantas berdiri memandang wajahmu

Bandung, 18 Juli 2017

Monday, July 17, 2017

Mungkin Bila Nanti

Sepertinya kita pernah dekat.
Buktinya waktu aku berdiri di depan rumahmu hatiku bergetar hebat.
Layaknya kepada kekasih yg dimabuk kasmaran.
Nanti kalau jumpa lagi, panggil aku.
Mungkin kamu lebih mengenalku.
Soalnya sejak peristiwa itu aku lupa rupamu.

Lupa

pada hari ketika kau menghembuskan nafasmu ke dalam tubuhku,
jiwaku lupa segalanya.

Thursday, July 13, 2017

Muhammad

Dari jiwa-jiwa suci seterang bintang, penyempurnaan selalu diberikan kepada bintang-bintang di langit.
Dari luar tampaknya kita diatur oleh bintang-bintang itu, padahal batin kitalah yang menjadi pengatur langit.
Oleh karena itu, sementara dari wujud engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau makrokosmos.
Tampaknya ranting itu sumber buah; padahal ranting itu tumbuh demi buah.
Jikalau bukan karena mengharap buah, mengapa tukang kebun menanam pohon?
Maka, pada dasarnya pohon itu lahir dari buah, meski tampaknya ia dihasilkan oleh pohon.
Karena itu Muhammad bersabda, “Adam dan seluruh Nabi berbaris di belakangku di bawah benderaku.”
Ketika Tuan dari setiap adat dan pengetahuan itu mengungkapkan pepatah, “Kami adalah yang terakhir dan terkemuka:”
Yakni, meskipun tampaknya aku lahir dari Adam, namun sesungguhnya akulah leluhur dari setiap nenek-moyang.
Karena para Malaikat sujud kepadanya demi aku, dan dia naik ke Langit Ketujuh karenaku,
Maka Bapak Adam itu sesungguhnya lahir dariku: pohon itu lahir dari buah.
Ide, adalah yang pertama, datang terakhir ke dunia kenyataan, pada hakikatnya ide itulah yang kekal-abadi.”
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Syukur

Pelajaran hari ini : " Sunan Kalijogo:" mulo iku Suminten.... sing jenenge Gusti Allah iku yo kudu mung siji,ora keno luwih soko siji.....yo....Gusti Allah sing ngatur sekabehan e urip iki. mugo2 nek awakmu ndelok kebejatan nduk alam donyo iki,malah ndadekno syukur e atimu. apane sing disyukuri? Gusti Allah ora ndadekno kowe wong sing olo koyok ngono kui sing kudu kowe syukuri".
Sunan Kalijogo : Oleh sebab itu Suminten...Yang namanya Gusti Allah ya cuma satu, tidak boleh lebih ...ya ...Gusti Allah yang ngatur semua kehidupan ini. Mudah-mudahan kalau kamu melihat ketidakbenaran di alam dunia ini , harusnya membuat hatimu bersyukur. Apa yang di syukuri ? Gusti Allah tidak menjadikan dirimu orang yang salah, seperti itu yang harus kamu syukuri"

Mandat Publik dan Tanggungan Sosial

Tema mandat publik (public mandate) dan tanggungan sosial (social obligation) sebenarnya pernah kita tuliskan. Namun mengingat pembagian peran ini masih sering dipertukarkan dengan semena-mena ada baiknya kita angkat kembali.
Misalnya dalam tulisan lalu, kita tengah membahas video-video viral Jokowi di acara G20 Summit di Hamburg.
Jokowi dalam video-video tadi membawa banyak kertas ukuran A4. Dimana pada sesi wawancara terbuka ia yang memilih menggunakan bahasa Inggris tampak tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan semestinya. Sepanjang acara Jokowi membolak-balik kertas tadi seperti orang kebingungan mencari-cari jawaban.
Beberapa komentator mengatakan agar daripada mengkritisi dan nyinyir, maka sebaiknya saiya menjadi presiden menggantikan Jokowi. Caranya untuk segera mungkin terkenal, kampanye dan menggalang dukungan rakyat ke arah sana. Ada pula yang menyebutkan jika sikap nyinyir itu adalah narasi buruk dari kelompok gagal move on.
Pada komentar-komentar seperti inilah yang kita maksudkan dengan kegagalan menempatkan peran dalam ruang publik. Mana peran yang sifatnya mandat publik dan mana yang disebut mandat sosial.
Sebagai presiden, kepala negara, kepala pemerintahan, Jokowi bukanlah entitas yang tidak memiliki wilayah untuk dikritisi. Semenjak ia diangkat sumpah dengan menyebutkan nama Tuhan, dan kewajiban melayani kepentingan bangsa, negara, dan rakyat maka ia menanggung apa yang disebut dengan mandat publik (public mandatory).
Mandat atau amanat publik adalah satu pemberian kewenangan-kekuasaan atau otoritas kepada seseorang atau kelompok yang dijamin konstitusi untuk berperan sebagai "perwakilan" dari kelompok yang lebih luas dalam hal ini negara. Sebab ia mengemban amanat publik ini maka; makan, minum, berak, tidur, jalan-jalan, dan gaji yang diterima pengemban mandat ini WAJIB ditanggung dan dibayar oleh negara dengan mengambilnya dari masyarakat lewat pajak dan keuntungan lain dari pengolahan negeri.
Semenjak adagium, kekuasaan itu cenderung diselewengkan (power tends to corrupt), maka dalam negara tersebut dibentuk badan-badan yang berfungsi sebagai pengawas penerima mandat. DPR, DPRD, DPD, BPK, KPK, KASN, dll.. adalah elemen-elemen pengawas yang difungsikan dengan otoritas pengawasan.
Meskipun demikian dalam sistem negara republik, peran publik tetap harus dimajukan. Mengingat bahwa baik pengemban otoritas (presiden, menteri, dll.) dan pengemban representasi rakyat (DPR, DPD, DPR) juga masih dibayar dengan uang pajak masyarakat, maka peran kontrol publik tidak dapat dilepaskan dalam penyelenggaraan negara.
Peran inilah yang kita sebut sebagai tanggungjawab sosial (social obligation) dari masyarakat. Peran yang akan memastikan nalar kritis masyarakat tetap jalan karena bagaimana pun, yang berkuasa dalam sistem republik adalah masyarakat. Ini, sekali lagi tentu dilandasi pengertian bahwa kita menghendaki arah kepada perbaikan-perbaikan dan pemahaman dasar bahw para petinggi nagari (the elits) tadi makan, minum, berak, dan tidurnya digaji dengan uang pajak rakyat.
Di sinilah maka pembagian-pembagian peran tadi tidak dapat dicampur adukkan dengan cara; misalnya menyuruh mereka yang mengartikulasilan nalar kritis tadi untuk menjadi presiden, anggota dewan, atau menteri. Ada kala mereka yang dikritik agar menjalankan kebijakan pembangunan dengan benar, membalas agar kita saja yang membangun jalan tol, jembatan, atau lorong MRT.
Meladeni perdebatan seperti ini tentu akan membuat hidup kita celaka dunia akherat. (Andi H)

