Thursday, July 6, 2017

Aturan

Seorang nyonyah menampar petugas keamanan penerbangan (avion Security) karena "menolak" melepaskan jam tangan di pemeriksaan scan door (pintu pindai).
Saiya tidak akan menilai tindakan si nyonyah, jabatan suami atau harta yang dimilikinya seperti kita lihat dari berita yang berkembang. Mengingat kita hanya melihat potongan-potongan dari kejadian sebaiknya penilaian sangka (persepsi) tadi perlu direnungkan agar tidak menghasilkan kesimpulan bersifat asumsi apalagi alegasi (penudingan) baik ke si Nyonyah maupun si Petugas.
Hampir semua kita pernah ada di posisi si Nyonyah dan banyak alasan untuk marah.
Pada penerbangan lanjutan di Changi airport Singapura saiya hanya punya waktu 27 menit dari gerbang kedatangan Jakarta ke gerbang keberangkatan eropah sebelum pesawat tutup boarding.
Namun di gerbang eropah ada dibuat satu pemeriksaan darurat merah dimana semua orang harus masuk mesin pindai panas. Singapura memperketat pencegahan Demam Hongkong, semua orang tanpa kecuali harus mengantri di sana.
Saiya gelisah, antrian seperti ini mesti selesai 30 menit paling cepat.
Beberapa penumpang lain juga demikian. Seorang ibu maju ke depan dan berkata kepada petugas bahwa ia harus boarding sekarang. Dari belakang dua tentara mendekat dan bersiap-siap.
Petugas keturunan India berkats bahwa ini sudah aturan dan ia tidak mengizinkan. Si ibu berbalik dengan wajah payah seperti mayat.
Saiya bertanya apakah ia ada di penerbangan yang sama menuju Paris De Gaulle. Ia mengangguk dan saiya memintanya untuk menunggu.
Saiya melambai pada barisan antrian, siapa yang menuju tujuan dengan pesawat yang sama. Ada 28 orang melambai dan mendekat.
Saiya katakan jika kita akan bertanya pada petugas avsec tadi kemungkinan lain.
Petugas keturunan India tadi merengut memandang kami yang mendekatinya. Kedua tentara kembali bersiap siap dengan wajah sedingin marmer.
"Brother, we apologize to make your work harder. Our flight is about to leave, and we can see you are a really a man of duty..."
"...if you dont mind, do you have any ideas to help transit passengers like us."
" I am sorry, we have to proceed this." Ia meminta kami kembali, tetapi kemudian ke belakang untuk berbicara dengan seseorang.
Ia kembali dan berkata bahwa otorita telah meminta pesawat ke Paris menunggu kami. Serta dikatakannya sebentar akan ada pintu pindai tambahan untuk melayani penumpang transit.
Tidak lama satu lini antrian pindai Demam Hongkok dibuka untuk kami.
Persoalannya ada di komunikasi

0 comments:

Post a Comment