Thursday, July 13, 2017

Kemustahilan yang paling mutlak adalah Allah membiarkan sesat orang yang mencari-Nya.

Kemustahilan yang paling mutlak adalah Allah membiarkan sesat orang yang mencari-Nya. (Herry Mardian)
Maka, siapapun yang sungguh-sungguh berniat mencari-Nya dan mengharapkan-Nya, pasti, pasti, pasti Dia tuntun untuk mendekat pada-Nya.
Jadi tidak masalah mau mulai dari kondisi apapun ke-hariini-an kita: apakah kita seorang pendosa, peminum, tidak shalat, dan sebagainya. Atau kita sekarang sunni, syi'ah, wahabi, harokah, dugemis, metalis, vodkais, Buddha, Hindu, Nasrani, atau bahkan penyembah api seperti Salman Al-Farisi.
Intinya adalah, transaksikan dulu dengan jelas, secara khusus, memohon dengan sungguh-sungguh: bahwa kita minta dibimbing untuk mendekat kepada-Nya. Itu --mustahil-- tidak diijabah, jika kita memang bersungguh-sungguh dari hati, bukan sambil lalu. Ingat bahwa Dia tidak suka 'disambi'.
Punya kegelisahan tentang hidup, walaupun sedikit? Atau, ada sedikit nelangsa dalam hati ketika melihat orang lain bisa khusyu'? Itu tanda dari-Nya bahwa Dia masih memanggil kita 'pulang'.
Jika belum merasakan adanya tuntunan Allah meski sudah beragama, coba renungkan apa sesungguhnya yang kita cari dalam beragama atau mengikuti kelompok agama tertentu. Mungkin kita belum murni mengharapkan-Nya. Mungkin ada yang lain yang lebih kita cari: biar diterima masyarakat, pahala, penghargaan orang lain, teman, komunitas, nama baik, peluang bisnis, biar tidak nganggur di rumah, dan sebagainya.
Jadi--untuk orang yang sudah dewasa--tidak ada gunanya melarang membaca buku-buku sufi dan anti-sufi, wahabi dan anti-wahabi, komunisme dan anti-komunisme, syi'ah dan anti-syi'ah, dan sebagainya. Siapapun dia, membaca apapun juga, pasti akan tertuntun jika dia sudah meng-akad-kan dirinya kepada Allah untuk minta tolong agar didekatkan pada-Nya.
Jadi sebenarnya inti masalahnya bukan membaca buku apa atau bergaul dengan siapa. Bukan juga nggak punya uang untuk beli buku atau belajar agama sampai S3. Masalahnya adalah benar-benar minta ditolong Allah atau tidak, butuh Allah atau tidak. Nah, seberapa butuh? 
P.S.
setelah membangun rasa itu , maka harus segera beranjak..
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah.) ~ tambahan dari Deden Himawan

0 comments:

Post a Comment