EMOTIONAL ROLLER COASTER

Nemu tulisan bagus buat MPdP. Gua (Ikhwan Sopa) ringkesin dan gua modif. Siapa tauk beguna.
Emosi itu mestinya diposisikan sebagai barometer dan bukan roller coaster. Kita adalah pengamat yang tak selalu harus jadi penikmat. Mengamati barometer perlu dilakukan setiap saat dan menikmati roller coaster hanya perlu sesekali.
1. Think before you act. Hanya ada dua review setelah setiap tindakan, yaitu merasa telah melakukan yang benar atau rasa penyesalan.
2. Consider the bigger picture. Setiap situasi atau keadaan adalah proses dan bukan hasil akhir. Lihatlah skenario dan gambaran besarnya. PR kita adalah kata kerja dan bukan kata sifat atau kata benda.
3. Ubah situasi dan keadaan menjadi lebih baik setiap kali memungkinkan. Nuff said.
4. Practice radical acceptance. Pasrah itu memang tidak mudah. Itu sebabnya Tuhan menjadikannya tujuan hidup bagi mereka yang beriman.
5. Salurkan dalam bentuk tulisan. Apa yang keluar dari mulut sulit direvisi. Apa yang terlanjur dilakukan tangan akan sulit dibatalkan. Menulis adalah cara untuk menyadari yang selama ini tak disadari. Menulislah untuk menemukan yang hilang.
6. Learn to forgive. Memaafkan tidak harus melupakan. Memaafkan bukan berarti mentolerir kesalahan. Memaafkan bukan mengizinkan suatu kesalahan terjadi lagi. Memaafkan adalah urusan internal. Memaafkan adalah berdamai dengan diri sendiri.
7. Sit with your emotion. Resapi dan renungkan setiap emosi yang menggelisahkan. Setiap emosi adalah pesan.
8. Practice mindfulness. Khawatir berlebihan adalah penyalahgunaan kekuatan imajinasi. Terus menunda yang baik-baik adalah penyalahgunaan kekuatan harapan. Imajinasi kita mungkin tak terbatas, tapi waktu kita sangat sedikit.
9. Share your emotion with others. Pilihlah orang yang tepat dan membawa kebaikan, bukan yang menyesatkan atau menjerumuskan.
10. Kembalilah kepada Tuhan.
Semoga bermanfaat ketika hari terasa berat.

I am the Nightingale of the Merciful

Sebuah panggilan setiap saat berkumandang dari langit: “Dan sungguh, Kami benar-benar meluaskannya.” (*1)
Yang mendengarnya setiap saat, namun bukan dengan telinga? “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang mengabdi, yang bertahmid, yang berjalan (karena Allah), yang ruku’, yang sujud.” (*2)
Carilah tangga “dari Allah, pemilik Al-Ma’arij (tempat mi’raj) ” (*3), lalu naiklah! Tangga yang “Al-Malaa’ikat dan Ar-Ruuh naik (kepada-Nya) dalam satu hari. ” (*4)
Siapakah yang sanggup, dari bahan khayalanmu, mampu membuat nyata tangga ke langit itu?
Tangan “Kepada Kami segala sesuatu akan kembali.” -lah yang membuat mereka mi’raj. (*5)
Ketika pahat sabar dan syukur telah selesai menatahmu , mi’raj-lah,
dan ucapkan, “dan itu tak akan diperoleh, kecuali oleh Ash-Shaabiruun.” (*6)
Saksikan, siapa sesungguhnya yang memegang pahat-pahat itu. Lalu pasrahkan dirimu dengan gembira!
Jangan kau lawan pahat itu, seperti tali para penyihir Fir’aun (yang menjadi ular), ingatlah nasib mereka yang mengatakan, “dengan kuasa Fir’aun, sungguh kami benar-benar akan menang.” (*7)
Majulah beberapa langkah lagi, maka kau akan menjadi “Ashabul Yamin (golongan kanan)” (*8)
Dan jika kau telah sampai pada batas tertinggimu, engkau adalah “As-Saabiquunas-Saabiquun (yang paling utama dari golongan yang utama) ” (*9)
Jika engkau berasal dari tempat para kekasih-Nya di langit, maka datanglah!
Dan masuklah ke dalam shaf “Sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf” (*10)
Jika engkau miskin, tabuhlah genderang “Kemiskinan adalah jubahku” (*11)
Jika engkau seorang faqih, jagalah agar engkau tidak termasuk kedalam “mereka adalah kaum yang la-yafqihuun (tidak memahami)” (*12)
Jika engkau telah menjadi nun yang bertekuk lutut seperti qalam yang bersujud, Maka engkau termasuk ke dalam “apa yang mereka tulis” dalam “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (*13)
Jadilah mata yang melihat dalam “kelak kamu akan melihat” , kepada mereka yang ada dalam “mereka pun akan melihat.” (*14)
Bahkan jika engkau "bersikap lunak" bagai penjilat, namun apa artinya itu bagi “mereka yang bersikap lunak (pula kepadamu)?” (*15)
Hunjamkan akarmu kuat-kuat, seperti pohon Sidrah yang “tiada keraguan di dalamnya.” (*16)
Jagalah dedaunan dan batangmu dari goyah karena tiupan nafas “yang kami tunggu-tunggu hingga kecelakaan menimpanya.” (*17)
Lihatlah kebun yang menjadi arang dalam “malapetaka (yang datang) dari Rabb-mu” , tipu dayanya menghanguskan kebun mereka “ketika mereka sedang tidur.” (*18)
: :
Dikutip dari Rumi, dalam Nargis Virani: “I am the Nightingale of the Merciful”: Rumi’s Use of the Qur’an and Hadith.
Terjemahan dan catatan oleh Herry Mardian.
Catatan
(*1) Q. S.[ 51] : 47
(*2) Q. S. [9] : 112
(*3) Q. S. [70] : 3
(*4) Q. S. [70] : 4
(*5) Q. S. [21] : 93
(*6) Q. S. 28 : 80
(*7) Q. S. [26] : 44
(*8) Q. S. [56] : 27.
(*9) Q. S. [56] : 10
(*10) Q. S. [37] : 165
(*11) (Al-Hadits)
(*12) Q. S. [8] : 65
(*13) Q. S. 68 : 1
(*14) Q. S. [68] : 5, “Maka kelak kamu akan melihat, dan mereka pun akan melihat.”
(*15) Q. S. [68] : 9 “Maka mereka ingin agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”
(*16) Q. S. [2] : 2
(*17) Q. S. [52] : 30
(*18) Q. S. [68] : 19

Rasa, Karsa, Cipta, dan Karya

"Untuk memperoleh apa yang kau cintai, awalnya adalah kesabaran atas apa-apa yang tidak kau sukai." - Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah.
"Hawa nafsu membuat seorang raja menjadi budak. Kesabaran membuat budak menjadi seorang raja." - Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah.
"Jika lintasan hati tidak dijaga, ia akan menjadi rasa (keinginan), lalu rasa menjadi karsa (kehendak), karsa berubah menjadi cipta (berniat untuk melakukan), dan cipta berubah menjadi karya (perbuatan). Karya ini yang bisa berakibat pada kecelakaan dan murka Allah. Maka, kejahatan harus ditebas sejak dari akarnya--yaitu sejak ada lintasan hati, yang dari sana hal-hal lainnya akan mengikuti." - Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah.
"Orang seperti kami sebenarnya hanya mengambil sedikit manfaat dari beberapa rakaat shalat di akhir malam, yang biasa kami lakukan." -- Imam Abu ’l-Qasim al-Junayd al-Baghdadi rahimahullah.
(Oleh-oleh mempelajari dan menonton biografi Imam Al-Ghazali. Terjemahan oleh Herry Mardian. Terminologi 'rasa', 'karsa', 'cipta' dan 'karya' adalah terminologi guru saya--sama makna dengan yang dimaksud Al-Ghazali).

Kemustahilan yang paling mutlak adalah Allah membiarkan sesat orang yang mencari-Nya.

Kemustahilan yang paling mutlak adalah Allah membiarkan sesat orang yang mencari-Nya. (Herry Mardian)
Maka, siapapun yang sungguh-sungguh berniat mencari-Nya dan mengharapkan-Nya, pasti, pasti, pasti Dia tuntun untuk mendekat pada-Nya.
Jadi tidak masalah mau mulai dari kondisi apapun ke-hariini-an kita: apakah kita seorang pendosa, peminum, tidak shalat, dan sebagainya. Atau kita sekarang sunni, syi'ah, wahabi, harokah, dugemis, metalis, vodkais, Buddha, Hindu, Nasrani, atau bahkan penyembah api seperti Salman Al-Farisi.
Intinya adalah, transaksikan dulu dengan jelas, secara khusus, memohon dengan sungguh-sungguh: bahwa kita minta dibimbing untuk mendekat kepada-Nya. Itu --mustahil-- tidak diijabah, jika kita memang bersungguh-sungguh dari hati, bukan sambil lalu. Ingat bahwa Dia tidak suka 'disambi'.
Punya kegelisahan tentang hidup, walaupun sedikit? Atau, ada sedikit nelangsa dalam hati ketika melihat orang lain bisa khusyu'? Itu tanda dari-Nya bahwa Dia masih memanggil kita 'pulang'.
Jika belum merasakan adanya tuntunan Allah meski sudah beragama, coba renungkan apa sesungguhnya yang kita cari dalam beragama atau mengikuti kelompok agama tertentu. Mungkin kita belum murni mengharapkan-Nya. Mungkin ada yang lain yang lebih kita cari: biar diterima masyarakat, pahala, penghargaan orang lain, teman, komunitas, nama baik, peluang bisnis, biar tidak nganggur di rumah, dan sebagainya.
Jadi--untuk orang yang sudah dewasa--tidak ada gunanya melarang membaca buku-buku sufi dan anti-sufi, wahabi dan anti-wahabi, komunisme dan anti-komunisme, syi'ah dan anti-syi'ah, dan sebagainya. Siapapun dia, membaca apapun juga, pasti akan tertuntun jika dia sudah meng-akad-kan dirinya kepada Allah untuk minta tolong agar didekatkan pada-Nya.
Jadi sebenarnya inti masalahnya bukan membaca buku apa atau bergaul dengan siapa. Bukan juga nggak punya uang untuk beli buku atau belajar agama sampai S3. Masalahnya adalah benar-benar minta ditolong Allah atau tidak, butuh Allah atau tidak. Nah, seberapa butuh? 
P.S.
setelah membangun rasa itu , maka harus segera beranjak..
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah.) ~ tambahan dari Deden Himawan

Friday, July 7, 2017

Prasaja, prayoga, pranata,prasetya, dan prayitna

Salah satu ajaran Sunan Kalijaga yaitu Lima landasan untuk amar makruf nahi mungkar adalah Prasaja, prayoga, pranata,prasetya, dan prayitna.
Landasan pertama adalah Prasaja, yaitu hidup sederhana. Hidup yang selayaknya saja,
Landasan kedua adalah Prayoga , yaitu mengamalkan yang baik-baik yang bisa dicontoh oleh masyarakat.Dalam konsep kepemimpinan Jawa , pemimpin itu harus bisa menjadi teladan hidup.
Landasan ketiga adalah pranata , menghormati peraturan dan perundangan. Amar makruf dan nahi mungkar akan dapat dilakukan dengan mudah apabila ada contoh di lapangan.
Landasan keempat adalah prasetya. Menetapi sekaligus bertanggung jawab. Mempunyai tekat kuat untuk melaksanakan sesuatu. Prinsipnya adalah kedisiplinan, jadwal dan rencana yang sudah disusun harus ditepati dan dipenuhi. Prinsipnya menghargai kesempatan dan waktu.
Landasan kelima adalah prayitna, berhati-hati dalam melaksanakan tugas.
Kelima landasan tersebut dapat dilakukan apabila kita melatih diri melalui olahraga, olah pikir dan olahrasa.

Thursday, July 6, 2017

Aturan

Seorang nyonyah menampar petugas keamanan penerbangan (avion Security) karena "menolak" melepaskan jam tangan di pemeriksaan scan door (pintu pindai).
Saiya tidak akan menilai tindakan si nyonyah, jabatan suami atau harta yang dimilikinya seperti kita lihat dari berita yang berkembang. Mengingat kita hanya melihat potongan-potongan dari kejadian sebaiknya penilaian sangka (persepsi) tadi perlu direnungkan agar tidak menghasilkan kesimpulan bersifat asumsi apalagi alegasi (penudingan) baik ke si Nyonyah maupun si Petugas.
Hampir semua kita pernah ada di posisi si Nyonyah dan banyak alasan untuk marah.
Pada penerbangan lanjutan di Changi airport Singapura saiya hanya punya waktu 27 menit dari gerbang kedatangan Jakarta ke gerbang keberangkatan eropah sebelum pesawat tutup boarding.
Namun di gerbang eropah ada dibuat satu pemeriksaan darurat merah dimana semua orang harus masuk mesin pindai panas. Singapura memperketat pencegahan Demam Hongkong, semua orang tanpa kecuali harus mengantri di sana.
Saiya gelisah, antrian seperti ini mesti selesai 30 menit paling cepat.
Beberapa penumpang lain juga demikian. Seorang ibu maju ke depan dan berkata kepada petugas bahwa ia harus boarding sekarang. Dari belakang dua tentara mendekat dan bersiap-siap.
Petugas keturunan India berkats bahwa ini sudah aturan dan ia tidak mengizinkan. Si ibu berbalik dengan wajah payah seperti mayat.
Saiya bertanya apakah ia ada di penerbangan yang sama menuju Paris De Gaulle. Ia mengangguk dan saiya memintanya untuk menunggu.
Saiya melambai pada barisan antrian, siapa yang menuju tujuan dengan pesawat yang sama. Ada 28 orang melambai dan mendekat.
Saiya katakan jika kita akan bertanya pada petugas avsec tadi kemungkinan lain.
Petugas keturunan India tadi merengut memandang kami yang mendekatinya. Kedua tentara kembali bersiap siap dengan wajah sedingin marmer.
"Brother, we apologize to make your work harder. Our flight is about to leave, and we can see you are a really a man of duty..."
"...if you dont mind, do you have any ideas to help transit passengers like us."
" I am sorry, we have to proceed this." Ia meminta kami kembali, tetapi kemudian ke belakang untuk berbicara dengan seseorang.
Ia kembali dan berkata bahwa otorita telah meminta pesawat ke Paris menunggu kami. Serta dikatakannya sebentar akan ada pintu pindai tambahan untuk melayani penumpang transit.
Tidak lama satu lini antrian pindai Demam Hongkok dibuka untuk kami.
Persoalannya ada di komunikasi

Wednesday, July 5, 2017

Shirotol Mustaqim

By. Alfathri Adlin
Seorang teman di sebuah grup WA menuliskan begini:
“Sepakat nggak shirathal mustaqim yang sering kita minta adalah jalan orang yang memahami al quran 100% dan mengamalkanya 100%?”
Lalu saya membalas begini:
***********************************
Kita definisikan Al-Quran dengan Al-Quran lagi ya. Saya coba bertahap ya.
Ini mah kajian ringan aja ya, buat orang awam kayak kita, untuk melihat betapa dahsyatnya Al-Quran dalam menjelaskan dirinya sendiri.
Pertama, Al-Fatihah dengan jelas mendefinisikan apa itu Shirathal Mustaqim:
“Tunjukilah kami Shirath Al-Mustaqim.” (QS Al-Fatihah [1]: 6)
Apa itu Shirath Al-Mustaqim? Ayat berikutnya mendefinisikan:
"Shirath orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS Al-Fatihah [1]: 7)
Dua ayat ini menunjukkan bahwa apa itu Shirath Al-Mustaqim? Shirath dari orang yang diberi nikmat.
Apa itu NIKMAT? Petunjuk menuju Shirath Al-Mustaqim.
Siapakah yang diberi nikmat itu? Tentu saja, yang pasti bukan golongan mereka yang maghdub (dimurkai) dan juga bukan dhalin (sesat).
Siapa?
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa [4]: 69)
Yang berada di Shirath Al-Mustaqim adalah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, Shalihin. Empat golongan inilah golongan yang bukan termasuk maghdub (dimurkai) dan dhalin (sesat).
Sekarang, kita ambil contoh dua golongan dari enam golongan di Al-Fatihah tersebut.
Pertama, siapakah Shalihin itu?
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) shalihin.”
Jadi, shalihin itu adalah mereka yang beriman dan beramal shalih. Ingat dengan baik kata iman tersebut ya.
Lalu siapakah yang termasuk golongan dhalin itu? Al-Quran menjelaskan:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk dhalin (orang yang sesat).” (QS Al-An'am [6]: 77)
Jadi. Dhalin itu adalah mereka yang tidak mendapat petunjuk. Kenapa mereka tidak mendapat petunjuk?
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun [64]: 11)
Jadi, jika seseorang beriman, maka Allah akan memberi petunjuk ke hatinya. Jika, tidak, maka tidak akan mendapat petunjuk. Dan mereka itulah golongan dhalin. Perumpamaannya, kayak orang yang punya hape tanpa simcard; punya hati tapi gak punya iman. Jadi perhiasan aja tuh hape.
Lalu apa itu iman? Silakan baca di link berikut ini:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=816743011671956&set=a.222803201065943.67857.100000087938909&type=3&theater
Oke, kita kembali ke Shirath Al-Mustaqim. Apa sih Shirath Al-Mustaqim itu?
“...dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada Shirathim Mustaqim.”
Yaitu,
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah shirath-Ku yang lurus “ (QS Al-An‘am [6]: 153)
Juga firman-Nya yang lain:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada shirathin mustaqim, (yaitu) shirath Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (Asy Syuura [42]: 52-53)
Kita batasi segini dulu ya, karena kalau tidak, maka kita terpaksa harus membahas seluruh Al-Quran kata demi kata. Dari sini saja, kita sudah dapat ‘definisi singkat’ bahwa Shirath Al-Mustaqim itu adalah:
“Jalan Allah bagi orang-orang yang diberi nikmat—yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin—dengan ditunjuki ke shirath ini karena keimanannya.”
Sebegitu aja dulu ya, dan harus diingat bahwa kita belum membuka ayat-ayat lain yang terkait. Al-Quran itu setiap kata di dalamnya seperti “hyperlink” yang biasa kita klik kalau membuka sebuah situs di internet. Dalam Al-Qur‘an, setiap kata akan saling merujuk dan saling menjelaskan satu sama lain, sehingga, konsekuensinya, mencari tahu ‘definisi’ satu kata dalam Al-Quran dan membahasnya secara mendalam berarti harus membahas seluruh kata dalam Al-Quran, dan itu berarti harus membaca seluruh Al-Qur‘an.
Itu hanya untuk memahami satu kata dalam Al-Quran secara mendalam dan komprehensif!
Makanya, saya sih K.O. kalau harus ngebuka Al-Qur‘an dan menjabarkannya dalam waktu singkat, bahkan meskipun hanya satu kata saja. Al-Qur‘an adalah samudera ilmu tak terbatas, sehingga kalau mau ditelusuri dan dipelajari, tak ada habis-habisnya.
Segitu dulu ya, semoga berguna. Wallahu a‘lam bishshawwab...

Tentang Hikmah

Namun, apa hikmah itu? Sebaiknya kita mencoba lebih ketat pada definisi hikmah menurut Al-Quran, sebab sekarang ini, kata hikmah begitu mudah dilekatkan kepada sesuatu yang sebenarnya merupakan ‘sebentuk kesimpulan logis yang bermakna sangat personal bagi seseorang’, hingga, misalnya, di ITB ada lelucon: ‘Kuliah di ITB untuk ngambil hikmahnya’ atau saat mengalami suatu peristiwa tidak mengenakkan namun ternyata belakangan malah berbuah kebaikan (‘rupanya ini hikmahnya saya dulu mengalami ini’), pokoknya, hikmah itu—singkatnya—lebih berupa sesuatu yang logis namun bersifat personal.
Kita lihat dulu, apa kata Al-Quran soal hikmah:
“Allah memberikan (yu‘ti) hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan (khair) yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran (dzakaru) kecuali ulul albab.” (QS Al-Baqarah: 269)
Dari sini, kita bisa melihat dahsyatnya hikmah. Bahwa hikmah itu bukan suatu hasil kesimpulan logis yang direkonstruksi sedemikian rupa serta bermakna secara personal. Hikmah adalah sesuatu yang Allah BERIKAN kepada siapa yang dikehendaki-Nya, suatu kebajikan (khair) yang banyak. Bagi siapa? Ulil albab! Hanya ulil albab yang diberi hikmah, bukan mahasiswa ITB yang salah jurusan namun mencoba mencari makna kegagalannya tersebut secara hermeneutis dan logis. Kata-kata kunci penting yang harus diingat di sini adalah DIBERI (OLEH ALLAH), DIKEHENDAKI, DZIKRAN, KEBAJIKAN, dan ULIL ALBAB.
Lebih detail lagi, Yahya bin Muadz menjabarkan bahwa “Hikmah itu melayang terbang dari langit dan tidak turun ke hati orang yang mengandung hal berikut ini: takluk pada pesona dunia, terbawa angan-angan esok hari, dengki dan iri terhadap sesama, serta menyukai kehormatan atas manusia. Barangsiapa dalam dirinya terdapat salah satu dari sifat ini, maka hikmah tidak akan masuk kedalam hatinya.”
Itu syarat seseorang bisa mendapat hikmah. Tidak ada empat penyakit hati seperti disebut di atas dan dia adalah ulil albab.
Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Awal hikmah adalah meninggalkan kelezatan, dan akhirnya adalah membenci segala yang fana.” Dalam kesempatan lain, beliau berkata: “Batas hikmah adalah berpaling dari alam fana dan kerinduan kepada alam baka.”
Lebih jauh, beliau menjelaskan: “Termasuk hikmah ialah: Engkau tidak bertengkar dengan orang yang di atasmu, tidak meremehkan orang selainmu, tidak menerima sesuatu di luar kemampuanmu, lisanmu tidak menyalahi hatimu, dan ucapanmu tidak menyalahi perbuatanmu. engkau tidak menyatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui, tidak meninggalkan suatu perkara tatkala ada dan tidak mencari-carinya tatkala tiada.”
Dan, di lain kesempatan lagi, beliau berkata: “Hikmah adalah pohon yang tumbuh dalam hati dan berbuah di lisan.”
Kesemua paparan di atas menunjukkan posisi yang tinggi bagi hikmah karena menuntut hati yang bersih, ketaqwaan dan juga lubb.
Kembali kepada ayat Al-Quran tadi, Hakim Tirmidzi menjelaskan bahwa qalb merupakan istilah yang mencakup shadr (dada), qalb, fu‘ad dan lubb. Seperti halnya istilah mata yang mencakup bagian putih, hitam, kornea dan penglihatan. Kemudian, lebih detail lagi, Mursyid saya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lubb itu bukanlah akal jasadiah manusia (otak dan nalarnya), tetapi akal nafs (jiwa, bukan hawa nafsu atau psikis, sebagaimana sering disalahpahami). Jasad manusia terbuat dari unsur bumi, sementara nafs dari nur ilahi. Keduanya memiliki keserupaan, dengan pengecualian bahwa nafs itu lebih sempurna ketimbang jasad dalam berbagai hal.
Ulil albab itu adalah orang yang bertaqwa, yang, di antaranya, telah Allah ajari Alkitab seperti Alif Lam Mim dan berbagai huruf muqatha‘ah lainnya, dan bahkan makna batin Al-Quran yang tak tersentuh oleh ilmu alat, sebab hanya hak Allah saja untuk mengajari hamba-Nya (itulah salah satu alasan kenapa Al-Quran diwahyukan melalui perantaraan Jibril, bukan cuma kata-kata yang diutak-atik pakai linguistik dan filsafat bahasa).
Mursyid saya pernah menguraikan perbedaan ibrah dan hikmah. Secara bahasa, ibrah berasal dari abara yang artinya menyeberangkan atau menembus (seperti jarum). Sementara hikmah berasal dari hakama yang artinya (meng)hukum(i). Dikatakan bahwa kisah para nabi mempunyai ibrah, maksudnya, ada pelajaran tersembunyi yang harus diambil dengan cara “ditembus”. Sementara hikmah lebih merupakan hukum yang, bisa dikatakan, menunjukkan keberpolaan hukum. Menyerupai rotasi elektron mengelilingi proton dan netron hingga rotasi planet mengitari matahari. Namun, baik ibrah maupun hikmah itu hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mempunyai lubb atau ulil albab.
Selain pentingnya pemilahan yang tegas dan ketat antara otak sebagai akalnya jasad atau tubuh kita, dan lubb sebagai akalnya nafs atau jiwa kita, maka, untuk memahami apa itu hikmah, kita pun perlu memilah secara tegas dan ketat antara thalabul ‘ilmi dengan ‘utul ‘ilmi.
“Sebenarnya, itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu (‘utul ‘ilmi). Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabut [29]: 49)
Ayat di atas menandaskan tentang adanya “orang-orang yang diberi ilmu”, sedangkan dalam keseharian, yang Umat Islam pahami hanyalah “thalabul ‘ilmi” dalam arti mencari Ilmu. Lalu bagaimana dengan ayat yang artinya “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dan kepada orang yang bertaqwa inilah Allah akan mangajarkan apa arti Alif Lam Mim sehingga menjadi ayat yang nyata dan tidak keraguan di dalamnya bagi al-muttaqin.
Al-Quran sudah mempermudah kita. Baca saja Al-Baqarah ayat 1, jika kita tak tahu apa artinya (lalu ngotot menafsir-nafsir dengan ilmu alat atau hermeneutika, yang menandakan bahwa otak lagi dan lagi yang aktif bekerja mencipta-cipta makna agar dipahami sesuai prasangkanya sendiri) maka sebenarnya itu sudah merupakan tanda paling jelas dan gamblang bahwa kita memang belum bertaqwa.
Seperti yang sudah kita ketahui, dalam pandangan hermeneutika, pikiran manusia selalu begitu aktif, berpikir lagi dan lagi. Apa landasannya? Budaya, bahasa, pengalaman, ilmu yang dipahami secara nalar serta berbeda tingkatannya antara satu sama lain, hasrat, obsesi dan lain sebagainya. Lalu, mungkinkah kita bisa memahami ‘apa yang Dia gariskan dan tetapkan sebagai kebenaran; kebenaran sebagaimana Dia memaksudkannya, bukan sebagaimana kita menafsirkannya dengan segenap kedirian yang sudah jadi konstruksi prasangka tadi? Berpikir adalah menafsir dan menafsir itu tak mungkin tanpa prasangka. Lalu, bagaimana dong?
Thalabul ‘ilmi adalah sebentuk tindakan aktif kita mencari dan menyusun pengetahuan yang sesuai dengan pemahaman kita. Yang tak sesuai, kita buang karena tidak bisa diterima oleh konstruksi ‘prasangka’ yang sudah bercokol di kepala kita. Tak jarang kita membongkar ulang, karena mendapat landasan baru. Begitu terus menerus. Lalu bagaimana dengan ‘utul ‘ilmi; diberi ilmu?
Mursyid almarhum pernah menjelaskan ihwal ‘ilmu tentang Allah’ di kalangan para sufi itu seperti ‘televisi dengan berbagai merek, namun menayangkan acara yang sama dari satu stasiun televisi, maka acaranya pun sama saja’... Dalam jurnal tentang tashawwuf yang sebentar lagi kami terbitkan, seorang sahabat saya yang sudah meninggal, menuliskan bahwa kenapa tak ada satu istilah yang sama dan bisa disepakati oleh para sufi? Karena mereka memasuki khazanah-Nya yang tak berhingga, seperti orang yang masuk ke lautan maha luas dari berbagai penjuru, dan mereka tak sanggup mengungkapkannya dalam satu kesepakatan, seperti yang terjadi dalam Filsafat Barat sekular.
Kembali kepada soal diberi ilmu, mudahnya begini: Bayangkan, sebuah rumah yang penghuninya sedemikian gaduh dan berbagai suara dari sana, akankah terdengar sebuah suara yang jernih dan lembut di sana? Seisi rumah harus hening dulu agar suara jernih lagi lembut itu terdengar.
Inilah pesan yang selalu diulang-ulang oleh mistikus dari berbagai agama, entah itu namanya meditasi, tapa, retret, atau riyadhah di kalangan thariqah Islam. Rumi menganalogikannya: menjadi kosong seperti seruling. Kalau seruling itu bagian tengahnya disumpal kertas, maka suling tak akan berbunyi. Apa bagian yang berharga dari gitar akustik? Bagian tengahnya yang kosong itu. Begitu pula kecapi. Kesemua alat akustik itu menunjukkan bahwa dengan bagian kosong itulah alat-alat itu bisa dimainkan dan mengeluarkan bunyi.
Coba bayangkan: apa yang membuat seorang lelaki buta huruf di pojok Arab sana, seorang mantan penggembala yang menikahi seorang janda kaya, bisa mengeluarkan sekian banyak hikmah yang abadi sepanjang masa dari lisannya? Siapa yang mengajarinya? Apakah hanya dia saja yang diajari seperti itu?
Bagaimana dengan Bawa Muhaiyaddeen yang juga buta huruf dan sebagian besar hidupnya dihabiskan di hutan, lalu di bawa ke Amerika dan mengajari orang-orang bule di sana dengan salah satu bahasa di India yang kemudian diterjemahkan oleh seorang profesor, dan kemudian ditranskrip lalu jadi buku dan bahkan diterjemahkan juga ke bahasa Indonesia?
Apakah pengajaran dari Allah itu berupa sebuah kelas yang hanya boleh dihadiri oleh mereka yang terpilih, lalu Allah mengajari mereka seperti guru mengajari kita di depan kelas?
Itu yang pernah saya katakan saat seorang teman bilang bahwa si anu menyatukan antara ilmu anu dengan Islam, atau yang selalu digadang-gadang kalangan Syiah: bahwa Mulla Shadra itu berhasil menyatukan antara Filsafat dengan Tashawwuf dan dialah puncak dari tradisi Irfan atau Tashawwuf.
Tidak selalu demikian prosesnya.
Saya pernah memberi pemisalan berupa gelas kaca transparan namun berbagai warna. Ke dalamnya dituangkan air bening. Namun, saat dilihat dari luar, kok airnya berwarna merah? Kok yang itu airnya berwarna biru? Padahal, saat diminum, airnya tetaplah air bening segar, hanya saja, faktor gelas transparan berwarna itulah yang membuatnya tampak jadi berwarna.
Silakan baca pemaparan saya soal tashawwuf. Beberapa penjelasan di situ menggunakan pemisalan dari wilayah sains. Kenapa? Karena saya mendapatkan penjelasan hal itu dari Mursyid saya yang notabene adalah dosen ITB dan juga merupakan seorang saintis.
Bagaimana kalau suatu ketika saya bisa jadi hamba yang bertaqwa lalu Allah ajari khazanah Al-Quran dan kebenaran ilahi? Lalu orang melabeli bahwa Alfathri telah berhasil menyatukan antara tashawwuf dengan filsafat Barat. Padahal itu terjadi hanya karena yang Allah ‘turunkan’ ke qalb saya adalah suatu pemahaman ihwal khazanah-Nya, lalu saat saya bahasakan khazanah itu, dan secara jasadiah saya memang lebih paham filsafat Barat, maka dengan itulah saya membahasakannya. Bukan dengan ‘bahasa fisika’, misalnya.
Itulah juga yang Ibn ‘Arabi maksudkan dengan alam khayal, atau yang William Chittick terjemahkan sebagai Imaginal. Allah ‘mengajarkan’ dan ‘memahamkan’ sang hamba ihwal suatu khazanah-Nya melalui bentuk yang dikenali sang hamba, dan sang hamba pun menyampaikan secara lisan maupun tulisan melalui apa yang ada di dirinya secara jasadiah. Filsafatkah? Sainskah? Atau ilmu agama khas pesantren?
Posisi ilmu alat dalam mengeksplorasi seluk beluk Islam dan juga tafsir Al-Quran, bagi saya, merupakan bagian dari tradisi ilmiah yang berkembang karena kemampuan otak dan nalar manusia. Namun, manusia bukan hanya tubuh dan otak; ada nafs dengan lubb yang merupakan ‘aql sang nafs. Kalau kuda bisa dilatih dan jinak jadi kuda lomba dan tunggangan, bukankah sang penunggang itu kecerdasannya jauh di atas sang kuda? Kalau secara lahiriah manusia bisa menghasilkan seorang Einstein, bayangkan seperti apa kalau nafs dan lubb-nya yang menghasilkan karya? Makanya, jangan heran kalau di Al-Quran berulang kali ditegaskan bagaimana para Nabi di mata umatnya dipandang bodoh dan gila, padahal, misalnya, umat Nabi Shalih itu bisa memahat gunung jadi rumah, misalnya. Mereka adalah adalah bangsa yang hanya paham segala hal secara rasional, sehingga melihat para nabinya itu bodoh dan irasional. Selain itu, coba baca karya para sufi ‘arif billah, kebanyakan sulit dipahami dan sering disalahtafsirkan dan akhirnya dikafirkan.
Itu yang saya pahami. Al-Quran itu bukan cuma masalah linguistik dan ilmu alat. Di mana peran Allah untuk mengajarkan rahasia kitab suci-Nya? Dan kita selalu memahami bahwa belajar itu duduk, membaca, lalu paham. Hanya itu cara belajar. Ya, itu menunjukkan bahwa meskipun kita ngotot mengatakan bahwa kita berbeda dari orang Barat yang materialis, toh dalam memahami segala hal kita tak berbeda dengan mereka?
Nah, kembali kepada hikmah yang menjadi awal pembicaraan di tulisan ini—lalu berbelok jauh ke soal thalabul ‘ilmi dan ‘utul ‘ilmi—sampai detik ini, seperti kata Mursyid Penerus di atas, saya memang masih tidak tahu kenapa ini semua harus terjadi pada saya. Syarat untuk turunnya hikmah masih belum ada di diri sayan Namun, setidaknya, saya bisa mencoba berlatih sabar menanti sebagaimana yang digambarkan dalam puisi Maulana Jalaluddin Rumi berikut ini:
**************
Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: “Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi.
Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa api. [1]
Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi.
Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira.
Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi.
Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati?
Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah payah berusaha?
Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang selalu siap menyergap?
Sang Hakim menjawab: "Jika tiada perintah yang pahit, jika tiada beda baik dengan jahat, jika tiada beda batu dengan mutiara,
Dan jika tiada hasrat ragawi, tiada hawa nafsu dan syaithan, dan tiada pukulan, pertempuran atau perang,
Lalu dengan nama atau gelar apa Sang Raja akan menyebut hambanya, wahai penanya yang lalai?
Bagaimana Dia akan menyebut: ‘Wahai hamba yang sabar, Wahai hamba yang tabah?’
Bagaimana Dia akan memanggil: ‘Wahai hamba yang pemberani, Wahai hamba yang bijak?’
Bagaimana akan terbentuk hamba yang sabar, hamba yang tulus ikhlas, hamba yang lazim berinfak, tanpa kehadiran penyamun dan syaithan yang terkutuk?
Rustam dan Hamzah, atau tukang selingkuh, jadi tidak bisa dibedakan; [2] pengetahuan dan kebijaksanaan akan musnah, tak berarti.
Adanya pengetahuan dan kebijaksanaan itu untuk membedakan jalan lurus dengan jalan buntu: jika semua jalan sama saja, pengetahuan dan kebijaksanaan tak ada gunanya.
Apa menurutmu pantas, jika ke dua semesta ciptaan dihancurkan, untuk memenuhi hasrat jiwa rendah? [3]
Tentu saja aku paham bahwa engkau telah termurnikan, dan bukan lagi yang masih mentah; dan engkau tanyakan ini, semata untuk mengajari mereka yang masih kasar.
Kejamnya Sang Waktu dan semua derita yang mewujud itu lebih ringan daripada jarak kepada Rabb dan pengingkaran.
Karena derita itu akan berlalu, tetapi tidak demikian dengan jarak kepada Rabb.
Insan yang dianugerahi kebahagiaan sejati hanyalah mereka yang datang kepada-Nya dengan jiwa yang bangun dan mengenal-Nya.”
**************
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam.
Catatan tambahan:
[1] Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiyâ [21]: 69).
Maksud bait ini, jika Dia berkehendak, tentu Tuhan berkuasa membuat hidup kita selalu sejuk dan nyaman tanpa ada ketetapan atau kejadian yang ‘memanggang’.
[2] Rustam adalah pahlawan Persia, sedangkan Hamza ibn ‘Abdul-Muttalib, adalah paman dan salah satu pembela utama Nabi Muhammad saw di masa awal dakwah beliau saw. Adapun ‘Tukang Selingkuh’ adalah sebuah istilah untuk mengecam para pencari awal, yang terkadang mencari Tuhan, terkadang mencari dunia.
[3] Kedua semesta, yaitu yang tampak dan tidak tampak. Maksudnya, apakah pantas meniadakan saja kedua semesta (yang didesain sebagai alat didik pembentuk kesempurnaan
insan) semata demi menjamin terpenuhinya selera kenyamanan hidup ragawi, sebagaimana dihasratkan para pecinta dunia.
(Sumber: Rumi, Matsnavi VI: 1739 – 1757, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Nicholson, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Herman Soetomo.) Alf